Sang Penjaga Warisan Sumatra

NGARIKSA – Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) tahun 2024 kembali menghadirkan momen bersejarah, bukan hanya karena perayaan budaya yang meriah, tetapi juga melalui penghargaan Sanghyang Kamahayanikan Award. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang telah mengabdikan hidup mereka untuk penelitian sejarah, arkeologi, dan filologi.

BWCF ke-13 pada 19 November 2024 ini diadakan di Kota Jambi. Acara yang telah menjadi barometer pertemuan sastra, seni, dan sejarah ini berlangsung megah di Ratu Convention Centre (RCC), menyatukan berbagai tokoh intelektual dan pemimpin budaya dari seluruh Indonesia dan dunia.

Di sesi pembukaan, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyampaikan sambutan resminya. Dalam pidatonya, Fadli Zon menekankan pentingnya menghargai kebudayaan sebagai National Treasure. Ia mengajak hadirin untuk melihat kekayaan budaya sebagai aset yang lebih berharga daripada sumber daya alam seperti minyak, gas, atau nikel.

“Kekayaan budaya adalah kekuatan yang langgeng, memberikan inspirasi dan daya untuk sebuah bangsa maju,” ujarnya. Dengan menyebut Indonesia sebagai negara dengan mega-diversity budaya, ia menegaskan bahwa dari Aceh hingga Papua, keragaman seni, musik, tari, hingga tradisi lisan menjadi kekuatan unik yang tak tertandingi.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyampaikan sambutan resminya.

 

Fadli Zon juga menekankan pentingnya menggali kembali narasi sejarah dan menulis ulang identitas bangsa. Ia mengajak bangsa Indonesia untuk keluar dari narasi kolonial yang sering memposisikan Indonesia sebagai bangsa muda. “Kita ini adalah salah satu peradaban tertua di dunia,” tegasnya, sambil menyebut penemuan arkeologis seperti lukisan purba di Leang-Leang Sulawesi Selatan yang berusia 52.000 tahun sebagai bukti nyata.

“Kita perlu percaya diri bahwa kita ini adalah bangsa dengan peradaban yang sangat tua dan kaya. Kebudayaan kita tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk menjadi kekuatan global,” katanya.

Dewan penasihat BWCF tahun ini terdiri dari Mudji Sutrisno, Y.M. Bhante Dittisampanno Thera, dan Oman Fathurahman, atau yang akrab disapa Kang Oman. Pada perhelatan kali ini, penghargaan bergengsi diberikan secara anumerta kepada Bambang Budi Utomo, seorang arkeolog senior yang tidak hanya meninggalkan jejak ilmiah luar biasa tetapi juga warisan kebajikan abadi melalui dedikasinya mengungkap tabir sejarah Nusantara, khususnya Sriwijaya dan Sumatra.

Mudji Sutrisno membacakan pidatonya.

 

Sejak awal, penghargaan ini bukan sekadar simbol penghormatan. Sanghyang Kamahayanikan, yang namanya diambil dari kitab Buddha Jawa abad ke-9, melambangkan perjalanan spiritual menuju kesempurnaan batin dan pikiran. Dalam tradisi Nusantara, istilah “Sang Jina” atau “Sang Pemenang” merujuk pada mereka yang menaklukkan segala hambatan untuk mencapai kebenaran. Dan siapa lagi yang lebih pantas menyandang gelar itu selain Bambang Budi Utomo, yang hidupnya dipenuhi pencapaian luar biasa dan ketulusan tak terhingga?

Lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1954, Bambang yang akrab disapa Bung Tommy memulai perjalanan intelektualnya di Program Studi Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Lulus dengan semangat muda yang bersemangat, ia langsung bergabung dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Dari sini, pengabdiannya dimulai. Lebih dari tiga dekade, ia menjelajahi berbagai sudut Sumatra, menggali warisan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Melayu, hingga arkeologi maritim.

Namun, kisah Bambang Budi Utomo bukan hanya tentang penemuan atau artefak. Ia adalah kisah tentang dedikasi tanpa batas. Ia menulis, tidak hanya untuk komunitas akademik, tetapi juga untuk masyarakat luas. Buku-bukunya, seperti Buddhism in Nusantara (2008), Kota Palembang: Dari Wanua Sriwijaya Menuju Palembang Modern (2012), hingga Warisan Bahari Indonesia (2016), menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami masa lalu mereka. Di sela-sela kesibukannya, ia juga menulis artikel populer, dengan nama pena Sang Krani Rendahan, sebuah julukan yang menunjukkan kerendahan hati yang khas darinya.

Pada 6 Oktober 2022, pukul 15.30 WIB, Bung Tommy berpulang. Penyakit yang selama ini ia derita akhirnya menghentikan langkahnya, tetapi tidak menghentikan pengaruhnya. Ia meninggalkan seorang istri, Ingrid HE Pojoh, serta banyak murid dan kolega yang mengenangnya sebagai sosok yang tidak pernah menyombongkan ilmu atau pencapaian, meski begitu banyak penghargaan dan prestasi yang telah diraihnya.

Kang Oman menyerahkan trofi Sanghyang Kamahayanikan Award  kepada Ingrid HE Pojoh, istri Bambang Budi Utomo. 

 

Dalam pidatonya saat penganugerahan penghargaan, Muji Sutrisno menggambarkan Bambang Budi Utomo dengan indah: “Nama pena yang sering beliau gunakan, Sang Krani Rendahan, mencerminkan sifat kerendahan hati yang patut kita teladani bersama. Warisan ilmu dan karya beliau menjadi panduan bagi para pemula dan rujukan abadi bagi peneliti.”

Tentu saja, penghargaan ini adalah pengakuan atas sumbangsih luar biasa Bung Tommy, tetapi lebih dari itu, ini adalah perayaan atas kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam dunia yang kerap sibuk mengejar ketenaran, Bambang Budi Utomo adalah pengingat bahwa esensi dari ilmu pengetahuan adalah pengabdian tanpa pamrih, tanpa henti.

Ketika trofi Sanghyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Ingrid HE Pojoh, istri mendiang, suasana haru menyelimuti. Bung Tommy mungkin tidak lagi hadir secara fisik, tetapi semangatnya terus hidup. Ia adalah bukti bahwa meski tubuh fana, karya dan dedikasi adalah keabadian sejati.

Kita mungkin tidak lagi dapat berbincang dengannya, tetapi melalui tulisannya, melalui artefak yang ia jaga, dan melalui jejak langkahnya yang tertinggal di Sumatra, kita masih bisa mendengar suaranya, menghayati pemikirannya, dan merasakan ketulusan hatinya.

Di mata sejarah, Bambang Budi Utomo bukan sekadar arkeolog. Ia adalah penjaga warisan Nusantara, sang penakluk waktu yang membawa masa lalu ke masa kini, agar kita semua dapat belajar, mengingat, dan meneruskannya. Dalam setiap lembar tulisan, dalam setiap batu artefak, namanya tetap abadi, selayaknya seorang pemenang sejati, Sang Jina. (Ngariksa-Min)

 

Mengenang Bu Titik, Pejuang Naskah Nusantara

“Mari kita doakan, semoga amal kebaikan beliau diterima di sisi Allah,” ucap Kang Oman dengan suara bergetar, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan.

Episode ke-129 Ngariksa terasa berbeda. Tidak ada pembacaan manuskrip kuno seperti biasanya. Malam itu, suasana sarat dengan rasa kehilangan. Kang Oman kali ini tampak larut dalam duka. Hampir tak sanggup dirinya mengenang sosok yang tidak hanya menjadi senior, tapi juga sahabat dan inspirasi besar dalam dunia pernaskahan Nusantara, Prof. Titik Pudjiastuti, M.Hum.

Almarhumah, yang wafat pada 21 Oktober 2024, meninggalkan warisan ilmu yang begitu mendalam. Sebagai penghormatan, acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, mengalirkan doa-doa tulus dari hadirin yang hadir, seolah setiap lafaznya mengirimkan pelukan kasih kepada beliau di alam keabadian. Suasana semakin syahdu. Air mata beberapa peserta terlihat jatuh, mengalir dalam keheningan yang hanya dipecah oleh lantunan doa.

Bu Titik dikenal luas sebagai pengajar dan peneliti manuskrip di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, serta sebagai mentor yang dekat dengan murid-muridnya. Kecintaannya pada dunia naskah dan hubungan erat yang dijalin dengan kolega serta komunitas filologi Nusantara membuat sosok beliau begitu dirindukan. 

“Secara pribadi, saya merasa beliau masih hadir di sini. Rasanya sulit untuk menyebut beliau sebagai almarhumah karena kehadirannya begitu kuat,” tambah Kang Oman, menyampaikan kesan pribadinya.

Dalam kesempatan ini, Kang Oman mengungkapkan bahwa dunia pernaskahan Nusantara tengah berduka dalam waktu yang singkat. Sebelumnya, pada 21 Juli 2024, Prof. Ahadiati Ikram juga wafat. Kehilangan Ibu Ahadti menandai berakhirnya generasi kedua filolog Indonesia yang mewarisi semangat dari generasi awal seperti Mpu Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka dan Prof. Dr. Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat. Kini, dengan kepergian Prof. Titik, dunia pernaskahan kehilangan dua tokoh utama dalam rentang waktu kurang dari seratus hari.

Bu Titik bersama koleganya membahas naskah, penelitian, dan karya terbarunya.

 

Kepergian Prof. Titik terasa lebih mengharukan karena beliau sempat mempersiapkan acara doa untuk mengenang Ibu Ahadiati. “Sungguh, beliau sangat dekat dengan murid dan kolega. Bagi saya, Ngariksa kali ini bukan sekadar mengenang, melainkan seolah bercengkerama kembali dengan Mbak Titik,” ungkap Kang Oman dengan nada penuh haru.

Kang Oman mengenang perkenalannya dengan almarhumah sejak tahun 1996, ketika ia pertama kali belajar filologi dan kodikologi. “Beliau yang mengenalkan saya pada cara meneropong naskah, bagaimana membedakan kertas Eropa dari garis-garis halus di belakangnya,” tutur Kang Oman. 

Sebagai dosen, Prof. Titik memiliki kepakaran khusus dalam kodikologi, sebuah bidang yang lebih terfokus pada aspek fisik naskah dibanding teks itu sendiri. Beliau kerap menjelaskan detail tentang naskah-naskah Nusantara, seperti cara mengenali jenis kertas yang digunakan, dari kertas Eropa hingga alas naskah yang dibuat dari bahan lokal. Dalam ceramah dan kontennya di berbagai seminar dan platform, beliau membagikan wawasan kodikologi yang menginspirasi generasi baru pengkaji naskah Nusantara.

Perjuangan Prof. Titik tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap aktif di lapangan. Hanya beberapa hari sebelum wafat, Prof. Titik masih melakukan riset di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, bersama tim dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Penelitian di Museum Galunggung tersebut menunjukkan dedikasinya yang luar biasa. 

“Beliau bahkan tidak hanya mengajak ahli naskah, tetapi juga kolega yang mungkin baru mengenal pernaskahan, untuk ikut merasakan makna dari penelitian naskah langsung di lapangan,” kata Kang Oman. 

Perjalanan riset tersebut menguras energi beliau. Selama penelitian, beliau sempat mengalami kelelahan dan jatuh pingsan, sehingga harus mendapatkan perawatan di UGD Tasikmalaya. Meski disarankan untuk dirawat lebih lanjut, Prof. Titik memilih untuk pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta, beliau didampingi oleh timnya. 

“Saya masih ingat foto-fotonya, terlihat hanya kelelahan saja. Rasanya, kita semua berharap beliau segera pulih,” kenang Kang Oman. Namun, takdir berkata lain. Hanya sehari setelah kembali ke Jakarta, beliau mengembuskan napas terakhirnya.

Kata penutup Ngariksa oleh Kang Oman.

 

Kang Oman dan Sobat Ngariksa menyebut Prof. Titik sebagai “pejuang ilmu fisabilillah” karena kecintaannya yang tulus pada bidang pernaskahan. 

Kejadian ini semakin memilukan karena di malam yang sama ketika doa bersama untuk Ibu Titik dibacakan, kabar duka kembali menyelimuti. Dr. Tantri Widyanarti, seorang aktivis pernaskahan Nusantara, juga berpulang. “Saat kita hendak memulai doa untuk Mbak Titik, berita datang bahwa sahabat kita, Mbak Tantri, istri dari Kang Mumu Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, juga telah wafat,” kata Kang Oman mengajak seluruh hadirin untuk turut mendoakan. 

Acara malam itu ditutup dengan harapan agar kenangan dan inspirasi dari Bu Titik, Ibu Ahadiati, dan Bu Tantri terus hidup di hati para murid, kolega, dan pecinta manuskrip Nusantara. Kang Oman mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir, baik dari komunitas Universitas Indonesia, Manasa, maupun masyarakat pernaskahan Nusantara. (Ngariksa-Min)

Arti Manuskrip bagi Milenial: “Oleh-Oleh” Rihlah Budaya

Arti Manuskrip bagi Milenial: “Oleh-Oleh” Rihlah Budaya

Oleh: Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi FAH UIN Jakarta dan Pengampu Ngariksa

Berangkat dari Penasaran

Pada pertengahan September 2024, saya bersama tim Merial Institute, Makassar Heritage Society, dan Ngariksa melakukan perjalanan singkat tapi padat melawat sejumlah titik kantong manuskrip di Sulawesi Selatan (Sulsel). kami menyebutnya: Rihlah Budaya.

Rihlah ini berawal dari informasi Arief Rosyid Hasan, sang Direktur Merial Institute, bahwa di rumah leluhurnya di Jampue, Pinrang, Sulsel ada manuskrip kuno berupa Mushaf Al-Qur’an warisan turun-temurun. Rumah leluhur yang dimaksud tak lain adalah tempat tinggal K.H. Hilmy Ali Yafie, putra Anregurutta Professor K.H. Ali Yafie. Arief menyapanya Puang Helmi.

Sebagai milenial, Arief penasaran apakah mushaf Al-Qur’an di rumah pamannya itu bisa menjadi pintu masuk untuk mengetahui siapa leluhurnya, dan peradaban macam apa yang ditinggalkan bagi masyarakat Jampue, Pinrang khususnya, dan Sulsel pada umumnya. Arief sedang berusaha menelusuri identitas untuk menemukan jati dirinya.

Pasalnya, Puang Hilmy sendiri sebagai ahli waris sekaligus tokoh Darud Dakwah wal Irsyad di Sulsel memiliki pertanyaan besar terkait adanya kekosongan narasi sejarah tokoh Muslim di Sulawesi Selatan abad 18 dan 19. 

Umumnya, para sejarawan dan khalayak mengenal tiga tokoh besar pembawa Islam ke Sulawesi Selatan awal abad ke-17, yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk Ri Tiro. Setelah itu, figur Syekh Yusuf al-Makassari (w. 1699) mendominasi narasi soal ulama asal Sulsel, mulai dari perjalanan keilmuannya di Gowa dan Haramayn (Mekkah-Madinah), perjuangannya melawan Kolonial Belanda di Banten, hingga pengasingannya di Ceylon, Sri Lanka, dan Cape Town, Afrika Selatan.

Nah, figur ulama asal Sulsel berikutnya yang muncul dalam ingatan bersama masyarakat ternyata lompat lebih dari 200 tahun ke Anregurutta Muhammad As’ad al-Bugisy Sengkang (w. 1952) dan Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle (w. 1996). Ini artinya ada gap serius, seolah Sulsel tidak memiliki figur penting yang berjasa menyebarkan dan membangun peradaban Islam selama itu. Apa benar demikian?

Mushaf Al-Qur’an kuno di Jampue, Pinrang memberikan jawaban yang dapat menjadi jalan awal penelusuran lebih mendalam.

Manuskrip Mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh Syekh Zainal Abidin pada 1305 H (1888 M).

 

Pinrang sebagai Skriptorium Manuskrip Islam 

Saya memiliki dugaan kuat bahwa pada awal abad 19 hingga awal abad 20, Jampue, Pinrang, merupakan salah satu skriptorium (tempat penulisan) manuskrip Islam di Sulawesi Selatan, atau setidaknya tempat tumbuhnya iklim keilmuan dan kesarjanaan Islam. Saya akan menarasikan argumen terkait ini.

Jampue, atau dulu disebut Lanrisang, sejak abad ke-17 telah menjadi salah satu pusat kerajaan di wilayah Selat Makassar yang sangat kosmopolit dan menjadi tempat singgah para saudagar dari berbagai suku bangsa yang memiliki misi mencari rempah-rempah di Indonesia bagian Timur.

Jampue juga disebut sudah menerima pengaruh Islam sejak awal abad 17. Pendakwahnya datang dari beragam asal. Sejumlah artefak dan catatan yang berasal dari abad 19 mengindikasikan kehadiran seorang Muslim Yaman kelahiran Ishmir, Turki bernama Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi (1771-1851). Nama “Affandi” boleh jadi merujuk pada “Effendi”, gelar bangsawan atau orang terpelajar yang biasa digunakan sejak masa Kesultanan Turki Utsmani.

Kehadiran Muslim terpelajar asal Turki di Nusantara sendiri telah ada presedennya pada abad 17 di Aceh. Sejarah mencatat bahwa salah seorang murid utama Syekh Abdurrauf al-Sinkili (w. 1690) adalah warga keturunan Turki bernama Syekh Baba Dawud bin Ismail bin Mustafa Rumi yang hidup antara 1650 dan 1750 (Özay 2017: 250). Syekh Baba Dawud terlibat aktif dalam penyempurnaan penulisan Tarjuman al-Mustafid, sebuah kitab tafsir Melayu pertama yang lengkap 30 juz karya al-Sinkili.

Berbagai arsip dan manuskrip yang ditemukan mengindikasikan bahwa kehadiran warga Muslim asal Turki itu lebih bermotif keagamaan dan keilmuan, ketimbang politik, apalagi untuk tujuan ekspansi kekuasaan Dinasti Turki Utsmani, misalnya. Untuk kasus Syekh Baba Dawud, artikel Mehmet Özay yang saya sebut di atas menegaskan keyakinan ini.

Dalam kasus di Jampue, memang tidak, atau belum, ada catatan bahwa Syech Muhammad bin Abdullah Affandi meninggalkan karya tulis seperti halnya Syekh Baba Dawud. Namun, ia adalah nenek buyut bagi para Qadi (hakim agama) di Jampue, termasuk Qadi terakhir, Muhsen Umar, yang populer disapa Puang Kali Jampue. Qadi Muhsen Umar mewariskan Mushaf Al-Qur’an dan sejumlah manuskrip serta arsip catatan persoalan-persoalan hukum Islam di lemari rumah tempat tinggalnya.

Dalam salah satu halaman manuskrip yang ditemukan, tertulis kata “fi balad hajj Binrun”, yang kemungkinan berarti merujuk pada Pinrang sebagai nama wilayah tempat ditulisnya manuskrip tersebut. Itu mengapa saya menyebut Pinrang sebagai skriptorium manuskrip Islam di Sulawesi Selatan.

Patut diduga bahwa kehadiran Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi di Jampue bertujuan untuk memperkuat pengaruh dan tradisi keislaman yang saat itu belum terlalu mengakar di Jampue. Perlu kajian lebih mendalam terkait dugaan ini.

Arief Rosyid Hasan Berziarah ke Makam Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi (1771-1851).

Salah seorang tokoh yang namanya telah terlacak, dan diyakini bisa sedikit demi sedikit memecahkan teka-teki sejarah keilmuan dan keulamaan di Sulawesi Selatan abad 18 dan 19 adalah Syekh Zainal Abidin (w. 1890). Berdasar temuan awal ahli filologi Bugis-Makassar, Husnul Fahimah Ilyas, Syekh Zainal Abidin teridentifikasi sebagai penulis 52 mushaf Al-Qur’an, termasuk manuskrip mushaf yang tersimpan di rumah warisan Qadi Muhsen Umar di Jampue. 

Bersama Annabel Teh Gallop, ia sudah tuliskan berbagai temuan itu dalam artikelnya yang terbit di jurnal ternama di Prancis, Archipel (Fahimah & Gallop 2024). Husnul juga mengisahkan lika-liku pengembaraannya dalam mencari dan melestarikan khazanah manuskrip di Sulawesi Selatan itu di Ngariksa #130 di sini.

Bagian dari kolofon Mushaf Al-Qur’an di Jampue sedikit banyak menjelaskan dari mana asal tempat dan masa penulisan, serta identitas penulisnya:

“…wa kana al-faragh min kitabat hadza al-mushaf al-karim dhuha yawm al-itsnain fi shahr al-Muharram 27 awwal sanah 1280 tsamanin ba’d al-alf wa mi’atain bi al-mahal al-ma’ruf al-ladzi yuqalu lahu Turung min ba’dh Satin balad Fammanah fi ardh al-Bugis, wa dzalika ‘ala yad katibihi al-raji ‘afwa rabb al-‘alamin ‘abdihi Zain al-‘Abidin bin al-Syaikh ‘Umar al-Jawi al-Bugisi al-Wajo, ghafara Allah lahu wa li walidaihi, amin…”

Informasi ini menegaskan bahwa Mushaf Al-Qur’an tersebut adalah buah tangan Syekh Zainal Abidin al-Jawi al-Bugisi al-Wajo, yang selesai ditulis pada Senin pagi waktu dhuha, 27 Muharram 1280 H atau sekira 13 Juli 1863 M di Turung (kemungkinan Tongrong) Pammana, Bugis. Makam Syekh Zainal Abidin sendiri ada di Tadangpalie Lagosi Pammana, Wajo, terpahat di batu nisannya tulisan: “Hijrat al-Nabi 1308”.

Belum ada bukti tertulis yang mengkonfirmasi siapa pembawa Mushaf ini dari Tongrong, Pammana ke Jampue, Pinrang yang berjarak hampir 130 KM dari Barat ke Timur Sulsel tersebut. Menurut penuturan Puang Hilmy Ali Yafie, ia sering mendengar kisah turun-temurun melalui Qadi Muhsen Umar bahwa Syekh Zainal Abidin memberikan Mushaf itu kepada seorang sahabat sekaligus muridnya yang bernama Guru Lolo, dan Guru Lolo kemudian menyerahkan Mushaf itu kepada Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi, yang kemudian secara turun temurun menjadi “benda pusaka” milik para Qadi di Jampue, termasuk Qadi terakhir, Kiai Muhsen Umar, adik ipar dari Anregurutta Kiai Ali Yafie.

Kisah yang mendasarkan pada ingatan kolektif (collective memory) dan dituturkan secara lisan ini perlu diuji dan disempurnakan, mengingat Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi sendiri telah wafat pada 1851, 12 tahun setelah masa penulisan Mushaf Al-Qur’an itu. Puang Hilmy Ali Yafie sendiri telah menceritakan kembali ingatannya itu di Ngariksa Episode #128 di sini.

Dalam “unboxing” lemari di rumah Qadi Muhsen Umar di Jampue saja, selain Mushaf Al-Qur’an tulisan Syekh Zainal Abidin itu, ada lebih dari 10 manuskrip yang secara cepat teridentifikasi. Salah satunya adalah Matalib al-Salikin karya Syekh Yusuf al-Makassari. Karya yang menekankan perlunya keseimbangan antara tauhid, tasawuf, dan ibadah ini lumayan populer pada masanya, terbukti bahwa beberapa salinan manuskripnya tersimpan di sejumlah perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa.

Beberapa kolofon menyebutkan Jampue sebagai tempat ditulisnya manuskrip, arsip-arsip peradilan agama juga jelas ditulis di Jampue. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa Jampue adalah skriptorium manuskrip dan arsip keislaman pada abad 19 hingga awal abad 20.

 

Perlu Pelestarian Berkelanjutan

Jelas bahwa masih banyak misteri dan teka-teki, siapa sesungguhnya sosok Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi, Muslim Turki yang makamnya ditemukan di pinggir pantai Jampue? Siapa pula figur Syekh Zainal Abidin yang sangat produktif menulis manuskrip atau menyalin pada pertengahan hingga akhir abad 19 itu? Siapa guru spiritualnya? Kemana terhubungkan jaringan keilmuannya? Bagaimana menghubungkan tradisi keilmuannya dengan Syekh Yusuf al-Makassari (w. 1699) yang berjarak hampir 200 tahun sebelumnya?

Saya meyakini bahwa manuskrip-manuskrip Islam yang secara perlahan ditemukan berserakan di Sulawesi Selatan akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar itu jika penelusuran dan kajian atasnya dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Tidak cukup masyarakat yang bergerak, justru para pemangku kepentingan harus lebih memiliki tanggung jawab.

Pada masa lalu, peradaban Islam di Sulawesi Selatan sangat tinggi. Salah satu indikasinya adalah kuatnya tradisi tulis di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Lontara, manuskrip, arsip, dan beragam catatan tertulis yang dijumpai lebih dari cukup untuk menggambarkan bahwa nenek moyang orang Bugis-Makassar bukan sekadar pelaut, pengembara, pejuang, melainkan juga para cendekia yang mewariskan kebudayaan dan pengetahuan melalui pena.

Dibanding wilayah lain di Nusantara, khazanah manuskrip Sulawesi Selatan bahkan menggambarkan keragaman yang tiada tara. Selain aksara Lontara, Jangang-jangang, Bahasa Makassar dan Bugis juga ditulis menggunakan aksara Sérang, yakni aksara Arab yang dimodifikasi, semacam aksara Jawi dan Pégon. Temuan Program DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) PPIM UIN Jakarta – Hamburg University, Jerman, bahkan berhasil menyelamatkan dan mendigitalisasi puluhan manuskrip beraksara Hanzi (Tiongkok) dan berbahasa Makassar (www.dreamsea.co).

Hal yang menggembirakan adalah bahwa selama 3 hari Rihlah Budaya, saya menyaksikan keterbukaan yang tulus dari para pemilik manuskrip di Sulsel. Puang Hilmy Ali Yafie sendiri meyakini bahwa manuskrip yang diyakini sebagai benda “Pusaka” di rumah pamannya itu sudah selayaknya dilestarikan dan diubah menjadi benda “Pustaka”, tanpa harus memindahkan artefak fisiknya dari lokasi semula, sesuai amanat leluhurnya.

Begitu juga yang diyakini oleh Ir. Fadly Ibrahim dan Pak Abdul Muqaddim di Pompanua, Bone. Keduanya bahkan rela mengeluarkan 2 peti besar berisi manuskrip, untuk bersama-sama diidentifikasi, serta memberi izin untuk digitalisasi dan konservasi.

Kang Oman dan Tim Rihlah Budaya saat memeriksa watermark pada kertas manuskrip Sulawesi Selatan.

Keterbukaan masyarakat para pemilik dan ahli waris manuskrip ini harus direspon dengan baik oleh berbagai pihak terkait. Perpustakaan Nasional RI sebagai wakil Negara misalnya, memiliki kewajiban memfasilitasi proses konservasi dan restorasi fisik manuskripnya, karena hanya Perpusnas yang memiliki sumber daya pelestarian fisik manuskrip yang memadai.

Apalagi, sekarang berdiri Kementerian Kebudayaan, yang berarti memiliki dan tugas khusus melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan kekayaan manuskrip sebagai bagian dari salah satu 10 Objek Pemajuan Kebudayaan. Saya masih ingat, salah satu kalimat yang diucapkan oleh Fadli Zon, sang Menteri Kebudayaan pertama dalam sejarah RI, ketika hendak diberi tugas, adalah ingin melakukan “reinventing Indonesian identity”, menemukan kembali identitas keindonesiaan kita. Manuskrip adalah salah satu jalan terbaik untuk memahami siapa kita.

Tentang ini, saya tuangkan dalam artikel di Media Indonesia (11/11) berjudul “Menemukan Kembali Indonesia”. Lihat juga di sini.

 

Menatap Masa Depan Merawat Masa Silam

Pelestarian manuskrip ini harus dipahami sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, membangunkan ingatan bersama para generasi muda milenial bahwa kita adalah bangsa yang mewarisi literasi tinggi, dan bangsa yang berperadaban luhur.

Literasi bangsa masa kini yang cenderung serba instan tidak boleh berakibat pada tenggelamnya peradaban luhur masa silam. Kita harus menciptakan jembatan peradaban, merawat hasil dokumentasi kebudayaan para pendahulu yang selama ratusan tahun telah diupayakan, mengubah benda pusaka menjadi referensi pustaka, dan mengkreasi Indonesia Emas berbasis pada peradaban yang berkelas. 

Yakinlah bahwa dunia akan mengapresiasi bangsa maju yang tetap memiliki komitmen untuk melestarikan kebudayaan asalnya. Beberapa waktu lalu misalnya, Perpusnas RI mendapatkan penghargaan Jikji Memory of the World Prize dari UNESCO. Penghargaan ini diberikan kepada Perpusnas atas kontribusinya secara signifikan dalam upaya pelestarian dan perluasan akses manuskrip kuno di Indonesia, yang telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

Negara, melalui Perpusnas harus menjaga kepercayaan terkait pelestarian manuskrip sebagai artefak kebudayaan ini dengan baik. Apalagi di tahun 2024 ini, keterlibatan masyarakat dalam hal pelestarian manuskrip juga semakin menonjol. Pada Agustus 2024 lalu misalnya, Yayasan Budaya Ngariksa menyerahkan 536 naskah Sunda Islam, lengkap manuskrip fisik berikut foto digital dan metadatanya, kepada Perpusnas. Pun Program DREAMSEA menghibahkan lebih dari setengah juta halaman salinan digital manuskrip asal Asia Tenggara, untuk dijadikan sebagai sumber terbuka (open access) bagi penguatan literasi berbasis budaya di Indonesia.

Pengarusutamaan manuskrip Nusantara yang sedang digembar-gemborkan oleh Perpusnas tidak boleh sebatas menjadi jargon dan berorientasi secara eksklusif sebagai program internal guna menyerap anggaran. Pengarusutamaan manuskrip harus berorientasi ke luar, inklusif untuk memperluas akses manuskrip bagi banyak kalangan, melibatkan komunitas-komunitas, mengapresiasi para ahli waris manuskrip, memperluas sebaran isi manuskrip dalam berbagai bentuk produk komunikasi, demi memperkaya narasi.

Sejarah adalah narasi, dan narasi dibangun oleh teks. Jauh sebelum industri buku, manuskrip telah menjadi saksi bahwa bangsa kita sudah mencapai tingkat literasi tinggi, menandingi bangsa-bangsa besar lain. Tak pelak, manuskrip bisa menjadi jalan transformasi bangsa, karena pustaka dan teks adalah anak kandung literasi yang sesungguhnya terlahir dari manuskrip kuno. 

Siapa tahu, dari sinilah kita dapat meluruskan arah menuju Indonesia Emas 2024 dengan tetap berpijak pada jati diri dan budaya bangsa sendiri. Siapa tahu, melalui manuskrip kita dapat menemukan kembali Indonesia yang hakiki. Siapa tahu, kelak anak-anak milenial, semacam Arief Rosyid Hasan, dapat menemukan jawaban tentang siapa asal-usul dan jati dirinya melalui manuskrip yang selama ini tertimbun tersimpan. Tentang obrolan dengan Arief Rosyid Hasan, bisa disimak di Ngariksa #127 di sini.

Mari kita menatap masa depan, dengan merawat masa silam.

Salam Ngariksa!

 

*Versi ringkas tulisan ini telah terbit di Kompas (17/11), dengan judul “Mengubah Pusaka Menjadi Pustaka”.

Menemukan kembali Indonesia

Menemukan kembali Indonesia

Tulisan ini dimuat dalam Kolom Pakar, Media Indonesia, pada Senin 11/11/2024.

Oleh Kang Oman, Pengampu Ngariksa

SESAAT setelah keluar dari rumah Kertanegara untuk memenuhi panggilan audisi para calon menteri Kabinet Merah Putih, Fadli Zon berujar bahwa kita harus melakukan ‘..reinventing Indonesian identity..’, menemukan kembali identitas Indonesia. Fadli melontarkan beberapa kata kunci yang mengindikasikan bahwa sejak awal ia memang sudah akan diamanahi sebagai Menteri Kebudayaan RI.

Selain kalimat di atas, ia misalnya menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi untuk bisa menjadi ‘ibu kota budaya dunia’. Fadli juga melukiskan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki ‘mega diversity’ atau megadiverse country, bangsa yang amat sangat beragam.

Fadli Zon kemudian mengelaborasi dan memaparkan visi dan misi Kementerian Kebudayaan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI, Rabu (6/11).

Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan identitas bangsa Indonesia itu? Bagaimana wujudnya? Mengapa harus ditemukan kembali? Apakah selama ini hilang? Apa perlunya bagi Indonesia emas 2045? Bagaimana strategi yang pas untuk menemukan kembali identitas Indonesia itu?

Saya ingin sedikit berbagi pandangan melalui sudut pandang filologi, ilmu yang berkutat dengan tugas-tugas inventarisasi, konservasi, digitalisasi, dan pengkajian manuskrip Nusantara.

Sumber: YouTube DPR RI
Pemaparan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Sumber: YouTube DPR RI

Mengapa manuskrip?

Manuskrip ialah tulisan tangan (handschriften) masyarakat masa lalu yang menggambarkan pikiran, pengetahuan, teknologi tradisional, kitab keagamaan, catatan harian, catatan raja-raja, surat-menyurat, obat-obatan, dan beragam catatan lain. Indonesia, dulu Nusantara, memiliki kekayaan manuskrip nan melimpah. Perpustakaan Nasional RI memperkirakan jumlahnya 82 ribu. Saya meyakini lebih dari itu.

Kekayaan manuskrip ialah penanda majunya peradaban sebuah masyarakat. Tidak semua bangsa memiliki kekayaan manuskrip seperti Indonesia. Kandungan isi manuskrip Nusantara menggambarkan identitas siapa masyarakat dan bangsa penulisnya. Keragaman aksara yang kita miliki juga jauh melebihi Jepang atau Tiongkok.

Kita punya aksara Pallawa, Kawi, Bali, Batak, Lampung, Rencong, Rejang, Jangang-jangang, Jawa, Sunda, Lontara Bugis-Makassar, aksara Sérang, Jawi, Pégon, Arab, Latin, dan beberapa lainnya. Etnik Aceh, Minangkabau, Wolio, menggunakan aksara Jawi untuk mengomunikasikan pikiran dan kearifan lokal mereka.

Jelas, manuskrip Nusantara ialah salah satu rujukan terbaik untuk mengetahui identitas dan jati diri kita sebagai sebuah bangsa, bahwa kita adalah masyarakat yang majemuk, bangsa yang ‘melek’ (literate), dan masyarakat yang telah mengenal nilai-nilai religius jauh sebelum teks-teks agama samawi berkembang.

Manuskrip Nusantara juga menegaskan bahwa kita ialah bangsa yang ‘melek teknologi’. Isi manuskrip tidak ‘melulu’ teks sastra, primbon, mujarobat, jampi-jampi, obat kuat, atau kitab keagamaan, tetapi juga ‘teknologi’ pada masanya, seperti astronomi, teknik bertani, mitigasi gempa bumi, strategi perang, seni kepemimpinan, teknik pembuatan keris, dan teknik pembuatan kapal Bugis-Makassar.

Dengan berbagai wataknya, manuskrip ialah salah satu objek pemajuan kebudayaan yang paling potensial dikapitalisasi sebagai sumber primer diplomasi budaya di kancah internasional.

Sumber: YouTube Ngariksa
Kang Oman (Kanan) bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Qatar, Yang Mulia Bapak Ridwan Hassan (Kiri). Sumber: YouTube Ngariksa

 

Mutiara yang hilang

Pasalnya, kekayaan manuskrip Nusantara itu ibarat mutiara yang hilang. Teks-teks adiluhung karya magnum opus para penulis Nusantara, yang justru dicari dan dipuja oleh bangsa Eropa, itu belum benar-benar menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Sejak berabad lamanya, bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda, Inggris, dan Jerman, telah membangun kesarjanaan mereka dengan memanfaatkan manuskrip Nusantara. Dengan serakah, sebagian manuskrip kita bahkan diangkut dan dijarah. Bukan untuk dimusnahkan, melainkan dikaji, disimpan, dipajang, dan dimuliakan.

Namun, identitas diri dalam manuskrip Nusantara itu tidak bisa diubah, tetap melekat pada kita, bangsa pemilik budaya dan tradisinya. Keindahan luar biasa hiasan ilmuninasi pada manuskrip mushaf Al-Qur’an, misalnya, yang bermotif lokal dan menggambarkan keragaman khas budaya Nusantara, tidak mungkin diklaim sebagai milik bangsa Eropa. Itu merupakan karya masterpiece leluhur kita, identitas bangsa kita, betapa pun sang Mushaf tersimpan nan jauh di sana.

Maka itu, kalau Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, ingin menemukan kembali identitas Indonesia, salah satu yang perlu dilakukan ialah membangun kesadaran publik, termasuk anak-anak muda milenial, bahwa kita harus menemukan kembali ‘mutiara yang hilang’ itu, dan mengolahnya agar relevan dengan kebutuhan zaman. Artefak-artefak budaya yang sudah dianggap mati harus dihidupkan kembali melalui penciptaan, kreasi, inovasi, dan dengan memanfaatkan piranti teknologi.

Pelestarian manuskrip Nusantara memang sudah banyak dilakukan sejak zaman mikrofilm hingga teknologi digital. Namun, itu akan sia-sia belaka jika tidak ada upaya transformasi nilai dan isi yang terkandung di dalamnya. Mutiara yang hilang itu harus dinarasikan, dibukukan, divisualkan, difilmkan, dan bahkan dikemas menjadi alat diplomasi.

Keinginan menemukan kembali Indonesia harus dengan cara menghidupkan ekosistem kebudayaan secara keseluruhan. Manuskrip hanya salah satu jalan untuk menghidupkannya tidak bisa berjalan sendirian. Filologi harus ‘kawin’ dengan arkeologi dan sejarah, teks harus dibunyikan melalui konteks, dan sinergi dengan geliat ekonomi kreatif.

Kita bersyukur sudah punya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kita juga berterima kasih bahwa melalui repatriasi, negara sudah berhasil mengembalikan lebih dari 1.000 artefak kebudayaan yang dahulu dirampas melalui penjajahan. Kini, saatnya kita memanfaatkan sumber daya kebudayaan yang tersedia itu untuk bersama-sama menemukan kembali identitas dan jati diri Indonesia.

Saya sudah hampir enam tahun mengampu Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara), membacakan teks-teks lama di media sosial, dibungkus dan dikonteksualisasi dalam peristiwa kekinian. Namun, itu baru kreasi kecil, perlu afirmasi negara yang lebih sistematis untuk menghidupkan ekosistem pengarusutamaan naskah Nusantara di kancah global.

Kita perlu menatap masa depan dengan merawat masa silam. Menemukan kembali identitas Indonesia berarti memahami asal-usul, jati diri, dan identitas leluhur agar kita tidak kehilangan arah dan tercerabut dari akar. Menemukan kembali Indonesia jelas penting di tengah kuatnya arus globalisasi dan disrupsi yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa. []