Mengasah Keterampilan Produksi Konten Visual

Aktif di media sosial bukan sekadar menghasilkan konten menarik dan menggaet banyak pengikut, tetapi juga memahami teknik produksi visual, strategi membangun audiens yang loyal, serta pentingnya kreativitas dalam menyampaikan gagasan. Ngariksa menekankan perlunya mengintegrasikan kekayaan warisan budaya, seperti manuskrip kuno, ke dalam media modern agar dapat menjangkau publik lebih luas secara efektif dan berkelanjutan.

NGARIKSA – Pada Rabu, 22 Januari 2025, lantai tiga Ruang Seminar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta diramaikan dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya. PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, dan Ngariksa menggagas Workshop Produksi Konten Visual dengan menggandeng tim ahli dari SCTV untuk membekali para peserta dengan kemampuan produksi konten visual berkualitas.

Tiga narasumber hadir untuk berbagi ilmu dan pengalamannya; Mauludin Anwar (Jurnalis Senior SCTV), Iwan Setiawan (Video Editor SCTV), dan Raditiyo Wicaksono (News Producer SCTV). Sebanyak 23 peserta hadir mengikuti workshop ini ingin meningkatkan kapasitas dan mengasah keterampilan dalam memproduksi dokumentasi video semi-profesional. 

Seperti dirasakan bahwa media sosial berkembang dengan sangat pesat, bahkan mengungguli media konvensional dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Perubahan ini menuntut para akademisi, peneliti, dan pelaku budaya untuk beradaptasi dalam menyampaikan hasil riset, kajian, serta digitalisasi naskah agar dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas.

“Namun, di sisi lain, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan agar konten hasil riset, kajian, dan digitalisasi naskah dapat dinikmati oleh khalayak umum,” ujar Hadi Rahman, sebagai MC, saat membuka diskusi. Ia menegaskan bahwa tanpa strategi yang tepat, kekayaan intelektual dan warisan budaya yang berharga berisiko tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital.

Workshop ini dibuka oleh Didin Syafruddin, Direktur Eksekutif PPIM, yang memaparkan pentingnya produksi konten visual untuk menjembatani berbagai hasil penelitian PPIM agar lebih relevan dan mudah diakses masyarakat luas. “Kami memiliki kekayaan data yang sangat bernilai, seperti buku Green Islam dan hasil riset tentang intoleransi, tetapi kami butuh cara efektif untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang dekat dengan publik,” ujar beliau.

Di sisi lain, Kang Oman, Pengampu Ngariksa, menyoroti pentingnya merawat warisan budaya tertulis seperti manuskrip. Ia menekankan perlunya strategi modern dalam memadukan kekayaan intelektual masa lalu dengan format komunikasi kekinian. “Kami punya banyak sumber daya yang sulit ditemukan di tempat lain, tapi bagaimana caranya agar masyarakat merasa memiliki dan ingin merawatnya?” kata Kang Oman dengan antusias.

Suasana diskusi pagi yang menyenangkan hati. Dari kiri ke kanan; Didin Syafruddin, Mauludin Anwar, Raditiyo Wicaksono, dan Kang Oman. (Foto: Ramzy)

Para narasumber dari SCTV membawa perspektif segar tentang dunia media digital. Mauludin Anwar, misalnya, berbagi tips tentang pentingnya membangun loyalitas audiens melalui konten yang konsisten dan menarik. “Konsistensi adalah kunci. Video yang menarik di 30 detik pertama dapat menjadi penentu audiens bertahan atau meninggalkan konten Anda,” ungkap sosok yang akrab disapa Kang Awan itu.

Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan membagikan berbagai kiat teknis dalam produksi konten visual, mulai dari cara mengoptimalkan penggunaan kamera, pentingnya kualitas audio yang baik, hingga strategi editing untuk menciptakan video yang menarik dan engaging. Tidak hanya sebatas teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan proses pembuatan video singkat, dari tahap pengambilan gambar hingga editing akhir. Dengan pengalaman mereka di dunia penyiaran dan media digital, keduanya aktif dalam Berisik Project, sebuah inisiatif literasi media yang berfokus pada edukasi dan pemberdayaan komunitas dalam memahami serta memanfaatkan media secara lebih kritis dan kreatif.

Workshop ini tidak hanya tentang teknis produksi video. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momen refleksi tentang bagaimana institusi seperti PPIM dapat memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan penting mereka. Kang Awan memberikan contoh sederhana, “Video singkat di platform seperti Instagram Reels atau YouTube Shorts bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil riset, data-data, angka-angka yang menarik kepada generasi muda.”

Raditiyo juga membandingkan manuskrip kuno dengan perburuan artefak Indiana Jones. “Ceruknya memang kecil, tapi naskah-naskah ini adalah harta karun sejarah,” ujarnya. Ia mengingatkan pentingnya menyesuaikan penyampaian dengan audiens masa kini. Bagi Raditiyo, kunci keberhasilan konten terletak pada narasi yang provokatif tetapi jujur, judul seperti “Wow, Ada Telur Cicak di Naskah!” bisa memancing rasa penasaran, tetapi harus dibarengi dengan isi yang relevan dan bermakna.

Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual. Kamera tidak hanya harus menangkap gambar secara teknis baik, tetapi juga perlu mencerminkan emosi dan suasana. “Jemari Kang Oman memegang naskah tua, debu yang beterbangan, atau momen spontan tawa lepas dan meneteskan air mata haru harus disorot dengan cermat,” tegasnya. Ia juga menyarankan elemen tambahan seperti call to action yang mengundang penonton untuk terus terlibat, dari klik video hingga mengikuti sesi tanya jawab.

Hingga sore, workshop tetap seru dan menambah wawasan baru. Dari kiri ke kanan, Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan. (Foto: Ramzy)

Iwan memperkaya diskusi dengan teknik teknis. Dari memanfaatkan stabilizer sederhana hingga mempraktikkan rules of thirds, ia menekankan bahwa detail adalah segalanya. “Suara gesekan kertas manuskrip atau debu yang beterbangan bisa memberikan kekuatan emosional pada video,” katanya. Menurut Iwan, suara, framing, dan pencahayaan harus bersinergi untuk menghasilkan konten yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah.

Di tengah tumpukan teori dan praktik, pesan yang muncul jelas: setiap momen adalah peluang untuk bercerita. Baik melalui kamera yang menangkap detail narasi, maupun melalui pendekatan visual yang membangun hubungan emosional, warisan budaya seperti manuskrip kuno dapat dihidupkan kembali. Sebagaimana Raditiyo mengatakan, “Ride the wave” ikuti arus tren, tetapi jangan pernah kehilangan identitas.

Workshop ini menjadi panggung penting untuk menjembatani dunia akademik yang cenderung serius dengan publik yang haus akan konten ringan tetapi bermakna. Dalam dunia di mana semua orang kini bisa menjadi jurnalis, tantangan terbesar adalah menjadikan cerita kita lebih relevan dan lebih hidup, tanpa mengorbankan esensi sejarah di dalamnya.

Di akhir sesi, muncul gagasan kolaborasi lebih luas, termasuk peliputan ke lapangan bersama Dreamsea dan harapan agar Perpustakaan Nasional RI dapat mendukung konservasi manuskrip melalui program digitalisasi yang lebih masif. “Jika kita dapat menjadikan manuskrip-manuskrip ini lebih dekat dengan publik, melalui visual yang menarik, tentu akan banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Kang Oman mengakhiri sesi diskusi.

Workshop ini membuktikan bahwa membangun jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan komunikasi modern adalah tantangan sekaligus peluang. Dengan kolaborasi yang tepat, seperti antara PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, Ngariksa, dan SCTV, upaya ini bukan hanya memungkinkan, tetapi juga penuh dengan keterampilan dan potensi yang menginspirasi. (Ngariksa-Min)

Para peserta workshop tampak ceria dan bersemangat mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. (Foto: Irfan Farhani)

Membuka Kemasan Manuskrip dari Madura

Manuskrip kuno kiriman Sobat Ngariksa di Madura, Abdur Rahman Al-Kampoki, tiba dalam kondisi rapuh, penuh debu, dan beberapa bagiannya rusak. Manuskrip ini berisi doa, puisi, dan ajaran yang mencerminkan tradisi masa lalu. Kang Oman berkomitmen untuk membersihkan, mendigitalisasi, dan menjaga dokumen berharga ini agar dapat diteliti dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ini merupakan upaya penting untuk melestarikan sejarah dan budaya yang hampir hilang.

NGARIKSA – Kang Oman menyambut sebuah paket istimewa yang baru saja tiba di rumahnya. Kiriman ini datang dari Abdur Rahman Al-Kampoki, seorang Sobat Ngariksa dari Madura. Dengan napas penuh penasaran, Kang Oman memandang paket tersebut. Katanya, ini adalah manuskrip kuno yang telah lama tersimpan dan kini diserahkan untuk diidentifikasi. Dalam benaknya, terselip tanya: masihkah manuskrip ini bertahan dari gerusan waktu?

Perlahan, Kang Oman mulai membuka bungkus  (unboxing) sederhana itu di Lantai III Gedung Pusat Pengkajian Islam & Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Plastik pembungkusnya sudah kumal, seolah menyimpan kisah panjang tentang perjalanan manuskrip di dalamnya. Sebelum menyentuh lebih jauh, ia mengenakan sarung tangan dan masker. Manuskrip merupakan sesuatu yang rentan, satu sentuhan sembarangan bisa jadi akhir dari usia ratusan tahun yang telah dilewati.

Ketika plastiknya terlepas, aroma khas kertas tua langsung menyeruak. Lebih dari lima manuskrip tergeletak di dalamnya, seperti harta karun yang baru saja ditemukan dari peti masa lalu. Kertasnya bukan dari Eropa, melainkan daluang, bahan khas yang sering digunakan pada abad ke-18 hingga ke-19. “Ini dia,” gumam Kang Oman, “sejarah yang hidup kembali,” ungkapnya dalam Ngariksa Episode 134.

Manuskrip pertama dibuka. Lembar-lembar tua itu berisi doa-doa, seperti niat salat dan doa qunut. Beberapa bagian sudah berlubang, rapuh, dan berdebu. Setiap goresan tinta di atas kertas itu adalah jejak para pendahulu, seperti bisikan yang ingin tetap didengar meski semakin samar.

“Manuskrip kedua berisi teks puisi bertajuk Sinom. Dari gaya penulisannya, tradisi mocopat, puisi Jawa yang sering dibacakan dalam ritual adat di Madura. Pada halaman awal manuskrip ini terbalik, mungkin akibat susunan yang pernah kacau atau penyimpanan yang kurang tepat,” ungkap Kang Oman sambil menahan napas dari maskernya yang melindungi dari debu ratusan tahun itu.

Ketika membuka manuskrip berikutnya, Kang Oman terdiam sejenak. Ada kerusakan yang cukup parah, lubang-lubang besar, bekas gigitan rayap, bahkan telur cicak yang menempel di salah satu halaman. Ia melihat bukan hanya teks, tetapi juga perjuangan untuk tetap ada, meski diabaikan dan terlupakan.

Tampak pecahan cangkang telur cicak di antara kertas yang bolong.

Salah satu temuan yang paling menarik ialah manuskrip Bidayah al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Teks ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam tasawuf. Meskipun bagian awalnya telah hilang, sisa-sisa teks yang ada tetap memancarkan kekuatan ajarannya. Kang Oman mengenali huruf Pegon yang tertulis di setiap sela, seolah memberi penegasan bahwa manuskrip ini pernah menjadi saksi kehidupan santri di Madura.

Lembar berikutnya dari koleksi ini adalah Kitab Tauhid karya Al-Samarqandi, yang membahas sifat 20 dengan terjemahan Pegon. Teks ini masih cukup rapi, namun tetap memperlihatkan usia tuanya. Di bagian akhir, terdapat catatan yang mungkin berasal dari pemilik sebelumnya. Sebuah pengingat, bahwa manuskrip ini pernah hidup di tengah masyarakat, digunakan, dan dihargai.

Kang Oman memandang manuskrip-manuskrip itu dengan penuh haru. Setiap halaman adalah saksi bisu dari tradisi yang pernah hidup, dari orang-orang yang mencintai ilmu. Namun, kondisinya memprihatinkan. Rayap, debu, dan usia telah mengambil banyak dari mereka.

Manuskrip keenam mengandung pembahasan tentang sifat-sifat Allah yang dikenal sebagai Sifat 20. Sayangnya, bagian awal dan akhirnya hilang, tetapi teks utama masih menunjukkan pola sastra mocopat dengan pupuh seperti Durma, Sinom, dan Kasmaran. Tradisi sastra ini menunjukkan bahwa ajaran teologi Islam sering kali dikemas dalam bentuk sastra yang indah agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Abdullah Maulani dan Kang Oman saat membaca beberapa manuskrip yang telah dibuka.

Kang Oman agak terkejut melihat manuskrip berikutnya karena ini memuat teks berjudul Kabar Kiamat, yang mengingatkannya pada karya Syekh Nuruddin Ar-Raniri, Akhbar al-Akhirah. Teks ini membahas peristiwa akhirat dan sering dijadikan bahan bacaan dalam tradisi pesantren untuk membangkitkan kesadaran spiritual. Struktur teks menunjukkan elemen mocopat dengan pupuh seperti Sinom dan Kasmaran. Teks ini sangat penting untuk memahami bagaimana masyarakat tradisional memadukan sastra dan ajaran agama.

Manuskrip terakhir adalah sebuah manuskrip tasrif yang dikenal sebagai Tasrif al-Izzi atau sering disebut Kailani. Kitab ini digunakan dalam pembelajaran morfologi bahasa Arab di pesantren. Manuskrip ini memiliki banyak catatan di bagian tepi, menunjukkan bahwa teks ini dipelajari secara intensif oleh santri. Setiap halaman penuh dengan terjemahan Pegon dan komentar yang memperjelas isi teks.Terdapat kolofon di akhir teks ini yang mencantumkan bahwa kitab ini berjudul lengkap Musamma bil-Izzi.  

 

Kondisi Manuskrip dan Upaya Pelestarian

Semua manuskrip ini ditulis di atas kertas daluang yang rentan terhadap kerusakan. Beberapa halaman bolong, tinta memudar, dan ada coretan yang memperumit pembacaan. Salah satu manuskrip bahkan terbungkus plastik usang, seolah-olah hampir terbuang sebelum akhirnya diselamatkan.

Untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya yakni manuskrip dari Madura ini, langkah konservasi sangat penting. Digitalisasi menjadi prioritas untuk menjaga isi teks ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. Kang Oman sudah melakukan proses pembersihan dengan hati-hati menggunakan bahan dan metode yang aman agar tidak merusak lebih lanjut teks yang ada.

Keberadaan manuskrip-manuskrip ini membuka jendela bagi kita untuk memahami lebih dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Madura di masa lalu. Setiap lembar yang dibuka Kang Oman menyingkap cerita yang tak hanya berisi sejarah, tetapi juga harapan dan doa dari generasi sebelumnya.

Kang Oman menyapu butiran debu yang menempel di manuskrip dengan kuas secara perlahan-lahan.

Manuskrip ini membutuhkan konservasi yang lebih baik. Kondisi beberapa naskah sudah bolong, kertasnya rapuh, dan teksnya mulai memudar. Digitalisasi menjadi langkah pertama yang harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap dapat diakses oleh generasi mendatang. Kita berharap lembaga seperti Perpustakaan Nasional RI dapat membantu dalam pelestarian naskah-naskah ini. Dengan dukungan fasilitas, keahlian, dan sumber daya yang dimiliki Perpusnas RI, proses konservasi ini bisa menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan, sehingga keberadaan naskah-naskah ini dapat terus terjaga untuk waktu yang lama.

“Mas Abdurrahman, terima kasih telah mempercayakan ini kepada kami,” ujar Kang Oman lirih. Ia berjanji akan mendigitalkan manuskrip-manuskrip ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. “Setiap lembar ini adalah jejak sejarah yang tak ternilai. Kita punya tanggung jawab besar untuk merawatnya, agar cerita-cerita di dalamnya tetap hidup.”

Bagi Kang Oman, manuskrip ini sebagai pengingat tentang betapa kayanya tradisi dan budaya kita. Ia mengajak Sobat Ngariksa lainnya untuk melakukan hal yang sama, merawat masa silam untuk menatap masa depan. Sejarah memang tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara kepada mereka yang mau mendengar. (Ngariksa-Min)

Manuskrip di Tengah Tsunami Aceh

Dua puluh tahun setelah tsunami Aceh, tragedi ini mengajarkan kita bahwa bencana alam bukan hanya soal kehilangan manusia dan infrastruktur, tetapi juga ancaman terhadap warisan budaya yang membentuk identitas bangsa. Upaya Kang Oman menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno di tengah kehancuran menunjukkan betapa pentingnya menjaga ingatan kolektif sebagai landasan peradaban.

NGARIKSA – Mengingat Tsunami, Merawat Bumi menjadi tema Ngariksa episode 133. Kang Oman berkisah tentang pengalaman yang tak pernah dilupakannya pasca-tsunami di Aceh. Malam itu, di rumah Kang Oman saat live streaming, Yasushi Tonaga, seorang guru besar pakar mitigasi gempa dari Kyoto University, Jepang, datang bersama tamu-tamu lain lulusan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Suasana syahdu dan pilu menjadi satu mengenang tsunami.    

Kang Oman membuka cerita dengan mendoakan para syuhada’ tsunami. Surat “Al-Fatihah” dibacakan bersama-sama sebagai awal persembahan sambil menahan linangan air mata. Tak lupa, lagu Aneuk Yatim karya Rafly Kande juga menjadi intro malam itu. 

Gempa yang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, pukul 08:58 WIB, dengan magnitudo 9,3, merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah. Korban jiwa mencapai lebih dari 230.000 orang, dan hampir setengah juta kehilangan tempat tinggal. Ketidaksiapan kita menghadapi bencana tersebut menjadi pelajaran penting. Jepang, yang sering dilanda gempa, menunjukkan bagaimana kesiapan dapat meminimalkan dampak bencana. “Kita harus belajar dari Jepang,” ujar Kang Oman. “Namun, mitigasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang budaya dan edukasi.”

Ia kemudian mengenang kembali panggilan yang membawanya ke Aceh. “Ketika kolega dari Tokyo University meminta saya ke Aceh untuk menyelamatkan manuskrip, saya sempat ragu,” ujarnya. Situasi di sana sangat berbahaya, dengan mayat yang belum tertangani dan logistik yang kacau. Namun, rasa tanggung jawab terhadap warisan budaya mengalahkan segalanya.

Kang Oman dan Hasnul di tengah suasana pasca-Tsunami Aceh.

Setibanya di Aceh pada 16 Januari 2005, Kang Oman mendapati bahwa upaya menyelamatkan manuskrip tidak diprioritaskan. Banyak yang mempertanyakan, bahkan mencemooh, mengapa ia fokus pada naskah kuno di tengah darurat. Namun, Kang Oman tetap teguh. “Manuskrip ini adalah ingatan kolektif bangsa. Jika hilang, kita kehilangan bagian penting dari identitas kita,” tegasnya.

Di tengah puing-puing kehancuran, Kang Oman dan timnya berhasil menyelamatkan sejumlah manuskrip berharga. Salah satu yang paling penting adalah peta Aceh buatan Belanda, satu-satunya di dunia. Selain itu, ada manuskrip yang mencatat gempa pada bulan Zulqa’dah, yang secara takwil sering dikaitkan dengan perpecahan di antara pemimpin. Manuskrip-manuskrip ini menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menjadi saksi sejarah yang tak tergantikan.

Perjalanan Kang Oman tidak mudah. “Saya ingat, teman saya, Bang Hasnul, meminjamkan motor untuk membantu perjalanan saya menyusuri lokasi manuskrip,” kenangnya. Dalam kondisi serba terbatas, dukungan kecil seperti itu menjadi sangat berarti. “Kami tidak hanya menyelamatkan benda fisik, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tambahnya.

Televisi Swasta menganggap penting peran penyelamatan manuskrip pasca-tsunami Aceh.

Kisah ini juga mengingatkan pada sosok seperti Cut Putri, seorang penyintas yang mendokumentasikan detik-detik tsunami dengan keberanian luar biasa. Dokumentasinya menjadi bagian penting dari ingatan kolektif kita. “Di tengah keterbatasan, keberanian individu sering kali menjadi penentu,” kata Kang Oman.

Menjaga warisan budaya adalah bagian dari merawat kemanusiaan. Manuskrip-manuskrip ini tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk masa depan. “Merawat bumi dan ingatan kolektif adalah tugas kita bersama,” ungkap Kang Oman.

Ketika dirinya memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan manuskrip di Aceh pasca-tsunami, ia menyadari bahwa perhatian dunia saat itu lebih banyak tertuju pada penyelamatan manusia. Manuskrip mungkin tidak diprioritaskan, tetapi ia tetap berpegang pada niat untuk melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. Dengan segala persiapan seadanya, Kang Oman memulai perjalanannya ke Aceh, bersiap untuk tinggal di lapangan jika perlu.

Ia pun mendapatkan kehangatan dari keluarga Pak Tajir dan Ibu Nur, yang meskipun kehilangan banyak anggota keluarga, dengan murah hati memberikan tempat tinggal dan dukungan.

Perjalanan ini penuh tantangan.  Salah satu lokasi penting adalah Zawiyah Tanoh Abee, sebuah pesantren abad ke-16 yang menyimpan karya-karya ulama besar seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Banyak manuskrip di sana sudah rusak akibat bencana, tetapi masih ada koleksi yang berhasil diselamatkan berkat bantuan Tengku Abu Dahlan.

Peralatan yang digunakan saat itu sangat sederhana. Dengan kamera handycam pinjaman dan media MiniDV, Kang Oman mendokumentasikan perjalanan ini. Video tersebut kelak menjadi arsip penting yang diminati berbagai pihak, termasuk pemerintah Jepang, Kanada, dan Jerman, untuk membantu upaya pelestarian lebih lanjut.

Kolaborasi dengan berbagai lembaga dan individu pun terjalin. Salah satunya adalah kerjasama dengan Tokyo University of Foreign Studies untuk melakukan digitalisasi manuskrip. Proses ini sangat melelahkan, dilakukan dengan peralatan manual, tetapi membuahkan hasil berupa katalog manuskrip seperti “Katalog Naskah Ali Hasymi” dan “Katalog Zawiyah Tanoh Abee” yang sangat bermanfaat bagi filolog dan peneliti di masa depan.

Menyelamatkan peradaban luhur bangsa.

Bencana tsunami juga membawa refleksi tentang bagaimana manuskrip dapat membantu menjaga ingatan kolektif. Salah satu karya penting yang muncul dari masa itu adalah tulisan seorang ulama sepuh asal Sarang Rembang, alm. Kiai Maimun Zubair, “Tsunami fi Biladina Indonesia: Adhabun am Musibah,” yang mencoba memberi perspektif bahwa bencana ini adalah peringatan dan ujian, bukan hukuman.

Kini, setelah 20 tahun berlalu, naskah-naskah yang diselamatkan masih menjadi sumber inspirasi. Kang Oman dan rekan-rekannya berharap generasi muda semakin peduli terhadap pelestarian manuskrip sebagai warisan budaya yang bukan hanya pusaka, tetapi juga pustaka. Upaya ini mengingatkan kita bahwa pelestarian manuskrip adalah bagian dari menjaga peradaban kita.

Malam itu, studio Ngariksa di lantai dua rumah Kang Oman bukan hanya ruang mengaji dan diskusi ilmu, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap bencana, ada tanggung jawab besar untuk terus menjaga warisan, belajar darinya, dan membangun dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang. (Ngariksa-Min)