Jalan Pulang Hamzah Fansuri

Setelah 29 tahun meneliti naskah Aceh, Kang Oman tiba di Subulussalam dan menemukan ironi: meski UNESCO menetapkan karya Hamzah Fansuri sebagai Memory of the World 2025, warisan sufi abad ke-16 itu justru terlupakan di tanah kelahirannya. Ia mengungkap ada temuan tentang tahun wafat Hamzah Fansuri (1527) dan fenomena “satu jasad, tiga makam”, seraya menyerukan langkah konkret untuk melestarikan khazanah intelektual Nusantara yang pernah menjadi pusat peradaban dunia. (Sumber foto: israc.or.id)

NGARIKSA – Kabut pagi masih menyelimuti Bandara Silangit ketika Kang Oman menjejakkan kakinya di tanah Sumatera setelah perjalanan panjang dari Jerman. Penerbangan yang melelahkan, transit 22 jam di Dubai, dan perjalanan darat tujuh jam yang ternyata lebih lama daripada penerbangan internasionalnya, semua terbayar sudah ketika ia berdiri di tanah Subulussalam. 

“Sejak 1996 saya meneliti manuskrip-manuskrip Aceh,” ujarnya dengan suara bergetar, “tapi baru hari ini, setelah 29 tahun, saya akhirnya bisa menyentuh tanah yang melahirkan Hamzah Fansuri.”  

Acara seminar di Subulussalam itu bukan sekadar pertemuan akademis biasa. Suasana terasa magis ketika Kang Oman dengan sengaja memilih duduk sejajar dengan hadirin, menolak tempat yang lebih tinggi. 

“Saya ini santri,” katanya sambil tersenyum, “tidak pantas duduk di atas ketika berbicara tentang ulama besar.” Sikap rendah hati ini justru membuat audiens semakin terpikat, bersiap menyimak kisah perjalanan intelektual seorang sufi yang pemikirannya telah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. 

Ironi besar segera terungkap. Di saat karya-karya Hamzah Fansuri dikaji di universitas-universitas ternama Eropa dan Asia, di tanah kelahirannya sendiri di Singkil, warisan sang sufi justru seperti terlupakan. 

“Saya berbincang dengan warga di sini,” cerita Kang Oman, “dan menyadari betapa sedikit yang mengenal kedalaman pemikiran putra terbaik mereka.” Padahal, di Hamburg, tempat ia baru saja datang, para akademisi sedang bersemangat mendiskusikan pengaruh syair-syair Hamzah Fansuri terhadap perkembangan tasawuf dunia.  

 

Penelusuran Peneliti

Fakta-fakta sejarah yang dipaparkannya bagai potongan puzzle yang akhirnya menyatu. Penelitian mutakhir dua arkeolog Prancis, Claude Guillot dan Ludvik Kalus, menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri mungkin telah wafat pada 1527, lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Temuan ini mengubah banyak hal. Jika benar demikian, berarti sang sufi tidak sempat bertemu langsung dengan Syekh Syamsuddin al-Sumatrani yang selama ini dianggap sebagai muridnya. 

“Tapi hubungan guru-murid dalam tradisi kita tidak selalu berarti pertemuan fisik,” jelas Kang Oman, “bisa jadi ini hubungan intelektual melalui karya.”  

Sedikit singkat tentang Hamzah Fansuri. 

Yang lebih menarik lagi adalah fenomena “satu jasad, banyak makam”. Di Oboh Rundeng (Subulussalam), di Ujong Pancu (Aceh Besar), dan di Bab al-Ma’la (Mekkah), masyarakat setempat sama-sama mengklaim memiliki makam Hamzah Fansuri.

“Ini bukan hal aneh dalam tradisi kita,” ujar Kang Oman sambil tersenyum. “Syekh Yusuf al-Makassari pun makamnya ada di tiga tempat: Afrika Selatan, Goa, dan Banten. Orang-orang suci sering meninggalkan jejak yang tak bisa dipahami dengan logika biasa.”  

Pada 11 April 2025 menjadi momen bersejarah. Di markas UNESCO di Paris, setelah melalui proses seleksi ketat, karya-karya Hamzah Fansuri resmi ditetapkan sebagai Memory of the World. 

“Ini bukan sekadar pengakuan simbolis,” tegas Kang Oman yang terlibat langsung dalam proses nominasi. “Tapi pengakuan bahwa pemikiran dari tanah Singkil ini telah menjadi bagian dari peradaban dunia.” 

Prosesnya tidak mudah. Tim Indonesia harus berkolaborasi dengan Malaysia karena karya-karya tersebut adalah warisan bersama dunia Melayu. Yang diajukan bukan hanya satu naskah, tetapi seluruh corpus karya Hamzah Fansuri, dari Asrar al-Arifin hingga Syair Perahu yang puitis.  

Di balik kegembiraan ini, Kang Oman justru menyodorkan tantangan yang lebih besar. “UNESCO sudah mengakui, lalu apa langkah kita selanjutnya?” tanyanya retoris. Ia bercerita tentang proyek ambisius Kementerian Kebudayaan yang sedang menulis ulang sejarah Indonesia dengan perspektif baru. 

“Kita akan menempatkan Nusantara sebagai pusat peradaban, bukan pinggiran,” katanya dengan mata berbinar.  

Bukti-bukti yang ia paparkan mengubah cara pandang kita terhadap sejarah. Catatan pedagang Persia abad ke-9, Sulaiman al-Sirafi, yang menggambarkan kekagumannya pada rempah-rempah Nusantara. Naskah Yaman abad ke-13 yang sudah menggunakan istilah “Al-Jawi” untuk menyebut masyarakat kita. 

Jejak intelektual yang menunjukkan bagaimana Aceh menjadi gerbang masuknya Islam ke Asia Tenggara. “Kita sering lupa,” ujarnya, “bahwa ketika Eropa masih dalam Abad Kegelapan, Nusantara sudah menjadi pusat perdagangan dan pemikiran dunia.”  

 

Aceh Membangunkan Makkah

“Inilah mukadimah kitab yang ditulis Syekh Ibrahim Al-Kurani,” ujar Kang Oman dengan suara bergetar. “Di sini beliau bercerita tentang kabar yang diterima dari murid-murid Jawi yakni orang-orang Nusantara tentang bagaimana ilmu tasawuf dipelajari secara serampangan di Aceh abad ke-17.”  

Fragmen sejarah yang dibacanya itu seperti membuka peti hikmah yang terlupakan. Syekh Al-Kurani, guru dari Syekh Abdurrauf Singkil, mengkritik fenomena saat itu, orang-orang belajar wahdatul wujud sebelum sempurna menguasai fikih dasar. 

“Belum khatam Al-Qur’an, belum tuntas belajar wudhu, sudah berani menyelami samudera tasawuf falsafi,” ujar Kang Oman menjelaskan. “Inilah yang kemudian memicu polemik sengit antara para ulama Aceh.”  

Dari pergolakan intelektual inilah lahir karya-karya monumental. Syekh Abdurrauf Singkil, sang penengah, tidak serta merta mengambil sikap. Dengan rendah hati, beliau meminta petunjuk gurunya di Makkah. 

Kutipan karya Al-Kurani merespons muslim Jawi atau Nusantara khususnya Aceh dan Sumatera.

“Jawaban Syekh Al-Kurani sederhana tapi mendalam: wal jam’u muqaddamun ‘alat tarjih, upaya menghimpun pendapat harus didahulukan daripada mengunggulkan salah satu pihak,” papar Kang Oman.  

Prinsip inilah yang kemudian melahirkan Tanbih al-Masyi, juga karya tafsir pertama lengkap 30 juz dalam bahasa Melayu. “Inilah mahakarya yang disempurnakan oleh muridnya, Baba Daud Ar-Rumi dari Turki, yang di Jawa dikenal sebagai Tengku Penayong,” tambahnya sambil menunjukkan foto naskah kuno dari Surau Calau, Sijunjung.  

Kang Oman kemudian membeberkan peta jaringan intelektual yang mencengangkan. Dari tanah Singkil, pengaruh Syekh Abdurrauf menjalar ke seluruh Nusantara ke Minangkabau melalui Syekh Burhanuddin Ulakan, ke Cirebon melalui silsilah keraton, ke Yogyakarta melalui Kanjeng Ratu Kadipaten, nenek buyut Pangeran Diponegoro, dan bahkan sampai ke Mindanao, Filipina Selatan.  

“Lihatlah betapa gagasan dari tanah Singkil ini mempengaruhi perlawanan Diponegoro,” ujarnya bersemangat. “Ketika sang pangeran kecil dibesarkan oleh neneknya yang menganut tarekat Satariah, ditanamkanlah prinsip zillullah fil ard, manusia sebagai bayangan Tuhan di bumi yang harus membela keadilan.”  

Di antara ribuan naskah yang ditelitinya, Kang Oman masih penasaran dengan satu teka-teki: siapakah Syekh Nuruddin Albawani? “Figur misterius ini muncul dalam silsilah sebagai murid langsung Syekh Abdurrauf, tapi jejaknya hilang ditelan zaman,” katanya.  

Yang lebih menarik lagi adalah temuan tentang sufisme perempuan Nusantara. “Kita selalu mengenal Rabiah Al-Adawiyah, tapi di Tano Abe, saya menemukan manuskrip tentang Hamidah binti Sulaiman, sufi perempuan Aceh yang menerima ijazah tarekat.”  

 

Tugas Besar untuk Semua

Dengan mata berbinar, Kang Oman bercerita tentang kecintaannya pada filologi. “Ilmu membaca naskah kuno ini seperti menjadi detektif waktu,” ujarnya. Di Marawi, Filipina, ia menemukan naskah yang masih terbungkus kain; di Palembang, manuskrip yang nyaris dibuang.  

Namun keprihatinannya mendalam ketika melihat kondisi studi filologi sekarang. “Anthony Reid pernah bilang, tradisi studi naskah Nusantara di Eropa sudah tamat. Sekarang tanggung jawab ada di pundak kita,” tegasnya.  

Kang Oman menitip pesan: “Untuk memulangkan pemikiran Hamzah Fansuri ke tanah kelahirannya, kita butuh ekosistem lengkap dari kurikulum pendidikan, digitalisasi naskah, hingga kebijakan pemerintah.”  

Di penghujung acara, Kang Oman tidak hanya meninggalkan pengetahuan, tetapi juga rencana konkret. Ia mengusulkan tiga langkah besar: digitalisasi naskah-naskah kuno yang masih tersisa, penyusunan kurikulum lokal berbasis warisan intelektual, dan festival budaya tahunan yang menghidupkan kembali jejak keemasan Islam Nusantara. 

“Hamzah Fansuri bukan milik masa lalu, tapi kompas yang akan membimbing kita ke masa depan,” ungkapnya seperti bisa disaksikan dalam Ngariksa episode 142.   

Uraian Kang Oman terkait MoW UNESCO untuk Indonesia.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan dan para hadirin beranjak pulang, satu pertanyaan masih menggantung di udara: Sudah siapkah kita “memanggil pulang” sang sufi, bukan hanya dalam bentuk pengakuan dunia, tetapi dalam kehidupan intelektual dan spiritual kita sehari-hari? Jawabannya, seperti kata Kang Oman, tidak tertulis dalam naskah-naskah kuno, tetapi dalam tindakan nyata generasi sekarang untuk merawat warisan yang hampir terlupakan ini.  

Di luar jendela, angin berembus pelan membawa aroma laut Singkil yang asin. Seolah menyampaikan pesan: pemikiran Hamzah Fansuri telah berlayar mengarungi samudera waktu, dan kini saatnya untuk berlabuh kembali ke tanah kelahirannya. (Ngariksa-Min)

Wajah Hamzah Fansuri di Kanvas Singkil

Ilustrasi Syekh Hamzah Fansuri digoreskan oleh M. Yasir Bancin. Ia merupakan seniman asal Tanah Singkil. Karyanya bukan sekadar lukisan wajah imaji seorang sufi agung abad ke-16, melainkan wujud ikhtiar merawat ingatan kolektif yang nyaris terputus dari akarnya. Meski kini kecerdasan visual buatan beredar deras, karya ini menjadi simbol pemulangan identitas ke rahim asalnya, sebuah tafsir spiritual, kultural, dan intelektual yang dibangun dengan riset, doa, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Ia tidak hanya meluruskan wajah, tetapi juga menghidupkan semangat berkarya, meneliti, dan membumikan warisan para ulama kepada generasi muda, agar masa depan dapat ditapaki tanpa kehilangan jejak masa silam.

NGARIKSA – Kang Oman berbincang dengan M. Yasir Bancin, seorang seniman muda asal Singkil yang baru saja menciptakan ilustrasi tokoh ulama besar, Hamzah Fansuri. Yasir yang lahir di Desa Rimo dan menyelesaikan pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Padang serta Pascasarjana ISI Yogyakarta ini telah aktif melukis sejak SD dan mengikuti berbagai pameran nasional sejak 2016. Ia menyebut dirinya sebagai pegiat seni, dan menekuni jalur seni lukis hingga kini menghasilkan lebih dari 100 karya.

“Perjalanan seniman itu seperti tahap spiritual: dari realisme ke surrealisme, hingga akhirnya mencapai abstrak. Seperti dari syariat ke tasawuf,” ujar Yasir sambil menyamakan perjalanan artistiknya dengan tradisi sufistik.

Yasir juga menyinggung pengalamannya mengikuti lomba kaligrafi MTQ tingkat kabupaten. Ia menyebut, meskipun kategori kontemporer, tetap ada kaidah yang mengikat, yang menurutnya agak bertentangan dengan semangat seni murni. Meski demikian, ia tetap menyesuaikan dan berhasil meraih juara. Kang Oman memuji karya Yasir yang berani menyandingkan seni lukis dengan nilai-nilai manuskrip klasik dan tokoh Islam besar. Ilustrasi Yasir tentang Hamzah Fansuri menjadi penanda penting, apalagi kini karya Hamzah telah diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada 11 April 2025. Ini menegaskan bahwa pendekatan seni visual bisa menjadi jembatan baru dalam menghidupkan kembali khazanah keilmuan Nusantara.

Dari Kota Subulussalam, Kang Oman menyoroti lukisan-lukisan Yasir Bancin yang tak hanya memikat secara visual, tapi juga kaya akan filosofi dan kedalaman lokal. Salah satu karya menarik Yasir lainnya adalah lukisan yang menggunakan ampas kopi sebagai medium. Gagasan ini muncul ketika ia melihat banyaknya ampas kopi terbuang di warung-warung kopi Aceh, yang dikenal sebagai “kota seribu warung kopi.”

“Kopi memberi efek warna yang artistik, dan secara makna, seperti kata Teuku Umar: kalau besok mati, kita mati syahid; kalau hidup, kita ngopi di Lambu,” tutur Yasir yang percaya bahwa kopi adalah simbol semangat, perjuangan, dan keseharian rakyat.

Yasir juga melukis dengan medium ampas kopi.

Tak hanya kopi, Yasir juga banyak terinspirasi oleh syair-syair Syekh Hamzah Fansuri, khususnya Syair Perahu. Ia menvisualkan bait-bait syair itu ke dalam lukisan yang memadukan unsur perahu, ikan tongkol, pohon cabai, suluh, dan kitab, merepresentasikan ulama yang menyatu dengan alam dan masyarakat. “Saya tidak melihat sisi mistisnya. Tapi saya melihat bahwa ulama dulu juga petani, nelayan, yang pandai membaca alam,” ujarnya.

Yasir juga menekankan pentingnya ilustrasi yang tepat untuk tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, karena selama ini banyak foto yang beredar di internet justru keliru dan menampilkan sosok ulama lain. Maka, ilustrasi karyanya juga dimaksudkan untuk “meluruskan” representasi visual tokoh besar abad ke-16 itu.

 

Kuas Anak Negeri

Meluruskan bukan berarti mengklaim kebenaran mutlak. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh M. Yasir Bancin saat ia menciptakan ilustrasi sosok Syekh Hamzah Fansuri. Bagi Yasir, ilustrasi itu bukan sekadar lukisan, tapi bentuk “tabarukan” sekaligus upaya memperbaiki narasi visual yang selama ini keliru. “Yang beredar di internet itu bukan beliau, itu foto ulama kontemporer dari Aceh,” ujarnya. Maka dari itu, sebagai putra daerah Singkil, tanah yang diyakini sebagai tempat kelahiran dan makam Syekh Hamzah, Yasir merasa terpanggil untuk menghadirkan sosok sang sufi dengan wibawa, sederhana, dan sarat makna.

Prosesnya tak sebentar. Yasir menyebut ada tiga tahap penting dalam penciptaan lukisan ini: persiapan (mengumpulkan data, naskah, dan diskusi), elaborasi dan inkubasi (mengendapkan gagasan secara spiritual), dan eksekusi karya. Ia mengaku selalu berwudu setiap kali hendak mulai melukis, bahkan menutup proses melukisnya dengan salat sunah. “Tidak ada dalilnya memang,” katanya dengan rendah hati, “tapi saya merasa ini bentuk penghormatan kepada sosok suci yang saya lukis.” Ia sadar betul bahwa Syekh Hamzah Fansuri bukan tokoh biasa: seorang sufi besar, penulis syair dan prosa yang dalam, serta ulama dengan wawasan lintas alam dan zaman.

Yang menarik, Yasir tidak bekerja sendiri. Ia dibantu dua orang dosen untuk mendapatkan kajian-kajian awal, termasuk naskah akademik tentang sosok Syekh Hamzah. Ia membaca, menafsir, lalu merasakan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari inkubasi gagasan, momen ketika data dan inspirasi mengendap, lalu muncul dalam bentuk visual. “Beban tentu ada,” katanya. “Tapi saya ingin karya ini tidak diagungkan, hanya jadi pengantar untuk mengenal lebih dalam pemikiran dan ajaran beliau.”

 Ilustrasi yang dihasilkan Yasir tampil sederhana, tapi sarat makna. Ia sengaja menghindari detail-detail yang bisa memicu perdebatan. Kopiah yang dikenakan sang Syekh misalnya, menggunakan motif warna-warna khas suku Singkil: hijau, merah, kuning, hitam, dan putih, yang juga tampak pada ornamen pendopo tempat mereka berbincang. Pakaian sang Syekh polos, tanpa bordir, demi keotentikan zaman. Ada pula selendang merah kekuningan yang dililitkan ke tubuh, sebagai simbol jabatan istana yang konon pernah disandang Syekh Hamzah sebelum dilengserkan.

“Merah itu lambang pangkat,” kata Yasir. “Tapi juga isyarat bahwa beliau pernah tersisih dari kekuasaan.”

Tak hanya visual, filosofi dalam lukisan ini juga mengakar dalam kenyataan spiritual dan historis. Yasir tak ingin mengklaim bentuk wajah atau postur tokoh suci itu, namun ia berusaha menghadirkan nuansa wibawa dan kesederhanaan. Ia tahu, makam sang Syekh pun masih diperdebatkan. Tapi baginya, bukan soal di mana jasadnya dikubur, melainkan bagaimana warisan pemikirannya terus hidup dan menginspirasi.

“Kalau lukisan ini nanti tersebar, harapannya jadi rujukan yang lebih logis dan menghormati,” pungkasnya. Sebuah ikhtiar yang tak hanya artistik, tapi juga penuh adab.

 

Sebuah Gagasan dari Singkil

Upaya “memulangkan” Hamzah Fansuri ke tanah asalnya menjadi tugas yang tak ringan. Tapi di tangan M. Yasir Bancin, putra daerah dari Subulussalam, upaya ini justru lahir dari cinta. Dari seniman yang tak ingin sekadar melukis wajah, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat seorang sufi besar dalam wujud yang lebih membumi, lebih dekat, dan lebih relevan dengan generasi sekarang.

Yang lebih menggugah di samping dari lukisan itu sendiri,  juga harapan yang lahir darinya. “Saya melihat putra-putri daerah masih kurang tertarik mengkaji Hamzah Fansuri,” ujar Yasir dengan nada prihatin. Ia mengamati bahwa banyak anak muda di Singkil yang masih memilih jurusan kuliah tanpa arah, tanpa minat yang jelas. Padahal, tanah mereka menyimpan warisan pemikiran dan sastra yang belum seluruhnya digali.

Kang Oman bersama tim ISRAC (Institute for Singkel Research on Adat and Culture). 

Yasir tidak meminta semua orang menjadi pelukis. Tapi ia ingin setiap orang kembali menemukan jalan masing-masing, menulis jika suka menulis, menyanyi jika suka musik, meneliti jika cinta riset, dan menjadikannya sebagai medium untuk mengenalkan tanah kelahiran mereka. “Kalau kamu ahli otomotif, bangun teknologi dari Aceh Singkil,” serunya lugas. Sebuah ajakan untuk berkarya tanpa kehilangan akar, untuk merawat silam agar masa depan punya fondasi kuat.

Dalam konteks ini, Pemerintah Kota Subulussalam patut diapresiasi. Melalui acara seminar dan pameran yang difasilitasi oleh komunitas Israc, upaya menyemai kembali nama besar Hamzah Fansuri mulai menemukan bentuknya. Walau sang Wali Kota berhalangan hadir, komitmen pemerintah untuk mendukung ekosistem intelektual dan budaya diakui Yasir. “Tinggal bagaimana kita jaga agar itu tak hanya seremonial,” ujarnya. Apalagi kini, ilustrasi resmi Hamzah Fansuri telah memperoleh sertifikat hak cipta dan mulai disosialisasikan sebagai rujukan visual yang sah.

Di ujung perbincangan, Yasir mengangkat satu pengalaman penting: karyanya sempat dinobatkan sebagai lukisan terbaik di Pekan Kebudayaan Aceh 2023. Visualnya tetap dalam nuansa khasnya, perahu kertas, simbol pengembaraan, dan pencarian makna. “Saya ingin memperkenalkan tanah kelahiran saya lewat lukisan,” katanya. Lalu ia mengajak seluruh pemuda untuk melakukan hal serupa, dengan medium masing-masing.

“Seorang penulis, tulislah tentang Singkil. Seorang penyanyi, ciptakan lagu tentang Singkil. Seorang pelukis, lukislah wajah sejarah kita.” Sebuah pesan yang sederhana, mengakar dari dalam hatinya.

Kang Oman menyudahi obrolan santainya. Ia sadar masih banyak tugas setelah tokoh-tokoh Indonesia dinobatkan sebagai superhero dunia. Minimal ia dan Ngariksa terus berjuang memulangkan tokoh kenamaan, agar tak jadi sosok yang dilupakan. (Ngariksa-Min)

 

Di Bawah Naungan Kaligrafi dan Filologi

Seni kaligrafi dan ilmu filologi bertemu. Ustaz Didin (Didin Sirojuddin AR) dan Kang Oman  menyoroti jenis khat dalam manuskrip kuno. Kedua maestro ini tengah menganalisis mengenai usia, asal-usul, dan pengaruh budaya dalam khazanah intelektual Islam di Nusantara. Kekayaan warisan tulis bangsa Indonesia amat kaya dan berharap mampu bersaing dalam pemanfaatan teknologi digital dan menginspirasi generasi mendatang.

NGARIKSA – Dr. K.H. Didin Sirojuddin AR, M.Ag., maestro kaligrafi Indonesia, menyambut kedatangan Kang Oman dan tim Ngariksa di kediamannya di Pesantren Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA), Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ia mengisahkan awal mula ketertarikannya pada dunia tulis indah ini, yang bersemi sejak sebelum bangku sekolah dasar. Pondok Modern Gontor menjadi titik penting, tempat ia menemukan pelajaran kaligrafi dan melukis yang selama ini dicari.

Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam pendirian Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) pada 1985, tepat sepuluh tahun setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Gontor. Menurut penuturannya, ide mendirikan lembaga ini muncul jauh sebelumnya, bahkan saat masih di Gontor, meskipun bentuk dan namanya belum terbayang jelas. Sepuluh tahun kemudian, cita-cita itu akhirnya terwujud, meski tanpa dukungan langsung dari rekan sejawat atau guru.

“Mahasiswa saya semester dua saat itu yang saya ‘paksa’ menjadi anggota pertama Lemka,” ungkapnya dengan senyum seperti terakam dalam Ngariksa episode 139

 

Perjuangan di Sukabumi

Semangat Ustaz Didin tak berhenti hanya pada pendirian lembaga. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada 9 Agustus 1998, ia kembali mewujudkan mimpinya dengan mendirikan pesantren kaligrafi di Sukabumi. Awalnya, pesantren ini sangat sederhana, dengan hanya empat orang santri dan fasilitas yang terbatas. Ia mengenang masa-masa awal yang penuh perjuangan, bahkan tanah untuk pesantren pun merupakan pemberian orang lain.

“Jadi ketika 1997 di Sukabumi, berkumpul dengan masyarakat di sebuah musala kecil, saya mengatakan ingin mendirikan pesantren kaligrafi di sana. Tidak tahu di sana itu di mana, karena tidak punya apa-apa. Tetangga juga tidak ada. Tapi rupanya karena tekad pesantren harus ada di Sukabumi, ya jadilah,” kenang pria kelahiran Kuningan, 15 Juli 1957 itu.

Perjalanan Lemka juga diwarnai tantangan, salah satunya adalah kegagalan kursus kaligrafi pertama. Ustaz Didin mengakui bahwa saat itu ia sendiri bukanlah seorang guru kaligrafi dan tidak memiliki metode pengajaran yang tepat. Kegagalan ini justru menjadi pelajaran berharga yang memacunya untuk mempelajari dan merumuskan teori mengajar kaligrafi yang efektif. Ia menjelaskan bahwa metode pengajaran yang ideal menggabungkan penjelasan, demonstrasi, keteladanan seorang guru, serta pemberian motivasi kepada murid.

“Jadi, mengajar kaligrafi itu harus diterangkan, didemonstrasikan kepada anak-anak, harus menjadi guru teladan. Tidak hanya berbicara saja, tetapi harus menjadi contoh,” tegasnya. Kini, Lemka telah berhasil menyelenggarakan 73 gelombang pendidikan kaligrafi, membuktikan ketekunan dan inovasi dalam mengembangkan seni ini di Indonesia.

Ekspresi Ustaz Didin dalam Ngariksa episode 139 dan 140 memancarkan kesungguhan, antusiasme, dan kehangatan saat berbagi ilmu kaligrafi.

Diskusi kemudian menyentuh perihal pemilihan nama “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an” (Lemka). Ustaz Didin mengungkapkan bahwa ada beberapa alternatif nama yang sempat dipertimbangkan, termasuk yang berbasis lokasi. Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Lemka dengan embel-embel “Al-Qur’an” karena kitab suci inilah yang menjadi fondasi dan inspirasi utama dalam pembelajaran kaligrafi di lembaganya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa karya kaligrafi yang dihasilkan tidak selalu berupa ayat Al-Qur’an, namun semangat dan nilainya tetaplah berlandaskan pada Al-Qur’an.

“Meskipun yang digoreskan tidak semuanya ayat Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an itu menjadi daya dorong untuk memajukan lembaga, sehingga nilainya itu sama dengan nilai Al-Qur’an, kira-kira begitu,” jelasnya.

Ustaz Didin memberikan perspektif menarik mengenai perbedaan penyebutan “kaligrafi Arab” dan “kaligrafi Islam”. Menurutnya, bangsa Arab lebih sering menggunakan istilah “kaligrafi Arab” karena itu adalah tulisan mereka. Namun, di dunia Islam secara luas, istilah “kaligrafi Islam” lebih umum digunakan, mengingat Islamlah yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan seni tulis indah ini. Ia bahkan menepis anggapan bahwa kaligrafi Arab sudah maju sebelum kedatangan Islam. Justru, peradaban lain seperti Babilonia dan Mesir telah lebih dulu mengembangkan sistem tulisan yang lebih kompleks. Kedatangan Al-Qur’an dengan perintah membaca dan menulis (iqra’) menjadi titik balik yang luar biasa bagi perkembangan kaligrafi Arab. Ustaz Didin mengibaratkan perintah tersebut sebagai “bom” bagi masyarakat Arab yang saat itu lebih mengandalkan tradisi lisan. Dalam kurun waktu 70 tahun setelah Al-Qur’an diturunkan, kaligrafi Arab berkembang pesat menjadi lebih dari 400 jenis.

 

Kaligrafi dalam Manuskrip Islam Nusantara

Ustaz Didin menyampaikan bahwa mushaf tertua di Nusantara diperkirakan berasal dari abad ke-16 atau 17. Pada masa-masa awal, kaligrafi yang digunakan dalam mushaf Nusantara cenderung meniru gaya yang sudah ada di Timur Tengah. Namun, dari segi keindahan artistik, manuskrip-manuskrip awal Nusantara ini dinilai belum seindah karya dari Timur Tengah. Ia menduga hal ini disebabkan oleh belum mapannya tradisi belajar dan mengajar kaligrafi secara sistematis di Nusantara pada masa itu. 

“Jadi hukum-hukum dasar menulis waktu itu belum terencana rapih. Karena tulisan Arab yang dinyatakan sempurna dan bagus itu adalah yang mengikuti apa yang disebut mizanul huruf, ukuran-ukuran huruf dan titik-titik. Nah, itu teh di antaranya. Waktu itu belum berkembang di Indonesia,” terangnya.

Sebagai contoh, Ustaz Didin menganalisis manuskrip abad ke-17 dari Aceh yang ditulis dengan khat naskhi, gaya yang mendominasi penulisan mushaf pasca abad ke-8 Masehi karena kepraktisannya. Perbandingan dengan manuskrip dari Madinah pada periode yang sama menunjukkan perbedaan signifikan dalam kualitas khat. Ia menjelaskan bahwa tradisi penulisan naskah di Timur Tengah pada masa itu seringkali melibatkan juru tulis khusus yang ahli kaligrafi (al-warraq), sehingga menghasilkan karya yang lebih indah dan terstandarisasi. Sementara itu, di Nusantara, manuskrip seringkali ditulis oleh para ulama sendiri yang mungkin tidak memiliki keahlian kaligrafi formal, meskipun tetap berusaha menulis dengan sebaik mungkin.

Tangkapan layar dari laptop Kang Oman menunjukkan slide berisi Manuskrip Karya Syekh Yusuf al-Makassari.

Lebih lanjut, Kang Oman menunjukkan manuskrip digital dalam laptopnya. Ustaz Didin pun melakukan analisis terhadap manuskrip tersebut, Zubdatul Asrar karya Syekh Yusuf Al-Makassari. Ustaz Didin mengamati penggunaan khat naskhi dengan karakteristik goresan vertikal tipis dan horizontal tebal, yang menurutnya mengindikasikan adanya pengaruh gaya India dan Pakistan. Selain itu, pada bagian terjemah antar baris dalam aksara Pegon, terlihat gaya tulisan yang mendekati khat Farisi, kemungkinan karena kedekatan geografis dan budaya dengan Persia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya kaligrafi dalam manuskrip juga dapat menjadi penanda wilayah dan interaksi budaya. Ustaz Didin juga mengamini adanya dorongan spiritual yang kuat bagi para ulama Nusantara untuk menulis huruf Al-Qur’an dengan indah, merujuk pada hadis tentang keutamaan menulis basmalah dengan indah sebagai motivasi. Terakhir, mengenai kemungkinan adanya gaya khat khas Nusantara, meskipun belum memiliki data yang komprehensif, Ustaz Didin membuka peluang adanya perkembangan gaya lokal seiring dengan modifikasi aksara Arab menjadi aksara-aksara daerah seperti Jawi dan Pegon.

 

Jenis khat Indunisiawi?

Ia menjelaskan bahwa ide ini muncul karena sejarah perkembangan kaligrafi erat kaitannya dengan penemuan gaya-gaya baru. “Apa sebabnya? Karena sejarah perkembangan kaligrafi itu adalah sejarah penemuan gaya-gaya. Jadi ditemukannya gaya sampai 400 itu karena mengikuti karakter dan dan apa? Karakter dan sunah huruf. Ya, sunah huruf adalah kaligrafi Arabi itu sejarahnya dicirikan dengan pencarian gaya-gaya. Makanya tadi itu dalam waktu 70 tahun itu ditemukanlah lebih 400 gaya karena dorongan gitu. Sehingga kalau lahir gaya baru ya tidak ada salahnya.”

Ustaz Didin mencontohkan bagaimana dulu seorang kaligrafer bernama Yaqut al-Musta’simi menciptakan gaya Yaquti. Di Indonesia pun muncul nama Saiful Adnan yang memiliki gaya khas. “Kemudian di Aceh Sayid Akram itu menampilkan gaya dalam bentuk figur pohon, figur buah-buahan. Saya namakan khat akram itu tidak haram ya menamakan khat tidak haram itu tidak haram karena tidak ada dalilnya gitu ya. Boleh ya. Bahkan mungkin dapat pahala,” imbuhnya.

Hal ini memunculkan gagasan menarik dari Kang Oman agar para filolog berani menamai khat dalam manuskrip Nusantara dengan sebutan yang lebih lokal, seperti khat Indunisiawi atau Sundawi. Analogi ditarik pada sejarah awal perkembangan kaligrafi di kawasan Arab, di mana nama gaya seringkali merujuk pada nama daerah, seperti khat Makki di Makkah, khat Madani di Madinah, dan khat Kufi di Kufah.

Penamaan khat juga bisa berasal dari nama kaligrafer, daerah, atau bahkan amal perbuatan. Ustaz Didin mencontohkan khat Usribah yang digunakan atas perintah seorang khalifah saat menyuguhkan minuman kepada tamu. Ada pula khat Royhani yang indah dan harum, dengan dua versi asal-usul nama, bisa dari aroma daun royhan atau dari nama Abdullah bin Royhan. “Jadi penisbahan itu penting sekali gitu,” tegas Ustaz Didin, menggarisbawahi betapa kayanya diskusi antara kaligrafi dan filologi ini.

Obrolan berlanjut dengan menyoroti karya-karya santri Pesantren Lemka yang menggabungkan berbagai jenis khat seperti sulus, naskhi gaya Syauqi, dan farisi. Bahkan, muncul gaya kontemporer figural yang menggambarkan objek seperti pohon atau matahari, yang menurut Ustaz Didin sangat disukai oleh generasi milenial karena sifatnya yang rekreatif dan menghibur. “Bahwa melukis dan nulis Arab itu menyenangkan. Bahkan nanti hasilnya kalau dijual jadi uang misalnya gitu ya. Nah, jadi di situ nanti akan ada daya tarik,” ujarnya.

Ia menekankan tiga prinsip utama dalam kaligrafi: alkhattu ilmun (kaligrafi adalah ilmu), alkhattu fanun (kaligrafi adalah seni), dan alkhattu falsafatun (kaligrafi adalah filosofi). Prinsip-prinsip ini, terutama aspek seni sebagai “aksesoris” yang memperindah, diharapkan dapat menarik minat generasi muda. Ustaz Didin juga menjelaskan bahwa teknologi digital justru membantu para kaligrafer dalam berkarya, mempercepat proses, menggandakan hasil, dan lebih prospektif. “Jadi di sini kaligrafi itu qobilun litaghir, jadi sangat menerima sekali perubahan-perubahan,” katanya, menekankan bahwa perubahan gaya memang menjadi bagian dari perjalanan kaligrafi itu sendiri, sehingga Lemka dapat tetap eksis di era modern.

 

40 Tahun Lemka

“Insyaallah dalam rangka memperingati harlah ke-40, lemka akan mengadakan festival menulis mushaf Nusantara yang ditulis satu hari oleh 300 khatat Lemka. Padahal biasanya menulis mushaf itu setahun,” ungkap Ustaz Didin.

Gebyar Penulisan Mushaf di jagad media sosial.

Ketika Kang Oman kembali menunjukkan koleksi manuskrip digitalnya dalam laptop, Ustadz  Didin sempat mengomentari iluminasi dalam manuskrip Mushaf Bone abad ke-19 yang mencerminkan unsur-unsur hiasan wilayah setempat. Ia menjelaskan bahwa mushaf-mushaf di Indonesia kaya akan pola-pola arabesque yang terinspirasi dari flora lokal. Rencana pembuatan mushaf Lemka Nusantara dalam rangka Festival Istiqlal 2025 akan memasukkan seluruh pola iluminasi dari berbagai daerah di Indonesia.

“Oh, jadi ini dalam rangka Festival Istiqlal 2025 ini  dan ulang tahun 40 tahun Lemka akan dilakukan penulisan mushaf Lemka. Bisa menjadi sejarah dan cerita mengesankan. Satu hari siapa penulisnya nanti? Ada 300 peserta khat murid Ustaz Didin,” jelas Kang Oman.

Ustaz Didin membenarkan bahwa 300 kaligrafer akan menulis mushaf ini dalam satu hari dan hasilnya akan dipamerkan di Festival Istiqlal 2025. Mushaf ini akan memiliki ciri khas iluminasi dari lebih 30 wilayah di Indonesia. Setiap kaligrafer akan menulis dua halaman, dan nama mereka akan dicantumkan di bawahnya. Proyek ambisius ini diharapkan menjadi artefak kebudayaan Islam Indonesia yang luar biasa. Ustaz Didin juga menyinggung bahwa kemampuan menulis mushaf dalam waktu singkat bukanlah hal yang mustahil, merujuk pada kisah para kaligrafer zaman dahulu yang mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan mushaf. Ia mengaitkannya dengan konsep amal dalam agama yang pahalanya bisa berlipat ganda. (Ngaraiksa-Min)