Bincang Cerdas bersama Peraih Habibie Prize 2023 Pengampu NGARIKSA

Bincang Cerdas bersama Peraih Habibie Prize 2023 Pengampu NGARIKSA

Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum, Pengampu NGARIKSA (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara) baru saja meraih Habibie Prize 2023 dalam bidang Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. BRIN Talk berkesempatan mengajaknya berbincang tentang “Riset Filologi untuk Indonesia Emas 2045”.

Kang Oman, demikian ia akrab disapa, dikenal sebagai ilmuwan pelopor pendekatan teori filologi plus, yang menekankan kajian filologi lintas disiplin ilmu. Kontribusinya yang signifikan pada analisis teks, terutama dalam konteks kajian Islam Indonesia, membuka pandangan baru terhadap kekayaan budaya dan peradaban Islam masa silam.

Mari simak obrolan bernas ini lebih lanjut melalui tautan

Berkat Naskah Kuno, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Raih Penghargaan Habibie Prize 2023

Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, menerima penghargaan Habibie Prize 2023. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan SDM Iptek kembali menyelenggarakan Habibie Prize 2023.

Pria berusia 54 tahun itu menjadi satu-satunya peraih Habibie Prize dalam bidang agama, filsafat, dan kebudayaan. Penghargaan diberikan karena Oman menekuni kajian naskah kuno. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengapresiasi hal itu.

“Di tahun 2023 ini, pemberian Habibie Prize diberikan pada 10 November, bersamaan dengan Hari Pahlawan. Kita ingin menunjukkan bahwa para penerima Habibie Prize juga merupakan pahlawan yang memiliki kontribusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian,” kata Handoko kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/11/2023).

Dia mengatakan penerima Habibie Prize dipilih melalui proses seleksi Panitia Habibie Prize. Proses tersebut dilakukan melalui metode seleksi penilaian Dewan Juri yang ketat dan berasal dari para tokoh dan ilmuwan yang handal di bidangnya.

Sementara itu, Penerima Habibie Prize 2023, Oman Fathurahman mengaku tidak pernah membayangkan ketekunannya dalam melakukan kajian-kajian naskah kuno diganjar dengan penghargaan Habibie Prize. “Saya tidak pernah membayangkan akan sampai pada tahap ini,” kata Oman.

Menurut Oman, pembangunan Indonesia Emas 2045 tidak boleh melupakan kearifan lokal dalam manuskrip. “Catatan-catatan tentang apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi pengetahuan berharga bagi generasi Indonesia 100, 200, bahkan 1.000 tahun mendatang, sebagaimana hari ini kita memahami manuskrip kuno. Karena itu, penting bagi setiap kita untuk menorehkan catatan rekam jejak yang baik,” kata Oman.

Sebagaimana diketahui, Habibie Prize merupakan salah satu program utama BRIN bekerja sama dengan Yayasan SDM Iptek, yang telah diselenggarakan setiap tahun sejak 1999. Program ini awalnya bernama Habibie Award. Pada 2020, Habibie Award berganti menjadi Habibie Prize, yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Seleksi Habibie Prize dilakukan untuk lima bidang keilmuan IPTEK dan inovasi, yaitu: Ilmu Dasar; Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi; Ilmu Rekayasa; Ilmu Ekonomi, Sosial, Politik, dan Hukum; serta Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Tujuan dari pemberian Habibie Prize salah satunya untuk memberikan dorongan kepada para SDM Inovatif (lembaga litbangjirap, perguruan tinggi, perusahaan, serta masyarakat ilmiah) agar dapat terpacu dalam mewujudkan ide kreatif dalam penciptaan nilai tambah, baik sebagai individu maupun melalui kemitraan dan kerja sama antar unsur inovasi.

 

Sumber : https://edukasi.okezone.com/read/2023/11/10/65/2918165/berkat-naskah-kuno-guru-besar-uin-syarif-hidayatullah-raih-penghargaan-habibie-prize-2023?page=2

Mengenal Peraih Habibie Prize 2023, Hafal Alfiyah dan Istiqamah Rawat Manuskrip Nusantara

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengumumkan peraih Habibie Prize 2023. Penghargaan ini diberikan kepada Guru Besar Bidang Filologi pada Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum dalam Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan dengan bidang kepakaran Filologi Plus.

Habibie Prize digelar untuk memberikan apresiasi kepada perseorangan yang aktif dan sangat berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif serta bermanfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

Habibie Prize 2023 diserahkan di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta, Jumat (10/11/2023). Hadir, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Dewan Pembina Yayasan Sumberdaya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM IPTEK) Ilham Habibie, Ketua Yayasan SDM IPTEK Wardiman Djojonegoro, Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto, Menteri Agama (2014 – 2019) Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Tokoh Agama Muji Sutrisno, Ekonom Hendri Saparini, dan sejumlah tokoh nasional.

Oman Fathurahman lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969. Lulus dari MAN Cipasung Tasikmalaya pada 1987, Oman terpaksa “mondok” di Pesantren terpencil saat itu di Haurkuning, Salopa karena kendala ekonomi. Setahun kemudian, ia nekat ke Jakarta untuk mengadu nasib demi mengejar cita-cita. Berbagai pekerjaan ia lakoni agar bisa mengumpulkan biaya kuliah. Mula-mula menjajakan rokok dan permen dengan berjalan kaki dari Kebayoran Lama, Jakarta Selatan hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat, ia lalu menjadi buruh kasar di perusahaan percetakan.

Baru pada 1990, Oman berkesempatan kuliah setelah diterima di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab pada Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia membiayai sendiri kuliahnya dengan berdagang jam tangan, batik, kacamata, dan mengajar mengaji. Meski begitu, ia aktif berorganisasi bahkan sempat menjabat Ketua Senat Mahasiswa dan Ketua Komisariat HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Fakultasnya.

Lulus dengan predikat cumlaude pada 1994, Oman mulai berkenalan dengan manuskrip. Berkolaborasi dengan Chambert-Loir, ia menghasilkan karya pertamanya, berjudul “Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia” (Jakarta: EFEO-YOI, 1999). Ini adalah buku babon semacam “mbahnya katalog manuskrip” yang menjadi kajian utama para pengkaji manuskrip Nusantara di seluruh dunia.

Pada 1998, atas beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa), Oman menyelesaikan studi Magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Tesisnya diterbitkan dengan judul “Menyoal Wahdatul Wujud” (Bandung: EFEO-Mizan, 1999). Sejak itu, ia menggariskan perjalanan hidupnya dengan manuskrip Nusantara. Ia mengembara ke kantong-kantong manuskrip seperti di Minangkabau, Aceh, dan Jawa Barat. Bermodal beasiswa dari the Ford Foundation, pada 2003 Oman berhasil meraih gelar doktornya di kampus yang sama. Disertasinya terbit dengan judul “Tarekat Syatariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks” (Jakarta: EFEO-Prenada, 2008).

Oman hafal Alfiyah—kitab karya Ibnu Malik berisi seribu bait gramatikal Arab tingkat tinggi—dan menguasai naskah kuno dalam empat bahasa: Arab, Melayu, Jawa, dan Sunda. Kemampuan itu mengantarkannya sebagai penerima fellowship dari the Alexander von Humboldt-Stiftung, Jerman, untuk melakukan riset di Cologne University. Selama dua tahun (2006-2008) Oman bersama keluarga tinggal di Bonn, Jerman.

Pada 2010, Oman memperoleh the Chevening Fellowship untuk melakukan riset di Universitas Oxford, Inggris. Pada 2012-2013, giliran para koleganya di Jepang, mengundang Oman sebagai visiting professor di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Pada periode yang sama, koleganya di Sophia University juga mengajak Oman berkolaborasi melakukan penyelamatan dan penelitian manuskrip Melayu Islam di Marawi City, Mindanao, Filipina Selatan. Pada 2021, ia mendapat undangan meneliti untuk kedua kalinya di Jepang, yaitu di Universitas Kyoto dan Universitas Osaka. Selain itu, ia menjadi narasumber di Prancis, Belanda, Mesir, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.

Sejak 2017 hingga kini, Oman memimpin DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), upaya penyelamatan manuskrip Asia Tenggara melalui digitalisasi. Program yang bertujuan merawat keragaman agama dan budaya Asia Tenggara melalui digitalisasi manuskrip, ini adalah kerja sama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan the Centre for the Study of Manuscript Culture (CSMS) Hamburg University, Jerman, atas dukungan dari the Arcadia Foundation. Dari sini, sekitar hampir setengah juta halaman manuskrip Asia Tenggara dalam berbagai bahasa dan aksara dapat diakses secara daring. Di PPIM pula, Oman turut mengelola jurnal bereputasi internasional Q1 Studia Islamika.

Oman memanfatkan media sosial dan kanal digital untuk memperkenalkan manuskrip ke publik melalui program Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara). Setiap Jumat pukul 20.00 dua pekan sekali, ia tampil rutin secara live streaming melalui Facebook sebagai Kang Oman untuk membacakan naskah kuno yang relevan dengan tema-tema kekinian. Selama empat tahun terakhir, Ngariksa telah menghasilkan lebih dari 100 episode yang rekamannya dapat disimak di kanal Youtube Ngariksa TV.

Kepiawaian Oman mengkontekstualisasikan konten agama dalam bingkai budaya melalui manuskrip juga mengantarnya sebagai Pejabat Eselon I di Kementerian Agama selama 2017-2021. Di Kementerian terbesar itu, ia tak hanya berkhidmat kepada tiga menteri agama (Lukman Hakim Saifuddin, Fachrul Razi, dan Yaqut Cholil Qoumas), tapi juga mengemban empat jabatan sekaligus: Staf Ahli Menteri, Plt. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Juru Bicara Kementerian Agama, dan Ketua Pokja Moderasi Beragama. Ia kemudian kembali ke Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, tempat ia pernah menjadi Dekan pada tahun 2014-2015. Selain itu, ia mengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Jawa Barat. Pesantren ini didirikan pada 1988 oleh K.H. Achmad Sjaichu.

Pada 8 Agustus 2023, Oman mendapat Penghargaan Pustaka Paripalana dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) atas jasanya dalam usaha pelestarian, penelitian, dan pemajuan naskah Nusantara di Indonesia.

Oman bermukim di Ciputat, Tangerang Selatan, bersama sang istri, Husnayah Al Hudayah, dan ketiga putranya: Fadli Husnurrahman, Alif Alfaini Rahman, dan Jiddane Asykura Rahman. Di media sosial, ia dapat disapa melalui akun Twitter: @ofathurahman, FB: @Oman Fathurahman, dan Instagram: @ofathurahman

 

Sumber : https://kemenag.go.id/nasional/mengenal-peraih-habibie-prize-2023-hafal-alfiyah-dan-istiqamah-rawat-manuskrip-nusantara-GoSAB

Cerita Prof Oman, ‘Pelindung’ Manuskrip Nusantara Penerima Habibie Prize 2023

Prof. Oman Fathurahman menjadi penerima penghargaan bergengsi Habibie Prize 2023. Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dan Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu merupakan ‘pelindung’ dari manuskrip Nusantara.
“Saya tidak pernah membayangkan akan sampai pada tahap ini,” ujar Oman dalam Penghargaan Habibie Prize 2023 yang disiarkan secara langsung dalam Youtube BRIN Indonesia, Jumat (10/11/2023)

Oman berkenalan pada manuskrip pada tahun 1994. Selepas lulus, Oman bekerja sama dengan para peneliti manuskrip

Tetapi tak banyak yang tahu, masa kuliah Oman dipenuhi dengan perjuangan. Ia bahkan pernah menjajal sebagai pedagang asongan

Hidup sebagai Pedagang Asongan
Selepas lulus dari MAN Cipasung Tasikmalaya, Oman nekat mengadu nasib di Jakarta demi mengejar cita-citanya. Ia melakoni berbagai pekerjaan untuk mengumpulkan biaya kuliah.

Awalnya, ia menjajakan rokok dan permen dengan berjalan kaki dari Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Kadang dipalak preman di Tanah Abang dan kadang-kadang dagangan saya dicuri ketika salat Zuhur,” cerita Oman.

“Mimpi tertinggi saya itu adalah mengenakan jaket almamater sebagai mahasiswa,” sambungnya.

Berkuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab
Akhirnya Oman berhasil kuliah dengan biaya sendiri. Pada 1990, Oman diterima di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Aksi berjualannya terus berlanjut. Demi membiayai kuliah, Oman berjualan jam tangan, batik, dan kacamata.

Meski sibuk berjualan, Oman aktif berorganisasi bahkan sempat menjabat ketua senat mahasiswa dan ketua komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di fakultasnya.

Bertemu dengan Manuskrip
Lulus dengan predikat cumlaude pada 1994, pria kelahiran Tasikmalaya itu mulai berkenalan dengan manuskrip. Berkolaborasi dengan Chambert- Loir, ia menghasilkan karya pertamanya berjudul Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia (EFEO- YOI, 1999). Buku tersebut menjadi kajian utama para pengkaji manuskrip Nusantara di seluruh dunia.

Oman kembali mencicip bangku kuliah berkat beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa). Ia menyelesaikan studi Magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan tesis Menyoal Wahdatul Wujud (EFEO-Mizan, 1999). Sejak itu, ia mendedikasikan perjalanan hidupnya dengan manuskrip Nusantara.

Mendapat beasiswa S3 dari the Ford Foundation, Oman kembali mempelajari manuskrip. Disertasinya terbit dengan judul Tarekat Syatariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks (EFEO-Prenada, 2008).

Oman yang tekun belajar sampai menguasai naskah kuno dalam empat bahasa: Arab, Melayu, Jawa, dan Sunda. Kemampuan tersebut mengantarkannya sebagai penerima fellowship dari the Alexander von Humboldt-Stiftung, Jerman, untuk melakukan riset di Cologne University, Jerman.

Kepiawaian Oman mengkontekstualisasikan konten agama dalam bingkai budaya melalui manuskrip juga mengantarnya sebagai pejabat Eselon 1 di Kementerian Agama selama 2017-2020.

Kerja kerasnya diapresiasi dengan beragam penghargaan, salah satunya Penghargaan Pustaka Paripalana dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Penghargaan ini diberikan atas jasanya dalam usaha pelestarian, penelitian, dan pemajuan naskah Nusantara di Indonesia.

“Saya merasa sangat terhormat menjadi salah seorang penerima penghargaan Habibie Prize tahun 2023. Saya meyakini Habibie Prize yang saya terima ini, sebagai pengakuan terhadap keilmuan filologi,” jelasnya Oman.

“Ini penghargaan bagi para filologi, peneliti, dan penyelamat manuskrip yang jauh dari kesunyian. Atas nama dunia pernaskahan nusantara, saya haturkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas penghargaan ini,” pungkasnya.

 

Sumber : https://www.detik.com/edu/edutainment/d-7030023/cerita-prof-oman-pelindung-manuskrip-nusantara-penerima-habibie-prize-2023

Oman Fathurahman, Pengkaji Naskah Kuno Diganjar Habibie Prize 2023

Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Oman Fathurahman, menerima penghargaan Habibie Prize 2023 dalam bidang agama, filsafat, dan kebudayaan. Selama menjadi akademisi dan ilmuwan, Oman dikenal sebagai seorang pengkaji naskah kuno, terutama manuskrip Nusantara.

Pengumuman peraih Habibie Prize2023 disampaikandalam acara yang diselenggarakan di Gedung BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Jumat (10/11/2023).

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Ketua Pengurus Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM Iptek) Wardiman Djojonegoro, Menteri Agama 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, dan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Andin Hadiyanto.

Oman Fathurahman merupakan akademisi UIN Syarif Hidayatullah yang mencetuskan pengembangan bidang ilmu filologi plus di Indonesia. Bersama dengan timnya, pria yang meraih gelar doktor di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tahun 2003 ini berinovasi melestarikan manuskrip Nusantara dengan alih media digital melalui Dreamsea Project.

Saat memberikan sambutan, Oman menyampaikan bahwa anugerah Habibie Prize 2023 bukan sebagai penghargaan pribadi. Namun, penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan terhadap keilmuan filologi yang memiliki tujuan mulia, yakni menggali memori kolektif bangsa Indonesia melalui manuskrip kuno Nusantara.

Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Oman Fathurahman

”Penghargaan terhadap bidang filologi ini adalah investasi besar kita semua untuk penguatan kajian Manuskrip Nusantara di Indonesia. Yakinlah penghargaan ini memiliki pesan moral yang kuat bahwa manuskrip sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan kita perlu diarusutamakan dalam pembangunan Indonesia di masa depan,” ujarnya.

Menurut Oman, visi Indonesia Emas 2045 tidak boleh melupakan kearifan lokal di dalam manuskrip. Sebab, catatan-catatan tentang segala hal yang dilakukan hari ini akan menjadi pengetahuan berharga bagi generasi Indonesia ratusan hingga ribuan tahun mendatang.

Oman menekankan bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, karsa, dan karya manusia. Pembangunan yang tidak dilandaskan pada ingatan bersama tentang kemanusiaan akan tampak kering. Pembangunan semacam ini juga akan kehilangan nilai, jati diri, dan tidak jelas kemanfaatannya untuk siapa.

”Apalagi kebudayaan Indonesia yang tecermin dalam manuskrip kita sangat kental dengan nilai-nilai spiritualitas keagamaan yang telah melekat menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa Indonesia. Melalui penghargaan ini, saya melihat harapan bahwa filologi, manuskrip, dan kebudayaan akan semakin diperhatikan oleh publik,” ungkap pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969 ini.

Laksana Tri Handoko menyebut bahwa Oman Fathurahman telah berjuang untuk menyelamatkan dan melakukan riset yang sangat mendalam terkait manuskrip Nusantara. Naskah kuno asli Indonesia ini perlu terus diselamatkan sehingga BRIN berupaya mengembalikan berbagai artefak, termasuk manuskrip yang ada di Belanda.

Petugas pengelola manuskrip, Kurnia Heniwati, memeriksa proses digitalisasi naskah kuno Suluk Syattariyah di Museum Radya Pustaka, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (17/3/2021). Digitalisasi dilakukan untuk menyelamatkan isi naskah kuno yang semakin rapuh karena usia.

”Kami menganggap apa yang dikerjakan Prof Oman merupakan sesuatu yang sangat unik. Jarang sekali ada orang yang menggali kearifan lokal tetapi kemudian mengeksplorasi secara saintifik sehingga dikenal dunia,” katanya.

 

Sumber: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/11/10/habibie-prize-2023-untuk-pengkaji-naskah-kuno