Bukan Ramadan Biasa

Ramadan selalu menjadi bulan istimewa bagi umat muslim. Ia tak sekadar momen berpuasa dari fajar hingga senja, tapi juga waktu yang dipenuhi berbagai amalan, tradisi, dan refleksi spiritual. Ramadan 1446 atau 2025 kali ini berasa tidak biasa lantaran kehadiran program Muslimpedia, hasil kolaborasi antara Ngariksa, SCTV, dan Moji TV.

NGARIKSA – Di program Muslimpedia, Kang Oman tampil membawakan kajian manuskrip secara populer. Ia mengangkat tema Ramadan dalam manuskrip klasik Nusantara, menghadirkan kembali khazanah keislaman yang telah lama tersimpan dalam naskah-naskah tua berbahasa Sunda, Jawa, Arab, dan lainnya.

Dipandu oleh presenter kenamaan, Dana Paramita dan Risca Andalina, Kang Oman membacakan dan mengulas warisan literasi Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Ia membuka lembar-lembar masa silam, memperlihatkan bahwa ulama terdahulu tidak hanya mendalami agama, tapi juga merekamnya dalam bentuk tulisan yang kini menjadi jendela sejarah. Kajian ini bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga relevansi, bagaimana tradisi dan pemahaman masa lalu bisa menjadi cermin bagi praktik keislaman hari ini.

Lokasi syuting dipilih di dua tempat: kediaman Kang Oman di lantai dua yang biasa difungsikan sebagai studio Ngariksa, serta area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Untuk kostum, Kang Oman tampil dengan khas muslim dengan busana koko dan peci, mencerminkan nuansa religius yang hangat dan akrab. Berbeda saat tampil dalam dua Jumat sekalu dengan nuansa budaya Sunda yakni menggunakan totopong (ikat kepala). Namun tetap, Kang Oman memilih baju batik dan sarung untuk atasan dan bawahannya.

Dalam episode perdana, Kang Oman membahas “Isbat Tanpa Sidang?”, sebuah tema yang menyoal bagaimana ulama Nusantara masa lampau menentukan awal Ramadan jauh sebelum ada sidang isbat resmi dari pemerintah. Ia menunjukkan metode yang mereka gunakan dan bukti tertulisnya dalam manuskrip-manuskrip tua. Penonton diajak melihat bagaimana kecerdasan lokal menjadi bagian dari dinamika keislaman di masa lalu.

Kang Oman saat syuting di area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta.

Kemudian ada episode yang cukup memancing rasa ingin tahu,  “Imsak Cuma Ada di Indonesia?”. Ternyata, istilah imsak sebagai waktu sebelum subuh memang khas Indonesia. Meski secara bahasa imsak berarti “menahan”, penggunaan istilah ini sebagai waktu batas persiapan puasa memiliki akar tradisi tersendiri. Ajengan Ahmad Sanusi dari Pesantren Cantayan, Sukabumi, pernah menjelaskan secara rinci tentang imsak dalam karya tulisnya dari awal abad ke-20. Penjelasan beliau menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki dasar, bukan sekadar kebiasaan tanpa pijakan.

Pembahasan lainnya yang tak kalah menarik berjudul “Bila Tiada Kurma, Buka Puasa Pakai Apa?”. Dalam salah satu manuskrip, Ajengan Ahmad Sanusi mencatat alternatif berbuka puasa jika kurma tidak tersedia. Nabi Muhammad SAW memang menganjurkan kurma, tapi tradisi lokal memberi kelonggaran dengan menyebutkan pilihan lain seperti pisang, madu, dan susu. Lagi-lagi, pendekatan ini menunjukkan betapa ulama Nusantara mampu memadukan tuntunan agama dengan realitas kehidupan masyarakatnya.

Lalu, siapa sangka bahwa praktik salat tarawih dengan gerakan super cepat yang sering ditemui di beberapa masjid di Indonesia juga telah dibahas sejak dulu? Dalam manuskrip litograf Hilyah As-Siyam fi Bayani Ahkam Ramadan, Kang Oman menunjukkan bahwa diskusi soal kecepatan dan kualitas salat tarawih sudah lama ada. Episode “Salat Tarawih, Pilih Cepat atau Nikmat?” mengajak penonton untuk merefleksikan kembali esensi ibadah itu sendiri: bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam episode “Sudah Tepatkah Arah Kiblat Kita?”, Kang Oman mengangkat topik yang tampak teknis namun penting: arah kiblat. Menariknya, ulama Nusantara sejak abad ke-18 seperti Syekh Arsyad Al-Banjari sudah mempersoalkan ketepatan arah kiblat masjid-masjid di Indonesia. Ia bahkan menulis karya khusus untuk meluruskan kiblat masjid di Betawi. Perhatian serupa juga muncul dalam karya Sayid Utsman bin Yahya, K.H. Bisri Mustofa, dan banyak ulama lainnya, menunjukkan bahwa orientasi ibadah dalam Islam memang harus sejalan secara lahir dan batin.

Tradisi khas Ramadan di Indonesia juga dibahas secara rinci, seperti dalam episode “Tradisi Menabuh Beduk, Apa Hukum dan Bagaimana Adabnya?”. Beduk, yang tidak ditemukan di Arab, ternyata menjadi bagian penting dalam kehidupan Islam di Nusantara. Kang Oman mengulas peran beduk berdasarkan tulisan Sayid Utsman dari Betawi dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, termasuk soal hukum dan adab penggunaannya.

Tayangan Program Muslimpedia di SCTV Liputan 6.  

Kemudian ada “Buka Puasa Bersama: Untuk Apa?”, yang mencoba mengulas tradisi bukber. Ternyata, buka puasa bersama bukan tradisi baru, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan muslim Indonesia sejak lama. Dalam manuskrip karya K.H. Sholeh Tsani dari Gresik, disebutkan bahwa berbuka bersama adalah jalan untuk mempererat persaudaraan, menyantuni yang membutuhkan, dan memperkuat semangat berbagi. Tradisi ini hidup bukan hanya karena kebersamaan, tapi karena nilai-nilai spiritual yang melekat padanya.

Di penghujung Ramadan, program ini menutup dengan sebuah tema yang sangat khas Indonesia: “Asal Muasal Halalbihalal”. Kang Oman membongkar sejarah halalbihalal dari manuskrip beraksara Jawa tahun 1794 hingga iklan ucapan Halalbihalal di majalah Suara Muhammadiyah tahun 1926. Tradisi ini kemudian diperkuat oleh inisiatif K.H. Wahab Chasbullah dan Bung Karno pada 1948 sebagai bentuk silaturahmi pasca-Ramadan dan upaya menyatukan bangsa. Dari sana kita tahu, halalbihalal bukan sekadar temu kangen, melainkan strategi sosial-religius yang lahir dari kebijaksanaan ulama.

Melalui Muslimpedia, Ramadan 1446 H terasa lebih kaya dan bermakna. Kang Oman tidak sekadar menyampaikan isi naskah-naskah kuno, tetapi juga menghidupkan kembali semangat dan pemikiran para ulama Nusantara bernuansa tradisi di bulan puasa. Program ini membuktikan bahwa manuskrip klasik tak hanya layak dibaca, tapi juga relevan untuk dijadikan panduan hidup di masa kini.

Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang mengenal diri, sejarah, dan warisan yang telah membentuk cara kita menjalani kehidupan beragama. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan-Ramadan tahun depan dengan segala kejutannya. Amin. Saksikan terus tayangan-tayangan dari Ngariksa. Selamat Lebaran 1 Syawal 1446 H, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. (Ngariksa-Min)

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
543 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
374 views - April 14, 2025