Seni kaligrafi dan ilmu filologi bertemu. Ustaz Didin (Didin Sirojuddin AR) dan Kang Oman menyoroti jenis khat dalam manuskrip kuno. Kedua maestro ini tengah menganalisis mengenai usia, asal-usul, dan pengaruh budaya dalam khazanah intelektual Islam di Nusantara. Kekayaan warisan tulis bangsa Indonesia amat kaya dan berharap mampu bersaing dalam pemanfaatan teknologi digital dan menginspirasi generasi mendatang.
NGARIKSA – Dr. K.H. Didin Sirojuddin AR, M.Ag., maestro kaligrafi Indonesia, menyambut kedatangan Kang Oman dan tim Ngariksa di kediamannya di Pesantren Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA), Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ia mengisahkan awal mula ketertarikannya pada dunia tulis indah ini, yang bersemi sejak sebelum bangku sekolah dasar. Pondok Modern Gontor menjadi titik penting, tempat ia menemukan pelajaran kaligrafi dan melukis yang selama ini dicari.
Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam pendirian Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) pada 1985, tepat sepuluh tahun setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Gontor. Menurut penuturannya, ide mendirikan lembaga ini muncul jauh sebelumnya, bahkan saat masih di Gontor, meskipun bentuk dan namanya belum terbayang jelas. Sepuluh tahun kemudian, cita-cita itu akhirnya terwujud, meski tanpa dukungan langsung dari rekan sejawat atau guru.
“Mahasiswa saya semester dua saat itu yang saya ‘paksa’ menjadi anggota pertama Lemka,” ungkapnya dengan senyum seperti terakam dalam Ngariksa episode 139.
Perjuangan di Sukabumi
Semangat Ustaz Didin tak berhenti hanya pada pendirian lembaga. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada 9 Agustus 1998, ia kembali mewujudkan mimpinya dengan mendirikan pesantren kaligrafi di Sukabumi. Awalnya, pesantren ini sangat sederhana, dengan hanya empat orang santri dan fasilitas yang terbatas. Ia mengenang masa-masa awal yang penuh perjuangan, bahkan tanah untuk pesantren pun merupakan pemberian orang lain.
“Jadi ketika 1997 di Sukabumi, berkumpul dengan masyarakat di sebuah musala kecil, saya mengatakan ingin mendirikan pesantren kaligrafi di sana. Tidak tahu di sana itu di mana, karena tidak punya apa-apa. Tetangga juga tidak ada. Tapi rupanya karena tekad pesantren harus ada di Sukabumi, ya jadilah,” kenang pria kelahiran Kuningan, 15 Juli 1957 itu.
Perjalanan Lemka juga diwarnai tantangan, salah satunya adalah kegagalan kursus kaligrafi pertama. Ustaz Didin mengakui bahwa saat itu ia sendiri bukanlah seorang guru kaligrafi dan tidak memiliki metode pengajaran yang tepat. Kegagalan ini justru menjadi pelajaran berharga yang memacunya untuk mempelajari dan merumuskan teori mengajar kaligrafi yang efektif. Ia menjelaskan bahwa metode pengajaran yang ideal menggabungkan penjelasan, demonstrasi, keteladanan seorang guru, serta pemberian motivasi kepada murid.
“Jadi, mengajar kaligrafi itu harus diterangkan, didemonstrasikan kepada anak-anak, harus menjadi guru teladan. Tidak hanya berbicara saja, tetapi harus menjadi contoh,” tegasnya. Kini, Lemka telah berhasil menyelenggarakan 73 gelombang pendidikan kaligrafi, membuktikan ketekunan dan inovasi dalam mengembangkan seni ini di Indonesia.

Ekspresi Ustaz Didin dalam Ngariksa episode 139 dan 140 memancarkan kesungguhan, antusiasme, dan kehangatan saat berbagi ilmu kaligrafi.
Diskusi kemudian menyentuh perihal pemilihan nama “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an” (Lemka). Ustaz Didin mengungkapkan bahwa ada beberapa alternatif nama yang sempat dipertimbangkan, termasuk yang berbasis lokasi. Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Lemka dengan embel-embel “Al-Qur’an” karena kitab suci inilah yang menjadi fondasi dan inspirasi utama dalam pembelajaran kaligrafi di lembaganya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa karya kaligrafi yang dihasilkan tidak selalu berupa ayat Al-Qur’an, namun semangat dan nilainya tetaplah berlandaskan pada Al-Qur’an.
“Meskipun yang digoreskan tidak semuanya ayat Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an itu menjadi daya dorong untuk memajukan lembaga, sehingga nilainya itu sama dengan nilai Al-Qur’an, kira-kira begitu,” jelasnya.
Ustaz Didin memberikan perspektif menarik mengenai perbedaan penyebutan “kaligrafi Arab” dan “kaligrafi Islam”. Menurutnya, bangsa Arab lebih sering menggunakan istilah “kaligrafi Arab” karena itu adalah tulisan mereka. Namun, di dunia Islam secara luas, istilah “kaligrafi Islam” lebih umum digunakan, mengingat Islamlah yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan seni tulis indah ini. Ia bahkan menepis anggapan bahwa kaligrafi Arab sudah maju sebelum kedatangan Islam. Justru, peradaban lain seperti Babilonia dan Mesir telah lebih dulu mengembangkan sistem tulisan yang lebih kompleks. Kedatangan Al-Qur’an dengan perintah membaca dan menulis (iqra’) menjadi titik balik yang luar biasa bagi perkembangan kaligrafi Arab. Ustaz Didin mengibaratkan perintah tersebut sebagai “bom” bagi masyarakat Arab yang saat itu lebih mengandalkan tradisi lisan. Dalam kurun waktu 70 tahun setelah Al-Qur’an diturunkan, kaligrafi Arab berkembang pesat menjadi lebih dari 400 jenis.
Kaligrafi dalam Manuskrip Islam Nusantara
Ustaz Didin menyampaikan bahwa mushaf tertua di Nusantara diperkirakan berasal dari abad ke-16 atau 17. Pada masa-masa awal, kaligrafi yang digunakan dalam mushaf Nusantara cenderung meniru gaya yang sudah ada di Timur Tengah. Namun, dari segi keindahan artistik, manuskrip-manuskrip awal Nusantara ini dinilai belum seindah karya dari Timur Tengah. Ia menduga hal ini disebabkan oleh belum mapannya tradisi belajar dan mengajar kaligrafi secara sistematis di Nusantara pada masa itu.
“Jadi hukum-hukum dasar menulis waktu itu belum terencana rapih. Karena tulisan Arab yang dinyatakan sempurna dan bagus itu adalah yang mengikuti apa yang disebut mizanul huruf, ukuran-ukuran huruf dan titik-titik. Nah, itu teh di antaranya. Waktu itu belum berkembang di Indonesia,” terangnya.
Sebagai contoh, Ustaz Didin menganalisis manuskrip abad ke-17 dari Aceh yang ditulis dengan khat naskhi, gaya yang mendominasi penulisan mushaf pasca abad ke-8 Masehi karena kepraktisannya. Perbandingan dengan manuskrip dari Madinah pada periode yang sama menunjukkan perbedaan signifikan dalam kualitas khat. Ia menjelaskan bahwa tradisi penulisan naskah di Timur Tengah pada masa itu seringkali melibatkan juru tulis khusus yang ahli kaligrafi (al-warraq), sehingga menghasilkan karya yang lebih indah dan terstandarisasi. Sementara itu, di Nusantara, manuskrip seringkali ditulis oleh para ulama sendiri yang mungkin tidak memiliki keahlian kaligrafi formal, meskipun tetap berusaha menulis dengan sebaik mungkin.

Tangkapan layar dari laptop Kang Oman menunjukkan slide berisi Manuskrip Karya Syekh Yusuf al-Makassari.
Lebih lanjut, Kang Oman menunjukkan manuskrip digital dalam laptopnya. Ustaz Didin pun melakukan analisis terhadap manuskrip tersebut, Zubdatul Asrar karya Syekh Yusuf Al-Makassari. Ustaz Didin mengamati penggunaan khat naskhi dengan karakteristik goresan vertikal tipis dan horizontal tebal, yang menurutnya mengindikasikan adanya pengaruh gaya India dan Pakistan. Selain itu, pada bagian terjemah antar baris dalam aksara Pegon, terlihat gaya tulisan yang mendekati khat Farisi, kemungkinan karena kedekatan geografis dan budaya dengan Persia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya kaligrafi dalam manuskrip juga dapat menjadi penanda wilayah dan interaksi budaya. Ustaz Didin juga mengamini adanya dorongan spiritual yang kuat bagi para ulama Nusantara untuk menulis huruf Al-Qur’an dengan indah, merujuk pada hadis tentang keutamaan menulis basmalah dengan indah sebagai motivasi. Terakhir, mengenai kemungkinan adanya gaya khat khas Nusantara, meskipun belum memiliki data yang komprehensif, Ustaz Didin membuka peluang adanya perkembangan gaya lokal seiring dengan modifikasi aksara Arab menjadi aksara-aksara daerah seperti Jawi dan Pegon.
Jenis khat Indunisiawi?
Ia menjelaskan bahwa ide ini muncul karena sejarah perkembangan kaligrafi erat kaitannya dengan penemuan gaya-gaya baru. “Apa sebabnya? Karena sejarah perkembangan kaligrafi itu adalah sejarah penemuan gaya-gaya. Jadi ditemukannya gaya sampai 400 itu karena mengikuti karakter dan dan apa? Karakter dan sunah huruf. Ya, sunah huruf adalah kaligrafi Arabi itu sejarahnya dicirikan dengan pencarian gaya-gaya. Makanya tadi itu dalam waktu 70 tahun itu ditemukanlah lebih 400 gaya karena dorongan gitu. Sehingga kalau lahir gaya baru ya tidak ada salahnya.”
Ustaz Didin mencontohkan bagaimana dulu seorang kaligrafer bernama Yaqut al-Musta’simi menciptakan gaya Yaquti. Di Indonesia pun muncul nama Saiful Adnan yang memiliki gaya khas. “Kemudian di Aceh Sayid Akram itu menampilkan gaya dalam bentuk figur pohon, figur buah-buahan. Saya namakan khat akram itu tidak haram ya menamakan khat tidak haram itu tidak haram karena tidak ada dalilnya gitu ya. Boleh ya. Bahkan mungkin dapat pahala,” imbuhnya.
Hal ini memunculkan gagasan menarik dari Kang Oman agar para filolog berani menamai khat dalam manuskrip Nusantara dengan sebutan yang lebih lokal, seperti khat Indunisiawi atau Sundawi. Analogi ditarik pada sejarah awal perkembangan kaligrafi di kawasan Arab, di mana nama gaya seringkali merujuk pada nama daerah, seperti khat Makki di Makkah, khat Madani di Madinah, dan khat Kufi di Kufah.
Penamaan khat juga bisa berasal dari nama kaligrafer, daerah, atau bahkan amal perbuatan. Ustaz Didin mencontohkan khat Usribah yang digunakan atas perintah seorang khalifah saat menyuguhkan minuman kepada tamu. Ada pula khat Royhani yang indah dan harum, dengan dua versi asal-usul nama, bisa dari aroma daun royhan atau dari nama Abdullah bin Royhan. “Jadi penisbahan itu penting sekali gitu,” tegas Ustaz Didin, menggarisbawahi betapa kayanya diskusi antara kaligrafi dan filologi ini.
Obrolan berlanjut dengan menyoroti karya-karya santri Pesantren Lemka yang menggabungkan berbagai jenis khat seperti sulus, naskhi gaya Syauqi, dan farisi. Bahkan, muncul gaya kontemporer figural yang menggambarkan objek seperti pohon atau matahari, yang menurut Ustaz Didin sangat disukai oleh generasi milenial karena sifatnya yang rekreatif dan menghibur. “Bahwa melukis dan nulis Arab itu menyenangkan. Bahkan nanti hasilnya kalau dijual jadi uang misalnya gitu ya. Nah, jadi di situ nanti akan ada daya tarik,” ujarnya.
Ia menekankan tiga prinsip utama dalam kaligrafi: alkhattu ilmun (kaligrafi adalah ilmu), alkhattu fanun (kaligrafi adalah seni), dan alkhattu falsafatun (kaligrafi adalah filosofi). Prinsip-prinsip ini, terutama aspek seni sebagai “aksesoris” yang memperindah, diharapkan dapat menarik minat generasi muda. Ustaz Didin juga menjelaskan bahwa teknologi digital justru membantu para kaligrafer dalam berkarya, mempercepat proses, menggandakan hasil, dan lebih prospektif. “Jadi di sini kaligrafi itu qobilun litaghir, jadi sangat menerima sekali perubahan-perubahan,” katanya, menekankan bahwa perubahan gaya memang menjadi bagian dari perjalanan kaligrafi itu sendiri, sehingga Lemka dapat tetap eksis di era modern.
40 Tahun Lemka
“Insyaallah dalam rangka memperingati harlah ke-40, lemka akan mengadakan festival menulis mushaf Nusantara yang ditulis satu hari oleh 300 khatat Lemka. Padahal biasanya menulis mushaf itu setahun,” ungkap Ustaz Didin.

Gebyar Penulisan Mushaf di jagad media sosial.
Ketika Kang Oman kembali menunjukkan koleksi manuskrip digitalnya dalam laptop, Ustadz Didin sempat mengomentari iluminasi dalam manuskrip Mushaf Bone abad ke-19 yang mencerminkan unsur-unsur hiasan wilayah setempat. Ia menjelaskan bahwa mushaf-mushaf di Indonesia kaya akan pola-pola arabesque yang terinspirasi dari flora lokal. Rencana pembuatan mushaf Lemka Nusantara dalam rangka Festival Istiqlal 2025 akan memasukkan seluruh pola iluminasi dari berbagai daerah di Indonesia.
“Oh, jadi ini dalam rangka Festival Istiqlal 2025 ini dan ulang tahun 40 tahun Lemka akan dilakukan penulisan mushaf Lemka. Bisa menjadi sejarah dan cerita mengesankan. Satu hari siapa penulisnya nanti? Ada 300 peserta khat murid Ustaz Didin,” jelas Kang Oman.
Ustaz Didin membenarkan bahwa 300 kaligrafer akan menulis mushaf ini dalam satu hari dan hasilnya akan dipamerkan di Festival Istiqlal 2025. Mushaf ini akan memiliki ciri khas iluminasi dari lebih 30 wilayah di Indonesia. Setiap kaligrafer akan menulis dua halaman, dan nama mereka akan dicantumkan di bawahnya. Proyek ambisius ini diharapkan menjadi artefak kebudayaan Islam Indonesia yang luar biasa. Ustaz Didin juga menyinggung bahwa kemampuan menulis mushaf dalam waktu singkat bukanlah hal yang mustahil, merujuk pada kisah para kaligrafer zaman dahulu yang mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan mushaf. Ia mengaitkannya dengan konsep amal dalam agama yang pahalanya bisa berlipat ganda. (Ngaraiksa-Min)