Habaib dan Syekh Marhaban

Habaib dan Syekh Marhaban

Oleh: Kang Oman, Pengampu Ngariksa

HABIB atau habaib mencuat dalam perbincangan publik di Indonesia. Habib adalah sebutan populer bagi keturunan Arab-Hadlrami asal Yaman, khususnya keturunan Ba Alawi. Di Hadlramaut sendiri, sebutan Habib hanya disematkan kepada keluarga Ba Alawi yang terdidik dan dihormati, sementara di Indonesia lebih cair, semua klan Ba Alawi disapa Habib (Alatas, 2018: 36).

Habib ramai dibahas seiring gonjang-ganjing hasil penelusuran seorang ulama Banten, K.H. Imaduddin Utsman, bahwa sanad para habib di Indonesia yang berasal dari Bani Alawiyyin tidak bersambung kepada keluarga Nabi (ahlul bait) alias putus. Ngariksa episode ke-98 berjudul “Silsilah Wirid Ulama Habaib” sempat mengupas tentang kaum Ba Alawi di Indonesia. Namun, tayangan pada Jumat, 25 Agustus 2023, ini tidak membahas polemik tersebut. Ada Sobat Ngariksa (@achmadtontowi5504) yang berkomentar di Facebook: “…menarik prof tolong prof samb[ung] ke kyai imadudin Utsman di Banten biar makin menarik ttg Habaib ini…”. Sayangnya, saya belum bisa memenuhinya.

Kali ini saya lebih ingin menunjukkan bagaimana relasi antara ulama Arab-Hadlrami dan ulama lokal Nusantara berdasarkan bukti manuskrip. Tercatat bahwa semenjak ratusan tahun silam, hubungan mereka sangat baik bahkan punya “vibes” yang asyik dan sejuk. Ukuran hirarki di antara mereka bukan ditentukan berdasarkan sanadnya dari mana dan bersambung ke siapa, melainkan pada derajat keilmuan dan kesalehan.

 

Hingga kini para habib masiih mendapatkan tempat tersendiri karena ekosistem sosial kemasyarakatan dan keagamaan di Indonesia, terutama kalangan Nahdliyin (NU), mendukung atmosfer itu. Bahkan terbentuk komunitas muhibbin, pencinta habaib, yang setia mengikuti majlis taklim para penceramah Arab-Hadlrami dan teguh membela mereka. Perkara penghormatan yang mengarah pada sikap berlebihan ini sebetulnya mendapat catatan kritis dari sebagian kalangan habaib sendiri. Sebut saja, Musa Kazhim Alhabsyi, yang menulis buku Identitas Arab itu Ilusi: Saya Habib, Saya Indonesia! (2022).

Habaib memang punya daya tarik tersendiri di kalangan muslim Indonesia. Kedatangan Habib Umar bin Hafidz dari Yaman selalu disambut dengan antusias dan penuh cinta. Boleh jadi, ini karena kharisma Habib Umar ketika menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyentuh hati. Para jemaah yang sebagian d antaranya dari kalangan artis, tak jarang meminta ijazah (otorisasi) bacaan zikir dan wirid untuk penentram jiwa. Habib Umar dalam berbagai kesempatan memang tak pelit untuk berbagi ijazah secara terbuka, salah satunya berupa formula zikir dan doa berjudul “Khulasah al-Madad al-Nabawi” yang ia susun sendiri.

Gemar berzikir dan berdoa, masyarakat muslim di Indonesia khususnya kaum Nahdliyin akrab dengan Ratib Haddad yang dirumuskan oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad pada abad ke-17. Di Pesantren Al-Hamidiyah Depok Jawa Barat yang kami asuh, hampir setiap bakda Maghrib santri membaca wiridan ini. Di pesantren-pesantren di Jawa juga wiridan ini diijazahkan dan dibaca secara turun-temurun.

Penyusunan kitab wirid dan doa serta tradisi mengijazahkannya kepada jemaah, sebetulnya bukan monopoli ulama Arab-Hadlrami. Sejumlah kitab mengisyaratkan bahwa para ulama Nusantara juga memiliki otoritas dan tradisi yang sama, bahkan untuk kalangan tertentu lebih dapat diterima karena disertai dengan terjemahan dalam bahasa lokal, seperti Pegon Jawa/Sunda atau Melayu-Jawi, yang dipahami oleh jemaahnya.

K.H. Bisri Mustofa (w. 1977) atau biasa disapa Mbah Bisri asal Rembang Jawa Tengah, misalnya menyusun satu kitab berjudul “al-Haqibah: Ini Du’a-du’a, Aurad, Munajat, ingkang Wigati”. Dalam mukaddimah kitab yang ditulis pada tahun 1972 itu, Mbah Bisri menegaskan: “…wa ajaztu hadzihil ad’iyah wa al-aurad liman waqa’a ‘alaihi hadza al-kitab ijazatan munawalatan…”, bahwa wirid dan doa ini diijazahkan bagi siapa saja yang membacanya.

 

Kalau menelisik manuskrip-manuskrip yang ditulis pada masa yang lebih awal, formula dzikir dan wirid itu sering disebut sebagai “tarekat”. Sebut misal, Tarekat Haddadiyah; Tarekat Alawiyah; Tarekat Somadiyah; Tarekat Qulhu; dan lain-lain. Dalam Ngariksa episode ke-98, beberapa contoh manuskrip yang dihadirkan berasal dari koleksi Museum Pedir Aceh atas kebaikan direkturnya,  Sdr. Masykur Syafruddin.

Banyaknya manuskrip Nusantara yang terkait dengan komunitas Arab-Hadlrami sebetulnya tidak terlalu mengherankan. Sejak abad ke-13 M, nisbah “al-Jawi” sudah digunakan oleh seorang ulama di Yaman, yakni Abu ‘Abdullah Mas’ud bin Muhammad al-Jawi, meski identitas persisnya belum dapat ditelusuri (Feener & Laffan, 2005). Pada perkembangan berikutnya di abad ke-18 dan 19 M, komunitas Arab-Hadlrami semakin banyak bermukim di  berbagai daerah di Nusantara. Lambat laun mereka pun menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur sosial politik masyarakat saat itu. Ada yang menjadi penasihat Sultan, tak sedikit yang menjadi pendakwah biasa. Interaksi ulama Arab-Hadlrami dan ulama lokal Nusantara itu sedemikian cair, tidak ada superioritas atas nama marga, apalagi mengatasnamakan sanad Nabi.

Di antara manuskrip koleksi Museum Pedir yang di dalamnya terdapat sanad atau silsilah yang menghubungkan jejaring ulama Arab-Hadlrami dan ulama Aceh adalah “Tarekat Qulhu”. Manuskripnya menggunakan kertas Eropa (berarti biasanya asal abad ke-18 atau 19), menghubungkan sanad dzikir Syekh Muhammad Marhaban asal Lambhuuk, Aceh kepada guru-gurunya, hingga tersambung kepada Habib Ahmad Ba Faqih di Jeddah, dan terus bersambung melalui sanad Ba Alawi hingga Rasulullah saw.

Syekh Marhaban adalah seorang ulama Aceh yang belum banyak diungkap identitasnya. Namun, beberapa manuskrip yang ada mengkonfirmasi peran dan jaringan keilmuannya dengan para ulama Arab-Hadlrami. Dalam manuskrip lain juga disebut bahwa Syekh Marhaban memiliki sanad dzikir dalam Tarekat Samadiyah, Tarekat al-Haddad, dan lainnya.

Ketika saya melakukan pelestarian, digitalisasi, dan katalogisasi manuskrip Koleksi Yayasan Ali Hasjmy Aceh (Fathurahman & Holil 2007), ditemukan stempel atas nama Syekh Marhaban. Saat itu saya belum tahu sama sekali identitasnya. Menariknya, ada manuskrip yang menjelaskan bahwa Syekh Marhaban ini juga menjadi guru bagi sejumlah Habib di Aceh. Sebuah naskah Koleksi Museum Pedir misalnya menyebutkan bahwa Syekh Marhaban memberi ijazah Tarekat al-Haddad kepada Habib Hasan bin Umar Al-Kaff Ba Alawi, guru bagi Habib Sulaiman Beutong, guru bagi Muhammad Juned Gampong Riweuk, guru bagi Cuma Fatimah Gampong Riweuk Meunasah Cot, Kecamatan Sakti. Identitas nama-nama yang disebut dalam manuskrip ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Kalau dikumpulkan, sumber-sumber manuskrip abad 18-19 yang menyebutkan sanad Ba Alawi di Indonesia ini sangat banyak, bahkan naskah serupa dijumpai juga dalam manuskrip koleksi Syekh Muhammad Said di Marawi City, Mindanao, Filipina Selatan. Dan, hampir dapat dipastikan bahwa semuanya mencatatkan ketersambungan Ba Alawi hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Tentu data manuskrip Arab-Hadlrami Nusantara ini tidak serta merta menjadi argumen yang mematahkan hipotesis soal keterputusan sanad Ba Alawi, karena semua manuskripnya berasal dari abad ke-18 dan 19 M, jauh dari era ‘Ubaidillah (abad ke-11 M), kakek buyut Ba Alawi yang diperdebatkan ketersambungan sanadnya kepada Nabi. Namun, bukan berarti dapat disimpulkan sebaliknya, bahwa semua sanad Ba Alawi dalam manuskrip Nusantara ini adalah palsu, misalnya.

Satu hal yang dapat dipastikan, pada era itu di Nusantara dan Aceh khususnya, relasi ulama Arab-Hadlrami dan ulama Aceh bersifat sangat cair. Bahkan, kolofon sebuah manuskrip berjudul Nazam Aqidah Koleksi Museum Pedir menegaskan adanya “kolaborasi ilmiah” antara Habib (Tengku Sayyid Busu (Abdullah al-Zahid) sebagai penulis kitab, dengan penerjemahnya ke dalam Bahasa Jawi, yaitu Teuku Cut Teungku Faqih Geulumpang Minyeuk, Pidie.

Walhasil, di bagian akhir Ngariksa episode ke-98, saya berpesan begini:

Sobat Ngariksa, ulama dan habaib tidak perlu dibanding-bandingkan, apalagi dipertentangkan, keduanya bisa menjadi teladan.

Berdasarkan catatan masa silam, ulama dan habaib bergandengan tangan. Mereka bersama-sama membimbing umat,     mencipta karya, dan membangun peradaban.

Beruntung Aceh punya manuskrip, serta ada pegiat yang merawat dan menyimpan. Isinya tentang silsilah dan dzikir, atau wiridan. Saya yakin wilayah lain pun demikian.

Dari Aceh kita punya Syekh Marhaban, yang guru-guru maupun murid-muridnya adalah habaib yang saling bertautan. Manuskrip amat berharga, wujud dan isinya perlu dijaga.  Salam Ngariksa!

 

 

 

 

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Habaib dan Syekh Marhaban
1556 views - October 22, 2024