Jalan Pulang Hamzah Fansuri

Setelah 29 tahun meneliti naskah Aceh, Kang Oman tiba di Subulussalam dan menemukan ironi: meski UNESCO menetapkan karya Hamzah Fansuri sebagai Memory of the World 2025, warisan sufi abad ke-16 itu justru terlupakan di tanah kelahirannya. Ia mengungkap ada temuan tentang tahun wafat Hamzah Fansuri (1527) dan fenomena “satu jasad, tiga makam”, seraya menyerukan langkah konkret untuk melestarikan khazanah intelektual Nusantara yang pernah menjadi pusat peradaban dunia. (Sumber foto: israc.or.id)

NGARIKSA – Kabut pagi masih menyelimuti Bandara Silangit ketika Kang Oman menjejakkan kakinya di tanah Sumatera setelah perjalanan panjang dari Jerman. Penerbangan yang melelahkan, transit 22 jam di Dubai, dan perjalanan darat tujuh jam yang ternyata lebih lama daripada penerbangan internasionalnya, semua terbayar sudah ketika ia berdiri di tanah Subulussalam. 

“Sejak 1996 saya meneliti manuskrip-manuskrip Aceh,” ujarnya dengan suara bergetar, “tapi baru hari ini, setelah 29 tahun, saya akhirnya bisa menyentuh tanah yang melahirkan Hamzah Fansuri.”  

Acara seminar di Subulussalam itu bukan sekadar pertemuan akademis biasa. Suasana terasa magis ketika Kang Oman dengan sengaja memilih duduk sejajar dengan hadirin, menolak tempat yang lebih tinggi. 

“Saya ini santri,” katanya sambil tersenyum, “tidak pantas duduk di atas ketika berbicara tentang ulama besar.” Sikap rendah hati ini justru membuat audiens semakin terpikat, bersiap menyimak kisah perjalanan intelektual seorang sufi yang pemikirannya telah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. 

Ironi besar segera terungkap. Di saat karya-karya Hamzah Fansuri dikaji di universitas-universitas ternama Eropa dan Asia, di tanah kelahirannya sendiri di Singkil, warisan sang sufi justru seperti terlupakan. 

“Saya berbincang dengan warga di sini,” cerita Kang Oman, “dan menyadari betapa sedikit yang mengenal kedalaman pemikiran putra terbaik mereka.” Padahal, di Hamburg, tempat ia baru saja datang, para akademisi sedang bersemangat mendiskusikan pengaruh syair-syair Hamzah Fansuri terhadap perkembangan tasawuf dunia.  

 

Penelusuran Peneliti

Fakta-fakta sejarah yang dipaparkannya bagai potongan puzzle yang akhirnya menyatu. Penelitian mutakhir dua arkeolog Prancis, Claude Guillot dan Ludvik Kalus, menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri mungkin telah wafat pada 1527, lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Temuan ini mengubah banyak hal. Jika benar demikian, berarti sang sufi tidak sempat bertemu langsung dengan Syekh Syamsuddin al-Sumatrani yang selama ini dianggap sebagai muridnya. 

“Tapi hubungan guru-murid dalam tradisi kita tidak selalu berarti pertemuan fisik,” jelas Kang Oman, “bisa jadi ini hubungan intelektual melalui karya.”  

Sedikit singkat tentang Hamzah Fansuri. 

Yang lebih menarik lagi adalah fenomena “satu jasad, banyak makam”. Di Oboh Rundeng (Subulussalam), di Ujong Pancu (Aceh Besar), dan di Bab al-Ma’la (Mekkah), masyarakat setempat sama-sama mengklaim memiliki makam Hamzah Fansuri.

“Ini bukan hal aneh dalam tradisi kita,” ujar Kang Oman sambil tersenyum. “Syekh Yusuf al-Makassari pun makamnya ada di tiga tempat: Afrika Selatan, Goa, dan Banten. Orang-orang suci sering meninggalkan jejak yang tak bisa dipahami dengan logika biasa.”  

Pada 11 April 2025 menjadi momen bersejarah. Di markas UNESCO di Paris, setelah melalui proses seleksi ketat, karya-karya Hamzah Fansuri resmi ditetapkan sebagai Memory of the World. 

“Ini bukan sekadar pengakuan simbolis,” tegas Kang Oman yang terlibat langsung dalam proses nominasi. “Tapi pengakuan bahwa pemikiran dari tanah Singkil ini telah menjadi bagian dari peradaban dunia.” 

Prosesnya tidak mudah. Tim Indonesia harus berkolaborasi dengan Malaysia karena karya-karya tersebut adalah warisan bersama dunia Melayu. Yang diajukan bukan hanya satu naskah, tetapi seluruh corpus karya Hamzah Fansuri, dari Asrar al-Arifin hingga Syair Perahu yang puitis.  

Di balik kegembiraan ini, Kang Oman justru menyodorkan tantangan yang lebih besar. “UNESCO sudah mengakui, lalu apa langkah kita selanjutnya?” tanyanya retoris. Ia bercerita tentang proyek ambisius Kementerian Kebudayaan yang sedang menulis ulang sejarah Indonesia dengan perspektif baru. 

“Kita akan menempatkan Nusantara sebagai pusat peradaban, bukan pinggiran,” katanya dengan mata berbinar.  

Bukti-bukti yang ia paparkan mengubah cara pandang kita terhadap sejarah. Catatan pedagang Persia abad ke-9, Sulaiman al-Sirafi, yang menggambarkan kekagumannya pada rempah-rempah Nusantara. Naskah Yaman abad ke-13 yang sudah menggunakan istilah “Al-Jawi” untuk menyebut masyarakat kita. 

Jejak intelektual yang menunjukkan bagaimana Aceh menjadi gerbang masuknya Islam ke Asia Tenggara. “Kita sering lupa,” ujarnya, “bahwa ketika Eropa masih dalam Abad Kegelapan, Nusantara sudah menjadi pusat perdagangan dan pemikiran dunia.”  

 

Aceh Membangunkan Makkah

“Inilah mukadimah kitab yang ditulis Syekh Ibrahim Al-Kurani,” ujar Kang Oman dengan suara bergetar. “Di sini beliau bercerita tentang kabar yang diterima dari murid-murid Jawi yakni orang-orang Nusantara tentang bagaimana ilmu tasawuf dipelajari secara serampangan di Aceh abad ke-17.”  

Fragmen sejarah yang dibacanya itu seperti membuka peti hikmah yang terlupakan. Syekh Al-Kurani, guru dari Syekh Abdurrauf Singkil, mengkritik fenomena saat itu, orang-orang belajar wahdatul wujud sebelum sempurna menguasai fikih dasar. 

“Belum khatam Al-Qur’an, belum tuntas belajar wudhu, sudah berani menyelami samudera tasawuf falsafi,” ujar Kang Oman menjelaskan. “Inilah yang kemudian memicu polemik sengit antara para ulama Aceh.”  

Dari pergolakan intelektual inilah lahir karya-karya monumental. Syekh Abdurrauf Singkil, sang penengah, tidak serta merta mengambil sikap. Dengan rendah hati, beliau meminta petunjuk gurunya di Makkah. 

Kutipan karya Al-Kurani merespons muslim Jawi atau Nusantara khususnya Aceh dan Sumatera.

“Jawaban Syekh Al-Kurani sederhana tapi mendalam: wal jam’u muqaddamun ‘alat tarjih, upaya menghimpun pendapat harus didahulukan daripada mengunggulkan salah satu pihak,” papar Kang Oman.  

Prinsip inilah yang kemudian melahirkan Tanbih al-Masyi, juga karya tafsir pertama lengkap 30 juz dalam bahasa Melayu. “Inilah mahakarya yang disempurnakan oleh muridnya, Baba Daud Ar-Rumi dari Turki, yang di Jawa dikenal sebagai Tengku Penayong,” tambahnya sambil menunjukkan foto naskah kuno dari Surau Calau, Sijunjung.  

Kang Oman kemudian membeberkan peta jaringan intelektual yang mencengangkan. Dari tanah Singkil, pengaruh Syekh Abdurrauf menjalar ke seluruh Nusantara ke Minangkabau melalui Syekh Burhanuddin Ulakan, ke Cirebon melalui silsilah keraton, ke Yogyakarta melalui Kanjeng Ratu Kadipaten, nenek buyut Pangeran Diponegoro, dan bahkan sampai ke Mindanao, Filipina Selatan.  

“Lihatlah betapa gagasan dari tanah Singkil ini mempengaruhi perlawanan Diponegoro,” ujarnya bersemangat. “Ketika sang pangeran kecil dibesarkan oleh neneknya yang menganut tarekat Satariah, ditanamkanlah prinsip zillullah fil ard, manusia sebagai bayangan Tuhan di bumi yang harus membela keadilan.”  

Di antara ribuan naskah yang ditelitinya, Kang Oman masih penasaran dengan satu teka-teki: siapakah Syekh Nuruddin Albawani? “Figur misterius ini muncul dalam silsilah sebagai murid langsung Syekh Abdurrauf, tapi jejaknya hilang ditelan zaman,” katanya.  

Yang lebih menarik lagi adalah temuan tentang sufisme perempuan Nusantara. “Kita selalu mengenal Rabiah Al-Adawiyah, tapi di Tano Abe, saya menemukan manuskrip tentang Hamidah binti Sulaiman, sufi perempuan Aceh yang menerima ijazah tarekat.”  

 

Tugas Besar untuk Semua

Dengan mata berbinar, Kang Oman bercerita tentang kecintaannya pada filologi. “Ilmu membaca naskah kuno ini seperti menjadi detektif waktu,” ujarnya. Di Marawi, Filipina, ia menemukan naskah yang masih terbungkus kain; di Palembang, manuskrip yang nyaris dibuang.  

Namun keprihatinannya mendalam ketika melihat kondisi studi filologi sekarang. “Anthony Reid pernah bilang, tradisi studi naskah Nusantara di Eropa sudah tamat. Sekarang tanggung jawab ada di pundak kita,” tegasnya.  

Kang Oman menitip pesan: “Untuk memulangkan pemikiran Hamzah Fansuri ke tanah kelahirannya, kita butuh ekosistem lengkap dari kurikulum pendidikan, digitalisasi naskah, hingga kebijakan pemerintah.”  

Di penghujung acara, Kang Oman tidak hanya meninggalkan pengetahuan, tetapi juga rencana konkret. Ia mengusulkan tiga langkah besar: digitalisasi naskah-naskah kuno yang masih tersisa, penyusunan kurikulum lokal berbasis warisan intelektual, dan festival budaya tahunan yang menghidupkan kembali jejak keemasan Islam Nusantara. 

“Hamzah Fansuri bukan milik masa lalu, tapi kompas yang akan membimbing kita ke masa depan,” ungkapnya seperti bisa disaksikan dalam Ngariksa episode 142.   

Uraian Kang Oman terkait MoW UNESCO untuk Indonesia.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan dan para hadirin beranjak pulang, satu pertanyaan masih menggantung di udara: Sudah siapkah kita “memanggil pulang” sang sufi, bukan hanya dalam bentuk pengakuan dunia, tetapi dalam kehidupan intelektual dan spiritual kita sehari-hari? Jawabannya, seperti kata Kang Oman, tidak tertulis dalam naskah-naskah kuno, tetapi dalam tindakan nyata generasi sekarang untuk merawat warisan yang hampir terlupakan ini.  

Di luar jendela, angin berembus pelan membawa aroma laut Singkil yang asin. Seolah menyampaikan pesan: pemikiran Hamzah Fansuri telah berlayar mengarungi samudera waktu, dan kini saatnya untuk berlabuh kembali ke tanah kelahirannya. (Ngariksa-Min)

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
543 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
373 views - April 14, 2025