Ketika Tanah Hadhrami Dikaji dari Jerman

Di balik dinginnya udara Hamburg, seorang anak Betawi dari Cengkareng duduk di social housing-nya sembari meneliti manuskrip Hadhrami abad ke-20, sebuah perjalanan yang membawanya menjadi kandidat PhD di Jerman. Dalam obrolan santai bersama Kang Oman, Pengampu Ngariksa, Rangga Eka Saputra membagikan kisahnya,  tentang perjuangan tanpa beasiswa, pentingnya merawat naskah kuno lintas disiplin, dan pesannya untuk santri yang bermimpi melanglang buana. ‘Manuskrip bukan sekadar masa lalu,’ katanya, ‘tapi jembatan untuk memahami identitas kita.’

 

Di sebuah kota paling utara Jerman, udara April masih menggigit. Salju mungkin sudah mulai menghilang, tetapi angin dan hujan tetap setia menemani. Di tengah cuaca yang tak kunjung hangat itu, Kang Oman berbincang dengan Rangga Eka Saputra, seorang mahasiswa PhD asal Indonesia di Universitas Hamburg. Meski bukan filolog, Rangga akrab dengan dunia manuskrip, sebuah ketertarikan yang membawanya berdiskusi  di Ngariksa episode ke-143.  

Rangga bukan anak Menteng atau Jakarta Pusat yang bergelimang kemewahan. Ia tumbuh di Cengkareng, pinggiran Jakarta, sebagai anak Betawi dengan darah Lampung dari ayahnya. Kedua orang tuanya tidak berpendidikan tinggi, ibu hanya tamat SD, ayahnya lulusan SMP. Tapi ada satu warisan berharga yang mereka tanamkan: “Jangan sampai tidak sekolah”. Pesan sederhana itu yang membawanya melangkah lebih jauh dari yang pernah dibayangkan.  

“Waktu kecil, saya bahkan tidak membayangkan bisa kuliah di Jerman,” akunya sambil tertawa. Masa kecilnya diisi dengan kenakalan khas anak pinggiran: bolos sekolah, tidur di bangku kelas, main bola, bahkan berantem dengan teman. Namun, satu fase kehidupan mengubah arahnya: bergabung dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Di sana, ia bertemu para intelektual seperti Azyumardi Azra, yang membentuk cara berpikirnya. “Bergaul dengan mereka meletakkan dasar hidup saya,” ujarnya.  

Antusias Rangga Eka Saputra saat mengobrol dengan Kang Oman.

Rangga menyebut perjalanannya sebagai “suratan takdir”. Setelah lulus S1 Ilmu Politik, ia melanjutkan S2 Studi Asia Tenggara di Hamburg, lalu langsung ke S3 tanpa jeda. Awalnya, ia bahkan tidak membayangkan bisa sampai di sini. “Sampai suatu hari, saat presentasi di depan para profesor, saya baru sadar: Loh, kok saya ada di sini?”  

Kehidupan di Jerman tidak mudah. Ia berangkat tanpa beasiswa, mengandalkan tabungan dan kerja paruh waktu. “Semester pertama fokus kuliah, semester kedua mulai kerja sampingan,” kenangnya. Syukurnya, ia kemudian mendapat beasiswa kampus yang membantunya bertahan. Kini, sebagai kandidat doktor, ia juga menjadi asisten pengajar, tugas yang ia akui ‘melelahkan, tapi dinikmati’.  

 

Meneliti Tanah, Menguak Identitas  

Riset Rangga unik. Ia meneliti urusan tanah orang-orang Hadhrami (komunitas Hadramaut, Yaman Selatan) di Nusantara abad ke-20. Selama ini, diaspora Arab sering dikaitkan dengan peran keagamaan, tapi Rangga menemukan fakta menarik: sebagian besar justru pedagang dan tuan tanah. “Mereka tidak semuanya mubalig, tapi pebisnis,” tegasnya.  

Pertanyaan besarnya: Apa arti penting tanah bagi diaspora Arab? Bagaimana mereka mendapatkannya, lalu kehilangannya saat nation-state terbentuk? Dan bagaimana hal itu memengaruhi identitas mereka? “Saya ingin melihat the economic origin of belonging, perasaan keindonesiaan mereka justru berakar pada kalkulasi ekonomi, bukan hanya agama,” paparnya.  

Ia juga menyentuh praktik money lender yang marak di kalangan Hadhrami, meski enggan masuk terlalu dalam. “Ini agak sensitif,” katanya. Tapi ia menekankan pentingnya memisahkan identitas Arab sebagai etnisitas, bukan sekadar simbol keislaman.  

Meski bukan filolog, Rangga sering menggunakan manuskrip sebagai sumber primer seperti surat tanah, catatan wakaf, bahkan nota hutang. “Ini penting untuk melihat kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya. Di Hamburg, ia berinteraksi dengan Center for the Study of Manuscript Culture (CSMC), salah satu pusat kajian manuskrip terkemuka di Eropa.  

Ia berharap kajian manuskrip tidak hanya jadi milik filolog. “Ngariksa sudah membuat dunia ini tidak lagi sunyi,” pujinya. Platform ini, menurutnya, berhasil membawa naskah kuno ke diskusi yang lebih luas, sesuatu yang ia rasakan sendiri sebagai peneliti lintas disiplin.  

 

Jerman dan Prospek Humaniora  

Bagi yang berminat studi di Jerman, Rangga memberi kabar baik: humaniora masih terbuka lebar. “Kuliah gratis, meski biaya hidup harus diatur,” katanya. Ia sendiri membuktikannya: dari nekat berangkat tanpa beasiswa, hingga bertahan dengan kerja keras.  

“Yang penting berani mencoba,” pesannya. Seperti hidupnya yang mengalir dari Cengkareng ke Hamburg, Rangga membuktikan bahwa pendidikan bisa membawa siapa pun melampaui batas, bahkan hingga ke tanah salju yang jauh.

Suasana beberapa mahasiswa sedang meneliti manuskrip di CSMC. Sumber: csmc.uni-hamburg.de

Di CSMC, naskah kuno dikaji dengan pendekatan multidisiplin: kimia untuk analisis tinta, komputer untuk digitalisasi, bahkan biologi untuk uji DNA. “Ini cluster of excellence, didanai besar oleh pemerintah Jerman,” jelasnya.  

Ia juga menyinggung  bagaimana membuat manuskrip relevan bagi generasi milenial. “Yang sudah dilakukan Ngariksa, memopulerkan lewat platform digital, itu luar biasa. Tapi harus konsisten.” Ia menekankan, manuskrip adalah rekaman multidimensi: tak hanya agama, tapi juga ekonomi, sosial, bahkan pengobatan tradisional. “Seharusnya sejarawan, antropolog, bahkan ahli medis bisa memanfaatkannya.”  

Ia juga menyoroti tren baru: peneliti asing yang mengkaji manuskrip lokal. “Ada teman saya dari Italia yang meneliti naskah Batak. Ini bukti kajian manuskrip sudah mendunia.” Namun, ia mengingatkan bahaya blind native, kecenderungan peneliti lokal yang terlalu dekat dengan subjeknya hingga kehilangan sikap kritis. “Kita perlu metodologi yang seimbang: tidak terlalu jauh, tapi juga tidak taken for granted.”  

 

Pesan untuk Santri 

Sebagai anak madrasah yang tak sempat nyantri, Rangga justru melihat potensi besar di pesantren. “Santri punya dasar kuat: bahasa Arab, kitab kuning, dan kedisiplinan. Itu modal berharga untuk masuk ke universitas top dunia.” Ia mencontohkan diri sendiri yang bisa sampai ke Jerman meski tanpa beasiswa awal.  

Kepada santri-santri Pesantren Al-Hamidiyah Depok, yang diasuh oleh Kang Oman, ia berpesan: kuasai dasar-dasarnya dulu. “Belajar menulis esai, logika, dan bahasa asing. Jangan mentok di ilmu agama saja.” Putri bungsunya, yang kini jadi penerjemah dadakan di sekolah Jerman, adalah bukti: kemahiran bahasa bisa membuka pintu adaptasi dan kepercayaan diri.

“Untuk Sobat Ngariksa yang ingin studi ke Jerman,” katanya, “persiapkan bahasa dan ilmu dasar. Nanti, kita bisa bertemu di sini.” Dengan senyum, ia menambahkan: “Santri pun bisa sampai ke sini. Asal man jadda wajada, Siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil” (Ngaraiksa-Min)

 

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
543 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
373 views - April 14, 2025