Perjalanan Pak Lulut Mengoleksi Manuskrip Kuno

“Barang siapa yang membuka jalan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari kebaikan tersebut,” ujar Pak Lulut Edi Santoso, seorang kolektor manuskrip kuno yang telah mengabdikan dirinya untuk merawat warisan budaya tertulis Nusantara. Bukan sekadar hobi, tetapi sebuah panggilan jiwa yang membawanya menjelajahi berbagai tempat demi menyelamatkan naskah-naskah yang hampir terlupakan.

NGARIKSA – Pak Lulut, seorang guru seni di SMA Negeri 3 Malang, memulai perjalanannya dalam mengoleksi manuskrip dan buku kuno bukan dari latar belakang akademik yang langsung terkait dengan filologi, tetapi dari ketertarikan mendalam terhadap teks-teks kuno. “Saya senang dengan hal-hal terkait teks tulis, walaupun saya tidak bisa membaca aksara Arab dan Jawa secara lancar,” ungkapnya dalam Ngariksa Episode 135.

Dari satu naskah yang ia temukan dalam keluarganya, ia mulai menjelajah ke berbagai daerah, dari Jakarta hingga Lombok, bahkan mendapat koleksi dari seorang relasi di Papua. Ia menuturkan bahwa naskah berbahasa Jawa bisa sampai ke Papua dan berpindah tangan hingga kembali ke Jawa melalui dirinya. Sebuah perjalanan panjang yang memperlihatkan bagaimana manuskrip kuno beredar lintas wilayah.

“Saya prihatin karena banyak manuskrip yang tidak terurus dan bahkan dibuang begitu saja,” kata Pak Lulut. Keprihatinan ini menjadi salah satu motivasi utama baginya untuk menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Ia juga terinspirasi oleh pengalamannya di Malaysia, ia harus membayar mahal hanya untuk mendapatkan foto satu lembar manuskrip, sedangkan di Indonesia banyak yang terabaikan.

Di antara buku kuno, manuskrip, dan artefak koleksi Pak Lulut di rumahnya di Perumahan IKIP Asri Tegalgondo, Malang. (Foto: Ngariksa-Min)

Perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Salah satu yang paling mendasar adalah keterbatasan dana. “Orang lain bisa membeli sepatu bagus, saya memilih untuk membeli manuskrip,” katanya sambil tersenyum. Terkadang, ia bahkan harus mengeluarkan uang pribadi tanpa sepengetahuan istrinya demi mendapatkan manuskrip yang langka. Dari segi dukungan, pemerintah hingga kini masih belum memberikan perhatian maksimal. “Bahkan sekadar disambangi pun belum,” ungkapnya.

Banyak naskah yang ia temukan mengandung nilai sejarah tinggi, termasuk yang berkaitan dengan sejarah lokal Jawa Timur. Dalam salah satu naskah yang ia temukan, yang kemudian dibacakan oleh Kang Oman, tertulis nama “Mas Agus Muhammad Said” yang berdomisili di “Simo Wagean, Surabaya.” Detail seperti ini menunjukkan bahwa manuskrip tidak hanya berisi teks-teks keagamaan atau sastra klasik, tetapi juga catatan sejarah yang memiliki nilai akademik tinggi.

Tidak hanya manuskrip, koleksinya juga mencakup artefak lain seperti lontar dan penanggalan berbahan perunggu. “Ini bagian dari tradisi tulis Nusantara yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya. Ia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya manuskrip kuno sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan.

Digitalisasi dan Masa Depan Manuskrip
Sebagai upaya untuk menjaga warisan ini, Pak Lulut bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendigitalisasi koleksinya. Salah satunya adalah program DREAMSEA dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, yang mendigitalkan belasan naskah dari koleksinya.

“Saya ingin membuka akses bagi siapa pun yang ingin membaca dan meneliti manuskrip ini,” jelasnya. Ia juga menyimpan hasil digitalisasi di beberapa hard disk drive sebagai bentuk cadangan, bahkan berencana mencetak ulang agar lebih banyak orang dapat mengaksesnya.

Pak Lulut terus berupaya mengedukasi masyarakat melalui pameran dan berbagai kegiatan. Sejak 2018, ia secara mandiri mengadakan pameran untuk memperkenalkan manuskrip kuno kepada masyarakat luas. “Saya pernah menemukan dosen yang bahkan tidak tahu tentang manuskrip ini, apalagi mahasiswa. Maka saya ingin mereka melihat langsung, bukan hanya dari gambar.”

Dengan koleksi yang kini mencapai 150 naskah dalam berbagai bahasa dan aksara, perjalanan Pak Lulut masih jauh dari selesai. Baginya, ini bukan sekadar koleksi pribadi, tetapi sebuah warisan yang harus dibagikan. “Saya berharap suatu hari nanti masyarakat tidak hanya mengenal, tetapi juga memahami dan menghargai manuskrip sebagai bagian dari peradaban kita.”

Apa yang dilakukan Pak Lulut adalah pengabdian, bukan sekadar koleksi. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga sejarah, agar generasi mendatang masih bisa mengenal dan memahami jejak pemikiran leluhur mereka. Sebuah usaha yang layak mendapatkan lebih banyak dukungan dan apresiasi. (Ngariksa-Min)

Pak Lulut saat rumahnya dikunjungi Kang Oman dan seketika itu pula membuat episode obrolan atau podcast Ngariksa dengan tajuk “Dari Malang Merawat yang Terbuang”. (Foto: Ngariksa-Min)

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
601 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
432 views - April 14, 2025