Bagaimana cara manuskrip kembali membumi di tengah turbulensi industri media? Mampukah ia bertahan di era digital yang serba instan? Pertanyaan ini menjadi inti diskusi Kang Oman, Pengampu Ngariksa, dengan Kang Awan atau Mauluddin Anwar, jurnalis senior yang telah malang melintang di Majalah Gatra, Metro TV, dan Liputan 6 SCTV. Dengan latar belakang jurnalistiknya, Kang Awan menyoroti pentingnya konten edukatif berbasis manuskrip dalam lanskap media modern.
NGARIKSA – Suasana di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi, begitu tenang dan asri. Di tengah suasana sore yang sejuk, Kang Oman dan Kang Awan duduk berbincang di kantin pesantren. Deru ombak aliran sungai menyertai obrolan keduanya. Suasana seperti ini tidak bisa dijumpai di Ibo Kota yang megah.
Bagi Kang Awan, Ngariksa memiliki nilai berita (news value) yang tinggi karena banyak membahas hal-hal yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga masih relevan dengan kehidupan modern.
“Saya sering nonton Ngariksa dan selalu menemukan hal-hal baru. Saya pikir, kok ada ya yang membahas ini? Padahal, saya kira tidak ada ulama zaman dulu yang membahas persoalan seperti itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana persoalan yang kita hadapi sekarang ternyata sudah pernah terjadi di masa lalu dan dibahas dalam manuskrip oleh para ulama. “Sekarang kan konten di media sosial ada yang terlalu ringan, sekadar hiburan. Itu sah-sah saja. Tapi kalau hanya itu, sayang. Kita butuh konten yang edukatif dan inspiratif, seperti Ngariksa ini.”

Kang Awan atau Mauluddin Anwar saat diwawancara di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi.
Konten bagi Generasi Milenial dan Gen Z
Di antara obrolan tercuat sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar anak muda tertarik dengan manuskrip? Kang Awan punya pandangan menarik. “Anak muda sekarang inginnya serba cepat dan praktis. Kalau bisa mudah, kenapa harus ribet? Jadi, kalau kita ingin manuskrip ini tetap relevan, kita harus bisa membawakannya dalam format yang lebih dekat dengan mereka,” jelasnya.
Kang Oman setuju. “Makanya, di Ngariksa, kami sering mencoba menghubungkan manuskrip dengan isu-isu kekinian. Misalnya, ketika terjadi likuefaksi di Palu, kami mencari manuskrip yang membahas tafsir gempa. Atau ketika memasuki Ramadan, kami bisa melihat bagaimana ulama zaman dulu membahas hukum puasa dalam manuskrip mereka,” jelasnya.
Kang Awan menambahkan bahwa pendekatan seperti ini sangat efektif. “Dulu, saat saya mengelola program Ramadan di Liputan 6, pertanyaan yang paling sering diajukan oleh anak muda itu seputar hal-hal praktis, misalnya, apakah pacaran saat puasa membatalkan pahala? Atau bagaimana hukum suami istri berhubungan setelah berbuka? Bayangkan kalau kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan referensi dari manuskrip kuno! Pasti lebih menarik,” ujarnya bersemangat.
Namun, ia juga mengakui bahwa hingga saat ini, upaya membumikan manuskrip masih kurang maksimal. “Kalau boleh jujur, manuskrip ini masih berada di menara gading. Ilmunya luar biasa kaya, tapi aksesnya masih terbatas. Para pegiat manuskrip harus lebih aktif dalam mengelola pengetahuan ini agar bisa dikonsumsi lebih luas,” katanya.
Kang Oman tak tersinggung, justru ia menganggap ini sebagai tantangan. “Memang benar, perlu ada upaya lebih besar untuk mengarusutamakan manuskrip. Perpustakaan Nasional sekarang punya program mengarusutamakan manuskrip Nusantara, tapi ini harus didukung banyak pihak, termasuk media,” ujarnya.
Mereka pun membahas bagaimana pemerintah juga harus ikut berperan. “Kalau kita bicara tentang identitas Indonesia, banyak jawabannya ada di manuskrip. Jadi, pemerintah harusnya melihat ini sebagai investasi budaya, bukan sekadar proyek pelestarian,” ujar Kang Oman.
Upaya Membumikan Manuskrip
Kang Oman menambahkan bahwa membumikan manuskrip bukan sekadar merawat sejarah, tetapi juga membuka wawasan. Dengan memahami pemikiran para ulama terdahulu, kita bisa melihat persoalan masa kini dengan perspektif yang lebih lebar dan mendetail.
Dalam diskusi, Kang Awan juga membahas bagaimana media mengalami evolusi besar dari cetak ke digital, dari TV ke platform online. Perubahan ini, menurutnya, tak bisa dihindari, tetapi harus disikapi dengan bijak. “Dunia media seperti mengalami turbulensi. Dulu cetak ke TV, lalu TV ke digital. Sekarang media sosial mengambil alih banyak aspek. Ini realitas yang tak bisa kita hindari.”
Hal yang sama juga terjadi dalam dunia manuskrip dan literasi Islam. Jika dulu manuskrip hanya bisa diakses oleh akademisi tertentu, kini dengan adanya digitalisasi dan media sosial, ilmu dalam manuskrip bisa lebih luas dikenal.
Kang Awan menggarisbawahi bahwa konten seperti Ngariksa seharusnya difasilitasi oleh pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Komunikasi & Digital.
“Pak Presiden dan para Menteri, channel ini perlu diperhatikan! Jangan hanya makan siang gratis yang diutamakan. Konten edukatif berbasis manuskrip juga penting!” selorohnya.
Menyelamatkan Peradaban
Salah satu momen berharga dalam diskusi ini adalah ketika Kang Oman mengingat kembali pengalamannya menyelamatkan manuskrip pasca-tsunami Aceh pada 2005. Saat itu, banyak orang mempertanyakan keputusannya untuk mencari dan menyelamatkan manuskrip di tengah bencana besar.
“Oman ini orang turun ke Aceh, bukannya menyelamatkan nyawa malah mencari-cari manuskrip,” katanya menirukan komentar orang-orang saat itu.
Namun, di tengah cibiran tersebut, Kang Awan justru mengapresiasi langkah Kang Oman dan mengundangnya ke Metro TV untuk berbagi cerita tentang pentingnya penyelamatan manuskrip.
“Menyelamatkan nyawa manusia jelas penting, tapi menyelamatkan masa lalu juga tak kalah penting demi masa depan. Kalau kita kehilangan manuskrip yang berusia ratusan tahun, itu bencana bagi peradaban.”
Teknologi AI dan Masa Depan Manuskrip
Obrolan antara Kang Oman dan Kang Awan membuktikan bahwa manuskrip dan media adalah dua dunia yang saling melengkapi. Media memiliki kekuatan untuk menyebarluaskan warisan intelektual Islam, sementara manuskrip memberikan kedalaman dan perspektif sejarah terhadap berbagai isu kontemporer.
Membaca manuskrip bukan sekadar menggali masa lalu, tetapi juga menemukan jawaban untuk masa kini dan masa depan. Seperti kata Kang Oman, “Jangan sampai warisan intelektual kita hanya berdebu di rak-rak perpustakaan. Manuskrip harus hidup, dibaca, dipahami, dan dijadikan inspirasi.”
Kang Oman menambahi bahwa soal teknologi, sekarang sudah ada OCR (optical character recognition), yang bisa membaca teks dari gambar, termasuk aksara Jawa dan Arab. Kang Awan pun menimpali bahwa AI juga sudah banyak digunakan di media. Misalnya, di TV One sudah ada 13 presenter berbasis AI dengan berbagai karakter, mulai dari wajah Sunda, Jawa, hingga Arab. AI juga dipakai untuk menganalisis berita, termasuk deteksi hoaks.
Tantangan yang muncul ialah dunia pernaskahan harus beradaptasi dengan teknologi ini. Kita tidak bisa menolak perubahan, karena satu-satunya yang kekal di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Jadi, bagaimana jika kita memanfaatkan AI untuk membaca dan menerjemahkan manuskrip lama? Atau mungkin membuat digital storytelling dari isi manuskrip agar lebih menarik bagi generasi muda?
Sebelum penghujung obrolan, Kang Awan menyampaikan pesan untuk teman-teman di dunia pernaskahan: never give up. “Meskipun belum banyak media yang melihat ini sebagai isu penting, saya yakin suatu saat ini akan masuk dalam arus utama. Bahkan, bisa menjadi Proyek Strategis Nasional jika pemerintah serius menanganinya,” tekannya.
Agar lebih menarik bagi generasi muda, kita perlu membumikan isu ini. Jangan hanya membahasnya di menara gading akademik, tapi juga dalam format yang lebih kekinian: podcast, video pendek, media sosial, dan lain-lain.
Bagi Sobat Ngariksa yang penasaran dengan obrolan lengkapnya, yuk simak di episode Ngariksa 138 dan rasakan sendiri bagaimana media dan manuskrip bisa bersinergi. (Ngariksa-Min)