Di tengah ingar-bingar kehidupan modern, upaya menghubungkan kembali masyarakat dengan akar budaya dan sejarah mereka menjadi semakin penting. Dalam konteks inilah Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) mengambil peran dalam Deklarasi Hari Aksara Nusantara (Haktara) yang diadakan di Jember pada Jumat, 30 Agustus 2024.
Dipelopori oleh Museum Huruf Jember dan didukung oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Jember, acara ini lebih dari sekadar perayaan; ini adalah panggilan untuk mengingat, memahami, dan melestarikan warisan budaya yang kaya dari Nusantara.
Sebagai salah satu figur kunci dalam acara tersebut, Kang Oman, Pengampu Ngariksa, menekankan betapa pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap masa lalunya. Dalam setiap kajian yang dihadirkan oleh Ngariksa, selalu ada upaya untuk menggali hikmah dari teks-teks kuno yang telah bertahan selama berabad-abad.

“Jika kita lupa dengan masa lalu, kita akan kehilangan jati diri bangsa ini,” ujar Kang Oman.
Acara ini juga menjadi momentum bagi Ngariksa untuk bersilaturahmi dengan tokoh dan komunitas lain yang berada di Jember seperti Ade Sidiq Permana dan Eri Wijayanto, keduanya merupakan inisiator Museum Huruf Jember. Dengan kehadiran lebih dari 6,97 ribu subscriber dan 212 video di kanal YouTube Ngariksa TV, serta ribuan pengikut di berbagai platform media sosial, Ngariksa telah berhasil membangun komunitas yang tak hanya menikmati konten, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam menyebarkan pengetahuan tentang manuskrip kuno.
Deklarasi Hari Aksara Nusantara bukan hanya tentang mengenang aksara-aksara yang pernah ada, tetapi juga tentang bagaimana aksara tersebut bisa menjadi jembatan untuk memahami siapa kita dan dari mana kita berasal. Deklarasi ini ditandatangani ole Bupati Jember, Museum Huruf, Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) , Balai Bahasa Jawa Timur, Ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jawa Timur

Melalui acara tersebut, Kang Oman juga menyoroti betapa pentingnya menghadirkan aksara dan budaya Nusantara dalam format yang menarik bagi generasi milenial. Harapannya, dengan adanya deklarasi ini, akan tercipta berbagai konten kreatif yang mampu menggabungkan kekayaan budaya masa lalu dengan bahasa dan medium yang akrab di telinga dan mata anak muda masa kini.
“Mungkin dalam bentuk film, novel, atau bahkan pementasan. Yang penting adalah bagaimana kita membuat aksara Nusantara tetap hidup dan relevan,” tuturnya.

Di sinilah peran Ngariksa menjadi sangat krusial, mengingat bahwa di balik setiap huruf dan kata dalam manuskrip kuno, ada cerita yang menunggu untuk diceritakan kembali, ada kearifan yang siap diambil hikmahnya, dan ada identitas yang perlu dirayakan serta dilestarikan.
Melalui Ngariksa, ia berusaha menyambungkan kembali generasi muda dengan naskah-naskah yang tak hanya mencatat sejarah, tetapi juga memberikan wawasan dan solusi yang relevan untuk masalah-masalah kontemporer. (Ngariksa-Min)