Aktif di media sosial bukan sekadar menghasilkan konten menarik dan menggaet banyak pengikut, tetapi juga memahami teknik produksi visual, strategi membangun audiens yang loyal, serta pentingnya kreativitas dalam menyampaikan gagasan. Ngariksa menekankan perlunya mengintegrasikan kekayaan warisan budaya, seperti manuskrip kuno, ke dalam media modern agar dapat menjangkau publik lebih luas secara efektif dan berkelanjutan.
NGARIKSA – Pada Rabu, 22 Januari 2025, lantai tiga Ruang Seminar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta diramaikan dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya. PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, dan Ngariksa menggagas Workshop Produksi Konten Visual dengan menggandeng tim ahli dari SCTV untuk membekali para peserta dengan kemampuan produksi konten visual berkualitas.
Tiga narasumber hadir untuk berbagi ilmu dan pengalamannya; Mauludin Anwar (Jurnalis Senior SCTV), Iwan Setiawan (Video Editor SCTV), dan Raditiyo Wicaksono (News Producer SCTV). Sebanyak 23 peserta hadir mengikuti workshop ini ingin meningkatkan kapasitas dan mengasah keterampilan dalam memproduksi dokumentasi video semi-profesional.
Seperti dirasakan bahwa media sosial berkembang dengan sangat pesat, bahkan mengungguli media konvensional dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Perubahan ini menuntut para akademisi, peneliti, dan pelaku budaya untuk beradaptasi dalam menyampaikan hasil riset, kajian, serta digitalisasi naskah agar dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas.
“Namun, di sisi lain, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan agar konten hasil riset, kajian, dan digitalisasi naskah dapat dinikmati oleh khalayak umum,” ujar Hadi Rahman, sebagai MC, saat membuka diskusi. Ia menegaskan bahwa tanpa strategi yang tepat, kekayaan intelektual dan warisan budaya yang berharga berisiko tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital.
Workshop ini dibuka oleh Didin Syafruddin, Direktur Eksekutif PPIM, yang memaparkan pentingnya produksi konten visual untuk menjembatani berbagai hasil penelitian PPIM agar lebih relevan dan mudah diakses masyarakat luas. “Kami memiliki kekayaan data yang sangat bernilai, seperti buku Green Islam dan hasil riset tentang intoleransi, tetapi kami butuh cara efektif untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang dekat dengan publik,” ujar beliau.
Di sisi lain, Kang Oman, Pengampu Ngariksa, menyoroti pentingnya merawat warisan budaya tertulis seperti manuskrip. Ia menekankan perlunya strategi modern dalam memadukan kekayaan intelektual masa lalu dengan format komunikasi kekinian. “Kami punya banyak sumber daya yang sulit ditemukan di tempat lain, tapi bagaimana caranya agar masyarakat merasa memiliki dan ingin merawatnya?” kata Kang Oman dengan antusias.

Suasana diskusi pagi yang menyenangkan hati. Dari kiri ke kanan; Didin Syafruddin, Mauludin Anwar, Raditiyo Wicaksono, dan Kang Oman. (Foto: Ramzy)
Para narasumber dari SCTV membawa perspektif segar tentang dunia media digital. Mauludin Anwar, misalnya, berbagi tips tentang pentingnya membangun loyalitas audiens melalui konten yang konsisten dan menarik. “Konsistensi adalah kunci. Video yang menarik di 30 detik pertama dapat menjadi penentu audiens bertahan atau meninggalkan konten Anda,” ungkap sosok yang akrab disapa Kang Awan itu.
Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan membagikan berbagai kiat teknis dalam produksi konten visual, mulai dari cara mengoptimalkan penggunaan kamera, pentingnya kualitas audio yang baik, hingga strategi editing untuk menciptakan video yang menarik dan engaging. Tidak hanya sebatas teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan proses pembuatan video singkat, dari tahap pengambilan gambar hingga editing akhir. Dengan pengalaman mereka di dunia penyiaran dan media digital, keduanya aktif dalam Berisik Project, sebuah inisiatif literasi media yang berfokus pada edukasi dan pemberdayaan komunitas dalam memahami serta memanfaatkan media secara lebih kritis dan kreatif.
Workshop ini tidak hanya tentang teknis produksi video. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momen refleksi tentang bagaimana institusi seperti PPIM dapat memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan penting mereka. Kang Awan memberikan contoh sederhana, “Video singkat di platform seperti Instagram Reels atau YouTube Shorts bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil riset, data-data, angka-angka yang menarik kepada generasi muda.”
Raditiyo juga membandingkan manuskrip kuno dengan perburuan artefak Indiana Jones. “Ceruknya memang kecil, tapi naskah-naskah ini adalah harta karun sejarah,” ujarnya. Ia mengingatkan pentingnya menyesuaikan penyampaian dengan audiens masa kini. Bagi Raditiyo, kunci keberhasilan konten terletak pada narasi yang provokatif tetapi jujur, judul seperti “Wow, Ada Telur Cicak di Naskah!” bisa memancing rasa penasaran, tetapi harus dibarengi dengan isi yang relevan dan bermakna.
Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual. Kamera tidak hanya harus menangkap gambar secara teknis baik, tetapi juga perlu mencerminkan emosi dan suasana. “Jemari Kang Oman memegang naskah tua, debu yang beterbangan, atau momen spontan tawa lepas dan meneteskan air mata haru harus disorot dengan cermat,” tegasnya. Ia juga menyarankan elemen tambahan seperti call to action yang mengundang penonton untuk terus terlibat, dari klik video hingga mengikuti sesi tanya jawab.

Hingga sore, workshop tetap seru dan menambah wawasan baru. Dari kiri ke kanan, Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan. (Foto: Ramzy)
Iwan memperkaya diskusi dengan teknik teknis. Dari memanfaatkan stabilizer sederhana hingga mempraktikkan rules of thirds, ia menekankan bahwa detail adalah segalanya. “Suara gesekan kertas manuskrip atau debu yang beterbangan bisa memberikan kekuatan emosional pada video,” katanya. Menurut Iwan, suara, framing, dan pencahayaan harus bersinergi untuk menghasilkan konten yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah.
Di tengah tumpukan teori dan praktik, pesan yang muncul jelas: setiap momen adalah peluang untuk bercerita. Baik melalui kamera yang menangkap detail narasi, maupun melalui pendekatan visual yang membangun hubungan emosional, warisan budaya seperti manuskrip kuno dapat dihidupkan kembali. Sebagaimana Raditiyo mengatakan, “Ride the wave” ikuti arus tren, tetapi jangan pernah kehilangan identitas.
Workshop ini menjadi panggung penting untuk menjembatani dunia akademik yang cenderung serius dengan publik yang haus akan konten ringan tetapi bermakna. Dalam dunia di mana semua orang kini bisa menjadi jurnalis, tantangan terbesar adalah menjadikan cerita kita lebih relevan dan lebih hidup, tanpa mengorbankan esensi sejarah di dalamnya.
Di akhir sesi, muncul gagasan kolaborasi lebih luas, termasuk peliputan ke lapangan bersama Dreamsea dan harapan agar Perpustakaan Nasional RI dapat mendukung konservasi manuskrip melalui program digitalisasi yang lebih masif. “Jika kita dapat menjadikan manuskrip-manuskrip ini lebih dekat dengan publik, melalui visual yang menarik, tentu akan banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Kang Oman mengakhiri sesi diskusi.
Workshop ini membuktikan bahwa membangun jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan komunikasi modern adalah tantangan sekaligus peluang. Dengan kolaborasi yang tepat, seperti antara PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, Ngariksa, dan SCTV, upaya ini bukan hanya memungkinkan, tetapi juga penuh dengan keterampilan dan potensi yang menginspirasi. (Ngariksa-Min)
Para peserta workshop tampak ceria dan bersemangat mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. (Foto: Irfan Farhani)