Sang Penjaga Warisan Sumatra

NGARIKSA – Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) tahun 2024 kembali menghadirkan momen bersejarah, bukan hanya karena perayaan budaya yang meriah, tetapi juga melalui penghargaan Sanghyang Kamahayanikan Award. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang telah mengabdikan hidup mereka untuk penelitian sejarah, arkeologi, dan filologi.

BWCF ke-13 pada 19 November 2024 ini diadakan di Kota Jambi. Acara yang telah menjadi barometer pertemuan sastra, seni, dan sejarah ini berlangsung megah di Ratu Convention Centre (RCC), menyatukan berbagai tokoh intelektual dan pemimpin budaya dari seluruh Indonesia dan dunia.

Di sesi pembukaan, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyampaikan sambutan resminya. Dalam pidatonya, Fadli Zon menekankan pentingnya menghargai kebudayaan sebagai National Treasure. Ia mengajak hadirin untuk melihat kekayaan budaya sebagai aset yang lebih berharga daripada sumber daya alam seperti minyak, gas, atau nikel.

“Kekayaan budaya adalah kekuatan yang langgeng, memberikan inspirasi dan daya untuk sebuah bangsa maju,” ujarnya. Dengan menyebut Indonesia sebagai negara dengan mega-diversity budaya, ia menegaskan bahwa dari Aceh hingga Papua, keragaman seni, musik, tari, hingga tradisi lisan menjadi kekuatan unik yang tak tertandingi.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyampaikan sambutan resminya.

 

Fadli Zon juga menekankan pentingnya menggali kembali narasi sejarah dan menulis ulang identitas bangsa. Ia mengajak bangsa Indonesia untuk keluar dari narasi kolonial yang sering memposisikan Indonesia sebagai bangsa muda. “Kita ini adalah salah satu peradaban tertua di dunia,” tegasnya, sambil menyebut penemuan arkeologis seperti lukisan purba di Leang-Leang Sulawesi Selatan yang berusia 52.000 tahun sebagai bukti nyata.

“Kita perlu percaya diri bahwa kita ini adalah bangsa dengan peradaban yang sangat tua dan kaya. Kebudayaan kita tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk menjadi kekuatan global,” katanya.

Dewan penasihat BWCF tahun ini terdiri dari Mudji Sutrisno, Y.M. Bhante Dittisampanno Thera, dan Oman Fathurahman, atau yang akrab disapa Kang Oman. Pada perhelatan kali ini, penghargaan bergengsi diberikan secara anumerta kepada Bambang Budi Utomo, seorang arkeolog senior yang tidak hanya meninggalkan jejak ilmiah luar biasa tetapi juga warisan kebajikan abadi melalui dedikasinya mengungkap tabir sejarah Nusantara, khususnya Sriwijaya dan Sumatra.

Mudji Sutrisno membacakan pidatonya.

 

Sejak awal, penghargaan ini bukan sekadar simbol penghormatan. Sanghyang Kamahayanikan, yang namanya diambil dari kitab Buddha Jawa abad ke-9, melambangkan perjalanan spiritual menuju kesempurnaan batin dan pikiran. Dalam tradisi Nusantara, istilah “Sang Jina” atau “Sang Pemenang” merujuk pada mereka yang menaklukkan segala hambatan untuk mencapai kebenaran. Dan siapa lagi yang lebih pantas menyandang gelar itu selain Bambang Budi Utomo, yang hidupnya dipenuhi pencapaian luar biasa dan ketulusan tak terhingga?

Lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1954, Bambang yang akrab disapa Bung Tommy memulai perjalanan intelektualnya di Program Studi Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Lulus dengan semangat muda yang bersemangat, ia langsung bergabung dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Dari sini, pengabdiannya dimulai. Lebih dari tiga dekade, ia menjelajahi berbagai sudut Sumatra, menggali warisan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Melayu, hingga arkeologi maritim.

Namun, kisah Bambang Budi Utomo bukan hanya tentang penemuan atau artefak. Ia adalah kisah tentang dedikasi tanpa batas. Ia menulis, tidak hanya untuk komunitas akademik, tetapi juga untuk masyarakat luas. Buku-bukunya, seperti Buddhism in Nusantara (2008), Kota Palembang: Dari Wanua Sriwijaya Menuju Palembang Modern (2012), hingga Warisan Bahari Indonesia (2016), menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami masa lalu mereka. Di sela-sela kesibukannya, ia juga menulis artikel populer, dengan nama pena Sang Krani Rendahan, sebuah julukan yang menunjukkan kerendahan hati yang khas darinya.

Pada 6 Oktober 2022, pukul 15.30 WIB, Bung Tommy berpulang. Penyakit yang selama ini ia derita akhirnya menghentikan langkahnya, tetapi tidak menghentikan pengaruhnya. Ia meninggalkan seorang istri, Ingrid HE Pojoh, serta banyak murid dan kolega yang mengenangnya sebagai sosok yang tidak pernah menyombongkan ilmu atau pencapaian, meski begitu banyak penghargaan dan prestasi yang telah diraihnya.

Kang Oman menyerahkan trofi Sanghyang Kamahayanikan Award  kepada Ingrid HE Pojoh, istri Bambang Budi Utomo. 

 

Dalam pidatonya saat penganugerahan penghargaan, Muji Sutrisno menggambarkan Bambang Budi Utomo dengan indah: “Nama pena yang sering beliau gunakan, Sang Krani Rendahan, mencerminkan sifat kerendahan hati yang patut kita teladani bersama. Warisan ilmu dan karya beliau menjadi panduan bagi para pemula dan rujukan abadi bagi peneliti.”

Tentu saja, penghargaan ini adalah pengakuan atas sumbangsih luar biasa Bung Tommy, tetapi lebih dari itu, ini adalah perayaan atas kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam dunia yang kerap sibuk mengejar ketenaran, Bambang Budi Utomo adalah pengingat bahwa esensi dari ilmu pengetahuan adalah pengabdian tanpa pamrih, tanpa henti.

Ketika trofi Sanghyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Ingrid HE Pojoh, istri mendiang, suasana haru menyelimuti. Bung Tommy mungkin tidak lagi hadir secara fisik, tetapi semangatnya terus hidup. Ia adalah bukti bahwa meski tubuh fana, karya dan dedikasi adalah keabadian sejati.

Kita mungkin tidak lagi dapat berbincang dengannya, tetapi melalui tulisannya, melalui artefak yang ia jaga, dan melalui jejak langkahnya yang tertinggal di Sumatra, kita masih bisa mendengar suaranya, menghayati pemikirannya, dan merasakan ketulusan hatinya.

Di mata sejarah, Bambang Budi Utomo bukan sekadar arkeolog. Ia adalah penjaga warisan Nusantara, sang penakluk waktu yang membawa masa lalu ke masa kini, agar kita semua dapat belajar, mengingat, dan meneruskannya. Dalam setiap lembar tulisan, dalam setiap batu artefak, namanya tetap abadi, selayaknya seorang pemenang sejati, Sang Jina. (Ngariksa-Min)