Pelestarian dan kajian manuskrip Jawa Kuno di Indonesia menghadapi tantangan besar, terutama minimnya jumlah ahli dibandingkan dengan melimpahnya warisan naskah yang tersebar di berbagai wilayah. Abimardha Kurniawan melalui komunitas mudanya Kawi Society terus berusaha menghidupkan kajian ini, menyadari pentingnya bahasa Jawa Kuno sebagai bagian dari identitas bangsa dan sumber utama sejarah serta kebudayaan Nusantara.
NGARIKSA – Kang Oman berkesempatan mengunjungi Universitas Airlangga, Surabaya. Ia berbincang dengan Abimardha Kurniawan, seorang dosen filologi yang memiliki spesialisasi dalam kajian naskah Jawa Kuno. Abi, sapaan akrabnya, dikenal sebagai pemuda yang amat giat melakukan penelitian dan kajian manuskrip Jawa Kuno khususnya Naskah Merbabu. Obrolan ini pun menjadi sebuah episode Ngariksa #136.
“Saya berada di dua domain, pra-Islam dan pasca-Islam,” ujar Abi. Ia berusaha mencari kesinambungan antara tradisi lama dan pengaruh Islam dalam naskah-naskah kuno.
Perjalanan akademiknya dimulai dari S1 di Universitas Airlangga, fokus pada sastra Jawa Islam. Saat itu, ia mengkaji manakib Syekh Abdul Qadir Jailani dan bahkan mengikuti ritual manakib di sebuah pondok pesantren di Surabaya. “Saya tertarik karena teks manakib ini sangat terkenal di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat dan Banten,” ujarnya. Kajian ini mengantarnya pada eksplorasi lebih lanjut tentang filologi Jawa Kuno saat menempuh S2 di Universitas Gadjah Mada.
Ketertarikannya pada naskah Merapi Merbabu muncul setelah membaca disertasi Romo Kuntoro, seorang ahli filologi Jawa Kuno. “Saat itu, saya menemukan naskah dengan aksara yang sangat unik dan belum pernah saya lihat sebelumnya,” kenangnya. Sayangnya, akses terhadap naskah ini tidak mudah. Digitalisasi belum umum saat itu, sehingga ia harus bolak-balik antara Yogyakarta dan Jakarta untuk mendapatkan salinan manuskrip dari Perpustakaan Nasional. Ia pun belajar membaca aksara Jawa Kuno secara otodidak dengan merujuk pada tabel alih aksara Romo Kuntoro serta buku Pramana Prawa karya Agung Kriswanto.
Belajar aksara bukan hal baru bagi Abi. Sejak SD, ia sudah tertarik dengan aksara Jawa dan mendapat dukungan dari orang tuanya. “Aksara itu modal penting dalam filologi,” tegasnya. Kini, ia menguasai berbagai sistem tulisan, termasuk rumpun Brahmik seperti aksara Jawa, Kawi, dan Sansekerta, serta rumpun Arabik seperti Pegon dan Jawi. Hal ini membantunya dalam penelitian manuskrip kuno.
Manuskrip Merapi-Merbabu dan Kosmologi Jawa
Salah satu aspek menarik dari kajian Abi adalah hubungan filosofis antara gunung dan laut dalam kosmologi Jawa. “Di naskah-naskah kuno, gunung dan laut selalu dikaitkan sebagai simbol keseimbangan alam, seperti Merapi dengan Pantai Selatan,” jelasnya. Konsep ini juga tercermin dalam interaksi antara para pertapa di pegunungan dan masyarakat pesisir yang telah memeluk Islam, sebagaimana dicatat oleh Tomé Pires pada abad ke-16.
Abi menegaskan bahwa pelestarian naskah kuno sangat penting. Banyak naskah Jawa Kuno tersebar di berbagai daerah seperti Bali, Ciburuy, dan Madura, namun jumlah ahli yang mampu membacanya masih terbatas. “Kita harus menjaga akses terhadap naskah-naskah ini agar tidak kehilangan jejak sejarah dan jati diri kita sebagai bangsa,” tutupnya. Perbincangan ini menjadi pengingat bahwa memahami masa lalu adalah kunci untuk memahami masa kini dan masa depan.
Perbincangan seru ini lalu membawa mereka kembali ke Simposium Manassa tahun 2016 di Jakarta. Saat itu, Abi membawakan presentasi yang cukup menarik. “Saya membahas bagaimana teks-teks yang menggambarkan dunia maritim, meskipun jumlahnya sedikit, ditemukan di pegunungan dan digunakan oleh masyarakat di kawasan Merapi-Merbabu,” kenang Abi. Ia menyoroti bagaimana pengetahuan masyarakat pegunungan tentang dunia maritim tampaknya bertolak belakang dengan kondisi geografis mereka yang jauh dari laut.
“Jadi ada hubungan intens antara pegunungan dan pesisir?” tanya Kang Oman.
“Betul sekali. Jika kita lihat dari sumber-sumber abad ke-16, seperti Suma Oriental karya Tomé Pires, ada interaksi erat antara para pertapa di pegunungan dan masyarakat pesisir yang sudah lebih dulu memeluk Islam. Mereka saling memengaruhi, baik dalam budaya, kepercayaan, maupun intelektualitas,” jelas Abimardha.
Interaksi ini, lanjutnya, tampak jelas dalam bahan manuskrip yang digunakan. Lontar, sebagai media tulis utama, lebih banyak ditemukan di daerah pesisir. Namun, naskah-naskah lontar justru banyak ditemukan di pegunungan. “Itu menunjukkan bahwa bahan manuskrip berasal dari pesisir, kemudian dibawa ke pegunungan. Hal ini juga memperkuat tesis bahwa pemikiran maritim turut membentuk intelektualitas masyarakat pegunungan,” tambahnya.
“Dalam kosmologi Jawa, pegunungan sering diasosiasikan dengan unsur maskulin, sementara laut melambangkan unsur feminin. Ini mirip dengan konsep yin-yang dalam filsafat Tiongkok. Keseimbangan antara dua elemen ini menjadi prinsip utama dalam keseimbangan alam dan pemikiran masyarakat Jawa.”

Obrolan seru antara Kang Oman (kanan) dengan Abimardha (kiri) di Universitas Airlangga, Surabaya.
Abi melihat bahwa Islam tidak serta-merta menggantikan kepercayaan lama, tetapi justru berasimilasi dengan tradisi yang sudah ada. Dalam manuskrip Jawa era Mataram, misalnya, ada identitas yang khas: tradisi pra-Islam tetap dipertahankan, sementara pengaruh Islam diterima tanpa menghilangkan unsur kejawaan. Ini yang ia sebut sebagai Islamisasi Jawa dan jawanisasi Islam.
Ia mencontohkan bagaimana pujangga-pujangga Jawa seperti Yasadipura dan keturunannya mampu menguasai dua tradisi sastra sekaligus: sastra pra-Islam dan sastra Islam. “Mereka tidak sekadar menerima pengaruh Islam, tetapi juga membentuknya sesuai dengan identitas kultural Jawa,” tambahnya.
Dalam manuskrip Merapi-Merbabu juga tampak. Naskah-naskah dari abad ke-16, seperti yang ditemukan di British Library, menunjukkan bagaimana teks-teks pra-Islam dan Islam digunakan secara bersamaan. Misalnya, teks Purwobumi Kamulan yang menceritakan penciptaan alam semesta dalam perspektif pra-Islam, berdampingan dengan teks Tapel Adam yang mengisahkan penciptaan dunia dalam sudut pandang Islam.
Meskipun berbeda simbol, keduanya memiliki fungsi serupa. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa pada masa itu memiliki fleksibilitas pemikiran yang tinggi. Mereka tidak sekadar menerima sesuatu secara mutlak, tetapi melakukan negosiasi budaya yang sangat halus dan kompleks.
Terkait filologi di Unair, Abi bercerita masih berada dalam tahap mengenalkan dunia naskah kepada mahasiswa. Banyak yang awalnya ragu, tetapi setelah membaca dan memahami, mereka mulai tertarik. Misalnya, ketika Abi menjelaskan kisah Garuda dan Dewa Wisnu yang menjadi ikon di depan kampus Airlangga, mereka langsung antusias. Ia ceritakan bagaimana kisah itu berasal dari Adi Parwa, bagian awal Mahabharata, dan bagaimana kisah Garuda membawa Tirta Amerta memiliki makna mendalam dalam kebudayaan Jawa.
Kang Oman tertawa kecil. “Mungkin mahasiswa juga penasaran dengan nama Mas Abi sendiri. Ada hubungannya dengan dunia pewayangan?”
Abimardha mengangguk. “Sering sekali saya ditanya soal itu! Banyak yang mengira ‘Abi’ berasal dari bahasa Arab, padahal tidak. Nama ini diberikan oleh pakde saya, seorang dalang, yang ingin ada unsur ‘Abi’ dalam nama anak laki-laki di keluarga kami. Setelah saya telusuri, ‘Abi’ dalam bahasa Sanskerta adalah awalan yang berarti kebaikan atau keluhuran. Jadi, ternyata ada landasan tekstualnya juga dalam dunia Jawa kuno.”
Komunitas Kawi Society
Abi aktif dalam komunitas Kawi Society. Ia mencermati bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah muncul generasi muda yang berminat mendalami aksara dan bahasa Jawa Kuno. “Sekitar sepuluh tahun lalu, banyak yang ikut kursus intensif Jawa Kuno. Alhamdulillah, sekarang masih ada yang tetap intens belajar,” ujarnya. Meski jumlahnya masih terbatas, keberlanjutan kajian ini menjadi harapan bagi kelestarian filologi Jawa Kuno.
Dari sisi keilmuan, jumlah ahli Jawa Kuno yang masih aktif di Indonesia memang bisa dihitung dengan jari. Beberapa nama seperti Romo Kun, yang kini telah wafat, serta Bu Kartika dan Bu Dwi Puspitorini dari Universitas Indonesia, menjadi bagian dari sedikit akademisi yang mendalami bidang ini. Di luar negeri, nama seperti Willem van der Molen dari Belanda masih terus berkontribusi dalam kajian-kajian Jawa Kuno. Keterbatasan SDM ini semakin terasa ketika dibandingkan dengan jumlah manuskrip yang masih perlu dikaji dan diinterpretasikan.

Para filolog dan pencinta budaya yang bergerak di komunitas Kawi Society (Sumber: kawisociety.org)
Mengapa studi Jawa Kuno begitu penting? Dalam konteks kebangsaan, pemahaman terhadap teks-teks ini memberikan landasan sejarah bagi konsep keindonesiaan yang berkembang sejak awal abad ke-20. “Bung Karno dan Muhammad Yamin menjadikan teks-teks seperti Negarakertagama sebagai landasan identitas nasional. Teks-teks ini bukan hanya milik satu wilayah, tetapi menjadi bagian dari kesadaran intelektual yang membentuk Nusantara,” tutur Abi. Ia menambahkan bahwa bahasa Jawa Kuno memiliki peran yang serupa dengan bahasa Latin di Eropa, menjadi lingua akademika di kawasan sekitar Laut Jawa, dari Jawa Barat hingga Lombok.
Jika generasi muda kehilangan minat terhadap bahasa dan teks Jawa Kuno, bangsa ini akan kehilangan akses terhadap sebagian besar sejarah dan identitasnya. Hilangnya pengetahuan tentang manuskrip juga berarti hilangnya pemahaman atas keyakinan, nilai, dan sistem sosial yang dianut oleh masyarakat terdahulu. Teks-teks ini mencerminkan keberagaman budaya dan agama sebelum Islam masuk ke Nusantara, termasuk sistem kepercayaan yang berkembang di berbagai komunitas.
Upaya pelestarian manuskrip di Jawa Timur dan Nusantara secara umum terus dilakukan, salah satunya melalui program DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts) yang diinisiasi oleh PPIM UIN Jakarta bekerja sama dengan Hamburg University dan Arcadia Fund. Program ini berupaya mendigitalkan manuskrip agar dapat diakses oleh lebih banyak peneliti dan masyarakat umum, tanpa mengabaikan aspek fisik dari manuskrip itu sendiri.
Sebagai penutup, Abi dan Kang Oman sepakat menegaskan pentingnya merawat warisan intelektual Nusantara ini. “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Mari kita menatap masa depan dengan merawat masa silam,” slogan Ngariksa pun kembali digaungkan. (Ngariksa-Min)