Ketika Tanah Hadhrami Dikaji dari Jerman

Di balik dinginnya udara Hamburg, seorang anak Betawi dari Cengkareng duduk di social housing-nya sembari meneliti manuskrip Hadhrami abad ke-20, sebuah perjalanan yang membawanya menjadi kandidat PhD di Jerman. Dalam obrolan santai bersama Kang Oman, Pengampu Ngariksa, Rangga Eka Saputra membagikan kisahnya,  tentang perjuangan tanpa beasiswa, pentingnya merawat naskah kuno lintas disiplin, dan pesannya untuk santri yang bermimpi melanglang buana. ‘Manuskrip bukan sekadar masa lalu,’ katanya, ‘tapi jembatan untuk memahami identitas kita.’

 

Di sebuah kota paling utara Jerman, udara April masih menggigit. Salju mungkin sudah mulai menghilang, tetapi angin dan hujan tetap setia menemani. Di tengah cuaca yang tak kunjung hangat itu, Kang Oman berbincang dengan Rangga Eka Saputra, seorang mahasiswa PhD asal Indonesia di Universitas Hamburg. Meski bukan filolog, Rangga akrab dengan dunia manuskrip, sebuah ketertarikan yang membawanya berdiskusi  di Ngariksa episode ke-143.  

Rangga bukan anak Menteng atau Jakarta Pusat yang bergelimang kemewahan. Ia tumbuh di Cengkareng, pinggiran Jakarta, sebagai anak Betawi dengan darah Lampung dari ayahnya. Kedua orang tuanya tidak berpendidikan tinggi, ibu hanya tamat SD, ayahnya lulusan SMP. Tapi ada satu warisan berharga yang mereka tanamkan: “Jangan sampai tidak sekolah”. Pesan sederhana itu yang membawanya melangkah lebih jauh dari yang pernah dibayangkan.  

“Waktu kecil, saya bahkan tidak membayangkan bisa kuliah di Jerman,” akunya sambil tertawa. Masa kecilnya diisi dengan kenakalan khas anak pinggiran: bolos sekolah, tidur di bangku kelas, main bola, bahkan berantem dengan teman. Namun, satu fase kehidupan mengubah arahnya: bergabung dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Di sana, ia bertemu para intelektual seperti Azyumardi Azra, yang membentuk cara berpikirnya. “Bergaul dengan mereka meletakkan dasar hidup saya,” ujarnya.  

Antusias Rangga Eka Saputra saat mengobrol dengan Kang Oman.

Rangga menyebut perjalanannya sebagai “suratan takdir”. Setelah lulus S1 Ilmu Politik, ia melanjutkan S2 Studi Asia Tenggara di Hamburg, lalu langsung ke S3 tanpa jeda. Awalnya, ia bahkan tidak membayangkan bisa sampai di sini. “Sampai suatu hari, saat presentasi di depan para profesor, saya baru sadar: Loh, kok saya ada di sini?”  

Kehidupan di Jerman tidak mudah. Ia berangkat tanpa beasiswa, mengandalkan tabungan dan kerja paruh waktu. “Semester pertama fokus kuliah, semester kedua mulai kerja sampingan,” kenangnya. Syukurnya, ia kemudian mendapat beasiswa kampus yang membantunya bertahan. Kini, sebagai kandidat doktor, ia juga menjadi asisten pengajar, tugas yang ia akui ‘melelahkan, tapi dinikmati’.  

 

Meneliti Tanah, Menguak Identitas  

Riset Rangga unik. Ia meneliti urusan tanah orang-orang Hadhrami (komunitas Hadramaut, Yaman Selatan) di Nusantara abad ke-20. Selama ini, diaspora Arab sering dikaitkan dengan peran keagamaan, tapi Rangga menemukan fakta menarik: sebagian besar justru pedagang dan tuan tanah. “Mereka tidak semuanya mubalig, tapi pebisnis,” tegasnya.  

Pertanyaan besarnya: Apa arti penting tanah bagi diaspora Arab? Bagaimana mereka mendapatkannya, lalu kehilangannya saat nation-state terbentuk? Dan bagaimana hal itu memengaruhi identitas mereka? “Saya ingin melihat the economic origin of belonging, perasaan keindonesiaan mereka justru berakar pada kalkulasi ekonomi, bukan hanya agama,” paparnya.  

Ia juga menyentuh praktik money lender yang marak di kalangan Hadhrami, meski enggan masuk terlalu dalam. “Ini agak sensitif,” katanya. Tapi ia menekankan pentingnya memisahkan identitas Arab sebagai etnisitas, bukan sekadar simbol keislaman.  

Meski bukan filolog, Rangga sering menggunakan manuskrip sebagai sumber primer seperti surat tanah, catatan wakaf, bahkan nota hutang. “Ini penting untuk melihat kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya. Di Hamburg, ia berinteraksi dengan Center for the Study of Manuscript Culture (CSMC), salah satu pusat kajian manuskrip terkemuka di Eropa.  

Ia berharap kajian manuskrip tidak hanya jadi milik filolog. “Ngariksa sudah membuat dunia ini tidak lagi sunyi,” pujinya. Platform ini, menurutnya, berhasil membawa naskah kuno ke diskusi yang lebih luas, sesuatu yang ia rasakan sendiri sebagai peneliti lintas disiplin.  

 

Jerman dan Prospek Humaniora  

Bagi yang berminat studi di Jerman, Rangga memberi kabar baik: humaniora masih terbuka lebar. “Kuliah gratis, meski biaya hidup harus diatur,” katanya. Ia sendiri membuktikannya: dari nekat berangkat tanpa beasiswa, hingga bertahan dengan kerja keras.  

“Yang penting berani mencoba,” pesannya. Seperti hidupnya yang mengalir dari Cengkareng ke Hamburg, Rangga membuktikan bahwa pendidikan bisa membawa siapa pun melampaui batas, bahkan hingga ke tanah salju yang jauh.

Suasana beberapa mahasiswa sedang meneliti manuskrip di CSMC. Sumber: csmc.uni-hamburg.de

Di CSMC, naskah kuno dikaji dengan pendekatan multidisiplin: kimia untuk analisis tinta, komputer untuk digitalisasi, bahkan biologi untuk uji DNA. “Ini cluster of excellence, didanai besar oleh pemerintah Jerman,” jelasnya.  

Ia juga menyinggung  bagaimana membuat manuskrip relevan bagi generasi milenial. “Yang sudah dilakukan Ngariksa, memopulerkan lewat platform digital, itu luar biasa. Tapi harus konsisten.” Ia menekankan, manuskrip adalah rekaman multidimensi: tak hanya agama, tapi juga ekonomi, sosial, bahkan pengobatan tradisional. “Seharusnya sejarawan, antropolog, bahkan ahli medis bisa memanfaatkannya.”  

Ia juga menyoroti tren baru: peneliti asing yang mengkaji manuskrip lokal. “Ada teman saya dari Italia yang meneliti naskah Batak. Ini bukti kajian manuskrip sudah mendunia.” Namun, ia mengingatkan bahaya blind native, kecenderungan peneliti lokal yang terlalu dekat dengan subjeknya hingga kehilangan sikap kritis. “Kita perlu metodologi yang seimbang: tidak terlalu jauh, tapi juga tidak taken for granted.”  

 

Pesan untuk Santri 

Sebagai anak madrasah yang tak sempat nyantri, Rangga justru melihat potensi besar di pesantren. “Santri punya dasar kuat: bahasa Arab, kitab kuning, dan kedisiplinan. Itu modal berharga untuk masuk ke universitas top dunia.” Ia mencontohkan diri sendiri yang bisa sampai ke Jerman meski tanpa beasiswa awal.  

Kepada santri-santri Pesantren Al-Hamidiyah Depok, yang diasuh oleh Kang Oman, ia berpesan: kuasai dasar-dasarnya dulu. “Belajar menulis esai, logika, dan bahasa asing. Jangan mentok di ilmu agama saja.” Putri bungsunya, yang kini jadi penerjemah dadakan di sekolah Jerman, adalah bukti: kemahiran bahasa bisa membuka pintu adaptasi dan kepercayaan diri.

“Untuk Sobat Ngariksa yang ingin studi ke Jerman,” katanya, “persiapkan bahasa dan ilmu dasar. Nanti, kita bisa bertemu di sini.” Dengan senyum, ia menambahkan: “Santri pun bisa sampai ke sini. Asal man jadda wajada, Siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil” (Ngaraiksa-Min)

 

Wajah Hamzah Fansuri di Kanvas Singkil

Ilustrasi Syekh Hamzah Fansuri digoreskan oleh M. Yasir Bancin. Ia merupakan seniman asal Tanah Singkil. Karyanya bukan sekadar lukisan wajah imaji seorang sufi agung abad ke-16, melainkan wujud ikhtiar merawat ingatan kolektif yang nyaris terputus dari akarnya. Meski kini kecerdasan visual buatan beredar deras, karya ini menjadi simbol pemulangan identitas ke rahim asalnya, sebuah tafsir spiritual, kultural, dan intelektual yang dibangun dengan riset, doa, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Ia tidak hanya meluruskan wajah, tetapi juga menghidupkan semangat berkarya, meneliti, dan membumikan warisan para ulama kepada generasi muda, agar masa depan dapat ditapaki tanpa kehilangan jejak masa silam.

NGARIKSA – Kang Oman berbincang dengan M. Yasir Bancin, seorang seniman muda asal Singkil yang baru saja menciptakan ilustrasi tokoh ulama besar, Hamzah Fansuri. Yasir yang lahir di Desa Rimo dan menyelesaikan pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Padang serta Pascasarjana ISI Yogyakarta ini telah aktif melukis sejak SD dan mengikuti berbagai pameran nasional sejak 2016. Ia menyebut dirinya sebagai pegiat seni, dan menekuni jalur seni lukis hingga kini menghasilkan lebih dari 100 karya.

“Perjalanan seniman itu seperti tahap spiritual: dari realisme ke surrealisme, hingga akhirnya mencapai abstrak. Seperti dari syariat ke tasawuf,” ujar Yasir sambil menyamakan perjalanan artistiknya dengan tradisi sufistik.

Yasir juga menyinggung pengalamannya mengikuti lomba kaligrafi MTQ tingkat kabupaten. Ia menyebut, meskipun kategori kontemporer, tetap ada kaidah yang mengikat, yang menurutnya agak bertentangan dengan semangat seni murni. Meski demikian, ia tetap menyesuaikan dan berhasil meraih juara. Kang Oman memuji karya Yasir yang berani menyandingkan seni lukis dengan nilai-nilai manuskrip klasik dan tokoh Islam besar. Ilustrasi Yasir tentang Hamzah Fansuri menjadi penanda penting, apalagi kini karya Hamzah telah diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada 11 April 2025. Ini menegaskan bahwa pendekatan seni visual bisa menjadi jembatan baru dalam menghidupkan kembali khazanah keilmuan Nusantara.

Dari Kota Subulussalam, Kang Oman menyoroti lukisan-lukisan Yasir Bancin yang tak hanya memikat secara visual, tapi juga kaya akan filosofi dan kedalaman lokal. Salah satu karya menarik Yasir lainnya adalah lukisan yang menggunakan ampas kopi sebagai medium. Gagasan ini muncul ketika ia melihat banyaknya ampas kopi terbuang di warung-warung kopi Aceh, yang dikenal sebagai “kota seribu warung kopi.”

“Kopi memberi efek warna yang artistik, dan secara makna, seperti kata Teuku Umar: kalau besok mati, kita mati syahid; kalau hidup, kita ngopi di Lambu,” tutur Yasir yang percaya bahwa kopi adalah simbol semangat, perjuangan, dan keseharian rakyat.

Yasir juga melukis dengan medium ampas kopi.

Tak hanya kopi, Yasir juga banyak terinspirasi oleh syair-syair Syekh Hamzah Fansuri, khususnya Syair Perahu. Ia menvisualkan bait-bait syair itu ke dalam lukisan yang memadukan unsur perahu, ikan tongkol, pohon cabai, suluh, dan kitab, merepresentasikan ulama yang menyatu dengan alam dan masyarakat. “Saya tidak melihat sisi mistisnya. Tapi saya melihat bahwa ulama dulu juga petani, nelayan, yang pandai membaca alam,” ujarnya.

Yasir juga menekankan pentingnya ilustrasi yang tepat untuk tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, karena selama ini banyak foto yang beredar di internet justru keliru dan menampilkan sosok ulama lain. Maka, ilustrasi karyanya juga dimaksudkan untuk “meluruskan” representasi visual tokoh besar abad ke-16 itu.

 

Kuas Anak Negeri

Meluruskan bukan berarti mengklaim kebenaran mutlak. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh M. Yasir Bancin saat ia menciptakan ilustrasi sosok Syekh Hamzah Fansuri. Bagi Yasir, ilustrasi itu bukan sekadar lukisan, tapi bentuk “tabarukan” sekaligus upaya memperbaiki narasi visual yang selama ini keliru. “Yang beredar di internet itu bukan beliau, itu foto ulama kontemporer dari Aceh,” ujarnya. Maka dari itu, sebagai putra daerah Singkil, tanah yang diyakini sebagai tempat kelahiran dan makam Syekh Hamzah, Yasir merasa terpanggil untuk menghadirkan sosok sang sufi dengan wibawa, sederhana, dan sarat makna.

Prosesnya tak sebentar. Yasir menyebut ada tiga tahap penting dalam penciptaan lukisan ini: persiapan (mengumpulkan data, naskah, dan diskusi), elaborasi dan inkubasi (mengendapkan gagasan secara spiritual), dan eksekusi karya. Ia mengaku selalu berwudu setiap kali hendak mulai melukis, bahkan menutup proses melukisnya dengan salat sunah. “Tidak ada dalilnya memang,” katanya dengan rendah hati, “tapi saya merasa ini bentuk penghormatan kepada sosok suci yang saya lukis.” Ia sadar betul bahwa Syekh Hamzah Fansuri bukan tokoh biasa: seorang sufi besar, penulis syair dan prosa yang dalam, serta ulama dengan wawasan lintas alam dan zaman.

Yang menarik, Yasir tidak bekerja sendiri. Ia dibantu dua orang dosen untuk mendapatkan kajian-kajian awal, termasuk naskah akademik tentang sosok Syekh Hamzah. Ia membaca, menafsir, lalu merasakan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari inkubasi gagasan, momen ketika data dan inspirasi mengendap, lalu muncul dalam bentuk visual. “Beban tentu ada,” katanya. “Tapi saya ingin karya ini tidak diagungkan, hanya jadi pengantar untuk mengenal lebih dalam pemikiran dan ajaran beliau.”

 Ilustrasi yang dihasilkan Yasir tampil sederhana, tapi sarat makna. Ia sengaja menghindari detail-detail yang bisa memicu perdebatan. Kopiah yang dikenakan sang Syekh misalnya, menggunakan motif warna-warna khas suku Singkil: hijau, merah, kuning, hitam, dan putih, yang juga tampak pada ornamen pendopo tempat mereka berbincang. Pakaian sang Syekh polos, tanpa bordir, demi keotentikan zaman. Ada pula selendang merah kekuningan yang dililitkan ke tubuh, sebagai simbol jabatan istana yang konon pernah disandang Syekh Hamzah sebelum dilengserkan.

“Merah itu lambang pangkat,” kata Yasir. “Tapi juga isyarat bahwa beliau pernah tersisih dari kekuasaan.”

Tak hanya visual, filosofi dalam lukisan ini juga mengakar dalam kenyataan spiritual dan historis. Yasir tak ingin mengklaim bentuk wajah atau postur tokoh suci itu, namun ia berusaha menghadirkan nuansa wibawa dan kesederhanaan. Ia tahu, makam sang Syekh pun masih diperdebatkan. Tapi baginya, bukan soal di mana jasadnya dikubur, melainkan bagaimana warisan pemikirannya terus hidup dan menginspirasi.

“Kalau lukisan ini nanti tersebar, harapannya jadi rujukan yang lebih logis dan menghormati,” pungkasnya. Sebuah ikhtiar yang tak hanya artistik, tapi juga penuh adab.

 

Sebuah Gagasan dari Singkil

Upaya “memulangkan” Hamzah Fansuri ke tanah asalnya menjadi tugas yang tak ringan. Tapi di tangan M. Yasir Bancin, putra daerah dari Subulussalam, upaya ini justru lahir dari cinta. Dari seniman yang tak ingin sekadar melukis wajah, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat seorang sufi besar dalam wujud yang lebih membumi, lebih dekat, dan lebih relevan dengan generasi sekarang.

Yang lebih menggugah di samping dari lukisan itu sendiri,  juga harapan yang lahir darinya. “Saya melihat putra-putri daerah masih kurang tertarik mengkaji Hamzah Fansuri,” ujar Yasir dengan nada prihatin. Ia mengamati bahwa banyak anak muda di Singkil yang masih memilih jurusan kuliah tanpa arah, tanpa minat yang jelas. Padahal, tanah mereka menyimpan warisan pemikiran dan sastra yang belum seluruhnya digali.

Kang Oman bersama tim ISRAC (Institute for Singkel Research on Adat and Culture). 

Yasir tidak meminta semua orang menjadi pelukis. Tapi ia ingin setiap orang kembali menemukan jalan masing-masing, menulis jika suka menulis, menyanyi jika suka musik, meneliti jika cinta riset, dan menjadikannya sebagai medium untuk mengenalkan tanah kelahiran mereka. “Kalau kamu ahli otomotif, bangun teknologi dari Aceh Singkil,” serunya lugas. Sebuah ajakan untuk berkarya tanpa kehilangan akar, untuk merawat silam agar masa depan punya fondasi kuat.

Dalam konteks ini, Pemerintah Kota Subulussalam patut diapresiasi. Melalui acara seminar dan pameran yang difasilitasi oleh komunitas Israc, upaya menyemai kembali nama besar Hamzah Fansuri mulai menemukan bentuknya. Walau sang Wali Kota berhalangan hadir, komitmen pemerintah untuk mendukung ekosistem intelektual dan budaya diakui Yasir. “Tinggal bagaimana kita jaga agar itu tak hanya seremonial,” ujarnya. Apalagi kini, ilustrasi resmi Hamzah Fansuri telah memperoleh sertifikat hak cipta dan mulai disosialisasikan sebagai rujukan visual yang sah.

Di ujung perbincangan, Yasir mengangkat satu pengalaman penting: karyanya sempat dinobatkan sebagai lukisan terbaik di Pekan Kebudayaan Aceh 2023. Visualnya tetap dalam nuansa khasnya, perahu kertas, simbol pengembaraan, dan pencarian makna. “Saya ingin memperkenalkan tanah kelahiran saya lewat lukisan,” katanya. Lalu ia mengajak seluruh pemuda untuk melakukan hal serupa, dengan medium masing-masing.

“Seorang penulis, tulislah tentang Singkil. Seorang penyanyi, ciptakan lagu tentang Singkil. Seorang pelukis, lukislah wajah sejarah kita.” Sebuah pesan yang sederhana, mengakar dari dalam hatinya.

Kang Oman menyudahi obrolan santainya. Ia sadar masih banyak tugas setelah tokoh-tokoh Indonesia dinobatkan sebagai superhero dunia. Minimal ia dan Ngariksa terus berjuang memulangkan tokoh kenamaan, agar tak jadi sosok yang dilupakan. (Ngariksa-Min)

 

Di Bawah Naungan Kaligrafi dan Filologi

Seni kaligrafi dan ilmu filologi bertemu. Ustaz Didin (Didin Sirojuddin AR) dan Kang Oman  menyoroti jenis khat dalam manuskrip kuno. Kedua maestro ini tengah menganalisis mengenai usia, asal-usul, dan pengaruh budaya dalam khazanah intelektual Islam di Nusantara. Kekayaan warisan tulis bangsa Indonesia amat kaya dan berharap mampu bersaing dalam pemanfaatan teknologi digital dan menginspirasi generasi mendatang.

NGARIKSA – Dr. K.H. Didin Sirojuddin AR, M.Ag., maestro kaligrafi Indonesia, menyambut kedatangan Kang Oman dan tim Ngariksa di kediamannya di Pesantren Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA), Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ia mengisahkan awal mula ketertarikannya pada dunia tulis indah ini, yang bersemi sejak sebelum bangku sekolah dasar. Pondok Modern Gontor menjadi titik penting, tempat ia menemukan pelajaran kaligrafi dan melukis yang selama ini dicari.

Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam pendirian Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) pada 1985, tepat sepuluh tahun setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Gontor. Menurut penuturannya, ide mendirikan lembaga ini muncul jauh sebelumnya, bahkan saat masih di Gontor, meskipun bentuk dan namanya belum terbayang jelas. Sepuluh tahun kemudian, cita-cita itu akhirnya terwujud, meski tanpa dukungan langsung dari rekan sejawat atau guru.

“Mahasiswa saya semester dua saat itu yang saya ‘paksa’ menjadi anggota pertama Lemka,” ungkapnya dengan senyum seperti terakam dalam Ngariksa episode 139

 

Perjuangan di Sukabumi

Semangat Ustaz Didin tak berhenti hanya pada pendirian lembaga. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada 9 Agustus 1998, ia kembali mewujudkan mimpinya dengan mendirikan pesantren kaligrafi di Sukabumi. Awalnya, pesantren ini sangat sederhana, dengan hanya empat orang santri dan fasilitas yang terbatas. Ia mengenang masa-masa awal yang penuh perjuangan, bahkan tanah untuk pesantren pun merupakan pemberian orang lain.

“Jadi ketika 1997 di Sukabumi, berkumpul dengan masyarakat di sebuah musala kecil, saya mengatakan ingin mendirikan pesantren kaligrafi di sana. Tidak tahu di sana itu di mana, karena tidak punya apa-apa. Tetangga juga tidak ada. Tapi rupanya karena tekad pesantren harus ada di Sukabumi, ya jadilah,” kenang pria kelahiran Kuningan, 15 Juli 1957 itu.

Perjalanan Lemka juga diwarnai tantangan, salah satunya adalah kegagalan kursus kaligrafi pertama. Ustaz Didin mengakui bahwa saat itu ia sendiri bukanlah seorang guru kaligrafi dan tidak memiliki metode pengajaran yang tepat. Kegagalan ini justru menjadi pelajaran berharga yang memacunya untuk mempelajari dan merumuskan teori mengajar kaligrafi yang efektif. Ia menjelaskan bahwa metode pengajaran yang ideal menggabungkan penjelasan, demonstrasi, keteladanan seorang guru, serta pemberian motivasi kepada murid.

“Jadi, mengajar kaligrafi itu harus diterangkan, didemonstrasikan kepada anak-anak, harus menjadi guru teladan. Tidak hanya berbicara saja, tetapi harus menjadi contoh,” tegasnya. Kini, Lemka telah berhasil menyelenggarakan 73 gelombang pendidikan kaligrafi, membuktikan ketekunan dan inovasi dalam mengembangkan seni ini di Indonesia.

Ekspresi Ustaz Didin dalam Ngariksa episode 139 dan 140 memancarkan kesungguhan, antusiasme, dan kehangatan saat berbagi ilmu kaligrafi.

Diskusi kemudian menyentuh perihal pemilihan nama “Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an” (Lemka). Ustaz Didin mengungkapkan bahwa ada beberapa alternatif nama yang sempat dipertimbangkan, termasuk yang berbasis lokasi. Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Lemka dengan embel-embel “Al-Qur’an” karena kitab suci inilah yang menjadi fondasi dan inspirasi utama dalam pembelajaran kaligrafi di lembaganya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa karya kaligrafi yang dihasilkan tidak selalu berupa ayat Al-Qur’an, namun semangat dan nilainya tetaplah berlandaskan pada Al-Qur’an.

“Meskipun yang digoreskan tidak semuanya ayat Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an itu menjadi daya dorong untuk memajukan lembaga, sehingga nilainya itu sama dengan nilai Al-Qur’an, kira-kira begitu,” jelasnya.

Ustaz Didin memberikan perspektif menarik mengenai perbedaan penyebutan “kaligrafi Arab” dan “kaligrafi Islam”. Menurutnya, bangsa Arab lebih sering menggunakan istilah “kaligrafi Arab” karena itu adalah tulisan mereka. Namun, di dunia Islam secara luas, istilah “kaligrafi Islam” lebih umum digunakan, mengingat Islamlah yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan seni tulis indah ini. Ia bahkan menepis anggapan bahwa kaligrafi Arab sudah maju sebelum kedatangan Islam. Justru, peradaban lain seperti Babilonia dan Mesir telah lebih dulu mengembangkan sistem tulisan yang lebih kompleks. Kedatangan Al-Qur’an dengan perintah membaca dan menulis (iqra’) menjadi titik balik yang luar biasa bagi perkembangan kaligrafi Arab. Ustaz Didin mengibaratkan perintah tersebut sebagai “bom” bagi masyarakat Arab yang saat itu lebih mengandalkan tradisi lisan. Dalam kurun waktu 70 tahun setelah Al-Qur’an diturunkan, kaligrafi Arab berkembang pesat menjadi lebih dari 400 jenis.

 

Kaligrafi dalam Manuskrip Islam Nusantara

Ustaz Didin menyampaikan bahwa mushaf tertua di Nusantara diperkirakan berasal dari abad ke-16 atau 17. Pada masa-masa awal, kaligrafi yang digunakan dalam mushaf Nusantara cenderung meniru gaya yang sudah ada di Timur Tengah. Namun, dari segi keindahan artistik, manuskrip-manuskrip awal Nusantara ini dinilai belum seindah karya dari Timur Tengah. Ia menduga hal ini disebabkan oleh belum mapannya tradisi belajar dan mengajar kaligrafi secara sistematis di Nusantara pada masa itu. 

“Jadi hukum-hukum dasar menulis waktu itu belum terencana rapih. Karena tulisan Arab yang dinyatakan sempurna dan bagus itu adalah yang mengikuti apa yang disebut mizanul huruf, ukuran-ukuran huruf dan titik-titik. Nah, itu teh di antaranya. Waktu itu belum berkembang di Indonesia,” terangnya.

Sebagai contoh, Ustaz Didin menganalisis manuskrip abad ke-17 dari Aceh yang ditulis dengan khat naskhi, gaya yang mendominasi penulisan mushaf pasca abad ke-8 Masehi karena kepraktisannya. Perbandingan dengan manuskrip dari Madinah pada periode yang sama menunjukkan perbedaan signifikan dalam kualitas khat. Ia menjelaskan bahwa tradisi penulisan naskah di Timur Tengah pada masa itu seringkali melibatkan juru tulis khusus yang ahli kaligrafi (al-warraq), sehingga menghasilkan karya yang lebih indah dan terstandarisasi. Sementara itu, di Nusantara, manuskrip seringkali ditulis oleh para ulama sendiri yang mungkin tidak memiliki keahlian kaligrafi formal, meskipun tetap berusaha menulis dengan sebaik mungkin.

Tangkapan layar dari laptop Kang Oman menunjukkan slide berisi Manuskrip Karya Syekh Yusuf al-Makassari.

Lebih lanjut, Kang Oman menunjukkan manuskrip digital dalam laptopnya. Ustaz Didin pun melakukan analisis terhadap manuskrip tersebut, Zubdatul Asrar karya Syekh Yusuf Al-Makassari. Ustaz Didin mengamati penggunaan khat naskhi dengan karakteristik goresan vertikal tipis dan horizontal tebal, yang menurutnya mengindikasikan adanya pengaruh gaya India dan Pakistan. Selain itu, pada bagian terjemah antar baris dalam aksara Pegon, terlihat gaya tulisan yang mendekati khat Farisi, kemungkinan karena kedekatan geografis dan budaya dengan Persia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya kaligrafi dalam manuskrip juga dapat menjadi penanda wilayah dan interaksi budaya. Ustaz Didin juga mengamini adanya dorongan spiritual yang kuat bagi para ulama Nusantara untuk menulis huruf Al-Qur’an dengan indah, merujuk pada hadis tentang keutamaan menulis basmalah dengan indah sebagai motivasi. Terakhir, mengenai kemungkinan adanya gaya khat khas Nusantara, meskipun belum memiliki data yang komprehensif, Ustaz Didin membuka peluang adanya perkembangan gaya lokal seiring dengan modifikasi aksara Arab menjadi aksara-aksara daerah seperti Jawi dan Pegon.

 

Jenis khat Indunisiawi?

Ia menjelaskan bahwa ide ini muncul karena sejarah perkembangan kaligrafi erat kaitannya dengan penemuan gaya-gaya baru. “Apa sebabnya? Karena sejarah perkembangan kaligrafi itu adalah sejarah penemuan gaya-gaya. Jadi ditemukannya gaya sampai 400 itu karena mengikuti karakter dan dan apa? Karakter dan sunah huruf. Ya, sunah huruf adalah kaligrafi Arabi itu sejarahnya dicirikan dengan pencarian gaya-gaya. Makanya tadi itu dalam waktu 70 tahun itu ditemukanlah lebih 400 gaya karena dorongan gitu. Sehingga kalau lahir gaya baru ya tidak ada salahnya.”

Ustaz Didin mencontohkan bagaimana dulu seorang kaligrafer bernama Yaqut al-Musta’simi menciptakan gaya Yaquti. Di Indonesia pun muncul nama Saiful Adnan yang memiliki gaya khas. “Kemudian di Aceh Sayid Akram itu menampilkan gaya dalam bentuk figur pohon, figur buah-buahan. Saya namakan khat akram itu tidak haram ya menamakan khat tidak haram itu tidak haram karena tidak ada dalilnya gitu ya. Boleh ya. Bahkan mungkin dapat pahala,” imbuhnya.

Hal ini memunculkan gagasan menarik dari Kang Oman agar para filolog berani menamai khat dalam manuskrip Nusantara dengan sebutan yang lebih lokal, seperti khat Indunisiawi atau Sundawi. Analogi ditarik pada sejarah awal perkembangan kaligrafi di kawasan Arab, di mana nama gaya seringkali merujuk pada nama daerah, seperti khat Makki di Makkah, khat Madani di Madinah, dan khat Kufi di Kufah.

Penamaan khat juga bisa berasal dari nama kaligrafer, daerah, atau bahkan amal perbuatan. Ustaz Didin mencontohkan khat Usribah yang digunakan atas perintah seorang khalifah saat menyuguhkan minuman kepada tamu. Ada pula khat Royhani yang indah dan harum, dengan dua versi asal-usul nama, bisa dari aroma daun royhan atau dari nama Abdullah bin Royhan. “Jadi penisbahan itu penting sekali gitu,” tegas Ustaz Didin, menggarisbawahi betapa kayanya diskusi antara kaligrafi dan filologi ini.

Obrolan berlanjut dengan menyoroti karya-karya santri Pesantren Lemka yang menggabungkan berbagai jenis khat seperti sulus, naskhi gaya Syauqi, dan farisi. Bahkan, muncul gaya kontemporer figural yang menggambarkan objek seperti pohon atau matahari, yang menurut Ustaz Didin sangat disukai oleh generasi milenial karena sifatnya yang rekreatif dan menghibur. “Bahwa melukis dan nulis Arab itu menyenangkan. Bahkan nanti hasilnya kalau dijual jadi uang misalnya gitu ya. Nah, jadi di situ nanti akan ada daya tarik,” ujarnya.

Ia menekankan tiga prinsip utama dalam kaligrafi: alkhattu ilmun (kaligrafi adalah ilmu), alkhattu fanun (kaligrafi adalah seni), dan alkhattu falsafatun (kaligrafi adalah filosofi). Prinsip-prinsip ini, terutama aspek seni sebagai “aksesoris” yang memperindah, diharapkan dapat menarik minat generasi muda. Ustaz Didin juga menjelaskan bahwa teknologi digital justru membantu para kaligrafer dalam berkarya, mempercepat proses, menggandakan hasil, dan lebih prospektif. “Jadi di sini kaligrafi itu qobilun litaghir, jadi sangat menerima sekali perubahan-perubahan,” katanya, menekankan bahwa perubahan gaya memang menjadi bagian dari perjalanan kaligrafi itu sendiri, sehingga Lemka dapat tetap eksis di era modern.

 

40 Tahun Lemka

“Insyaallah dalam rangka memperingati harlah ke-40, lemka akan mengadakan festival menulis mushaf Nusantara yang ditulis satu hari oleh 300 khatat Lemka. Padahal biasanya menulis mushaf itu setahun,” ungkap Ustaz Didin.

Gebyar Penulisan Mushaf di jagad media sosial.

Ketika Kang Oman kembali menunjukkan koleksi manuskrip digitalnya dalam laptop, Ustadz  Didin sempat mengomentari iluminasi dalam manuskrip Mushaf Bone abad ke-19 yang mencerminkan unsur-unsur hiasan wilayah setempat. Ia menjelaskan bahwa mushaf-mushaf di Indonesia kaya akan pola-pola arabesque yang terinspirasi dari flora lokal. Rencana pembuatan mushaf Lemka Nusantara dalam rangka Festival Istiqlal 2025 akan memasukkan seluruh pola iluminasi dari berbagai daerah di Indonesia.

“Oh, jadi ini dalam rangka Festival Istiqlal 2025 ini  dan ulang tahun 40 tahun Lemka akan dilakukan penulisan mushaf Lemka. Bisa menjadi sejarah dan cerita mengesankan. Satu hari siapa penulisnya nanti? Ada 300 peserta khat murid Ustaz Didin,” jelas Kang Oman.

Ustaz Didin membenarkan bahwa 300 kaligrafer akan menulis mushaf ini dalam satu hari dan hasilnya akan dipamerkan di Festival Istiqlal 2025. Mushaf ini akan memiliki ciri khas iluminasi dari lebih 30 wilayah di Indonesia. Setiap kaligrafer akan menulis dua halaman, dan nama mereka akan dicantumkan di bawahnya. Proyek ambisius ini diharapkan menjadi artefak kebudayaan Islam Indonesia yang luar biasa. Ustaz Didin juga menyinggung bahwa kemampuan menulis mushaf dalam waktu singkat bukanlah hal yang mustahil, merujuk pada kisah para kaligrafer zaman dahulu yang mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan mushaf. Ia mengaitkannya dengan konsep amal dalam agama yang pahalanya bisa berlipat ganda. (Ngaraiksa-Min)

 

Bukan Ramadan Biasa

Ramadan selalu menjadi bulan istimewa bagi umat muslim. Ia tak sekadar momen berpuasa dari fajar hingga senja, tapi juga waktu yang dipenuhi berbagai amalan, tradisi, dan refleksi spiritual. Ramadan 1446 atau 2025 kali ini berasa tidak biasa lantaran kehadiran program Muslimpedia, hasil kolaborasi antara Ngariksa, SCTV, dan Moji TV.

NGARIKSA – Di program Muslimpedia, Kang Oman tampil membawakan kajian manuskrip secara populer. Ia mengangkat tema Ramadan dalam manuskrip klasik Nusantara, menghadirkan kembali khazanah keislaman yang telah lama tersimpan dalam naskah-naskah tua berbahasa Sunda, Jawa, Arab, dan lainnya.

Dipandu oleh presenter kenamaan, Dana Paramita dan Risca Andalina, Kang Oman membacakan dan mengulas warisan literasi Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Ia membuka lembar-lembar masa silam, memperlihatkan bahwa ulama terdahulu tidak hanya mendalami agama, tapi juga merekamnya dalam bentuk tulisan yang kini menjadi jendela sejarah. Kajian ini bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga relevansi, bagaimana tradisi dan pemahaman masa lalu bisa menjadi cermin bagi praktik keislaman hari ini.

Lokasi syuting dipilih di dua tempat: kediaman Kang Oman di lantai dua yang biasa difungsikan sebagai studio Ngariksa, serta area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Untuk kostum, Kang Oman tampil dengan khas muslim dengan busana koko dan peci, mencerminkan nuansa religius yang hangat dan akrab. Berbeda saat tampil dalam dua Jumat sekalu dengan nuansa budaya Sunda yakni menggunakan totopong (ikat kepala). Namun tetap, Kang Oman memilih baju batik dan sarung untuk atasan dan bawahannya.

Dalam episode perdana, Kang Oman membahas “Isbat Tanpa Sidang?”, sebuah tema yang menyoal bagaimana ulama Nusantara masa lampau menentukan awal Ramadan jauh sebelum ada sidang isbat resmi dari pemerintah. Ia menunjukkan metode yang mereka gunakan dan bukti tertulisnya dalam manuskrip-manuskrip tua. Penonton diajak melihat bagaimana kecerdasan lokal menjadi bagian dari dinamika keislaman di masa lalu.

Kang Oman saat syuting di area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta.

Kemudian ada episode yang cukup memancing rasa ingin tahu,  “Imsak Cuma Ada di Indonesia?”. Ternyata, istilah imsak sebagai waktu sebelum subuh memang khas Indonesia. Meski secara bahasa imsak berarti “menahan”, penggunaan istilah ini sebagai waktu batas persiapan puasa memiliki akar tradisi tersendiri. Ajengan Ahmad Sanusi dari Pesantren Cantayan, Sukabumi, pernah menjelaskan secara rinci tentang imsak dalam karya tulisnya dari awal abad ke-20. Penjelasan beliau menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki dasar, bukan sekadar kebiasaan tanpa pijakan.

Pembahasan lainnya yang tak kalah menarik berjudul “Bila Tiada Kurma, Buka Puasa Pakai Apa?”. Dalam salah satu manuskrip, Ajengan Ahmad Sanusi mencatat alternatif berbuka puasa jika kurma tidak tersedia. Nabi Muhammad SAW memang menganjurkan kurma, tapi tradisi lokal memberi kelonggaran dengan menyebutkan pilihan lain seperti pisang, madu, dan susu. Lagi-lagi, pendekatan ini menunjukkan betapa ulama Nusantara mampu memadukan tuntunan agama dengan realitas kehidupan masyarakatnya.

Lalu, siapa sangka bahwa praktik salat tarawih dengan gerakan super cepat yang sering ditemui di beberapa masjid di Indonesia juga telah dibahas sejak dulu? Dalam manuskrip litograf Hilyah As-Siyam fi Bayani Ahkam Ramadan, Kang Oman menunjukkan bahwa diskusi soal kecepatan dan kualitas salat tarawih sudah lama ada. Episode “Salat Tarawih, Pilih Cepat atau Nikmat?” mengajak penonton untuk merefleksikan kembali esensi ibadah itu sendiri: bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam episode “Sudah Tepatkah Arah Kiblat Kita?”, Kang Oman mengangkat topik yang tampak teknis namun penting: arah kiblat. Menariknya, ulama Nusantara sejak abad ke-18 seperti Syekh Arsyad Al-Banjari sudah mempersoalkan ketepatan arah kiblat masjid-masjid di Indonesia. Ia bahkan menulis karya khusus untuk meluruskan kiblat masjid di Betawi. Perhatian serupa juga muncul dalam karya Sayid Utsman bin Yahya, K.H. Bisri Mustofa, dan banyak ulama lainnya, menunjukkan bahwa orientasi ibadah dalam Islam memang harus sejalan secara lahir dan batin.

Tradisi khas Ramadan di Indonesia juga dibahas secara rinci, seperti dalam episode “Tradisi Menabuh Beduk, Apa Hukum dan Bagaimana Adabnya?”. Beduk, yang tidak ditemukan di Arab, ternyata menjadi bagian penting dalam kehidupan Islam di Nusantara. Kang Oman mengulas peran beduk berdasarkan tulisan Sayid Utsman dari Betawi dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, termasuk soal hukum dan adab penggunaannya.

Tayangan Program Muslimpedia di SCTV Liputan 6.  

Kemudian ada “Buka Puasa Bersama: Untuk Apa?”, yang mencoba mengulas tradisi bukber. Ternyata, buka puasa bersama bukan tradisi baru, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan muslim Indonesia sejak lama. Dalam manuskrip karya K.H. Sholeh Tsani dari Gresik, disebutkan bahwa berbuka bersama adalah jalan untuk mempererat persaudaraan, menyantuni yang membutuhkan, dan memperkuat semangat berbagi. Tradisi ini hidup bukan hanya karena kebersamaan, tapi karena nilai-nilai spiritual yang melekat padanya.

Di penghujung Ramadan, program ini menutup dengan sebuah tema yang sangat khas Indonesia: “Asal Muasal Halalbihalal”. Kang Oman membongkar sejarah halalbihalal dari manuskrip beraksara Jawa tahun 1794 hingga iklan ucapan Halalbihalal di majalah Suara Muhammadiyah tahun 1926. Tradisi ini kemudian diperkuat oleh inisiatif K.H. Wahab Chasbullah dan Bung Karno pada 1948 sebagai bentuk silaturahmi pasca-Ramadan dan upaya menyatukan bangsa. Dari sana kita tahu, halalbihalal bukan sekadar temu kangen, melainkan strategi sosial-religius yang lahir dari kebijaksanaan ulama.

Melalui Muslimpedia, Ramadan 1446 H terasa lebih kaya dan bermakna. Kang Oman tidak sekadar menyampaikan isi naskah-naskah kuno, tetapi juga menghidupkan kembali semangat dan pemikiran para ulama Nusantara bernuansa tradisi di bulan puasa. Program ini membuktikan bahwa manuskrip klasik tak hanya layak dibaca, tapi juga relevan untuk dijadikan panduan hidup di masa kini.

Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang mengenal diri, sejarah, dan warisan yang telah membentuk cara kita menjalani kehidupan beragama. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan-Ramadan tahun depan dengan segala kejutannya. Amin. Saksikan terus tayangan-tayangan dari Ngariksa. Selamat Lebaran 1 Syawal 1446 H, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. (Ngariksa-Min)

Saat Media Turbulensi, Bagaimana Nasib Manuskrip?

Bagaimana cara manuskrip kembali membumi di tengah turbulensi industri media? Mampukah ia bertahan di era digital yang serba instan? Pertanyaan ini menjadi inti diskusi Kang Oman, Pengampu Ngariksa, dengan Kang Awan atau Mauluddin Anwar, jurnalis senior yang telah malang melintang di Majalah Gatra, Metro TV, dan Liputan 6 SCTV. Dengan latar belakang jurnalistiknya, Kang Awan menyoroti pentingnya konten edukatif berbasis manuskrip dalam lanskap media modern. 

NGARIKSA – Suasana di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi, begitu tenang dan asri. Di tengah suasana sore yang sejuk, Kang Oman dan Kang Awan duduk berbincang di kantin pesantren. Deru ombak aliran sungai menyertai obrolan keduanya. Suasana seperti ini tidak bisa dijumpai di Ibo Kota yang megah. 

Bagi Kang Awan, Ngariksa memiliki nilai berita (news value) yang tinggi karena banyak membahas hal-hal yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga masih relevan dengan kehidupan modern.

“Saya sering nonton Ngariksa dan selalu menemukan hal-hal baru. Saya pikir, kok ada ya yang membahas ini? Padahal, saya kira tidak ada ulama zaman dulu yang membahas persoalan seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana persoalan yang kita hadapi sekarang ternyata sudah pernah terjadi di masa lalu dan dibahas dalam manuskrip oleh para ulama. “Sekarang kan konten di media sosial ada yang terlalu ringan, sekadar hiburan. Itu sah-sah saja. Tapi kalau hanya itu, sayang. Kita butuh konten yang edukatif dan inspiratif, seperti Ngariksa ini.”

Kang Awan atau Mauluddin Anwar saat diwawancara di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi.

 

Konten bagi Generasi Milenial dan Gen Z 

Di antara obrolan tercuat sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar anak muda tertarik dengan manuskrip? Kang Awan punya pandangan menarik. “Anak muda sekarang inginnya serba cepat dan praktis. Kalau bisa mudah, kenapa harus ribet? Jadi, kalau kita ingin manuskrip ini tetap relevan, kita harus bisa membawakannya dalam format yang lebih dekat dengan mereka,” jelasnya.

Kang Oman setuju. “Makanya, di Ngariksa, kami sering mencoba menghubungkan manuskrip dengan isu-isu kekinian. Misalnya, ketika terjadi likuefaksi di Palu, kami mencari manuskrip yang membahas tafsir gempa. Atau ketika memasuki Ramadan, kami bisa melihat bagaimana ulama zaman dulu membahas hukum puasa dalam manuskrip mereka,” jelasnya.

Kang Awan menambahkan bahwa pendekatan seperti ini sangat efektif. “Dulu, saat saya mengelola program Ramadan di Liputan 6, pertanyaan yang paling sering diajukan oleh anak muda itu seputar hal-hal praktis, misalnya, apakah pacaran saat puasa membatalkan pahala? Atau bagaimana hukum suami istri berhubungan setelah berbuka? Bayangkan kalau kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan referensi dari manuskrip kuno! Pasti lebih menarik,” ujarnya bersemangat.

Namun, ia juga mengakui bahwa hingga saat ini, upaya membumikan manuskrip masih kurang maksimal. “Kalau boleh jujur, manuskrip ini masih berada di menara gading. Ilmunya luar biasa kaya, tapi aksesnya masih terbatas. Para pegiat manuskrip harus lebih aktif dalam mengelola pengetahuan ini agar bisa dikonsumsi lebih luas,” katanya.

Kang Oman tak tersinggung, justru ia menganggap ini sebagai tantangan. “Memang benar, perlu ada upaya lebih besar untuk mengarusutamakan manuskrip. Perpustakaan Nasional sekarang punya program mengarusutamakan manuskrip Nusantara, tapi ini harus didukung banyak pihak, termasuk media,” ujarnya.

Mereka pun membahas bagaimana pemerintah juga harus ikut berperan. “Kalau kita bicara tentang identitas Indonesia, banyak jawabannya ada di manuskrip. Jadi, pemerintah harusnya melihat ini sebagai investasi budaya, bukan sekadar proyek pelestarian,” ujar Kang Oman.

 

Upaya Membumikan Manuskrip

Kang Oman menambahkan bahwa membumikan manuskrip bukan sekadar merawat sejarah, tetapi juga membuka wawasan. Dengan memahami pemikiran para ulama terdahulu, kita bisa melihat persoalan masa kini dengan perspektif yang lebih lebar dan mendetail.

Dalam diskusi, Kang Awan juga membahas bagaimana media mengalami evolusi besar dari cetak ke digital, dari TV ke platform online. Perubahan ini, menurutnya, tak bisa dihindari, tetapi harus disikapi dengan bijak. “Dunia media seperti mengalami turbulensi. Dulu cetak ke TV, lalu TV ke digital. Sekarang media sosial mengambil alih banyak aspek. Ini realitas yang tak bisa kita hindari.”

Hal yang sama juga terjadi dalam dunia manuskrip dan literasi Islam. Jika dulu manuskrip hanya bisa diakses oleh akademisi tertentu, kini dengan adanya digitalisasi dan media sosial, ilmu dalam manuskrip bisa lebih luas dikenal.

Kang Awan menggarisbawahi bahwa konten seperti Ngariksa seharusnya difasilitasi oleh pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Komunikasi & Digital.

“Pak Presiden dan para Menteri, channel ini perlu diperhatikan! Jangan hanya makan siang gratis yang diutamakan. Konten edukatif berbasis manuskrip juga penting!” selorohnya.

 

Menyelamatkan Peradaban

Salah satu momen berharga dalam diskusi ini adalah ketika Kang Oman mengingat kembali pengalamannya menyelamatkan manuskrip pasca-tsunami Aceh pada 2005. Saat itu, banyak orang mempertanyakan keputusannya untuk mencari dan menyelamatkan manuskrip di tengah bencana besar.

“Oman ini orang turun ke Aceh, bukannya menyelamatkan nyawa malah mencari-cari manuskrip,” katanya menirukan komentar orang-orang saat itu.

Namun, di tengah cibiran tersebut, Kang Awan justru mengapresiasi langkah Kang Oman dan mengundangnya ke Metro TV untuk berbagi cerita tentang pentingnya penyelamatan manuskrip.

“Menyelamatkan nyawa manusia jelas penting, tapi menyelamatkan masa lalu juga tak kalah penting demi masa depan. Kalau kita kehilangan manuskrip yang berusia ratusan tahun, itu bencana bagi peradaban.”

 

Teknologi AI dan Masa Depan Manuskrip

Obrolan antara Kang Oman dan Kang Awan membuktikan bahwa manuskrip dan media adalah dua dunia yang saling melengkapi. Media memiliki kekuatan untuk menyebarluaskan warisan intelektual Islam, sementara manuskrip memberikan kedalaman dan perspektif sejarah terhadap berbagai isu kontemporer.

Membaca manuskrip bukan sekadar menggali masa lalu, tetapi juga menemukan jawaban untuk masa kini dan masa depan. Seperti kata Kang Oman, “Jangan sampai warisan intelektual kita hanya berdebu di rak-rak perpustakaan. Manuskrip harus hidup, dibaca, dipahami, dan dijadikan inspirasi.”

Kang Oman menambahi bahwa  soal teknologi, sekarang sudah ada OCR (optical character recognition), yang bisa membaca teks dari gambar, termasuk aksara Jawa dan Arab.  Kang Awan pun menimpali bahwa AI juga sudah banyak digunakan di media. Misalnya, di TV One sudah ada 13 presenter berbasis AI dengan berbagai karakter, mulai dari wajah Sunda, Jawa, hingga Arab. AI juga dipakai untuk menganalisis berita, termasuk deteksi hoaks.

Tantangan yang muncul ialah dunia pernaskahan harus beradaptasi dengan teknologi ini. Kita tidak bisa menolak perubahan, karena satu-satunya yang kekal di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Jadi, bagaimana jika kita memanfaatkan AI untuk membaca dan menerjemahkan manuskrip lama? Atau mungkin membuat digital storytelling dari isi manuskrip agar lebih menarik bagi generasi muda?

Sebelum penghujung obrolan, Kang Awan menyampaikan pesan untuk teman-teman di dunia pernaskahan: never give up. “Meskipun belum banyak media yang melihat ini sebagai isu penting, saya yakin suatu saat ini akan masuk dalam arus utama. Bahkan, bisa menjadi Proyek Strategis Nasional jika pemerintah serius menanganinya,” tekannya.

Agar lebih menarik bagi generasi muda, kita perlu membumikan isu ini. Jangan hanya membahasnya di menara gading akademik, tapi juga dalam format yang lebih kekinian: podcast, video pendek, media sosial, dan lain-lain.

Bagi Sobat Ngariksa yang penasaran dengan obrolan lengkapnya, yuk simak di episode Ngariksa 138 dan rasakan sendiri bagaimana media dan manuskrip bisa bersinergi. (Ngariksa-Min)

Menyelami Naskah Jawa Kuno

Pelestarian dan kajian manuskrip Jawa Kuno di Indonesia menghadapi tantangan besar, terutama minimnya jumlah ahli dibandingkan dengan melimpahnya warisan naskah yang tersebar di berbagai wilayah.  Abimardha Kurniawan melalui komunitas mudanya Kawi Society terus berusaha menghidupkan kajian ini, menyadari pentingnya bahasa Jawa Kuno sebagai bagian dari identitas bangsa dan sumber utama sejarah serta kebudayaan Nusantara.

NGARIKSA – Kang Oman berkesempatan mengunjungi  Universitas Airlangga, Surabaya. Ia berbincang dengan Abimardha Kurniawan, seorang dosen filologi yang memiliki spesialisasi dalam kajian naskah Jawa Kuno. Abi, sapaan akrabnya, dikenal sebagai pemuda yang amat giat melakukan penelitian dan kajian manuskrip Jawa Kuno khususnya Naskah Merbabu. Obrolan ini pun menjadi sebuah episode Ngariksa #136.

“Saya berada di dua domain, pra-Islam dan pasca-Islam,” ujar Abi. Ia berusaha mencari kesinambungan antara tradisi lama dan pengaruh Islam dalam naskah-naskah kuno.

Perjalanan akademiknya dimulai dari S1 di Universitas Airlangga, fokus pada sastra Jawa Islam. Saat itu, ia mengkaji manakib Syekh Abdul Qadir Jailani dan bahkan mengikuti ritual manakib di sebuah pondok pesantren di Surabaya. “Saya tertarik karena teks manakib ini sangat terkenal di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat dan Banten,” ujarnya. Kajian ini mengantarnya pada eksplorasi lebih lanjut tentang filologi Jawa Kuno saat menempuh S2 di Universitas Gadjah Mada.

Ketertarikannya pada naskah Merapi Merbabu muncul setelah membaca disertasi Romo Kuntoro, seorang ahli filologi Jawa Kuno. “Saat itu, saya menemukan naskah dengan aksara yang sangat unik dan belum pernah saya lihat sebelumnya,” kenangnya. Sayangnya, akses terhadap naskah ini tidak mudah. Digitalisasi belum umum saat itu, sehingga ia harus bolak-balik antara Yogyakarta dan Jakarta untuk mendapatkan salinan manuskrip dari Perpustakaan Nasional. Ia pun belajar membaca aksara Jawa Kuno secara otodidak dengan merujuk pada tabel alih aksara Romo Kuntoro serta buku Pramana Prawa karya Agung Kriswanto.

Belajar aksara bukan hal baru bagi Abi. Sejak SD, ia sudah tertarik dengan aksara Jawa dan mendapat dukungan dari orang tuanya. “Aksara itu modal penting dalam filologi,” tegasnya. Kini, ia menguasai berbagai sistem tulisan, termasuk rumpun Brahmik seperti aksara Jawa, Kawi, dan Sansekerta, serta rumpun Arabik seperti Pegon dan Jawi. Hal ini membantunya dalam penelitian manuskrip kuno.

Manuskrip Merapi-Merbabu dan Kosmologi Jawa
Salah satu aspek menarik dari kajian Abi adalah hubungan filosofis antara gunung dan laut dalam kosmologi Jawa. “Di naskah-naskah kuno, gunung dan laut selalu dikaitkan sebagai simbol keseimbangan alam, seperti Merapi dengan Pantai Selatan,” jelasnya. Konsep ini juga tercermin dalam interaksi antara para pertapa di pegunungan dan masyarakat pesisir yang telah memeluk Islam, sebagaimana dicatat oleh Tomé Pires pada abad ke-16.

Abi menegaskan bahwa pelestarian naskah kuno sangat penting. Banyak naskah Jawa Kuno tersebar di berbagai daerah seperti Bali, Ciburuy, dan Madura, namun jumlah ahli yang mampu membacanya masih terbatas. “Kita harus menjaga akses terhadap naskah-naskah ini agar tidak kehilangan jejak sejarah dan jati diri kita sebagai bangsa,” tutupnya. Perbincangan ini menjadi pengingat bahwa memahami masa lalu adalah kunci untuk memahami masa kini dan masa depan.

Perbincangan seru ini lalu membawa mereka kembali ke Simposium Manassa tahun 2016 di Jakarta. Saat itu, Abi membawakan presentasi yang cukup menarik. “Saya membahas bagaimana teks-teks yang menggambarkan dunia maritim, meskipun jumlahnya sedikit, ditemukan di pegunungan dan digunakan oleh masyarakat di kawasan Merapi-Merbabu,” kenang Abi. Ia menyoroti bagaimana pengetahuan masyarakat pegunungan tentang dunia maritim tampaknya bertolak belakang dengan kondisi geografis mereka yang jauh dari laut.

“Jadi ada hubungan intens antara pegunungan dan pesisir?” tanya Kang Oman.

“Betul sekali. Jika kita lihat dari sumber-sumber abad ke-16, seperti Suma Oriental karya Tomé Pires, ada interaksi erat antara para pertapa di pegunungan dan masyarakat pesisir yang sudah lebih dulu memeluk Islam. Mereka saling memengaruhi, baik dalam budaya, kepercayaan, maupun intelektualitas,” jelas Abimardha.

Interaksi ini, lanjutnya, tampak jelas dalam bahan manuskrip yang digunakan. Lontar, sebagai media tulis utama, lebih banyak ditemukan di daerah pesisir. Namun, naskah-naskah lontar justru banyak ditemukan di pegunungan. “Itu menunjukkan bahwa bahan manuskrip berasal dari pesisir, kemudian dibawa ke pegunungan. Hal ini juga memperkuat tesis bahwa pemikiran maritim turut membentuk intelektualitas masyarakat pegunungan,” tambahnya.

“Dalam kosmologi Jawa, pegunungan sering diasosiasikan dengan unsur maskulin, sementara laut melambangkan unsur feminin. Ini mirip dengan konsep yin-yang dalam filsafat Tiongkok. Keseimbangan antara dua elemen ini menjadi prinsip utama dalam keseimbangan alam dan pemikiran masyarakat Jawa.”

Obrolan seru antara  Kang Oman (kanan) dengan Abimardha (kiri) di Universitas Airlangga, Surabaya.

Abi melihat bahwa Islam tidak serta-merta menggantikan kepercayaan lama, tetapi justru berasimilasi dengan tradisi yang sudah ada. Dalam manuskrip Jawa era Mataram, misalnya, ada identitas yang khas: tradisi pra-Islam tetap dipertahankan, sementara pengaruh Islam diterima tanpa menghilangkan unsur kejawaan. Ini yang ia sebut sebagai Islamisasi Jawa dan jawanisasi Islam.

Ia mencontohkan bagaimana pujangga-pujangga Jawa seperti Yasadipura dan keturunannya mampu menguasai dua tradisi sastra sekaligus: sastra pra-Islam dan sastra Islam. “Mereka tidak sekadar menerima pengaruh Islam, tetapi juga membentuknya sesuai dengan identitas kultural Jawa,” tambahnya.

Dalam manuskrip Merapi-Merbabu juga tampak. Naskah-naskah dari abad ke-16, seperti yang ditemukan di British Library, menunjukkan bagaimana teks-teks pra-Islam dan Islam digunakan secara bersamaan. Misalnya, teks Purwobumi Kamulan yang menceritakan penciptaan alam semesta dalam perspektif pra-Islam, berdampingan dengan teks Tapel Adam yang mengisahkan penciptaan dunia dalam sudut pandang Islam.

Meskipun berbeda simbol, keduanya memiliki fungsi serupa. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa pada masa itu memiliki fleksibilitas pemikiran yang tinggi. Mereka tidak sekadar menerima sesuatu secara mutlak, tetapi melakukan negosiasi budaya yang sangat halus dan kompleks.

Terkait filologi di Unair, Abi bercerita masih berada dalam tahap mengenalkan dunia naskah kepada mahasiswa. Banyak yang awalnya ragu, tetapi setelah membaca dan memahami, mereka mulai tertarik. Misalnya, ketika Abi menjelaskan kisah Garuda dan Dewa Wisnu yang menjadi ikon di depan kampus Airlangga, mereka langsung antusias. Ia ceritakan bagaimana kisah itu berasal dari Adi Parwa, bagian awal Mahabharata, dan bagaimana kisah Garuda membawa Tirta Amerta memiliki makna mendalam dalam kebudayaan Jawa.

Kang Oman tertawa kecil. “Mungkin mahasiswa juga penasaran dengan nama Mas Abi sendiri. Ada hubungannya dengan dunia pewayangan?”

Abimardha mengangguk. “Sering sekali saya ditanya soal itu! Banyak yang mengira ‘Abi’ berasal dari bahasa Arab, padahal tidak. Nama ini diberikan oleh pakde saya, seorang dalang, yang ingin ada unsur ‘Abi’ dalam nama anak laki-laki di keluarga kami. Setelah saya telusuri, ‘Abi’ dalam bahasa Sanskerta adalah awalan yang berarti kebaikan atau keluhuran. Jadi, ternyata ada landasan tekstualnya juga dalam dunia Jawa kuno.”

Komunitas Kawi Society
Abi aktif dalam komunitas Kawi Society. Ia mencermati bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah muncul generasi muda yang berminat mendalami aksara dan bahasa Jawa Kuno. “Sekitar sepuluh tahun lalu, banyak yang ikut kursus intensif Jawa Kuno. Alhamdulillah, sekarang masih ada yang tetap intens belajar,” ujarnya. Meski jumlahnya masih terbatas, keberlanjutan kajian ini menjadi harapan bagi kelestarian filologi Jawa Kuno.

Dari sisi keilmuan, jumlah ahli Jawa Kuno yang masih aktif di Indonesia memang bisa dihitung dengan jari. Beberapa nama seperti Romo Kun, yang kini telah wafat, serta Bu Kartika dan Bu Dwi Puspitorini dari Universitas Indonesia, menjadi bagian dari sedikit akademisi yang mendalami bidang ini. Di luar negeri, nama seperti Willem van der Molen dari Belanda masih terus berkontribusi dalam kajian-kajian Jawa Kuno. Keterbatasan SDM ini semakin terasa ketika dibandingkan dengan jumlah manuskrip yang masih perlu dikaji dan diinterpretasikan.

Para filolog dan pencinta budaya yang bergerak di komunitas Kawi Society (Sumber: kawisociety.org)

Mengapa studi Jawa Kuno begitu penting? Dalam konteks kebangsaan, pemahaman terhadap teks-teks ini memberikan landasan sejarah bagi konsep keindonesiaan yang berkembang sejak awal abad ke-20. “Bung Karno dan Muhammad Yamin menjadikan teks-teks seperti Negarakertagama sebagai landasan identitas nasional. Teks-teks ini bukan hanya milik satu wilayah, tetapi menjadi bagian dari kesadaran intelektual yang membentuk Nusantara,” tutur Abi. Ia menambahkan bahwa bahasa Jawa Kuno memiliki peran yang serupa dengan bahasa Latin di Eropa, menjadi lingua akademika di kawasan sekitar Laut Jawa, dari Jawa Barat hingga Lombok.

Jika generasi muda kehilangan minat terhadap bahasa dan teks Jawa Kuno, bangsa ini akan kehilangan akses terhadap sebagian besar sejarah dan identitasnya. Hilangnya pengetahuan tentang manuskrip juga berarti hilangnya pemahaman atas keyakinan, nilai, dan sistem sosial yang dianut oleh masyarakat terdahulu. Teks-teks ini mencerminkan keberagaman budaya dan agama sebelum Islam masuk ke Nusantara, termasuk sistem kepercayaan yang berkembang di berbagai komunitas.

Upaya pelestarian manuskrip di Jawa Timur dan Nusantara secara umum terus dilakukan, salah satunya melalui program DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts) yang diinisiasi oleh PPIM UIN Jakarta bekerja sama dengan Hamburg University dan Arcadia Fund. Program ini berupaya mendigitalkan manuskrip agar dapat diakses oleh lebih banyak peneliti dan masyarakat umum, tanpa mengabaikan aspek fisik dari manuskrip itu sendiri.

Sebagai penutup, Abi dan Kang Oman sepakat menegaskan pentingnya merawat warisan intelektual Nusantara ini. “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Mari kita menatap masa depan dengan merawat masa silam,” slogan Ngariksa pun kembali digaungkan. (Ngariksa-Min)

 

Perjalanan Pak Lulut Mengoleksi Manuskrip Kuno

“Barang siapa yang membuka jalan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari kebaikan tersebut,” ujar Pak Lulut Edi Santoso, seorang kolektor manuskrip kuno yang telah mengabdikan dirinya untuk merawat warisan budaya tertulis Nusantara. Bukan sekadar hobi, tetapi sebuah panggilan jiwa yang membawanya menjelajahi berbagai tempat demi menyelamatkan naskah-naskah yang hampir terlupakan.

NGARIKSA – Pak Lulut, seorang guru seni di SMA Negeri 3 Malang, memulai perjalanannya dalam mengoleksi manuskrip dan buku kuno bukan dari latar belakang akademik yang langsung terkait dengan filologi, tetapi dari ketertarikan mendalam terhadap teks-teks kuno. “Saya senang dengan hal-hal terkait teks tulis, walaupun saya tidak bisa membaca aksara Arab dan Jawa secara lancar,” ungkapnya dalam Ngariksa Episode 135.

Dari satu naskah yang ia temukan dalam keluarganya, ia mulai menjelajah ke berbagai daerah, dari Jakarta hingga Lombok, bahkan mendapat koleksi dari seorang relasi di Papua. Ia menuturkan bahwa naskah berbahasa Jawa bisa sampai ke Papua dan berpindah tangan hingga kembali ke Jawa melalui dirinya. Sebuah perjalanan panjang yang memperlihatkan bagaimana manuskrip kuno beredar lintas wilayah.

“Saya prihatin karena banyak manuskrip yang tidak terurus dan bahkan dibuang begitu saja,” kata Pak Lulut. Keprihatinan ini menjadi salah satu motivasi utama baginya untuk menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Ia juga terinspirasi oleh pengalamannya di Malaysia, ia harus membayar mahal hanya untuk mendapatkan foto satu lembar manuskrip, sedangkan di Indonesia banyak yang terabaikan.

Di antara buku kuno, manuskrip, dan artefak koleksi Pak Lulut di rumahnya di Perumahan IKIP Asri Tegalgondo, Malang. (Foto: Ngariksa-Min)

Perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Salah satu yang paling mendasar adalah keterbatasan dana. “Orang lain bisa membeli sepatu bagus, saya memilih untuk membeli manuskrip,” katanya sambil tersenyum. Terkadang, ia bahkan harus mengeluarkan uang pribadi tanpa sepengetahuan istrinya demi mendapatkan manuskrip yang langka. Dari segi dukungan, pemerintah hingga kini masih belum memberikan perhatian maksimal. “Bahkan sekadar disambangi pun belum,” ungkapnya.

Banyak naskah yang ia temukan mengandung nilai sejarah tinggi, termasuk yang berkaitan dengan sejarah lokal Jawa Timur. Dalam salah satu naskah yang ia temukan, yang kemudian dibacakan oleh Kang Oman, tertulis nama “Mas Agus Muhammad Said” yang berdomisili di “Simo Wagean, Surabaya.” Detail seperti ini menunjukkan bahwa manuskrip tidak hanya berisi teks-teks keagamaan atau sastra klasik, tetapi juga catatan sejarah yang memiliki nilai akademik tinggi.

Tidak hanya manuskrip, koleksinya juga mencakup artefak lain seperti lontar dan penanggalan berbahan perunggu. “Ini bagian dari tradisi tulis Nusantara yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya. Ia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya manuskrip kuno sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan.

Digitalisasi dan Masa Depan Manuskrip
Sebagai upaya untuk menjaga warisan ini, Pak Lulut bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendigitalisasi koleksinya. Salah satunya adalah program DREAMSEA dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, yang mendigitalkan belasan naskah dari koleksinya.

“Saya ingin membuka akses bagi siapa pun yang ingin membaca dan meneliti manuskrip ini,” jelasnya. Ia juga menyimpan hasil digitalisasi di beberapa hard disk drive sebagai bentuk cadangan, bahkan berencana mencetak ulang agar lebih banyak orang dapat mengaksesnya.

Pak Lulut terus berupaya mengedukasi masyarakat melalui pameran dan berbagai kegiatan. Sejak 2018, ia secara mandiri mengadakan pameran untuk memperkenalkan manuskrip kuno kepada masyarakat luas. “Saya pernah menemukan dosen yang bahkan tidak tahu tentang manuskrip ini, apalagi mahasiswa. Maka saya ingin mereka melihat langsung, bukan hanya dari gambar.”

Dengan koleksi yang kini mencapai 150 naskah dalam berbagai bahasa dan aksara, perjalanan Pak Lulut masih jauh dari selesai. Baginya, ini bukan sekadar koleksi pribadi, tetapi sebuah warisan yang harus dibagikan. “Saya berharap suatu hari nanti masyarakat tidak hanya mengenal, tetapi juga memahami dan menghargai manuskrip sebagai bagian dari peradaban kita.”

Apa yang dilakukan Pak Lulut adalah pengabdian, bukan sekadar koleksi. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga sejarah, agar generasi mendatang masih bisa mengenal dan memahami jejak pemikiran leluhur mereka. Sebuah usaha yang layak mendapatkan lebih banyak dukungan dan apresiasi. (Ngariksa-Min)

Pak Lulut saat rumahnya dikunjungi Kang Oman dan seketika itu pula membuat episode obrolan atau podcast Ngariksa dengan tajuk “Dari Malang Merawat yang Terbuang”. (Foto: Ngariksa-Min)

Mengasah Keterampilan Produksi Konten Visual

Aktif di media sosial bukan sekadar menghasilkan konten menarik dan menggaet banyak pengikut, tetapi juga memahami teknik produksi visual, strategi membangun audiens yang loyal, serta pentingnya kreativitas dalam menyampaikan gagasan. Ngariksa menekankan perlunya mengintegrasikan kekayaan warisan budaya, seperti manuskrip kuno, ke dalam media modern agar dapat menjangkau publik lebih luas secara efektif dan berkelanjutan.

NGARIKSA – Pada Rabu, 22 Januari 2025, lantai tiga Ruang Seminar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta diramaikan dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya. PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, dan Ngariksa menggagas Workshop Produksi Konten Visual dengan menggandeng tim ahli dari SCTV untuk membekali para peserta dengan kemampuan produksi konten visual berkualitas.

Tiga narasumber hadir untuk berbagi ilmu dan pengalamannya; Mauludin Anwar (Jurnalis Senior SCTV), Iwan Setiawan (Video Editor SCTV), dan Raditiyo Wicaksono (News Producer SCTV). Sebanyak 23 peserta hadir mengikuti workshop ini ingin meningkatkan kapasitas dan mengasah keterampilan dalam memproduksi dokumentasi video semi-profesional. 

Seperti dirasakan bahwa media sosial berkembang dengan sangat pesat, bahkan mengungguli media konvensional dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Perubahan ini menuntut para akademisi, peneliti, dan pelaku budaya untuk beradaptasi dalam menyampaikan hasil riset, kajian, serta digitalisasi naskah agar dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas.

“Namun, di sisi lain, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan agar konten hasil riset, kajian, dan digitalisasi naskah dapat dinikmati oleh khalayak umum,” ujar Hadi Rahman, sebagai MC, saat membuka diskusi. Ia menegaskan bahwa tanpa strategi yang tepat, kekayaan intelektual dan warisan budaya yang berharga berisiko tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital.

Workshop ini dibuka oleh Didin Syafruddin, Direktur Eksekutif PPIM, yang memaparkan pentingnya produksi konten visual untuk menjembatani berbagai hasil penelitian PPIM agar lebih relevan dan mudah diakses masyarakat luas. “Kami memiliki kekayaan data yang sangat bernilai, seperti buku Green Islam dan hasil riset tentang intoleransi, tetapi kami butuh cara efektif untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang dekat dengan publik,” ujar beliau.

Di sisi lain, Kang Oman, Pengampu Ngariksa, menyoroti pentingnya merawat warisan budaya tertulis seperti manuskrip. Ia menekankan perlunya strategi modern dalam memadukan kekayaan intelektual masa lalu dengan format komunikasi kekinian. “Kami punya banyak sumber daya yang sulit ditemukan di tempat lain, tapi bagaimana caranya agar masyarakat merasa memiliki dan ingin merawatnya?” kata Kang Oman dengan antusias.

Suasana diskusi pagi yang menyenangkan hati. Dari kiri ke kanan; Didin Syafruddin, Mauludin Anwar, Raditiyo Wicaksono, dan Kang Oman. (Foto: Ramzy)

Para narasumber dari SCTV membawa perspektif segar tentang dunia media digital. Mauludin Anwar, misalnya, berbagi tips tentang pentingnya membangun loyalitas audiens melalui konten yang konsisten dan menarik. “Konsistensi adalah kunci. Video yang menarik di 30 detik pertama dapat menjadi penentu audiens bertahan atau meninggalkan konten Anda,” ungkap sosok yang akrab disapa Kang Awan itu.

Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan membagikan berbagai kiat teknis dalam produksi konten visual, mulai dari cara mengoptimalkan penggunaan kamera, pentingnya kualitas audio yang baik, hingga strategi editing untuk menciptakan video yang menarik dan engaging. Tidak hanya sebatas teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan proses pembuatan video singkat, dari tahap pengambilan gambar hingga editing akhir. Dengan pengalaman mereka di dunia penyiaran dan media digital, keduanya aktif dalam Berisik Project, sebuah inisiatif literasi media yang berfokus pada edukasi dan pemberdayaan komunitas dalam memahami serta memanfaatkan media secara lebih kritis dan kreatif.

Workshop ini tidak hanya tentang teknis produksi video. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momen refleksi tentang bagaimana institusi seperti PPIM dapat memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan penting mereka. Kang Awan memberikan contoh sederhana, “Video singkat di platform seperti Instagram Reels atau YouTube Shorts bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil riset, data-data, angka-angka yang menarik kepada generasi muda.”

Raditiyo juga membandingkan manuskrip kuno dengan perburuan artefak Indiana Jones. “Ceruknya memang kecil, tapi naskah-naskah ini adalah harta karun sejarah,” ujarnya. Ia mengingatkan pentingnya menyesuaikan penyampaian dengan audiens masa kini. Bagi Raditiyo, kunci keberhasilan konten terletak pada narasi yang provokatif tetapi jujur, judul seperti “Wow, Ada Telur Cicak di Naskah!” bisa memancing rasa penasaran, tetapi harus dibarengi dengan isi yang relevan dan bermakna.

Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual. Kamera tidak hanya harus menangkap gambar secara teknis baik, tetapi juga perlu mencerminkan emosi dan suasana. “Jemari Kang Oman memegang naskah tua, debu yang beterbangan, atau momen spontan tawa lepas dan meneteskan air mata haru harus disorot dengan cermat,” tegasnya. Ia juga menyarankan elemen tambahan seperti call to action yang mengundang penonton untuk terus terlibat, dari klik video hingga mengikuti sesi tanya jawab.

Hingga sore, workshop tetap seru dan menambah wawasan baru. Dari kiri ke kanan, Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan. (Foto: Ramzy)

Iwan memperkaya diskusi dengan teknik teknis. Dari memanfaatkan stabilizer sederhana hingga mempraktikkan rules of thirds, ia menekankan bahwa detail adalah segalanya. “Suara gesekan kertas manuskrip atau debu yang beterbangan bisa memberikan kekuatan emosional pada video,” katanya. Menurut Iwan, suara, framing, dan pencahayaan harus bersinergi untuk menghasilkan konten yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah.

Di tengah tumpukan teori dan praktik, pesan yang muncul jelas: setiap momen adalah peluang untuk bercerita. Baik melalui kamera yang menangkap detail narasi, maupun melalui pendekatan visual yang membangun hubungan emosional, warisan budaya seperti manuskrip kuno dapat dihidupkan kembali. Sebagaimana Raditiyo mengatakan, “Ride the wave” ikuti arus tren, tetapi jangan pernah kehilangan identitas.

Workshop ini menjadi panggung penting untuk menjembatani dunia akademik yang cenderung serius dengan publik yang haus akan konten ringan tetapi bermakna. Dalam dunia di mana semua orang kini bisa menjadi jurnalis, tantangan terbesar adalah menjadikan cerita kita lebih relevan dan lebih hidup, tanpa mengorbankan esensi sejarah di dalamnya.

Di akhir sesi, muncul gagasan kolaborasi lebih luas, termasuk peliputan ke lapangan bersama Dreamsea dan harapan agar Perpustakaan Nasional RI dapat mendukung konservasi manuskrip melalui program digitalisasi yang lebih masif. “Jika kita dapat menjadikan manuskrip-manuskrip ini lebih dekat dengan publik, melalui visual yang menarik, tentu akan banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Kang Oman mengakhiri sesi diskusi.

Workshop ini membuktikan bahwa membangun jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan komunikasi modern adalah tantangan sekaligus peluang. Dengan kolaborasi yang tepat, seperti antara PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, Ngariksa, dan SCTV, upaya ini bukan hanya memungkinkan, tetapi juga penuh dengan keterampilan dan potensi yang menginspirasi. (Ngariksa-Min)

Para peserta workshop tampak ceria dan bersemangat mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. (Foto: Irfan Farhani)

Membuka Kemasan Manuskrip dari Madura

Manuskrip kuno kiriman Sobat Ngariksa di Madura, Abdur Rahman Al-Kampoki, tiba dalam kondisi rapuh, penuh debu, dan beberapa bagiannya rusak. Manuskrip ini berisi doa, puisi, dan ajaran yang mencerminkan tradisi masa lalu. Kang Oman berkomitmen untuk membersihkan, mendigitalisasi, dan menjaga dokumen berharga ini agar dapat diteliti dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ini merupakan upaya penting untuk melestarikan sejarah dan budaya yang hampir hilang.

NGARIKSA – Kang Oman menyambut sebuah paket istimewa yang baru saja tiba di rumahnya. Kiriman ini datang dari Abdur Rahman Al-Kampoki, seorang Sobat Ngariksa dari Madura. Dengan napas penuh penasaran, Kang Oman memandang paket tersebut. Katanya, ini adalah manuskrip kuno yang telah lama tersimpan dan kini diserahkan untuk diidentifikasi. Dalam benaknya, terselip tanya: masihkah manuskrip ini bertahan dari gerusan waktu?

Perlahan, Kang Oman mulai membuka bungkus  (unboxing) sederhana itu di Lantai III Gedung Pusat Pengkajian Islam & Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Plastik pembungkusnya sudah kumal, seolah menyimpan kisah panjang tentang perjalanan manuskrip di dalamnya. Sebelum menyentuh lebih jauh, ia mengenakan sarung tangan dan masker. Manuskrip merupakan sesuatu yang rentan, satu sentuhan sembarangan bisa jadi akhir dari usia ratusan tahun yang telah dilewati.

Ketika plastiknya terlepas, aroma khas kertas tua langsung menyeruak. Lebih dari lima manuskrip tergeletak di dalamnya, seperti harta karun yang baru saja ditemukan dari peti masa lalu. Kertasnya bukan dari Eropa, melainkan daluang, bahan khas yang sering digunakan pada abad ke-18 hingga ke-19. “Ini dia,” gumam Kang Oman, “sejarah yang hidup kembali,” ungkapnya dalam Ngariksa Episode 134.

Manuskrip pertama dibuka. Lembar-lembar tua itu berisi doa-doa, seperti niat salat dan doa qunut. Beberapa bagian sudah berlubang, rapuh, dan berdebu. Setiap goresan tinta di atas kertas itu adalah jejak para pendahulu, seperti bisikan yang ingin tetap didengar meski semakin samar.

“Manuskrip kedua berisi teks puisi bertajuk Sinom. Dari gaya penulisannya, tradisi mocopat, puisi Jawa yang sering dibacakan dalam ritual adat di Madura. Pada halaman awal manuskrip ini terbalik, mungkin akibat susunan yang pernah kacau atau penyimpanan yang kurang tepat,” ungkap Kang Oman sambil menahan napas dari maskernya yang melindungi dari debu ratusan tahun itu.

Ketika membuka manuskrip berikutnya, Kang Oman terdiam sejenak. Ada kerusakan yang cukup parah, lubang-lubang besar, bekas gigitan rayap, bahkan telur cicak yang menempel di salah satu halaman. Ia melihat bukan hanya teks, tetapi juga perjuangan untuk tetap ada, meski diabaikan dan terlupakan.

Tampak pecahan cangkang telur cicak di antara kertas yang bolong.

Salah satu temuan yang paling menarik ialah manuskrip Bidayah al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Teks ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam tasawuf. Meskipun bagian awalnya telah hilang, sisa-sisa teks yang ada tetap memancarkan kekuatan ajarannya. Kang Oman mengenali huruf Pegon yang tertulis di setiap sela, seolah memberi penegasan bahwa manuskrip ini pernah menjadi saksi kehidupan santri di Madura.

Lembar berikutnya dari koleksi ini adalah Kitab Tauhid karya Al-Samarqandi, yang membahas sifat 20 dengan terjemahan Pegon. Teks ini masih cukup rapi, namun tetap memperlihatkan usia tuanya. Di bagian akhir, terdapat catatan yang mungkin berasal dari pemilik sebelumnya. Sebuah pengingat, bahwa manuskrip ini pernah hidup di tengah masyarakat, digunakan, dan dihargai.

Kang Oman memandang manuskrip-manuskrip itu dengan penuh haru. Setiap halaman adalah saksi bisu dari tradisi yang pernah hidup, dari orang-orang yang mencintai ilmu. Namun, kondisinya memprihatinkan. Rayap, debu, dan usia telah mengambil banyak dari mereka.

Manuskrip keenam mengandung pembahasan tentang sifat-sifat Allah yang dikenal sebagai Sifat 20. Sayangnya, bagian awal dan akhirnya hilang, tetapi teks utama masih menunjukkan pola sastra mocopat dengan pupuh seperti Durma, Sinom, dan Kasmaran. Tradisi sastra ini menunjukkan bahwa ajaran teologi Islam sering kali dikemas dalam bentuk sastra yang indah agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Abdullah Maulani dan Kang Oman saat membaca beberapa manuskrip yang telah dibuka.

Kang Oman agak terkejut melihat manuskrip berikutnya karena ini memuat teks berjudul Kabar Kiamat, yang mengingatkannya pada karya Syekh Nuruddin Ar-Raniri, Akhbar al-Akhirah. Teks ini membahas peristiwa akhirat dan sering dijadikan bahan bacaan dalam tradisi pesantren untuk membangkitkan kesadaran spiritual. Struktur teks menunjukkan elemen mocopat dengan pupuh seperti Sinom dan Kasmaran. Teks ini sangat penting untuk memahami bagaimana masyarakat tradisional memadukan sastra dan ajaran agama.

Manuskrip terakhir adalah sebuah manuskrip tasrif yang dikenal sebagai Tasrif al-Izzi atau sering disebut Kailani. Kitab ini digunakan dalam pembelajaran morfologi bahasa Arab di pesantren. Manuskrip ini memiliki banyak catatan di bagian tepi, menunjukkan bahwa teks ini dipelajari secara intensif oleh santri. Setiap halaman penuh dengan terjemahan Pegon dan komentar yang memperjelas isi teks.Terdapat kolofon di akhir teks ini yang mencantumkan bahwa kitab ini berjudul lengkap Musamma bil-Izzi.  

 

Kondisi Manuskrip dan Upaya Pelestarian

Semua manuskrip ini ditulis di atas kertas daluang yang rentan terhadap kerusakan. Beberapa halaman bolong, tinta memudar, dan ada coretan yang memperumit pembacaan. Salah satu manuskrip bahkan terbungkus plastik usang, seolah-olah hampir terbuang sebelum akhirnya diselamatkan.

Untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya yakni manuskrip dari Madura ini, langkah konservasi sangat penting. Digitalisasi menjadi prioritas untuk menjaga isi teks ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. Kang Oman sudah melakukan proses pembersihan dengan hati-hati menggunakan bahan dan metode yang aman agar tidak merusak lebih lanjut teks yang ada.

Keberadaan manuskrip-manuskrip ini membuka jendela bagi kita untuk memahami lebih dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Madura di masa lalu. Setiap lembar yang dibuka Kang Oman menyingkap cerita yang tak hanya berisi sejarah, tetapi juga harapan dan doa dari generasi sebelumnya.

Kang Oman menyapu butiran debu yang menempel di manuskrip dengan kuas secara perlahan-lahan.

Manuskrip ini membutuhkan konservasi yang lebih baik. Kondisi beberapa naskah sudah bolong, kertasnya rapuh, dan teksnya mulai memudar. Digitalisasi menjadi langkah pertama yang harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap dapat diakses oleh generasi mendatang. Kita berharap lembaga seperti Perpustakaan Nasional RI dapat membantu dalam pelestarian naskah-naskah ini. Dengan dukungan fasilitas, keahlian, dan sumber daya yang dimiliki Perpusnas RI, proses konservasi ini bisa menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan, sehingga keberadaan naskah-naskah ini dapat terus terjaga untuk waktu yang lama.

“Mas Abdurrahman, terima kasih telah mempercayakan ini kepada kami,” ujar Kang Oman lirih. Ia berjanji akan mendigitalkan manuskrip-manuskrip ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. “Setiap lembar ini adalah jejak sejarah yang tak ternilai. Kita punya tanggung jawab besar untuk merawatnya, agar cerita-cerita di dalamnya tetap hidup.”

Bagi Kang Oman, manuskrip ini sebagai pengingat tentang betapa kayanya tradisi dan budaya kita. Ia mengajak Sobat Ngariksa lainnya untuk melakukan hal yang sama, merawat masa silam untuk menatap masa depan. Sejarah memang tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara kepada mereka yang mau mendengar. (Ngariksa-Min)

Membangunkan Pusaka yang Tertidur

NGARIKSA – Langit pagi di kawasan Kota Santri itu tampak bersinar tanpa awan mendung. Dalam kehangatan suasana, kami  berkumpul, penuh harap dan semangat, untuk menyaksikan “pusaka yang tertidur” berupa manuskrip berusia puluhan dan ratusan tahun dalam lemari. Peluncuran Galeri Manuskrip Sampurnan di Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah, Gresik, menjadi momentum yang ditunggu-tunggu. Acara ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan panjang pelestarian ilmu pengetahuan, sebuah upaya besar untuk menyelamatkan jejak-jejak berharga dari masa lalu.

Sambutan pembukaan menggema di ruangan itu. Para hadirin menyatukan tekad saling mengamini di antaranya Ketua Yayasan Pesantren Qomaruddin, Ir. Kiai Abdul Qadir; Kepala Ma’had Jamiah UQ, Kiai Mudhofar Usman; Rektor Univ. Qomaruddin, Prof. H. Aswadi. Kiai Qadir mengenang kembali saat-saat pertama koleksi manuskrip tua di pesantren mulai ditemukan dan dikenali nilainya. Bertahun-tahun manuskrip itu hanya tersimpan di lemari-lemari, menjadi saksi bisu zaman yang terus berlalu. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik lembaran-lembaran itu tersembunyi warisan intelektual yang tak ternilai. Ketika akhirnya Agus Iswanto, pegiat manuskrip, dan para santri senior pesantren turun tangan mereka langsung bersemangat. Temuan ini seperti membuka pintu ke harta karun yang selama ini tersembunyi, sebagaimana terekam dalam film dokumenter Dreamsea pada 9-17 April 2021.

Pagi menjelang siang itu, Sabtu, 30 November 2024, acara peluncuran galeri menjadi momentum simbolis untuk mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Prof. H. Aswadi memberikan pandangannya tentang pentingnya menyinkronkan khazanah ilmu ini dengan kebutuhan masyarakat modern. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa manuskrip bukan sekadar artefak kuno. Ia adalah penghubung keilmuan yang terus hidup, menawarkan panduan, pelajaran, bahkan solusi untuk zaman ini. Menurutnya, setiap teks dalam manuskrip mengandung warisan hikmah yang harus diterjemahkan ke dalam konteks kekinian agar tetap relevan.

Suasana di dalam ruang Galeri Manuskrip Sampurnan.

Prof. H. Aswadi mengibaratkan manuskrip ini sebagai “burung ilmu” yang membawa pesan dari masa lalu ke masa depan. “Bayangkan,” katanya, “apa yang akan terjadi jika pesan-pesan ini hilang begitu saja karena kita gagal melestarikannya? Padahal, dari manuskrip inilah kita bisa membaca jejak peradaban yang mendalam, mulai dari fikih, akidah, hingga tafsir dan waris.”

Meski demikian, kita paham bahwa menjaga manuskrip tidak semudah menyimpannya di lemari kaca. Kang Oman menjelaskan tantangan yang harus dihadapi dalam pelestarian manuskrip. Ia berbicara tentang dua hal yang harus dilakukan: pelestarian fisik dan pelestarian teks.

“Pelestarian fisik mencakup konservasi dan restorasi. Konservasi bertujuan memperpanjang usia manuskrip dengan memastikan penyimpanan yang tepat. Sebagian besar manuskrip ini dibuat dari bahan-bahan alami yang rentan terhadap kerusakan. Restorasi, di sisi lain, bertujuan memulihkan manuskrip yang sudah rusak parah agar kembali ke bentuk semula,” ungkapnya.

Kang Oman memberi masukan tentang pentingnya kolaborasi dengan lembaga-lembaga besar seperti Perpustakaan Nasional untuk membantu restorasi manuskrip. Ia bahkan menawarkan untuk menghubungkan koleksi manuskrip Qomaruddin dengan program-program yang mendukung pengangkatan koleksi lokal ke tingkat nasional, bahkan internasional. Ia menyebutkan bahwa beberapa manuskrip mungkin memenuhi syarat untuk diusulkan sebagai ikon budaya nasional atau ingatan kolektif dunia di bawah naungan UNESCO. Sebuah peluang besar untuk mengangkat nama pesantren dan Indonesia di mata dunia.

Kang Oman saat menerawang watermark kertas eropa pada salah satu manuskrip yang ada.

Pelestarian fisik hanyalah setengah dari perjuangan. Pelestarian teks adalah langkah berikutnya yang tak kalah penting. Teks-teks kuno ini perlu didigitalisasi, dikatalogkan, dan dijadikan objek penelitian yang lebih mendalam. Digitalisasi memungkinkan teks-teks ini tersedia secara luas tanpa risiko kerusakan fisik. Katalogisasi, yang menyusun deskripsi lengkap tentang isi dan asal-usul setiap manuskrip, menjadi panduan utama bagi para peneliti. Langkah ini, menurut Kang Oman, akan membuka pintu bagi skripsi, tesis, dan disertasi yang menjadikan manuskrip Qomaruddin sebagai bahan kajian utama. Kang Oman menyampaikan pandangannya tentang pentingnya manuskrip ini dalam konteks sejarah intelektual Islam di Nusantara.

Ia juga menyoroti pentingnya publikasi. Manuskrip yang telah dikaji harus diterbitkan, baik dalam bentuk jurnal ilmiah maupun media populer. Kang Oman menyarankan agar artikel-artikel ilmiah berbasis manuskrip Qomaruddin dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional, memperkenalkan kekayaan intelektual Indonesia kepada dunia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan populer melalui media sosial dan publikasi ringan tidak kalah penting. Pendekatan ini membuat manuskrip menjadi lebih dikenal oleh masyarakat umum.

Pondok Pesantren Qomaruddin kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga skriptorium, tempat manuskrip-manuskrip penting ditulis, disalin, dan dilestarikan. Istilah skriptorium yang digunakan oleh Kang Oman menegaskan betapa pentingnya tempat ini dalam sejarah Islam di Indonesia. Ia membandingkan Qomaruddin dengan pusat-pusat manuskrip Islam lainnya di Nusantara, seperti Aceh dan Sulawesi. Bedanya, Qomaruddin kini memiliki peluang untuk menjadi pusat kajian yang lebih besar, asalkan langkah-langkah pelestarian ini dilakukan dengan konsisten. Sebanyak 79 naskah kuno koleksi PP Qomaruddin yang telah dilakukan digitalisasi oleh Dreamsea bisa dinikmati melalui tautan ini.

Berfose bersama di depan ruang Galeri Manuskrip Sampurnan.

Pagi itu, optimisme memenuhi ruangan. Setiap sambutan, setiap gagasan, membawa harapan baru bagi masa depan manuskrip Qomaruddin. Tidak ada yang meragukan bahwa jalan di depan masih panjang dan penuh tantangan. Semangat kolaborasi dan tekad yang terpancar dari wajah-wajah di ruangan itu adalah bukti bahwa cita-cita ini tidak mustahil untuk dicapai. Di akhir acara, doa dipanjatkan, menutup pertemuan dengan harapan agar langkah-langkah ini diberkahi dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Kami tim rihlah budaya Ngariksa amat bersyukur bisa menyaksikan ini. Di beberapa tempat penyimpanan manuskrip yang tidak terawat hanya ada rasa kekhawatiran yang lahir. Sementara jika ada sebuah lembaga yang menyimpan manuskrip lalu ada anak-anak muda yang bergerak dan berinisiatif secara pribadi lalu kelompok maka secercah cahaya tampak bersinar terang. Kelak, dari situlah tumbuh peradaban yang amat berguna.

Dalam keheningan usai acara, lembaran-lembaran manuskrip yang kini tersimpan rapi seolah mengucapkan terima kasih. Setelah sekian lama terabaikan, mereka kini menemukan tempatnya kembali dalam denyut kehidupan. Mereka bukan lagi sekadar pusaka yang tertidur, tetapi pustaka yang hidup siap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dan Pondok Pesantren Qomaruddin, dengan segala potensinya, akan berdiri sebagai penjaga warisan ini. Bukan hanya untuk pesantren, tetapi untuk dunia. (Ngariksa-Min)