Rihlah Budaya di Sampurnan Bungah Gresik

NGARIKSA – Pagi itu, di tepi Sungai Bengawan Solo yang mengalir tenang, langit perlahan mulai memerah, menyambut sinar mentari yang malu-malu menembus kabut tipis. Di Kota Bungah, Gresik, suasana terasa syahdu. Rumah-rumah berjajar rapi, dengan arsitektur khas Jawa Timur yang sederhana namun penuh kehangatan. Pohon-pohon kelapa melambai lembut diterpa angin, seakan ikut menyambut kami yang tengah melakukan rihlah budaya ke Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Bungah, Gresik.

Pesantren ini didirikan oleh Kiai Qomaruddin pada 1747 dan hingga kini terus berkembang serta melahirkan banyak alumni yang menjadi tokoh. Hari itu, Sabtu, 30 November 2024 pesantren menjadi tuan rumah bagi yang menghadirkan para kiai, santri, filolog, dan pencinta manuskrip kuno Nusantara. Mereka berkumpul bukan hanya untuk menyelamatkan lembaran-lembaran tua, tetapi juga untuk merangkai cerita masa lalu yang tersebar di antara tinta dan kertas rapuh.

 

Kantor Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin

Di kantor pesantren, para tamu disambut dengan senyum ramah para pemangku pesantren dan yayasan. Ada Bapak Ir. KH. Abdul Qodir (Ketua Yayasan), Kiai Mudhofar Usman (Ma’had Jamiah UQ), Prof. H. Aswadi (Rektor UQ), dan lainnya dengan  mengenakan sarung dan peci hitam khas Jawa Timur. Dengan suara yang penuh ketulusan, Kiai Qodir membuka percakapan, “Selamat datang di pesantren kami. Semoga pertemuan ini membawa berkah, tidak hanya bagi kita di sini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang,” ucapnya.

Sebagaimana di beberapa pesantren, sebagian besar manuskrip sering kali nyaris terlupakan, tertutup debu dan waktu. “Awalnya kami tidak tahu kalau manuskrip ini bernilai tinggi,” cerita para kiai yang hadir. “Bertahun-tahun hanya tersimpan di lemari, tak ada yang membuka. Tapi setelah kami pelajari lebih dalam, ternyata ini adalah warisan intelektual yang luar biasa.”

Kami romobongan dari Jakarta dipimpin oleh Kang Oman, Pengampu Ngariksa. Ia menyimak setiap penjelasan dengan penuh perhatian. “Manuskrip ini tidak hanya milik pesantren, tapi juga bagian dari sejarah besar Islam di Nusantara,” katanya.

Manuskrip-manuskrip tersebut berisi berbagai tema, mulai dari ajaran tasawuf, hukum Islam, hingga doa-doa yang penuh dengan kearifan lokal. Ada pula teks-teks yang ditulis dalam aksara Arab Pegon, sebuah tradisi literasi unik di Jawa yang menggunakan aksara Arab untuk menulis bahasa Jawa.

Suasana Diskusi Hangat di dalam Kantor Yayasan 

Dalam pandangan Kang Oman, manuskrip di pesantren ini adalah bagian dari jaringan keilmuan Islam yang luas. “Teks-teks yang ada di sini tidak berdiri sendiri. Mereka terhubung dengan tradisi intelektual di berbagai belahan dunia,” jelasnya.

Ia menceritakan bagaimana manuskrip dari Nusantara kerap menjadi rujukan di berbagai lembaga internasional, termasuk universitas ternama seperti Harvard. Salah satu contohnya adalah kitab-kitab yang berisi ajaran tasawuf dan tarekat, seperti karya Syekh Abdullah Muhyi dari Pamijahan Tasikmalaya.

Sebelum kedatangan Kang Oman, Agus Iswanto telah mendatangi Pesantren Qomaruddin untuk melakukan digitalisasi. Melalui program DREAMSEA dari PPIM dan Endangered Archives Programme dari Library British, ia bersama tim pengurus pesantre dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) telah menyelamatkan banyak manuskrip.

“Digitalisasi ini penting agar manuskrip-manuskrip ini bisa bertahan lebih lama dan lebih mudah diakses oleh banyak orang,” katanya. Proses ini bukan sekadar memindai gambar, tapi juga mencatat detail-detail penting seperti usia manuskrip, pengarangnya, dan kondisi fisiknya.

Pelestarian manuskrip ini tidak hanya soal teknologi. Ada nilai spiritual dan intelektual yang harus dijaga. Salah satu cara yang dilakukan pesantren adalah dengan menghidupkan tradisi membaca manuskrip bersama, atau tabarukan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang ajaran para pendahulu, tetapi juga untuk menyambung silaturahmi antar-generasi.

“Saya teringat sebuah zawiyah di Aceh,” kata Kang Oman, menceritakan pengalamannya. “Zawiyah itu memiliki koleksi manuskrip yang luar biasa, tapi karena kurangnya perawatan dan akses yang terbatas, banyak manuskrip yang hilang atau dijual ke luar negeri. Kita tidak ingin hal seperti itu terjadi di sini.”

Kisah itu menjadi pengingat betapa rapuhnya warisan intelektual jika tidak dirawat dengan baik. Manuskrip-manuskrip di pesantren ini pun menghadapi tantangan serupa. Di banyak pesantren, tempat penyimpanan manuskrip masih sangat sederhana, dengan fasilitas yang terbatas. Namun, semangat para pengurus dan dukungan dari berbagai pihak menjadi modal utama untuk menjaga keberlanjutannya.

Salah satu manuskrip koleksi PP. Qomaruddin yang dibaca Kang Oman dalam Ngariksa selama Ramadan 1445 H

Pada bulan suci Ramadan 1445 H (Maret 2024 M), Kang Oman bersyukur bisa mengkhatamkan pembacaan manuskrip “Qasidah fi al-Shaum” karangan K.H. Sholeh Tsani, atau Mbah Sholeh Tsani (w. 1320 H/1902 M),  Pengasuh PP. Qomaruddin. Ngaji pasanan kitab puasa karya ulama Indonesia ini secara rutin ditayangkan melalui Youtube Ngariksa TV, setiap hari jam 17.00 WIB. Kedatangannya ke pesantren ini pun dalam rangka mengucapkan terima kasih kepada para pimpinan pesantren yang telah mengizinkan membacakan kitab tersebut sekaligus ingin berziarah ke makam pengarang.

Sambil menikmati sajian hangat dan kudapan tradisional, suasana pagi semakin terasa hangat. Para tamu, santri, dan pengurus pesantren berbagi cerita, ide, dan harapan. Ada rasa kebersamaan yang kuat, seolah-olah manuskrip-manuskrip tua itu adalah jembatan yang menghubungkan mereka semua, melampaui batas ruang dan waktu.

Hari itu, Pondok Pesantren Qomaruddin tidak hanya menjadi tempat pelestarian manuskrip, tetapi juga pusat penyambung silaturahmi intelektual. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa warisan masa lalu tidak hanya menjadi pajangan di lemari, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masa depan.

Langit mulai cerah ketika acara perlahan berakhir. Para tamu melanjutkan perjalanan menuju ruang penyimpanan manuskrip. Dari tepian Sungai Bengawan Solo, arus air yang tenang seolah membawa harapan baru, mengalir perlahan namun pasti. Pesantren Qomaruddin, dengan segala sejarah panjangnya, telah memulai perjalanan panjang untuk menjaga warisan besar ini. Sebuah perjalanan yang tidak hanya milik mereka, tetapi juga milik kita semua. (Ngariksa-Min)

Habaib dan Syekh Marhaban

Habaib dan Syekh Marhaban

Oleh: Kang Oman, Pengampu Ngariksa

HABIB atau habaib mencuat dalam perbincangan publik di Indonesia. Habib adalah sebutan populer bagi keturunan Arab-Hadlrami asal Yaman, khususnya keturunan Ba Alawi. Di Hadlramaut sendiri, sebutan Habib hanya disematkan kepada keluarga Ba Alawi yang terdidik dan dihormati, sementara di Indonesia lebih cair, semua klan Ba Alawi disapa Habib (Alatas, 2018: 36).

Habib ramai dibahas seiring gonjang-ganjing hasil penelusuran seorang ulama Banten, K.H. Imaduddin Utsman, bahwa sanad para habib di Indonesia yang berasal dari Bani Alawiyyin tidak bersambung kepada keluarga Nabi (ahlul bait) alias putus. Ngariksa episode ke-98 berjudul “Silsilah Wirid Ulama Habaib” sempat mengupas tentang kaum Ba Alawi di Indonesia. Namun, tayangan pada Jumat, 25 Agustus 2023, ini tidak membahas polemik tersebut. Ada Sobat Ngariksa (@achmadtontowi5504) yang berkomentar di Facebook: “…menarik prof tolong prof samb[ung] ke kyai imadudin Utsman di Banten biar makin menarik ttg Habaib ini…”. Sayangnya, saya belum bisa memenuhinya.

Kali ini saya lebih ingin menunjukkan bagaimana relasi antara ulama Arab-Hadlrami dan ulama lokal Nusantara berdasarkan bukti manuskrip. Tercatat bahwa semenjak ratusan tahun silam, hubungan mereka sangat baik bahkan punya “vibes” yang asyik dan sejuk. Ukuran hirarki di antara mereka bukan ditentukan berdasarkan sanadnya dari mana dan bersambung ke siapa, melainkan pada derajat keilmuan dan kesalehan.

 

Hingga kini para habib masiih mendapatkan tempat tersendiri karena ekosistem sosial kemasyarakatan dan keagamaan di Indonesia, terutama kalangan Nahdliyin (NU), mendukung atmosfer itu. Bahkan terbentuk komunitas muhibbin, pencinta habaib, yang setia mengikuti majlis taklim para penceramah Arab-Hadlrami dan teguh membela mereka. Perkara penghormatan yang mengarah pada sikap berlebihan ini sebetulnya mendapat catatan kritis dari sebagian kalangan habaib sendiri. Sebut saja, Musa Kazhim Alhabsyi, yang menulis buku Identitas Arab itu Ilusi: Saya Habib, Saya Indonesia! (2022).

Habaib memang punya daya tarik tersendiri di kalangan muslim Indonesia. Kedatangan Habib Umar bin Hafidz dari Yaman selalu disambut dengan antusias dan penuh cinta. Boleh jadi, ini karena kharisma Habib Umar ketika menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyentuh hati. Para jemaah yang sebagian d antaranya dari kalangan artis, tak jarang meminta ijazah (otorisasi) bacaan zikir dan wirid untuk penentram jiwa. Habib Umar dalam berbagai kesempatan memang tak pelit untuk berbagi ijazah secara terbuka, salah satunya berupa formula zikir dan doa berjudul “Khulasah al-Madad al-Nabawi” yang ia susun sendiri.

Gemar berzikir dan berdoa, masyarakat muslim di Indonesia khususnya kaum Nahdliyin akrab dengan Ratib Haddad yang dirumuskan oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad pada abad ke-17. Di Pesantren Al-Hamidiyah Depok Jawa Barat yang kami asuh, hampir setiap bakda Maghrib santri membaca wiridan ini. Di pesantren-pesantren di Jawa juga wiridan ini diijazahkan dan dibaca secara turun-temurun.

Penyusunan kitab wirid dan doa serta tradisi mengijazahkannya kepada jemaah, sebetulnya bukan monopoli ulama Arab-Hadlrami. Sejumlah kitab mengisyaratkan bahwa para ulama Nusantara juga memiliki otoritas dan tradisi yang sama, bahkan untuk kalangan tertentu lebih dapat diterima karena disertai dengan terjemahan dalam bahasa lokal, seperti Pegon Jawa/Sunda atau Melayu-Jawi, yang dipahami oleh jemaahnya.

K.H. Bisri Mustofa (w. 1977) atau biasa disapa Mbah Bisri asal Rembang Jawa Tengah, misalnya menyusun satu kitab berjudul “al-Haqibah: Ini Du’a-du’a, Aurad, Munajat, ingkang Wigati”. Dalam mukaddimah kitab yang ditulis pada tahun 1972 itu, Mbah Bisri menegaskan: “…wa ajaztu hadzihil ad’iyah wa al-aurad liman waqa’a ‘alaihi hadza al-kitab ijazatan munawalatan…”, bahwa wirid dan doa ini diijazahkan bagi siapa saja yang membacanya.

 

Kalau menelisik manuskrip-manuskrip yang ditulis pada masa yang lebih awal, formula dzikir dan wirid itu sering disebut sebagai “tarekat”. Sebut misal, Tarekat Haddadiyah; Tarekat Alawiyah; Tarekat Somadiyah; Tarekat Qulhu; dan lain-lain. Dalam Ngariksa episode ke-98, beberapa contoh manuskrip yang dihadirkan berasal dari koleksi Museum Pedir Aceh atas kebaikan direkturnya,  Sdr. Masykur Syafruddin.

Banyaknya manuskrip Nusantara yang terkait dengan komunitas Arab-Hadlrami sebetulnya tidak terlalu mengherankan. Sejak abad ke-13 M, nisbah “al-Jawi” sudah digunakan oleh seorang ulama di Yaman, yakni Abu ‘Abdullah Mas’ud bin Muhammad al-Jawi, meski identitas persisnya belum dapat ditelusuri (Feener & Laffan, 2005). Pada perkembangan berikutnya di abad ke-18 dan 19 M, komunitas Arab-Hadlrami semakin banyak bermukim di  berbagai daerah di Nusantara. Lambat laun mereka pun menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur sosial politik masyarakat saat itu. Ada yang menjadi penasihat Sultan, tak sedikit yang menjadi pendakwah biasa. Interaksi ulama Arab-Hadlrami dan ulama lokal Nusantara itu sedemikian cair, tidak ada superioritas atas nama marga, apalagi mengatasnamakan sanad Nabi.

Di antara manuskrip koleksi Museum Pedir yang di dalamnya terdapat sanad atau silsilah yang menghubungkan jejaring ulama Arab-Hadlrami dan ulama Aceh adalah “Tarekat Qulhu”. Manuskripnya menggunakan kertas Eropa (berarti biasanya asal abad ke-18 atau 19), menghubungkan sanad dzikir Syekh Muhammad Marhaban asal Lambhuuk, Aceh kepada guru-gurunya, hingga tersambung kepada Habib Ahmad Ba Faqih di Jeddah, dan terus bersambung melalui sanad Ba Alawi hingga Rasulullah saw.

Syekh Marhaban adalah seorang ulama Aceh yang belum banyak diungkap identitasnya. Namun, beberapa manuskrip yang ada mengkonfirmasi peran dan jaringan keilmuannya dengan para ulama Arab-Hadlrami. Dalam manuskrip lain juga disebut bahwa Syekh Marhaban memiliki sanad dzikir dalam Tarekat Samadiyah, Tarekat al-Haddad, dan lainnya.

Ketika saya melakukan pelestarian, digitalisasi, dan katalogisasi manuskrip Koleksi Yayasan Ali Hasjmy Aceh (Fathurahman & Holil 2007), ditemukan stempel atas nama Syekh Marhaban. Saat itu saya belum tahu sama sekali identitasnya. Menariknya, ada manuskrip yang menjelaskan bahwa Syekh Marhaban ini juga menjadi guru bagi sejumlah Habib di Aceh. Sebuah naskah Koleksi Museum Pedir misalnya menyebutkan bahwa Syekh Marhaban memberi ijazah Tarekat al-Haddad kepada Habib Hasan bin Umar Al-Kaff Ba Alawi, guru bagi Habib Sulaiman Beutong, guru bagi Muhammad Juned Gampong Riweuk, guru bagi Cuma Fatimah Gampong Riweuk Meunasah Cot, Kecamatan Sakti. Identitas nama-nama yang disebut dalam manuskrip ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Kalau dikumpulkan, sumber-sumber manuskrip abad 18-19 yang menyebutkan sanad Ba Alawi di Indonesia ini sangat banyak, bahkan naskah serupa dijumpai juga dalam manuskrip koleksi Syekh Muhammad Said di Marawi City, Mindanao, Filipina Selatan. Dan, hampir dapat dipastikan bahwa semuanya mencatatkan ketersambungan Ba Alawi hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Tentu data manuskrip Arab-Hadlrami Nusantara ini tidak serta merta menjadi argumen yang mematahkan hipotesis soal keterputusan sanad Ba Alawi, karena semua manuskripnya berasal dari abad ke-18 dan 19 M, jauh dari era ‘Ubaidillah (abad ke-11 M), kakek buyut Ba Alawi yang diperdebatkan ketersambungan sanadnya kepada Nabi. Namun, bukan berarti dapat disimpulkan sebaliknya, bahwa semua sanad Ba Alawi dalam manuskrip Nusantara ini adalah palsu, misalnya.

Satu hal yang dapat dipastikan, pada era itu di Nusantara dan Aceh khususnya, relasi ulama Arab-Hadlrami dan ulama Aceh bersifat sangat cair. Bahkan, kolofon sebuah manuskrip berjudul Nazam Aqidah Koleksi Museum Pedir menegaskan adanya “kolaborasi ilmiah” antara Habib (Tengku Sayyid Busu (Abdullah al-Zahid) sebagai penulis kitab, dengan penerjemahnya ke dalam Bahasa Jawi, yaitu Teuku Cut Teungku Faqih Geulumpang Minyeuk, Pidie.

Walhasil, di bagian akhir Ngariksa episode ke-98, saya berpesan begini:

Sobat Ngariksa, ulama dan habaib tidak perlu dibanding-bandingkan, apalagi dipertentangkan, keduanya bisa menjadi teladan.

Berdasarkan catatan masa silam, ulama dan habaib bergandengan tangan. Mereka bersama-sama membimbing umat,     mencipta karya, dan membangun peradaban.

Beruntung Aceh punya manuskrip, serta ada pegiat yang merawat dan menyimpan. Isinya tentang silsilah dan dzikir, atau wiridan. Saya yakin wilayah lain pun demikian.

Dari Aceh kita punya Syekh Marhaban, yang guru-guru maupun murid-muridnya adalah habaib yang saling bertautan. Manuskrip amat berharga, wujud dan isinya perlu dijaga.  Salam Ngariksa!

 

 

 

 

Pengampu Ngariksa Kagumi Manuskrip Datu Kelampayan, Perkirakan Kertas Berasal dari Awal Abad 19

Pengampu Ngariksa, Prof. Dr. Oman Fathurahman atau Kang Oman melakukan pengkajian manuskrip Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang disimpan Guru Ahmad Daudi yang merupakan zuriat ke7, Minggu (09/06/2024) pagi.

Dalam pengkajian manuskrip Datu Kelampayan tersebut, Kang Oman diperlihatkan salah satu kitab karangan Jaddina Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, salah satunya adalah kitab Sabilal Muhtadin yang sering diajarkan pada majlis di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Kang Oman dari “Ngariksa” ini mengakui, jika dari hasil pengamatannya, manuskrip Datu Kelampayan ini memang masih asli, dilihat dari kertas tempat menorehkan tinta dengan aksara arab melayu oleh Datu Kelampayan ini, diperkirakan berasal dari awal abad 19 Masehi.

“Manuskrip yang disimpan Guru Daudi ini sangat bagus, bahkan sudah dikonservasi dan dilaminasi dengan kertas Jepang. Itu sangat mahal,” ucapnya kepada klikkalsel.com.

Bahkan, lelaki kelahiran Kuningan Jawa Barat sangat kagum dengan manuskrip Datu Kelampayan ini, pasalnya pada beberapa daerah di Indonesia, beberapa manuskrip sudah hilang (tidak ada yang bisa membacanya bahkan diajarkan).

Namun lain hal yang ada di Kalsel, manuskrip karya Datu Kelampayan ini masih dipelajari, bahkan tidak hanya bagi keturunan namun juga para santri.

“Ini sangat mahal sekali, karena karya dari ulama ini masih dipelajari bukan hanya dari juriatnya, tapi oleh orang banyak. Saya kebetulan meneliti manuskrip Islam ini di beberapa wilayah, dan yang masih hidup itu tradisinya beberapa saja. Seperti di Aceh, tapi tidak sebesar ini syiarnya,” ungkapnya.

Kang Oman saat mengecek watermark pada kertas manuskrip kitab Sabilal Muhtadin.

Lebih lanjut ia menceritakan, pada daerah Minangkabau manuskrip Sumatra Barat, manuskrip di sana hanya tersimpan di lemari surau saja. Namun ketika dia bertandang ke Kalimantan Selatan, melihat langsung manuskrip Islam ini dipelajari secara turun temurun hingga saat ini, hal tersebut yang menjadikan Kang Oman merasa menaruh kagum.

“Saya sudah lama mengenal karya ulama nusantara termasuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini, sejak saya berkenalan dengan manuskrip Islam pada 1996 lalu, dan baru ini saya mendengar langsung dibacakan. Bahkan jemaah majelisnya memegang kitab yang sudah dicetak ulang dan mereka bisa membacanya,” tuturnya kagum.

Dia juga bersyukur bisa mendapatkan sanad (ijazah) secara langsung dari Guru Ahmad Daudi yang merupakan keturunan Datu Kelampayan.

Menurut saya ini harus ditradisikan dan dilestarikan, bahwa tradisi keilmuan di kampus agar tidak kering, mungkin di kampus dididik akal dan logika, tapi hatinya juga harus disiram, agar nalar dan hati bisa melengkapi.

“Karena jika hanya belajar secara ilmiah saja, mungkin belum tentu menjadi amaliah. Menurut saya ini (manuskrip datu kelampayan, red) sangat berharga untuk melengkapi kekurangan yang selama ini saya sudah tahu, namun baru lahirnya saja (luar atau kulitnya, red),” ujarnya.

Selain itu ia mengatakan, jika di negara luar sendiri seperti Patani dan Thailand Selatan serta Filipina Selatan, saat ini hampir punah generasi yang bisa membaca manuskrip yang ada di sana.

“Kita harus sadar kalau ini adalah sebuah kekayaan kita, dan harus dilestarikan,” cetusnya.

Sementara itu, Guru Ahmad Daudi mengatakan, pihaknya selaku zuriat Datu Kelampayan mengucapkan terimakasih kepada Kang Oman, karena beberapa saat lalu sempat terhenti dalam pembelajaran, namun dengan datangnya Kang Oman akan menambah semangat pihaknya untuk mengkaji dan “memutholaahi”.

Tidak hanya itu, Guru Daudi juga berpesan kepada para guru agama dan khususnya para santri untuk lebih mantap lagi mengkaji kitab-kitab karangan Datu Kelampayan.

“Kepada para guru, khususnya kepada para santri agar lebih mantap lagi dalam mengkaji dalam kitab-kitab yang dikarang oleh Syekh Arsyad, untuk dakwah kepada umat,” harapnya.

Ditempat yang sama, Kepala Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah XIII Kalsel, Muslimin menanggapi manuskrip Datu Kelampayan. Jika benda bersejarah ini merupakan sebuah warisan budaya yang memiliki potensi luar biasa, dari nilai kesejarahan dan keberagaman serta ilmu pengetahuan.

“Ini merupakan salah satu cermin dari perkembangan peradaban, karena masyarakat yang dianggap beradab bisa menghasilkan karya-karya yang sangat monumental,” jelasnya.

Muslimin mengakui, jika Syekh Arsyad sendiri merupakan ulama di Kalsel dan Nusantara yang meninggalkan banyak jejak literasi yang menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat sekarang.

“Jadi cara kita untuk melestarikan tradisi tidak hanya dari bentuk fisiknya, tapi juga pada nilainya. Seperti yang kita lakukan ini adalah dengan melestarikan nilai dengan memberikan informasi,” ucapnya.

Selain itu, dalam melestarikan manuskrip Datu Kelampayan ini, pihaknya mengupayakan salah satu tindakan preventif, dengan melakukan pencatatan secara digitalisasi dan penyusunan data-data manuskrip, untuk melestarikan naskah secara fisik dan informasi.

“Memang tidak banyak naskah yang masih tersisa. Walau ada akses untuk mendapatkan informasinya agak susah. Jadi diperlukan pendekatan khusus kepada pemilik, tapi Alhamdulillah dari zuriah Datu Kelampayan diberikan akses yang luas,” akunya.

Tidak sampai di sana, pihaknya juga mengaku dibantu dari Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalsel, serta museum yang ada di Kalsel dalam menjaga dan melestarikan manuskrip yang ada.

Sumber: https://klikkalsel.com/prof-oman-kagumi-manuskrip-datu-kelampayan-perkirakan-kertas-berasal-dari-awal-abad-19/