NGARIKSA – Pagi itu, di tepi Sungai Bengawan Solo yang mengalir tenang, langit perlahan mulai memerah, menyambut sinar mentari yang malu-malu menembus kabut tipis. Di Kota Bungah, Gresik, suasana terasa syahdu. Rumah-rumah berjajar rapi, dengan arsitektur khas Jawa Timur yang sederhana namun penuh kehangatan. Pohon-pohon kelapa melambai lembut diterpa angin, seakan ikut menyambut kami yang tengah melakukan rihlah budaya ke Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Bungah, Gresik.
Pesantren ini didirikan oleh Kiai Qomaruddin pada 1747 dan hingga kini terus berkembang serta melahirkan banyak alumni yang menjadi tokoh. Hari itu, Sabtu, 30 November 2024 pesantren menjadi tuan rumah bagi yang menghadirkan para kiai, santri, filolog, dan pencinta manuskrip kuno Nusantara. Mereka berkumpul bukan hanya untuk menyelamatkan lembaran-lembaran tua, tetapi juga untuk merangkai cerita masa lalu yang tersebar di antara tinta dan kertas rapuh.

Di kantor pesantren, para tamu disambut dengan senyum ramah para pemangku pesantren dan yayasan. Ada Bapak Ir. KH. Abdul Qodir (Ketua Yayasan), Kiai Mudhofar Usman (Ma’had Jamiah UQ), Prof. H. Aswadi (Rektor UQ), dan lainnya dengan mengenakan sarung dan peci hitam khas Jawa Timur. Dengan suara yang penuh ketulusan, Kiai Qodir membuka percakapan, “Selamat datang di pesantren kami. Semoga pertemuan ini membawa berkah, tidak hanya bagi kita di sini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang,” ucapnya.
Sebagaimana di beberapa pesantren, sebagian besar manuskrip sering kali nyaris terlupakan, tertutup debu dan waktu. “Awalnya kami tidak tahu kalau manuskrip ini bernilai tinggi,” cerita para kiai yang hadir. “Bertahun-tahun hanya tersimpan di lemari, tak ada yang membuka. Tapi setelah kami pelajari lebih dalam, ternyata ini adalah warisan intelektual yang luar biasa.”
Kami romobongan dari Jakarta dipimpin oleh Kang Oman, Pengampu Ngariksa. Ia menyimak setiap penjelasan dengan penuh perhatian. “Manuskrip ini tidak hanya milik pesantren, tapi juga bagian dari sejarah besar Islam di Nusantara,” katanya.
Manuskrip-manuskrip tersebut berisi berbagai tema, mulai dari ajaran tasawuf, hukum Islam, hingga doa-doa yang penuh dengan kearifan lokal. Ada pula teks-teks yang ditulis dalam aksara Arab Pegon, sebuah tradisi literasi unik di Jawa yang menggunakan aksara Arab untuk menulis bahasa Jawa.

Dalam pandangan Kang Oman, manuskrip di pesantren ini adalah bagian dari jaringan keilmuan Islam yang luas. “Teks-teks yang ada di sini tidak berdiri sendiri. Mereka terhubung dengan tradisi intelektual di berbagai belahan dunia,” jelasnya.
Ia menceritakan bagaimana manuskrip dari Nusantara kerap menjadi rujukan di berbagai lembaga internasional, termasuk universitas ternama seperti Harvard. Salah satu contohnya adalah kitab-kitab yang berisi ajaran tasawuf dan tarekat, seperti karya Syekh Abdullah Muhyi dari Pamijahan Tasikmalaya.
Sebelum kedatangan Kang Oman, Agus Iswanto telah mendatangi Pesantren Qomaruddin untuk melakukan digitalisasi. Melalui program DREAMSEA dari PPIM dan Endangered Archives Programme dari Library British, ia bersama tim pengurus pesantre dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) telah menyelamatkan banyak manuskrip.
“Digitalisasi ini penting agar manuskrip-manuskrip ini bisa bertahan lebih lama dan lebih mudah diakses oleh banyak orang,” katanya. Proses ini bukan sekadar memindai gambar, tapi juga mencatat detail-detail penting seperti usia manuskrip, pengarangnya, dan kondisi fisiknya.
Pelestarian manuskrip ini tidak hanya soal teknologi. Ada nilai spiritual dan intelektual yang harus dijaga. Salah satu cara yang dilakukan pesantren adalah dengan menghidupkan tradisi membaca manuskrip bersama, atau tabarukan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang ajaran para pendahulu, tetapi juga untuk menyambung silaturahmi antar-generasi.
“Saya teringat sebuah zawiyah di Aceh,” kata Kang Oman, menceritakan pengalamannya. “Zawiyah itu memiliki koleksi manuskrip yang luar biasa, tapi karena kurangnya perawatan dan akses yang terbatas, banyak manuskrip yang hilang atau dijual ke luar negeri. Kita tidak ingin hal seperti itu terjadi di sini.”
Kisah itu menjadi pengingat betapa rapuhnya warisan intelektual jika tidak dirawat dengan baik. Manuskrip-manuskrip di pesantren ini pun menghadapi tantangan serupa. Di banyak pesantren, tempat penyimpanan manuskrip masih sangat sederhana, dengan fasilitas yang terbatas. Namun, semangat para pengurus dan dukungan dari berbagai pihak menjadi modal utama untuk menjaga keberlanjutannya.

Salah satu manuskrip koleksi PP. Qomaruddin yang dibaca Kang Oman dalam Ngariksa selama Ramadan 1445 H
Pada bulan suci Ramadan 1445 H (Maret 2024 M), Kang Oman bersyukur bisa mengkhatamkan pembacaan manuskrip “Qasidah fi al-Shaum” karangan K.H. Sholeh Tsani, atau Mbah Sholeh Tsani (w. 1320 H/1902 M), Pengasuh PP. Qomaruddin. Ngaji pasanan kitab puasa karya ulama Indonesia ini secara rutin ditayangkan melalui Youtube Ngariksa TV, setiap hari jam 17.00 WIB. Kedatangannya ke pesantren ini pun dalam rangka mengucapkan terima kasih kepada para pimpinan pesantren yang telah mengizinkan membacakan kitab tersebut sekaligus ingin berziarah ke makam pengarang.
Sambil menikmati sajian hangat dan kudapan tradisional, suasana pagi semakin terasa hangat. Para tamu, santri, dan pengurus pesantren berbagi cerita, ide, dan harapan. Ada rasa kebersamaan yang kuat, seolah-olah manuskrip-manuskrip tua itu adalah jembatan yang menghubungkan mereka semua, melampaui batas ruang dan waktu.
Hari itu, Pondok Pesantren Qomaruddin tidak hanya menjadi tempat pelestarian manuskrip, tetapi juga pusat penyambung silaturahmi intelektual. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa warisan masa lalu tidak hanya menjadi pajangan di lemari, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masa depan.
Langit mulai cerah ketika acara perlahan berakhir. Para tamu melanjutkan perjalanan menuju ruang penyimpanan manuskrip. Dari tepian Sungai Bengawan Solo, arus air yang tenang seolah membawa harapan baru, mengalir perlahan namun pasti. Pesantren Qomaruddin, dengan segala sejarah panjangnya, telah memulai perjalanan panjang untuk menjaga warisan besar ini. Sebuah perjalanan yang tidak hanya milik mereka, tetapi juga milik kita semua. (Ngariksa-Min)




