Perginya Bu Achadiati Guru Filologi

Minggu pagi, 21 Juli 2024, seorang tokoh besar perintis ilmu filologi di Indonesia berpulang. Ia adalah Prof. Dr. Achadiati Ikram, Guru Besar Emeritus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Malam hari setelah ia berpulang, bulan purnama tampak di langit, indah bersinar seolah menjemputnya dari bumi menuju swarga loka. Malam itu bertepatan dengan 15 Muharam 1446.

“Almarhum telah menjadi guru filologi bagi hampir semua pengkaji manuskrip di Indonesia saat ini. Ia menjadi sandaran terpercaya yang memiliki otoritas keilmuan filologi dan menghubungkan mata rantai keilmuan filologi Indonesia saat ini. Ia juga salah seorang pendiri utama sekaligus ketua pertama Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) dan asosiasi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa),” kenang Kang Oman, Pengampu Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa).

Ibu Achadiati, demikian Kang Oman biasa menyapa promotor disertasinya itu. Murid-muridnya yang lain terkadang memanggilnya, Bu Ikram. Ada juga yang menyebutnya dengan sapaan lain yang jauh berbeda dengan namanya. Sang empunya nama tak pernah mempersoalkan panggilan tersebut. Sebaliknya, ia tak segan bercengkerama dengan kalangan muda terpaut jauh dari usianya. Ketika belum menginjak usia 90 tahun, ia masih aktif mengakses Facebook dan membalas komentar yang mampir ke dinding profilnya.

Saat pengukuhan jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu-Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, 2 Maret 1985, Achadiati Ikram menyampaikan pidatonya berjudul “Citra Kepemimpinan dalam Sastra Indonesia Lama”.

Prof. Dr. Achadiati Ikram menyampaikan ceramah ilmiahnya dalam acara pengukuhan dirinya menjadi guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta, 1985. (Sumber: datatempo.co)

Dalam pidatonya itu, ia menyampaikan bahwa khazanah kebudayaan spiritual dalam bentuk bahasa mencakup sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan maksudnya dongeng, nyanyian, dan bahasa berirama. Sedangkan sastra tertulis adalah catatan yang terekam pada kertas, daun lontar, daun nipah, dan berbagai alat tulis yang digunakan sejak zaman kuno dan ada yang masih dipakai hingga kini. 

Bagi Achadiati Ikram, kesusastraan tertulis telah menumbuhkan suatu ilmu tersendiri dalam usaha memperoleh pengertian yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya mengenai kesusastraan tertulis yang bersangkutan, yaitu ilmu filologi. 

Ia punya pandangan tajam terhadap filologi. Kata filologi yang berarti ‘cinta ilmu dan sastra’ (Webster, 1986:338), menurutnya, sebenarnya mengandung makna yang sangat luas. Hanya, dalam perjalanan sejarah filologi menyusut menjadi studi tentang sastra dan di sini dipersempit lagi menjadi studi tentang sastra dalam naskah lama. Salah satu segi dari filologi yang sudah ada sejak lama ialah kritik teks, yang merupakan suatu konsekuensi logis dari filologi (Ikram, 2019).

Bagi Achadiati, filologi lahir karena kesadaran historis mendorong manusia beradab untuk mengadakan penelitian tentang masa lalunya dan dengan demikian membuktikan keberadaan jati dirinya. Hal itu dilakukannya dengan bersumberkan naskah lama yang merupakan kesaksian tentang kehidupan spiritual para pendahulunya. Karena itu, salah satu dasar filologi tradisional adalah keaslian teks agar gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya sampai dengan murni, tanpa perubahan.

Pada 1995, saat usia Achadiati Ikram 65 tahun, koleganya sesama dosen di UI meluncurkan kumpulan karangan dengan judul Pendar Pelangi, Buku Persembahan untuk Prof. Dr. Achadiati Ikram. Buku itu memuat 73 karangan yang disusun berdasarkan kelompok kajian filologi, sastra, bahasa, arkeologi, antropologi, filsafat dan lain-lain.

Salah satu koleganya, penyair kondang Sapardi Djoko Damono, menulis “Hampir 40 tahun lamanya Bu Ikram, yang biasa dipanggil Titik atau Yu Titik oleh rekan-rekannya sebaya dan yang lebih muda, bekerja keras untuk almamaternya. Kecuali untuk beberapa waktu yang singkat demi pengembangan ilmunya, Ibu Ikram tidak pernah meninggalkan tugas utamanya sebagai pengajar, suatu tugas yang dilakukannya dengan gembira sebab rupanya ia memang mencintainya.”

Buku Kenangan yang dipersembahkan kepada Prof. Dr. Achadiati Ikram. (Sumber: Ngariksa-Min)

Ia sangat konsen terhadap sastra Melayu klasik. Tak heran, disertasinya mengulas Hikayat Sri Rama. Di kalangan akademisi, ia juga memperlihatkan minat dan kemampuan sebagai penerjemah. Ketertarikannya pada dunia fiksi terlihat dari terjemahannya atas karya sastra Belanda, termasuk Kuli karya Szekely-Loelofs. Selain itu, terjemahannya atas buku pengantar teori sastra yang ditulis oleh beberapa sarjana Belanda, Tentang Sastra, dan beberapa bagian dari buku A. Schimmel berjudul Dimensi Mistik dalam Islam menunjukkan usahanya untuk memahami dan membagikan pengetahuan di bidang teori sastra dan kajian sastra klasik. 

Dalam Energi Cinta pada Naskah Kuno (Tempo, 18 November 2019) menyebutkan bahwa saat usia Achadiati Ikram menjelang 89 tahun, ia tak membatasi gerak dan pemikirannya untuk terus menggali dan menularkan ilmunya, yakni filologi, yang mempelajari sumber-sumber primer sejarah melalui naskah atau manuskrip kuno. Achadiati Ikram merupakan filolog paling senior dan masih aktif mengajar di Universitas Indonesia, Depok.

Sebagai salah satu perintis filologi di Indonesia, Achadiati Ikram pernah menerima tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo di Jakarta, 2016. Atas pengabdiannya itu pula, Achadiati Ikram mendapat anugerah Sang Hyang Kamahayanikan Award dari Borobudur Writers and Culture Festival (BWCF) di Yogyakarta, 2019.

Perempuan kelahiran  Tuban pada 30 November 1930 ini menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meraih gelar doktor dari universitas yang sama, serta dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Jakarta, 1985. Ia belajar dari Prof. Dr. A. Teeuw, seorang pakar sastra Indonesia dari Universitas Leiden, Belanda.

Kepergian Prof. Dr. Achadiati Ikram meninggalkan jejak yang mendalam di dunia akademik, khususnya dalam kajian filologi dan sastra di Nusantara. Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan dan kecintaannya pada naskah-naskah kuno telah membuka jalan bagi generasi penerus untuk terus menggali kekayaan budaya bangsa. Semoga warisan ilmiah dan semangatnya dalam memajukan pendidikan selalu menginspirasi kita semua. Selamat jalan, Sang Guru. Cahaya purnama Muharam akan selalu menjadi saksi bisu atas pengabdianmu yang tak pernah padam. (Ngariksa-Min)

*Selengkapnya tentang Bu Achadiati, silakan ikuti Ngariksa edisi ke-122 “In Memoriam: Ibu Achadiati dan Sanad Ilmu Filologihttps://youtu.be/F8wrgjIMcP8?si=NtrMiUKmibGitEIm.