NGARIKSA – Langit pagi di kawasan Kota Santri itu tampak bersinar tanpa awan mendung. Dalam kehangatan suasana, kami berkumpul, penuh harap dan semangat, untuk menyaksikan “pusaka yang tertidur” berupa manuskrip berusia puluhan dan ratusan tahun dalam lemari. Peluncuran Galeri Manuskrip Sampurnan di Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah, Gresik, menjadi momentum yang ditunggu-tunggu. Acara ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan panjang pelestarian ilmu pengetahuan, sebuah upaya besar untuk menyelamatkan jejak-jejak berharga dari masa lalu.
Sambutan pembukaan menggema di ruangan itu. Para hadirin menyatukan tekad saling mengamini di antaranya Ketua Yayasan Pesantren Qomaruddin, Ir. Kiai Abdul Qadir; Kepala Ma’had Jamiah UQ, Kiai Mudhofar Usman; Rektor Univ. Qomaruddin, Prof. H. Aswadi. Kiai Qadir mengenang kembali saat-saat pertama koleksi manuskrip tua di pesantren mulai ditemukan dan dikenali nilainya. Bertahun-tahun manuskrip itu hanya tersimpan di lemari-lemari, menjadi saksi bisu zaman yang terus berlalu. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik lembaran-lembaran itu tersembunyi warisan intelektual yang tak ternilai. Ketika akhirnya Agus Iswanto, pegiat manuskrip, dan para santri senior pesantren turun tangan mereka langsung bersemangat. Temuan ini seperti membuka pintu ke harta karun yang selama ini tersembunyi, sebagaimana terekam dalam film dokumenter Dreamsea pada 9-17 April 2021.
Pagi menjelang siang itu, Sabtu, 30 November 2024, acara peluncuran galeri menjadi momentum simbolis untuk mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Prof. H. Aswadi memberikan pandangannya tentang pentingnya menyinkronkan khazanah ilmu ini dengan kebutuhan masyarakat modern. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa manuskrip bukan sekadar artefak kuno. Ia adalah penghubung keilmuan yang terus hidup, menawarkan panduan, pelajaran, bahkan solusi untuk zaman ini. Menurutnya, setiap teks dalam manuskrip mengandung warisan hikmah yang harus diterjemahkan ke dalam konteks kekinian agar tetap relevan.

Prof. H. Aswadi mengibaratkan manuskrip ini sebagai “burung ilmu” yang membawa pesan dari masa lalu ke masa depan. “Bayangkan,” katanya, “apa yang akan terjadi jika pesan-pesan ini hilang begitu saja karena kita gagal melestarikannya? Padahal, dari manuskrip inilah kita bisa membaca jejak peradaban yang mendalam, mulai dari fikih, akidah, hingga tafsir dan waris.”
Meski demikian, kita paham bahwa menjaga manuskrip tidak semudah menyimpannya di lemari kaca. Kang Oman menjelaskan tantangan yang harus dihadapi dalam pelestarian manuskrip. Ia berbicara tentang dua hal yang harus dilakukan: pelestarian fisik dan pelestarian teks.
“Pelestarian fisik mencakup konservasi dan restorasi. Konservasi bertujuan memperpanjang usia manuskrip dengan memastikan penyimpanan yang tepat. Sebagian besar manuskrip ini dibuat dari bahan-bahan alami yang rentan terhadap kerusakan. Restorasi, di sisi lain, bertujuan memulihkan manuskrip yang sudah rusak parah agar kembali ke bentuk semula,” ungkapnya.
Kang Oman memberi masukan tentang pentingnya kolaborasi dengan lembaga-lembaga besar seperti Perpustakaan Nasional untuk membantu restorasi manuskrip. Ia bahkan menawarkan untuk menghubungkan koleksi manuskrip Qomaruddin dengan program-program yang mendukung pengangkatan koleksi lokal ke tingkat nasional, bahkan internasional. Ia menyebutkan bahwa beberapa manuskrip mungkin memenuhi syarat untuk diusulkan sebagai ikon budaya nasional atau ingatan kolektif dunia di bawah naungan UNESCO. Sebuah peluang besar untuk mengangkat nama pesantren dan Indonesia di mata dunia.

Kang Oman saat menerawang watermark kertas eropa pada salah satu manuskrip yang ada.
Pelestarian fisik hanyalah setengah dari perjuangan. Pelestarian teks adalah langkah berikutnya yang tak kalah penting. Teks-teks kuno ini perlu didigitalisasi, dikatalogkan, dan dijadikan objek penelitian yang lebih mendalam. Digitalisasi memungkinkan teks-teks ini tersedia secara luas tanpa risiko kerusakan fisik. Katalogisasi, yang menyusun deskripsi lengkap tentang isi dan asal-usul setiap manuskrip, menjadi panduan utama bagi para peneliti. Langkah ini, menurut Kang Oman, akan membuka pintu bagi skripsi, tesis, dan disertasi yang menjadikan manuskrip Qomaruddin sebagai bahan kajian utama. Kang Oman menyampaikan pandangannya tentang pentingnya manuskrip ini dalam konteks sejarah intelektual Islam di Nusantara.
Ia juga menyoroti pentingnya publikasi. Manuskrip yang telah dikaji harus diterbitkan, baik dalam bentuk jurnal ilmiah maupun media populer. Kang Oman menyarankan agar artikel-artikel ilmiah berbasis manuskrip Qomaruddin dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional, memperkenalkan kekayaan intelektual Indonesia kepada dunia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan populer melalui media sosial dan publikasi ringan tidak kalah penting. Pendekatan ini membuat manuskrip menjadi lebih dikenal oleh masyarakat umum.
Pondok Pesantren Qomaruddin kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga skriptorium, tempat manuskrip-manuskrip penting ditulis, disalin, dan dilestarikan. Istilah skriptorium yang digunakan oleh Kang Oman menegaskan betapa pentingnya tempat ini dalam sejarah Islam di Indonesia. Ia membandingkan Qomaruddin dengan pusat-pusat manuskrip Islam lainnya di Nusantara, seperti Aceh dan Sulawesi. Bedanya, Qomaruddin kini memiliki peluang untuk menjadi pusat kajian yang lebih besar, asalkan langkah-langkah pelestarian ini dilakukan dengan konsisten. Sebanyak 79 naskah kuno koleksi PP Qomaruddin yang telah dilakukan digitalisasi oleh Dreamsea bisa dinikmati melalui tautan ini.

Pagi itu, optimisme memenuhi ruangan. Setiap sambutan, setiap gagasan, membawa harapan baru bagi masa depan manuskrip Qomaruddin. Tidak ada yang meragukan bahwa jalan di depan masih panjang dan penuh tantangan. Semangat kolaborasi dan tekad yang terpancar dari wajah-wajah di ruangan itu adalah bukti bahwa cita-cita ini tidak mustahil untuk dicapai. Di akhir acara, doa dipanjatkan, menutup pertemuan dengan harapan agar langkah-langkah ini diberkahi dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Kami tim rihlah budaya Ngariksa amat bersyukur bisa menyaksikan ini. Di beberapa tempat penyimpanan manuskrip yang tidak terawat hanya ada rasa kekhawatiran yang lahir. Sementara jika ada sebuah lembaga yang menyimpan manuskrip lalu ada anak-anak muda yang bergerak dan berinisiatif secara pribadi lalu kelompok maka secercah cahaya tampak bersinar terang. Kelak, dari situlah tumbuh peradaban yang amat berguna.
Dalam keheningan usai acara, lembaran-lembaran manuskrip yang kini tersimpan rapi seolah mengucapkan terima kasih. Setelah sekian lama terabaikan, mereka kini menemukan tempatnya kembali dalam denyut kehidupan. Mereka bukan lagi sekadar pusaka yang tertidur, tetapi pustaka yang hidup siap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dan Pondok Pesantren Qomaruddin, dengan segala potensinya, akan berdiri sebagai penjaga warisan ini. Bukan hanya untuk pesantren, tetapi untuk dunia. (Ngariksa-Min)


