Mengenang Bu Titik, Pejuang Naskah Nusantara

“Mari kita doakan, semoga amal kebaikan beliau diterima di sisi Allah,” ucap Kang Oman dengan suara bergetar, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan.

Episode ke-129 Ngariksa terasa berbeda. Tidak ada pembacaan manuskrip kuno seperti biasanya. Malam itu, suasana sarat dengan rasa kehilangan. Kang Oman kali ini tampak larut dalam duka. Hampir tak sanggup dirinya mengenang sosok yang tidak hanya menjadi senior, tapi juga sahabat dan inspirasi besar dalam dunia pernaskahan Nusantara, Prof. Titik Pudjiastuti, M.Hum.

Almarhumah, yang wafat pada 21 Oktober 2024, meninggalkan warisan ilmu yang begitu mendalam. Sebagai penghormatan, acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, mengalirkan doa-doa tulus dari hadirin yang hadir, seolah setiap lafaznya mengirimkan pelukan kasih kepada beliau di alam keabadian. Suasana semakin syahdu. Air mata beberapa peserta terlihat jatuh, mengalir dalam keheningan yang hanya dipecah oleh lantunan doa.

Bu Titik dikenal luas sebagai pengajar dan peneliti manuskrip di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, serta sebagai mentor yang dekat dengan murid-muridnya. Kecintaannya pada dunia naskah dan hubungan erat yang dijalin dengan kolega serta komunitas filologi Nusantara membuat sosok beliau begitu dirindukan. 

“Secara pribadi, saya merasa beliau masih hadir di sini. Rasanya sulit untuk menyebut beliau sebagai almarhumah karena kehadirannya begitu kuat,” tambah Kang Oman, menyampaikan kesan pribadinya.

Dalam kesempatan ini, Kang Oman mengungkapkan bahwa dunia pernaskahan Nusantara tengah berduka dalam waktu yang singkat. Sebelumnya, pada 21 Juli 2024, Prof. Ahadiati Ikram juga wafat. Kehilangan Ibu Ahadti menandai berakhirnya generasi kedua filolog Indonesia yang mewarisi semangat dari generasi awal seperti Mpu Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka dan Prof. Dr. Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat. Kini, dengan kepergian Prof. Titik, dunia pernaskahan kehilangan dua tokoh utama dalam rentang waktu kurang dari seratus hari.

Bu Titik bersama koleganya membahas naskah, penelitian, dan karya terbarunya.

 

Kepergian Prof. Titik terasa lebih mengharukan karena beliau sempat mempersiapkan acara doa untuk mengenang Ibu Ahadiati. “Sungguh, beliau sangat dekat dengan murid dan kolega. Bagi saya, Ngariksa kali ini bukan sekadar mengenang, melainkan seolah bercengkerama kembali dengan Mbak Titik,” ungkap Kang Oman dengan nada penuh haru.

Kang Oman mengenang perkenalannya dengan almarhumah sejak tahun 1996, ketika ia pertama kali belajar filologi dan kodikologi. “Beliau yang mengenalkan saya pada cara meneropong naskah, bagaimana membedakan kertas Eropa dari garis-garis halus di belakangnya,” tutur Kang Oman. 

Sebagai dosen, Prof. Titik memiliki kepakaran khusus dalam kodikologi, sebuah bidang yang lebih terfokus pada aspek fisik naskah dibanding teks itu sendiri. Beliau kerap menjelaskan detail tentang naskah-naskah Nusantara, seperti cara mengenali jenis kertas yang digunakan, dari kertas Eropa hingga alas naskah yang dibuat dari bahan lokal. Dalam ceramah dan kontennya di berbagai seminar dan platform, beliau membagikan wawasan kodikologi yang menginspirasi generasi baru pengkaji naskah Nusantara.

Perjuangan Prof. Titik tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap aktif di lapangan. Hanya beberapa hari sebelum wafat, Prof. Titik masih melakukan riset di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, bersama tim dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Penelitian di Museum Galunggung tersebut menunjukkan dedikasinya yang luar biasa. 

“Beliau bahkan tidak hanya mengajak ahli naskah, tetapi juga kolega yang mungkin baru mengenal pernaskahan, untuk ikut merasakan makna dari penelitian naskah langsung di lapangan,” kata Kang Oman. 

Perjalanan riset tersebut menguras energi beliau. Selama penelitian, beliau sempat mengalami kelelahan dan jatuh pingsan, sehingga harus mendapatkan perawatan di UGD Tasikmalaya. Meski disarankan untuk dirawat lebih lanjut, Prof. Titik memilih untuk pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta, beliau didampingi oleh timnya. 

“Saya masih ingat foto-fotonya, terlihat hanya kelelahan saja. Rasanya, kita semua berharap beliau segera pulih,” kenang Kang Oman. Namun, takdir berkata lain. Hanya sehari setelah kembali ke Jakarta, beliau mengembuskan napas terakhirnya.

Kata penutup Ngariksa oleh Kang Oman.

 

Kang Oman dan Sobat Ngariksa menyebut Prof. Titik sebagai “pejuang ilmu fisabilillah” karena kecintaannya yang tulus pada bidang pernaskahan. 

Kejadian ini semakin memilukan karena di malam yang sama ketika doa bersama untuk Ibu Titik dibacakan, kabar duka kembali menyelimuti. Dr. Tantri Widyanarti, seorang aktivis pernaskahan Nusantara, juga berpulang. “Saat kita hendak memulai doa untuk Mbak Titik, berita datang bahwa sahabat kita, Mbak Tantri, istri dari Kang Mumu Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, juga telah wafat,” kata Kang Oman mengajak seluruh hadirin untuk turut mendoakan. 

Acara malam itu ditutup dengan harapan agar kenangan dan inspirasi dari Bu Titik, Ibu Ahadiati, dan Bu Tantri terus hidup di hati para murid, kolega, dan pecinta manuskrip Nusantara. Kang Oman mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir, baik dari komunitas Universitas Indonesia, Manasa, maupun masyarakat pernaskahan Nusantara. (Ngariksa-Min)