Bukan Ramadan Biasa

Ramadan selalu menjadi bulan istimewa bagi umat muslim. Ia tak sekadar momen berpuasa dari fajar hingga senja, tapi juga waktu yang dipenuhi berbagai amalan, tradisi, dan refleksi spiritual. Ramadan 1446 atau 2025 kali ini berasa tidak biasa lantaran kehadiran program Muslimpedia, hasil kolaborasi antara Ngariksa, SCTV, dan Moji TV.

NGARIKSA – Di program Muslimpedia, Kang Oman tampil membawakan kajian manuskrip secara populer. Ia mengangkat tema Ramadan dalam manuskrip klasik Nusantara, menghadirkan kembali khazanah keislaman yang telah lama tersimpan dalam naskah-naskah tua berbahasa Sunda, Jawa, Arab, dan lainnya.

Dipandu oleh presenter kenamaan, Dana Paramita dan Risca Andalina, Kang Oman membacakan dan mengulas warisan literasi Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Ia membuka lembar-lembar masa silam, memperlihatkan bahwa ulama terdahulu tidak hanya mendalami agama, tapi juga merekamnya dalam bentuk tulisan yang kini menjadi jendela sejarah. Kajian ini bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga relevansi, bagaimana tradisi dan pemahaman masa lalu bisa menjadi cermin bagi praktik keislaman hari ini.

Lokasi syuting dipilih di dua tempat: kediaman Kang Oman di lantai dua yang biasa difungsikan sebagai studio Ngariksa, serta area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Untuk kostum, Kang Oman tampil dengan khas muslim dengan busana koko dan peci, mencerminkan nuansa religius yang hangat dan akrab. Berbeda saat tampil dalam dua Jumat sekalu dengan nuansa budaya Sunda yakni menggunakan totopong (ikat kepala). Namun tetap, Kang Oman memilih baju batik dan sarung untuk atasan dan bawahannya.

Dalam episode perdana, Kang Oman membahas “Isbat Tanpa Sidang?”, sebuah tema yang menyoal bagaimana ulama Nusantara masa lampau menentukan awal Ramadan jauh sebelum ada sidang isbat resmi dari pemerintah. Ia menunjukkan metode yang mereka gunakan dan bukti tertulisnya dalam manuskrip-manuskrip tua. Penonton diajak melihat bagaimana kecerdasan lokal menjadi bagian dari dinamika keislaman di masa lalu.

Kang Oman saat syuting di area halaman kampus Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta.

Kemudian ada episode yang cukup memancing rasa ingin tahu,  “Imsak Cuma Ada di Indonesia?”. Ternyata, istilah imsak sebagai waktu sebelum subuh memang khas Indonesia. Meski secara bahasa imsak berarti “menahan”, penggunaan istilah ini sebagai waktu batas persiapan puasa memiliki akar tradisi tersendiri. Ajengan Ahmad Sanusi dari Pesantren Cantayan, Sukabumi, pernah menjelaskan secara rinci tentang imsak dalam karya tulisnya dari awal abad ke-20. Penjelasan beliau menjadi bukti bahwa tradisi ini memiliki dasar, bukan sekadar kebiasaan tanpa pijakan.

Pembahasan lainnya yang tak kalah menarik berjudul “Bila Tiada Kurma, Buka Puasa Pakai Apa?”. Dalam salah satu manuskrip, Ajengan Ahmad Sanusi mencatat alternatif berbuka puasa jika kurma tidak tersedia. Nabi Muhammad SAW memang menganjurkan kurma, tapi tradisi lokal memberi kelonggaran dengan menyebutkan pilihan lain seperti pisang, madu, dan susu. Lagi-lagi, pendekatan ini menunjukkan betapa ulama Nusantara mampu memadukan tuntunan agama dengan realitas kehidupan masyarakatnya.

Lalu, siapa sangka bahwa praktik salat tarawih dengan gerakan super cepat yang sering ditemui di beberapa masjid di Indonesia juga telah dibahas sejak dulu? Dalam manuskrip litograf Hilyah As-Siyam fi Bayani Ahkam Ramadan, Kang Oman menunjukkan bahwa diskusi soal kecepatan dan kualitas salat tarawih sudah lama ada. Episode “Salat Tarawih, Pilih Cepat atau Nikmat?” mengajak penonton untuk merefleksikan kembali esensi ibadah itu sendiri: bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam episode “Sudah Tepatkah Arah Kiblat Kita?”, Kang Oman mengangkat topik yang tampak teknis namun penting: arah kiblat. Menariknya, ulama Nusantara sejak abad ke-18 seperti Syekh Arsyad Al-Banjari sudah mempersoalkan ketepatan arah kiblat masjid-masjid di Indonesia. Ia bahkan menulis karya khusus untuk meluruskan kiblat masjid di Betawi. Perhatian serupa juga muncul dalam karya Sayid Utsman bin Yahya, K.H. Bisri Mustofa, dan banyak ulama lainnya, menunjukkan bahwa orientasi ibadah dalam Islam memang harus sejalan secara lahir dan batin.

Tradisi khas Ramadan di Indonesia juga dibahas secara rinci, seperti dalam episode “Tradisi Menabuh Beduk, Apa Hukum dan Bagaimana Adabnya?”. Beduk, yang tidak ditemukan di Arab, ternyata menjadi bagian penting dalam kehidupan Islam di Nusantara. Kang Oman mengulas peran beduk berdasarkan tulisan Sayid Utsman dari Betawi dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, termasuk soal hukum dan adab penggunaannya.

Tayangan Program Muslimpedia di SCTV Liputan 6.  

Kemudian ada “Buka Puasa Bersama: Untuk Apa?”, yang mencoba mengulas tradisi bukber. Ternyata, buka puasa bersama bukan tradisi baru, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan muslim Indonesia sejak lama. Dalam manuskrip karya K.H. Sholeh Tsani dari Gresik, disebutkan bahwa berbuka bersama adalah jalan untuk mempererat persaudaraan, menyantuni yang membutuhkan, dan memperkuat semangat berbagi. Tradisi ini hidup bukan hanya karena kebersamaan, tapi karena nilai-nilai spiritual yang melekat padanya.

Di penghujung Ramadan, program ini menutup dengan sebuah tema yang sangat khas Indonesia: “Asal Muasal Halalbihalal”. Kang Oman membongkar sejarah halalbihalal dari manuskrip beraksara Jawa tahun 1794 hingga iklan ucapan Halalbihalal di majalah Suara Muhammadiyah tahun 1926. Tradisi ini kemudian diperkuat oleh inisiatif K.H. Wahab Chasbullah dan Bung Karno pada 1948 sebagai bentuk silaturahmi pasca-Ramadan dan upaya menyatukan bangsa. Dari sana kita tahu, halalbihalal bukan sekadar temu kangen, melainkan strategi sosial-religius yang lahir dari kebijaksanaan ulama.

Melalui Muslimpedia, Ramadan 1446 H terasa lebih kaya dan bermakna. Kang Oman tidak sekadar menyampaikan isi naskah-naskah kuno, tetapi juga menghidupkan kembali semangat dan pemikiran para ulama Nusantara bernuansa tradisi di bulan puasa. Program ini membuktikan bahwa manuskrip klasik tak hanya layak dibaca, tapi juga relevan untuk dijadikan panduan hidup di masa kini.

Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang mengenal diri, sejarah, dan warisan yang telah membentuk cara kita menjalani kehidupan beragama. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan-Ramadan tahun depan dengan segala kejutannya. Amin. Saksikan terus tayangan-tayangan dari Ngariksa. Selamat Lebaran 1 Syawal 1446 H, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. (Ngariksa-Min)

Saat Media Turbulensi, Bagaimana Nasib Manuskrip?

Bagaimana cara manuskrip kembali membumi di tengah turbulensi industri media? Mampukah ia bertahan di era digital yang serba instan? Pertanyaan ini menjadi inti diskusi Kang Oman, Pengampu Ngariksa, dengan Kang Awan atau Mauluddin Anwar, jurnalis senior yang telah malang melintang di Majalah Gatra, Metro TV, dan Liputan 6 SCTV. Dengan latar belakang jurnalistiknya, Kang Awan menyoroti pentingnya konten edukatif berbasis manuskrip dalam lanskap media modern. 

NGARIKSA – Suasana di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi, begitu tenang dan asri. Di tengah suasana sore yang sejuk, Kang Oman dan Kang Awan duduk berbincang di kantin pesantren. Deru ombak aliran sungai menyertai obrolan keduanya. Suasana seperti ini tidak bisa dijumpai di Ibo Kota yang megah. 

Bagi Kang Awan, Ngariksa memiliki nilai berita (news value) yang tinggi karena banyak membahas hal-hal yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga masih relevan dengan kehidupan modern.

“Saya sering nonton Ngariksa dan selalu menemukan hal-hal baru. Saya pikir, kok ada ya yang membahas ini? Padahal, saya kira tidak ada ulama zaman dulu yang membahas persoalan seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana persoalan yang kita hadapi sekarang ternyata sudah pernah terjadi di masa lalu dan dibahas dalam manuskrip oleh para ulama. “Sekarang kan konten di media sosial ada yang terlalu ringan, sekadar hiburan. Itu sah-sah saja. Tapi kalau hanya itu, sayang. Kita butuh konten yang edukatif dan inspiratif, seperti Ngariksa ini.”

Kang Awan atau Mauluddin Anwar saat diwawancara di Pesantren LEMKA, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi.

 

Konten bagi Generasi Milenial dan Gen Z 

Di antara obrolan tercuat sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar anak muda tertarik dengan manuskrip? Kang Awan punya pandangan menarik. “Anak muda sekarang inginnya serba cepat dan praktis. Kalau bisa mudah, kenapa harus ribet? Jadi, kalau kita ingin manuskrip ini tetap relevan, kita harus bisa membawakannya dalam format yang lebih dekat dengan mereka,” jelasnya.

Kang Oman setuju. “Makanya, di Ngariksa, kami sering mencoba menghubungkan manuskrip dengan isu-isu kekinian. Misalnya, ketika terjadi likuefaksi di Palu, kami mencari manuskrip yang membahas tafsir gempa. Atau ketika memasuki Ramadan, kami bisa melihat bagaimana ulama zaman dulu membahas hukum puasa dalam manuskrip mereka,” jelasnya.

Kang Awan menambahkan bahwa pendekatan seperti ini sangat efektif. “Dulu, saat saya mengelola program Ramadan di Liputan 6, pertanyaan yang paling sering diajukan oleh anak muda itu seputar hal-hal praktis, misalnya, apakah pacaran saat puasa membatalkan pahala? Atau bagaimana hukum suami istri berhubungan setelah berbuka? Bayangkan kalau kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan referensi dari manuskrip kuno! Pasti lebih menarik,” ujarnya bersemangat.

Namun, ia juga mengakui bahwa hingga saat ini, upaya membumikan manuskrip masih kurang maksimal. “Kalau boleh jujur, manuskrip ini masih berada di menara gading. Ilmunya luar biasa kaya, tapi aksesnya masih terbatas. Para pegiat manuskrip harus lebih aktif dalam mengelola pengetahuan ini agar bisa dikonsumsi lebih luas,” katanya.

Kang Oman tak tersinggung, justru ia menganggap ini sebagai tantangan. “Memang benar, perlu ada upaya lebih besar untuk mengarusutamakan manuskrip. Perpustakaan Nasional sekarang punya program mengarusutamakan manuskrip Nusantara, tapi ini harus didukung banyak pihak, termasuk media,” ujarnya.

Mereka pun membahas bagaimana pemerintah juga harus ikut berperan. “Kalau kita bicara tentang identitas Indonesia, banyak jawabannya ada di manuskrip. Jadi, pemerintah harusnya melihat ini sebagai investasi budaya, bukan sekadar proyek pelestarian,” ujar Kang Oman.

 

Upaya Membumikan Manuskrip

Kang Oman menambahkan bahwa membumikan manuskrip bukan sekadar merawat sejarah, tetapi juga membuka wawasan. Dengan memahami pemikiran para ulama terdahulu, kita bisa melihat persoalan masa kini dengan perspektif yang lebih lebar dan mendetail.

Dalam diskusi, Kang Awan juga membahas bagaimana media mengalami evolusi besar dari cetak ke digital, dari TV ke platform online. Perubahan ini, menurutnya, tak bisa dihindari, tetapi harus disikapi dengan bijak. “Dunia media seperti mengalami turbulensi. Dulu cetak ke TV, lalu TV ke digital. Sekarang media sosial mengambil alih banyak aspek. Ini realitas yang tak bisa kita hindari.”

Hal yang sama juga terjadi dalam dunia manuskrip dan literasi Islam. Jika dulu manuskrip hanya bisa diakses oleh akademisi tertentu, kini dengan adanya digitalisasi dan media sosial, ilmu dalam manuskrip bisa lebih luas dikenal.

Kang Awan menggarisbawahi bahwa konten seperti Ngariksa seharusnya difasilitasi oleh pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Komunikasi & Digital.

“Pak Presiden dan para Menteri, channel ini perlu diperhatikan! Jangan hanya makan siang gratis yang diutamakan. Konten edukatif berbasis manuskrip juga penting!” selorohnya.

 

Menyelamatkan Peradaban

Salah satu momen berharga dalam diskusi ini adalah ketika Kang Oman mengingat kembali pengalamannya menyelamatkan manuskrip pasca-tsunami Aceh pada 2005. Saat itu, banyak orang mempertanyakan keputusannya untuk mencari dan menyelamatkan manuskrip di tengah bencana besar.

“Oman ini orang turun ke Aceh, bukannya menyelamatkan nyawa malah mencari-cari manuskrip,” katanya menirukan komentar orang-orang saat itu.

Namun, di tengah cibiran tersebut, Kang Awan justru mengapresiasi langkah Kang Oman dan mengundangnya ke Metro TV untuk berbagi cerita tentang pentingnya penyelamatan manuskrip.

“Menyelamatkan nyawa manusia jelas penting, tapi menyelamatkan masa lalu juga tak kalah penting demi masa depan. Kalau kita kehilangan manuskrip yang berusia ratusan tahun, itu bencana bagi peradaban.”

 

Teknologi AI dan Masa Depan Manuskrip

Obrolan antara Kang Oman dan Kang Awan membuktikan bahwa manuskrip dan media adalah dua dunia yang saling melengkapi. Media memiliki kekuatan untuk menyebarluaskan warisan intelektual Islam, sementara manuskrip memberikan kedalaman dan perspektif sejarah terhadap berbagai isu kontemporer.

Membaca manuskrip bukan sekadar menggali masa lalu, tetapi juga menemukan jawaban untuk masa kini dan masa depan. Seperti kata Kang Oman, “Jangan sampai warisan intelektual kita hanya berdebu di rak-rak perpustakaan. Manuskrip harus hidup, dibaca, dipahami, dan dijadikan inspirasi.”

Kang Oman menambahi bahwa  soal teknologi, sekarang sudah ada OCR (optical character recognition), yang bisa membaca teks dari gambar, termasuk aksara Jawa dan Arab.  Kang Awan pun menimpali bahwa AI juga sudah banyak digunakan di media. Misalnya, di TV One sudah ada 13 presenter berbasis AI dengan berbagai karakter, mulai dari wajah Sunda, Jawa, hingga Arab. AI juga dipakai untuk menganalisis berita, termasuk deteksi hoaks.

Tantangan yang muncul ialah dunia pernaskahan harus beradaptasi dengan teknologi ini. Kita tidak bisa menolak perubahan, karena satu-satunya yang kekal di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Jadi, bagaimana jika kita memanfaatkan AI untuk membaca dan menerjemahkan manuskrip lama? Atau mungkin membuat digital storytelling dari isi manuskrip agar lebih menarik bagi generasi muda?

Sebelum penghujung obrolan, Kang Awan menyampaikan pesan untuk teman-teman di dunia pernaskahan: never give up. “Meskipun belum banyak media yang melihat ini sebagai isu penting, saya yakin suatu saat ini akan masuk dalam arus utama. Bahkan, bisa menjadi Proyek Strategis Nasional jika pemerintah serius menanganinya,” tekannya.

Agar lebih menarik bagi generasi muda, kita perlu membumikan isu ini. Jangan hanya membahasnya di menara gading akademik, tapi juga dalam format yang lebih kekinian: podcast, video pendek, media sosial, dan lain-lain.

Bagi Sobat Ngariksa yang penasaran dengan obrolan lengkapnya, yuk simak di episode Ngariksa 138 dan rasakan sendiri bagaimana media dan manuskrip bisa bersinergi. (Ngariksa-Min)

Mengasah Keterampilan Produksi Konten Visual

Aktif di media sosial bukan sekadar menghasilkan konten menarik dan menggaet banyak pengikut, tetapi juga memahami teknik produksi visual, strategi membangun audiens yang loyal, serta pentingnya kreativitas dalam menyampaikan gagasan. Ngariksa menekankan perlunya mengintegrasikan kekayaan warisan budaya, seperti manuskrip kuno, ke dalam media modern agar dapat menjangkau publik lebih luas secara efektif dan berkelanjutan.

NGARIKSA – Pada Rabu, 22 Januari 2025, lantai tiga Ruang Seminar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta diramaikan dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya. PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, dan Ngariksa menggagas Workshop Produksi Konten Visual dengan menggandeng tim ahli dari SCTV untuk membekali para peserta dengan kemampuan produksi konten visual berkualitas.

Tiga narasumber hadir untuk berbagi ilmu dan pengalamannya; Mauludin Anwar (Jurnalis Senior SCTV), Iwan Setiawan (Video Editor SCTV), dan Raditiyo Wicaksono (News Producer SCTV). Sebanyak 23 peserta hadir mengikuti workshop ini ingin meningkatkan kapasitas dan mengasah keterampilan dalam memproduksi dokumentasi video semi-profesional. 

Seperti dirasakan bahwa media sosial berkembang dengan sangat pesat, bahkan mengungguli media konvensional dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Perubahan ini menuntut para akademisi, peneliti, dan pelaku budaya untuk beradaptasi dalam menyampaikan hasil riset, kajian, serta digitalisasi naskah agar dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas.

“Namun, di sisi lain, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan agar konten hasil riset, kajian, dan digitalisasi naskah dapat dinikmati oleh khalayak umum,” ujar Hadi Rahman, sebagai MC, saat membuka diskusi. Ia menegaskan bahwa tanpa strategi yang tepat, kekayaan intelektual dan warisan budaya yang berharga berisiko tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital.

Workshop ini dibuka oleh Didin Syafruddin, Direktur Eksekutif PPIM, yang memaparkan pentingnya produksi konten visual untuk menjembatani berbagai hasil penelitian PPIM agar lebih relevan dan mudah diakses masyarakat luas. “Kami memiliki kekayaan data yang sangat bernilai, seperti buku Green Islam dan hasil riset tentang intoleransi, tetapi kami butuh cara efektif untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang dekat dengan publik,” ujar beliau.

Di sisi lain, Kang Oman, Pengampu Ngariksa, menyoroti pentingnya merawat warisan budaya tertulis seperti manuskrip. Ia menekankan perlunya strategi modern dalam memadukan kekayaan intelektual masa lalu dengan format komunikasi kekinian. “Kami punya banyak sumber daya yang sulit ditemukan di tempat lain, tapi bagaimana caranya agar masyarakat merasa memiliki dan ingin merawatnya?” kata Kang Oman dengan antusias.

Suasana diskusi pagi yang menyenangkan hati. Dari kiri ke kanan; Didin Syafruddin, Mauludin Anwar, Raditiyo Wicaksono, dan Kang Oman. (Foto: Ramzy)

Para narasumber dari SCTV membawa perspektif segar tentang dunia media digital. Mauludin Anwar, misalnya, berbagi tips tentang pentingnya membangun loyalitas audiens melalui konten yang konsisten dan menarik. “Konsistensi adalah kunci. Video yang menarik di 30 detik pertama dapat menjadi penentu audiens bertahan atau meninggalkan konten Anda,” ungkap sosok yang akrab disapa Kang Awan itu.

Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan membagikan berbagai kiat teknis dalam produksi konten visual, mulai dari cara mengoptimalkan penggunaan kamera, pentingnya kualitas audio yang baik, hingga strategi editing untuk menciptakan video yang menarik dan engaging. Tidak hanya sebatas teori, peserta juga diajak langsung mempraktikkan proses pembuatan video singkat, dari tahap pengambilan gambar hingga editing akhir. Dengan pengalaman mereka di dunia penyiaran dan media digital, keduanya aktif dalam Berisik Project, sebuah inisiatif literasi media yang berfokus pada edukasi dan pemberdayaan komunitas dalam memahami serta memanfaatkan media secara lebih kritis dan kreatif.

Workshop ini tidak hanya tentang teknis produksi video. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momen refleksi tentang bagaimana institusi seperti PPIM dapat memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan penting mereka. Kang Awan memberikan contoh sederhana, “Video singkat di platform seperti Instagram Reels atau YouTube Shorts bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil riset, data-data, angka-angka yang menarik kepada generasi muda.”

Raditiyo juga membandingkan manuskrip kuno dengan perburuan artefak Indiana Jones. “Ceruknya memang kecil, tapi naskah-naskah ini adalah harta karun sejarah,” ujarnya. Ia mengingatkan pentingnya menyesuaikan penyampaian dengan audiens masa kini. Bagi Raditiyo, kunci keberhasilan konten terletak pada narasi yang provokatif tetapi jujur, judul seperti “Wow, Ada Telur Cicak di Naskah!” bisa memancing rasa penasaran, tetapi harus dibarengi dengan isi yang relevan dan bermakna.

Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual. Kamera tidak hanya harus menangkap gambar secara teknis baik, tetapi juga perlu mencerminkan emosi dan suasana. “Jemari Kang Oman memegang naskah tua, debu yang beterbangan, atau momen spontan tawa lepas dan meneteskan air mata haru harus disorot dengan cermat,” tegasnya. Ia juga menyarankan elemen tambahan seperti call to action yang mengundang penonton untuk terus terlibat, dari klik video hingga mengikuti sesi tanya jawab.

Hingga sore, workshop tetap seru dan menambah wawasan baru. Dari kiri ke kanan, Raditiyo Wicaksono dan Iwan Setiawan. (Foto: Ramzy)

Iwan memperkaya diskusi dengan teknik teknis. Dari memanfaatkan stabilizer sederhana hingga mempraktikkan rules of thirds, ia menekankan bahwa detail adalah segalanya. “Suara gesekan kertas manuskrip atau debu yang beterbangan bisa memberikan kekuatan emosional pada video,” katanya. Menurut Iwan, suara, framing, dan pencahayaan harus bersinergi untuk menghasilkan konten yang tidak hanya indah, tetapi juga menggugah.

Di tengah tumpukan teori dan praktik, pesan yang muncul jelas: setiap momen adalah peluang untuk bercerita. Baik melalui kamera yang menangkap detail narasi, maupun melalui pendekatan visual yang membangun hubungan emosional, warisan budaya seperti manuskrip kuno dapat dihidupkan kembali. Sebagaimana Raditiyo mengatakan, “Ride the wave” ikuti arus tren, tetapi jangan pernah kehilangan identitas.

Workshop ini menjadi panggung penting untuk menjembatani dunia akademik yang cenderung serius dengan publik yang haus akan konten ringan tetapi bermakna. Dalam dunia di mana semua orang kini bisa menjadi jurnalis, tantangan terbesar adalah menjadikan cerita kita lebih relevan dan lebih hidup, tanpa mengorbankan esensi sejarah di dalamnya.

Di akhir sesi, muncul gagasan kolaborasi lebih luas, termasuk peliputan ke lapangan bersama Dreamsea dan harapan agar Perpustakaan Nasional RI dapat mendukung konservasi manuskrip melalui program digitalisasi yang lebih masif. “Jika kita dapat menjadikan manuskrip-manuskrip ini lebih dekat dengan publik, melalui visual yang menarik, tentu akan banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Kang Oman mengakhiri sesi diskusi.

Workshop ini membuktikan bahwa membangun jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan komunikasi modern adalah tantangan sekaligus peluang. Dengan kolaborasi yang tepat, seperti antara PPIM UIN Jakarta, Project REACT, Dreamsea, Ngariksa, dan SCTV, upaya ini bukan hanya memungkinkan, tetapi juga penuh dengan keterampilan dan potensi yang menginspirasi. (Ngariksa-Min)

Para peserta workshop tampak ceria dan bersemangat mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. (Foto: Irfan Farhani)