Sulawesi Selatan, tanah yang kaya akan sejarah dan budaya, menyimpan jejak peradaban yang berharga. Di tengah arus modernitas, ada usaha keras untuk menjaga tradisi dan merawat ingatan kolektif. Inilah yang kami alami dalam perjalanan Rihlah Budaya, sebuah ekspedisi kebudayaan yang menggali manuskrip-manuskrip kuno dan tradisi Islam di Sulawesi Selatan. Sebuah perjalanan yang bukan hanya menelusuri artefak masa lalu, tetapi juga merasakan denyut hidup yang tak pernah padam dalam hati masyarakat lokal.
Perjalanan dimulai dari Makassar, tempat tim Merial Institute, Ngariksa, dan Makassar Heritage Society berkumpul. Tujuan kami adalah menelusuri manuskrip-manuskrip Islam yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Parepare, Sengkang, dan Bone. Manuskrip-manuskrip ini menyimpan hikmah, pengetahuan, dan sejarah tentang perkembangan Islam di Sulawesi.

Di antara naskah yang kami temukan, salah satu yang menarik perhatian adalah salinan Qasidah Burdah, syair indah karangan Imam al-Busiri yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Salinan ini diduga ditulis oleh ulama besar Sulawesi Selatan, Syekh Zainal Abidin pada abad ke-19. Tak hanya itu, di hampir setiap halaman naskah tersebut, terdapat catatan variasi bacaan Al-Quran berdasarkan Qira’at Sab’ah, sebuah ilmu yang mempelajari berbagai cara membaca ayat-ayat suci.
Keberuntungan kami bertambah ketika dalam ekspedisi ini, salah seorang yang memahami Qira’at Sab’ah turut serta. Ia, dengan lantunan nada merdu, mengalunkan bacaan dari naskah tersebut, menghadirkan kembali keunikan cara baca yang mungkin telah lama terlupakan. Pada momen itu, kami merasa bahwa bukan kebetulan kami berada di sini. Semua telah diatur dengan sempurna, seolah naskah-naskah ini menunggu untuk ditemukan, dibaca, dan dihidupkan kembali.
Usai menelusuri manuskrip di berbagai daerah, perjalanan kami berlanjut ke Desa Cikoang, Takalar. Di sana, kami menyaksikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sebutan Maudu’ Lompoa. Perayaan ini merupakan salah satu tradisi terbesar di Sulawesi Selatan, di mana warga desa, tetua, pejabat, dan guru adat berkumpul untuk merayakan kelahiran Nabi. Tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ini jatuh pada Senin, 16 September 2024, dan sehari sebelum puncak acara, desa sudah dipenuhi dengan berbagai persiapan.
Rumah-rumah di sepanjang jalan dihiasi dengan hiasan arak-arakan yang penuh warna. Telur-telur yang dihias, pakaian, panci, selebaran uang, dan barang-barang lain ditata dalam rangkaian megah yang menjadi simbol kebahagiaan dan syukur. Kami merasa betapa besarnya kecintaan masyarakat Cikoang terhadap Nabi Muhammad SAW, yang terpancar dari cara mereka mempersiapkan dan merayakan Maulid.
Bagi mereka, perayaan ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah cara untuk merawat ingatan bersama, memelihara tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Masyarakat Cikoang percaya bahwa akar sejarah mereka terkait erat dengan ulama Hadramaut, Yaman, yang berhijrah ke Nusantara pada abad ke-17 untuk menyebarkan Islam. Salah satu keturunannya adalah Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, tokoh yang mempopulerkan tradisi Maulid di Sulawesi Selatan dan mengajarkan Tarekat Bahr al-Nur, sebuah ajaran yang menekankan cinta kepada Nabi Muhammad sebagai jalan menuju ridla Ilahi.
Di Cikoang, kebersamaan dan gotong royong bukan hanya sebuah nilai yang dipegang teguh, tetapi juga tampak nyata dalam persiapan Maulid. Pemuda-pemuda desa bekerja sama dengan orang tua mereka, menumbuk padi secara tradisional, tanpa mesin, sebagai bagian dari ritual. Semua persiapan dilakukan bersama-sama, dengan semangat kolaborasi yang menginspirasi.
Hal ini membawa refleksi bagi kami, terutama bagi generasi muda. Di tengah era digital dan individualisme yang semakin menguat, tradisi komunal seperti ini menjadi harta yang langka. Kebersamaan dalam mempersiapkan Maulid bukan hanya tentang upaya merayakan hari kelahiran Nabi, tetapi juga tentang menjaga rasa keterikatan sosial yang semakin hari semakin terkikis. Ketika masyarakat berkumpul, menghias telur, atau berbincang sambil menyiapkan acara, ada memori kolektif yang terbangun, menghubungkan mereka dengan leluhur, sejarah, dan identitas bersama.
Setiap peristiwa dalam perjalanan ini terasa seperti bagian dari rencana yang lebih besar. Pada hari terakhir Rihlah, kabar duka datang dari kampung halaman Kang Oman di Kuningan, Jawa Barat. Kakak sepupunya, K.H. Jojo Ghozali, telah berpulang. Ia bukan tokoh nasional, tetapi sosok pahlawan dalam kehidupan adiknya. Pada 1988, ia memberikan modal enam ratus ribu rupiah, yang menjadi bekal awal Kang Oman untuk mengadu nasib di Jakarta.

Di tengah perasaan duka, kami menemukan sebuah naskah tua yang berisi teks Talqin Mayyit, bacaan yang dibacakan di atas pusara setelah jenazah dikuburkan. Bacaan talqin itu seolah menjadi jembatan yang menghubungkan ia dengan almarhum, meskipun jarak memisahkan kami.
“Dalam hati, saya mengganti nama di teks dengan ‘Ya Jojo Ghozali bin Hasan Mughni…’, dan saya berdoa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ungkap Kang Oman.
Perjalanan ini menyadarkan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Segala sesuatu telah diatur dengan sangat tepat oleh Yang Maha Kuasa. Manuskrip-manuskrip yang kami temukan, perayaan Maulid yang kami saksikan, bahkan kabar duka yang datang, semua terjadi pada momen yang pas. Seperti wayang yang digerakkan oleh dalang, kami semua adalah bagian dari skenario besar yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Perjalanan menelusuri manuskrip dan tradisi ini mengajarkan kami satu hal penting: masa depan yang gemilang hanya bisa dibangun di atas fondasi sejarah yang kuat. Manuskrip-manuskrip kuno di Sulawesi Selatan, perayaan Maulid di Cikoang, hingga kisah-kisah para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara, semuanya adalah bagian dari akar sejarah yang harus kita jaga. Tanpa sejarah, kita akan kehilangan arah.
Indonesia memiliki impian besar menuju Indonesia Emas 2045. Namun, tanpa menghargai akar kesejarahan dan tradisi leluhur, impian tersebut bisa menjadi angan-angan belaka. Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknainya di masa kini untuk merajut masa depan yang lebih baik.

Dalam perjalanan Rihlah Budaya ini, kami belajar bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang mati. Ia hidup dalam setiap tradisi, manuskrip, dan ingatan yang dirawat oleh masyarakat. Sejarah memberi kita identitas, kebanggaan, dan pelajaran. Dan ketika kita menghormati sejarah, kita sebenarnya sedang merawat masa depan.
Pada puncak Rihlah Budaya, kami menyelenggarakan Dialog Budaya bertema “Merajut Masa Silam untuk Merangkai Masa Kini dan Masa Depan”. Acara ini menghadirkan narasumber Prof. Oman Fathurahman, M.Hum (Pengampu Ngariksa), K.H. Helmi Ali Yafie (Pondok At-Taqwa Jampue), Ir. Fadly Ibrahim Suru, ST, MT (Yayasan Haji Ahmad Surur), serta Dr. drg. H.M. Arief Rosyid Hasan, M.KM (Merial Institute).
Dialog yang diadakan pada 16 September 2024 di Gedung Science Techno Park Universitas Hasanuddin, Makassar, ini dipandu oleh Husnul Fahimah Ilyas. Acara tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran akan nilai sejarah dan kolaborasi lintas generasi untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa, sekaligus menjadi inspirasi dalam merancang masa depan yang lebih baik. (Ngariksa-Min)