Dua puluh tahun setelah tsunami Aceh, tragedi ini mengajarkan kita bahwa bencana alam bukan hanya soal kehilangan manusia dan infrastruktur, tetapi juga ancaman terhadap warisan budaya yang membentuk identitas bangsa. Upaya Kang Oman menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno di tengah kehancuran menunjukkan betapa pentingnya menjaga ingatan kolektif sebagai landasan peradaban.
NGARIKSA – Mengingat Tsunami, Merawat Bumi menjadi tema Ngariksa episode 133. Kang Oman berkisah tentang pengalaman yang tak pernah dilupakannya pasca-tsunami di Aceh. Malam itu, di rumah Kang Oman saat live streaming, Yasushi Tonaga, seorang guru besar pakar mitigasi gempa dari Kyoto University, Jepang, datang bersama tamu-tamu lain lulusan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Suasana syahdu dan pilu menjadi satu mengenang tsunami.
Kang Oman membuka cerita dengan mendoakan para syuhada’ tsunami. Surat “Al-Fatihah” dibacakan bersama-sama sebagai awal persembahan sambil menahan linangan air mata. Tak lupa, lagu Aneuk Yatim karya Rafly Kande juga menjadi intro malam itu.
Gempa yang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, pukul 08:58 WIB, dengan magnitudo 9,3, merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah. Korban jiwa mencapai lebih dari 230.000 orang, dan hampir setengah juta kehilangan tempat tinggal. Ketidaksiapan kita menghadapi bencana tersebut menjadi pelajaran penting. Jepang, yang sering dilanda gempa, menunjukkan bagaimana kesiapan dapat meminimalkan dampak bencana. “Kita harus belajar dari Jepang,” ujar Kang Oman. “Namun, mitigasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang budaya dan edukasi.”
Ia kemudian mengenang kembali panggilan yang membawanya ke Aceh. “Ketika kolega dari Tokyo University meminta saya ke Aceh untuk menyelamatkan manuskrip, saya sempat ragu,” ujarnya. Situasi di sana sangat berbahaya, dengan mayat yang belum tertangani dan logistik yang kacau. Namun, rasa tanggung jawab terhadap warisan budaya mengalahkan segalanya.

Kang Oman dan Hasnul di tengah suasana pasca-Tsunami Aceh.
Setibanya di Aceh pada 16 Januari 2005, Kang Oman mendapati bahwa upaya menyelamatkan manuskrip tidak diprioritaskan. Banyak yang mempertanyakan, bahkan mencemooh, mengapa ia fokus pada naskah kuno di tengah darurat. Namun, Kang Oman tetap teguh. “Manuskrip ini adalah ingatan kolektif bangsa. Jika hilang, kita kehilangan bagian penting dari identitas kita,” tegasnya.
Di tengah puing-puing kehancuran, Kang Oman dan timnya berhasil menyelamatkan sejumlah manuskrip berharga. Salah satu yang paling penting adalah peta Aceh buatan Belanda, satu-satunya di dunia. Selain itu, ada manuskrip yang mencatat gempa pada bulan Zulqa’dah, yang secara takwil sering dikaitkan dengan perpecahan di antara pemimpin. Manuskrip-manuskrip ini menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menjadi saksi sejarah yang tak tergantikan.
Perjalanan Kang Oman tidak mudah. “Saya ingat, teman saya, Bang Hasnul, meminjamkan motor untuk membantu perjalanan saya menyusuri lokasi manuskrip,” kenangnya. Dalam kondisi serba terbatas, dukungan kecil seperti itu menjadi sangat berarti. “Kami tidak hanya menyelamatkan benda fisik, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tambahnya.

Televisi Swasta menganggap penting peran penyelamatan manuskrip pasca-tsunami Aceh.
Kisah ini juga mengingatkan pada sosok seperti Cut Putri, seorang penyintas yang mendokumentasikan detik-detik tsunami dengan keberanian luar biasa. Dokumentasinya menjadi bagian penting dari ingatan kolektif kita. “Di tengah keterbatasan, keberanian individu sering kali menjadi penentu,” kata Kang Oman.
Menjaga warisan budaya adalah bagian dari merawat kemanusiaan. Manuskrip-manuskrip ini tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk masa depan. “Merawat bumi dan ingatan kolektif adalah tugas kita bersama,” ungkap Kang Oman.
Ketika dirinya memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan manuskrip di Aceh pasca-tsunami, ia menyadari bahwa perhatian dunia saat itu lebih banyak tertuju pada penyelamatan manusia. Manuskrip mungkin tidak diprioritaskan, tetapi ia tetap berpegang pada niat untuk melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. Dengan segala persiapan seadanya, Kang Oman memulai perjalanannya ke Aceh, bersiap untuk tinggal di lapangan jika perlu.
Ia pun mendapatkan kehangatan dari keluarga Pak Tajir dan Ibu Nur, yang meskipun kehilangan banyak anggota keluarga, dengan murah hati memberikan tempat tinggal dan dukungan.
Perjalanan ini penuh tantangan. Salah satu lokasi penting adalah Zawiyah Tanoh Abee, sebuah pesantren abad ke-16 yang menyimpan karya-karya ulama besar seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Banyak manuskrip di sana sudah rusak akibat bencana, tetapi masih ada koleksi yang berhasil diselamatkan berkat bantuan Tengku Abu Dahlan.
Peralatan yang digunakan saat itu sangat sederhana. Dengan kamera handycam pinjaman dan media MiniDV, Kang Oman mendokumentasikan perjalanan ini. Video tersebut kelak menjadi arsip penting yang diminati berbagai pihak, termasuk pemerintah Jepang, Kanada, dan Jerman, untuk membantu upaya pelestarian lebih lanjut.
Kolaborasi dengan berbagai lembaga dan individu pun terjalin. Salah satunya adalah kerjasama dengan Tokyo University of Foreign Studies untuk melakukan digitalisasi manuskrip. Proses ini sangat melelahkan, dilakukan dengan peralatan manual, tetapi membuahkan hasil berupa katalog manuskrip seperti “Katalog Naskah Ali Hasymi” dan “Katalog Zawiyah Tanoh Abee” yang sangat bermanfaat bagi filolog dan peneliti di masa depan.

Menyelamatkan peradaban luhur bangsa.
Bencana tsunami juga membawa refleksi tentang bagaimana manuskrip dapat membantu menjaga ingatan kolektif. Salah satu karya penting yang muncul dari masa itu adalah tulisan seorang ulama sepuh asal Sarang Rembang, alm. Kiai Maimun Zubair, “Tsunami fi Biladina Indonesia: Adhabun am Musibah,” yang mencoba memberi perspektif bahwa bencana ini adalah peringatan dan ujian, bukan hukuman.
Kini, setelah 20 tahun berlalu, naskah-naskah yang diselamatkan masih menjadi sumber inspirasi. Kang Oman dan rekan-rekannya berharap generasi muda semakin peduli terhadap pelestarian manuskrip sebagai warisan budaya yang bukan hanya pusaka, tetapi juga pustaka. Upaya ini mengingatkan kita bahwa pelestarian manuskrip adalah bagian dari menjaga peradaban kita.
Malam itu, studio Ngariksa di lantai dua rumah Kang Oman bukan hanya ruang mengaji dan diskusi ilmu, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap bencana, ada tanggung jawab besar untuk terus menjaga warisan, belajar darinya, dan membangun dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang. (Ngariksa-Min)