Membuka Kemasan Manuskrip dari Madura

Manuskrip kuno kiriman Sobat Ngariksa di Madura, Abdur Rahman Al-Kampoki, tiba dalam kondisi rapuh, penuh debu, dan beberapa bagiannya rusak. Manuskrip ini berisi doa, puisi, dan ajaran yang mencerminkan tradisi masa lalu. Kang Oman berkomitmen untuk membersihkan, mendigitalisasi, dan menjaga dokumen berharga ini agar dapat diteliti dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ini merupakan upaya penting untuk melestarikan sejarah dan budaya yang hampir hilang.

NGARIKSA – Kang Oman menyambut sebuah paket istimewa yang baru saja tiba di rumahnya. Kiriman ini datang dari Abdur Rahman Al-Kampoki, seorang Sobat Ngariksa dari Madura. Dengan napas penuh penasaran, Kang Oman memandang paket tersebut. Katanya, ini adalah manuskrip kuno yang telah lama tersimpan dan kini diserahkan untuk diidentifikasi. Dalam benaknya, terselip tanya: masihkah manuskrip ini bertahan dari gerusan waktu?

Perlahan, Kang Oman mulai membuka bungkus  (unboxing) sederhana itu di Lantai III Gedung Pusat Pengkajian Islam & Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Plastik pembungkusnya sudah kumal, seolah menyimpan kisah panjang tentang perjalanan manuskrip di dalamnya. Sebelum menyentuh lebih jauh, ia mengenakan sarung tangan dan masker. Manuskrip merupakan sesuatu yang rentan, satu sentuhan sembarangan bisa jadi akhir dari usia ratusan tahun yang telah dilewati.

Ketika plastiknya terlepas, aroma khas kertas tua langsung menyeruak. Lebih dari lima manuskrip tergeletak di dalamnya, seperti harta karun yang baru saja ditemukan dari peti masa lalu. Kertasnya bukan dari Eropa, melainkan daluang, bahan khas yang sering digunakan pada abad ke-18 hingga ke-19. “Ini dia,” gumam Kang Oman, “sejarah yang hidup kembali,” ungkapnya dalam Ngariksa Episode 134.

Manuskrip pertama dibuka. Lembar-lembar tua itu berisi doa-doa, seperti niat salat dan doa qunut. Beberapa bagian sudah berlubang, rapuh, dan berdebu. Setiap goresan tinta di atas kertas itu adalah jejak para pendahulu, seperti bisikan yang ingin tetap didengar meski semakin samar.

“Manuskrip kedua berisi teks puisi bertajuk Sinom. Dari gaya penulisannya, tradisi mocopat, puisi Jawa yang sering dibacakan dalam ritual adat di Madura. Pada halaman awal manuskrip ini terbalik, mungkin akibat susunan yang pernah kacau atau penyimpanan yang kurang tepat,” ungkap Kang Oman sambil menahan napas dari maskernya yang melindungi dari debu ratusan tahun itu.

Ketika membuka manuskrip berikutnya, Kang Oman terdiam sejenak. Ada kerusakan yang cukup parah, lubang-lubang besar, bekas gigitan rayap, bahkan telur cicak yang menempel di salah satu halaman. Ia melihat bukan hanya teks, tetapi juga perjuangan untuk tetap ada, meski diabaikan dan terlupakan.

Tampak pecahan cangkang telur cicak di antara kertas yang bolong.

Salah satu temuan yang paling menarik ialah manuskrip Bidayah al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Teks ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam tasawuf. Meskipun bagian awalnya telah hilang, sisa-sisa teks yang ada tetap memancarkan kekuatan ajarannya. Kang Oman mengenali huruf Pegon yang tertulis di setiap sela, seolah memberi penegasan bahwa manuskrip ini pernah menjadi saksi kehidupan santri di Madura.

Lembar berikutnya dari koleksi ini adalah Kitab Tauhid karya Al-Samarqandi, yang membahas sifat 20 dengan terjemahan Pegon. Teks ini masih cukup rapi, namun tetap memperlihatkan usia tuanya. Di bagian akhir, terdapat catatan yang mungkin berasal dari pemilik sebelumnya. Sebuah pengingat, bahwa manuskrip ini pernah hidup di tengah masyarakat, digunakan, dan dihargai.

Kang Oman memandang manuskrip-manuskrip itu dengan penuh haru. Setiap halaman adalah saksi bisu dari tradisi yang pernah hidup, dari orang-orang yang mencintai ilmu. Namun, kondisinya memprihatinkan. Rayap, debu, dan usia telah mengambil banyak dari mereka.

Manuskrip keenam mengandung pembahasan tentang sifat-sifat Allah yang dikenal sebagai Sifat 20. Sayangnya, bagian awal dan akhirnya hilang, tetapi teks utama masih menunjukkan pola sastra mocopat dengan pupuh seperti Durma, Sinom, dan Kasmaran. Tradisi sastra ini menunjukkan bahwa ajaran teologi Islam sering kali dikemas dalam bentuk sastra yang indah agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Abdullah Maulani dan Kang Oman saat membaca beberapa manuskrip yang telah dibuka.

Kang Oman agak terkejut melihat manuskrip berikutnya karena ini memuat teks berjudul Kabar Kiamat, yang mengingatkannya pada karya Syekh Nuruddin Ar-Raniri, Akhbar al-Akhirah. Teks ini membahas peristiwa akhirat dan sering dijadikan bahan bacaan dalam tradisi pesantren untuk membangkitkan kesadaran spiritual. Struktur teks menunjukkan elemen mocopat dengan pupuh seperti Sinom dan Kasmaran. Teks ini sangat penting untuk memahami bagaimana masyarakat tradisional memadukan sastra dan ajaran agama.

Manuskrip terakhir adalah sebuah manuskrip tasrif yang dikenal sebagai Tasrif al-Izzi atau sering disebut Kailani. Kitab ini digunakan dalam pembelajaran morfologi bahasa Arab di pesantren. Manuskrip ini memiliki banyak catatan di bagian tepi, menunjukkan bahwa teks ini dipelajari secara intensif oleh santri. Setiap halaman penuh dengan terjemahan Pegon dan komentar yang memperjelas isi teks.Terdapat kolofon di akhir teks ini yang mencantumkan bahwa kitab ini berjudul lengkap Musamma bil-Izzi.  

 

Kondisi Manuskrip dan Upaya Pelestarian

Semua manuskrip ini ditulis di atas kertas daluang yang rentan terhadap kerusakan. Beberapa halaman bolong, tinta memudar, dan ada coretan yang memperumit pembacaan. Salah satu manuskrip bahkan terbungkus plastik usang, seolah-olah hampir terbuang sebelum akhirnya diselamatkan.

Untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya yakni manuskrip dari Madura ini, langkah konservasi sangat penting. Digitalisasi menjadi prioritas untuk menjaga isi teks ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. Kang Oman sudah melakukan proses pembersihan dengan hati-hati menggunakan bahan dan metode yang aman agar tidak merusak lebih lanjut teks yang ada.

Keberadaan manuskrip-manuskrip ini membuka jendela bagi kita untuk memahami lebih dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Madura di masa lalu. Setiap lembar yang dibuka Kang Oman menyingkap cerita yang tak hanya berisi sejarah, tetapi juga harapan dan doa dari generasi sebelumnya.

Kang Oman menyapu butiran debu yang menempel di manuskrip dengan kuas secara perlahan-lahan.

Manuskrip ini membutuhkan konservasi yang lebih baik. Kondisi beberapa naskah sudah bolong, kertasnya rapuh, dan teksnya mulai memudar. Digitalisasi menjadi langkah pertama yang harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap dapat diakses oleh generasi mendatang. Kita berharap lembaga seperti Perpustakaan Nasional RI dapat membantu dalam pelestarian naskah-naskah ini. Dengan dukungan fasilitas, keahlian, dan sumber daya yang dimiliki Perpusnas RI, proses konservasi ini bisa menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan, sehingga keberadaan naskah-naskah ini dapat terus terjaga untuk waktu yang lama.

“Mas Abdurrahman, terima kasih telah mempercayakan ini kepada kami,” ujar Kang Oman lirih. Ia berjanji akan mendigitalkan manuskrip-manuskrip ini agar tetap bisa diakses oleh generasi mendatang. “Setiap lembar ini adalah jejak sejarah yang tak ternilai. Kita punya tanggung jawab besar untuk merawatnya, agar cerita-cerita di dalamnya tetap hidup.”

Bagi Kang Oman, manuskrip ini sebagai pengingat tentang betapa kayanya tradisi dan budaya kita. Ia mengajak Sobat Ngariksa lainnya untuk melakukan hal yang sama, merawat masa silam untuk menatap masa depan. Sejarah memang tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara kepada mereka yang mau mendengar. (Ngariksa-Min)