
Ngariksa
“Ngariksa” berasal dari akar kata bahasa Sanskerta, yakni pariksa. Dalam bahasa Sunda berarti memelihara dan merawat. Akronim dari “Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara”, Ngariksa mencerminkan misi utamanya: merawat dan mempelajari manuskrip dengan pendekatan pengkajian mendalam.
Ngariksa ini pertama kali hadir di platform YouTube pada 31 Mei 2019 dengan tayangan perdananya yang membahas manuskrip Arab berjudul Tanbih al-Masyi karya Syekh Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), seorang ulama terkemuka dari Aceh pada abad ke-17. Dalam naskah tersebut, al-Sinkili mengupas konsep wahdatul wujud.
Melalui berbagai kajian dan publikasi, Ngariksa berkomitmen menjadi jembatan antara generasi saat ini dengan warisan intelektual Nusantara, mengajak masyarakat untuk menggali, memaknai, dan merawat peninggalan manuskrip yang kaya akan nilai-nilai spiritual, budaya, dan intelektual.
Ngariksa mengusung tagline, “Menatap Masa Depan, dengan Merawat Masa Silam.” Tagline ini mencerminkan komitmen Ngariksa untuk menjaga nilai-nilai luhur dari masa lalu sebagai fondasi bagi generasi mendatang. Salam Ngariksa.

Pengampu Ngariksa
Kang Oman, begitu ia akrab disapa, dikenal luas dalam dunia akademik dengan nama Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum. Pria kelahiran Kuningan, 8 Agustus 1969 ini, memiliki kontribusi besar dalam bidangnya. Ia merupakan Guru Besar Filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 2014. Kang Oman dikenal melalui aktivitas akademis dan pengabdiannya dalam dunia manuskrip Nusantara. Ia mengampu program “Ngariksa” di YouTube, yang menyajikan kajian manuskrip kuno Nusantara sebagai bentuk literasi budaya dan keagamaan, serta mengasuh Pesantren Al-Hamidiyah di Depok, Jawa Barat.
Dalam perjalanan kariernya, Kang Oman pernah menjadi Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi (2017–2021) serta Plt. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Ia juga berperan sebagai Ketua Pokja Moderasi Beragama di Kementerian Agama (2020–2021). Di kancah internasional, ia adalah Principal Investigator Program DREAMSEA, sebuah inisiatif digitalisasi manuskrip Asia Tenggara yang bekerja sama dengan Universitas Hamburg, Jerman.
Kang Oman meraih gelar doktor dalam bidang Filologi dengan fokus kajian manuskrip Islam Indonesia dari Universitas Indonesia pada 2003. Ia juga memperoleh berbagai penghargaan, termasuk Habibie Prize dalam bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan pada 2023 serta Budaya Pustaka Paripalana dari Manassa sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam pelestarian manuskrip Nusantara.
Selain menulis sejumlah buku penting seperti Filologi Indonesia: Teori dan Metode dan Ithaf al-Dhaki, Kang Oman telah menjadi kontributor di berbagai jurnal dan konferensi internasional. Kehadirannya di media sosial X (@ofathurahman) dan Instagram (@ofathurahman) memperkuat perannya sebagai figur publik yang mendukung literasi dan moderasi beragama.

Sobat Ngariksa
Bagi Anda yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam komunitas Sobat Ngariksa, kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan naskah Nusantara ini. Kita bisa bersama-sama mendalami berbagai wawasan terkait literasi, sejarah, dan budaya nusantara dalam suasana yang hangat dan penuh semangat. Klik tautan WhatsApp berikut untuk bergabung dan bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki minat serupa: Gabung Sobat Ngariksa.