Tiga Pesan Ketua Yayasan Ngariksa Budaya Indonesia

Di sebuah pagi yang cerah pada Rabu, 7 Agustus 2024, di jantung ibu kota Jakarta, diadakan sebuah pertemuan yang sarat makna. Perpustakaan Nasional RI menjadi saksi sebuah acara yang memancarkan semangat kebangkitan budaya dan sejarah.

Gelar Wicara Tokoh Pernaskahan Nusantara, dengan tema “Kerja Bersama Menuju Pengarusutamaan Naskah Nusantara,” menggugah hati dan pikiran para hadirin untuk menyelami kembali kekayaan naskah-naskah yang berisi nilai-nilai luhur bangsa.

Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah upaya kolektif untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang hampir terlupakan. Di era digital yang serba cepat ini, program Pengarusutamaan Naskah Nusantara hadir sebagai mercusuar, membimbing masyarakat untuk memahami pentingnya pelestarian dan pewarisan kearifan masa lampau.

Dengan naskah-naskah kuno yang tertuang dalam tinta dan kertas, kita diajak untuk merenungi dan merajut benang sejarah, agar tidak terputus dari nilai-nilai yang telah membentuk jati diri bangsa.

Dr. (H.C.) Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Yayasan Ngariksa Budaya Indonesia, dalam sambutannya menyampaikan tiga hal utama. Pertama, sebanyak 536 naskah kuno diserahkan kepada Perpusnas RI, lembaga yang kredibel dan mapan.

“Dengan tujuan agar naskah-naskah ini bisa diakses lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Kedua, tradisi baik dari masyarakat ke negara harus dilanjutkan. Lukman Hakim mengingatkan bahwa K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyerahkan naskah sebagai eksistensi pesantren. Ketiga, pentingnya pengarusutamaan Perpusnas dengan adanya database terintegrasi dengan berbagai bidang.

Putra Almarhum Prof. K.H. Saifuddin Zuhri ini menekankan bahwa Tuhan menjelaskan banyak hal dengan metode cerita masa lalu dan sejarah. “Bahkan dua per tiga isi Kitab Suci adalah cerita. Ini menunjukkan kita perlu merawat masa lalu,” katanya.

Menurutnya, tantangan utama bangsa ini adalah mengatasi ketercerabutan dari masa lalunya, agar tidak terputus dengan nilai-nilai dan kearifan leluhur.

“Tantangan bangsa ini adalah ketercerabutan dari masa lalu, karena sering kehilangan konteks dalam menghadapi banyak persoalan di bidang sosial, pendidikan, hukum, budaya, politik, agama, dan lainnya,” ujarnya.

Ngariksa, lanjut Lukman, berikhtiar menghadirkan masa lalu kita agar kita tak terputus dengan nilai-nilai dan kearifan leluhurnya, agar tak menjadi bangsa yg teralienasi dari sejarahnya sendiri.

“Karenanya, menjaga dan merawat manuskrip adalah menjaga dan merawat keberagaman budaya bangsa. Dan itu hakikatnya adalah merawat keindonesiaan kita,” ungkap Lukman.

Acara ini juga diisi dengan sambutan dari Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Plt. Kepala Perpustakaan Nasional RI. Gelar Wicara menghadirkan narasumber Dr. Annabel Teh Gallop, Kurator Utama British Library, dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum., Principal Investigator DREAMSEA, dengan moderator Dr. Aditia Gunawan, M.A., Pustakawan Perpusnas RI.

Kang Oman, Pengampu Ngariksa, dalam gelar wicara tersebut menegaskan bahwa DREAMSEA aktif mendatangi masyarakat untuk menangani naskah rentan milik masyarakat, tidak hanya pasif menunggu proposal. Hingga kini, telah terdata 168 pemilik manuskrip di Asia Tenggara, semua terbuka untuk digitalisasi.

“DREAMSEA diluncurkan di Perpusnas pada 24 Januari 2018, dan hari ini menyerahkan file hasil digitalisasi dan metadatanya kepada Perpusnas,” ungkapnya.

Kang Oman berharap Perpusnas mampu memiliki database besar sehingga kajian teks Indonesia dan ekosistem pengarusutamaan naskah Nusantara terbangun dengan baik secara optimis.

Mari kita jaga dan rawat warisan peradaban masa lalu agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang. “Ngariksa, Menatap Masa Depan, Merawat Masa Silam.”

(Ngariksa-Min)

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
601 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
432 views - April 14, 2025