Wajah Hamzah Fansuri di Kanvas Singkil

Ilustrasi Syekh Hamzah Fansuri digoreskan oleh M. Yasir Bancin. Ia merupakan seniman asal Tanah Singkil. Karyanya bukan sekadar lukisan wajah imaji seorang sufi agung abad ke-16, melainkan wujud ikhtiar merawat ingatan kolektif yang nyaris terputus dari akarnya. Meski kini kecerdasan visual buatan beredar deras, karya ini menjadi simbol pemulangan identitas ke rahim asalnya, sebuah tafsir spiritual, kultural, dan intelektual yang dibangun dengan riset, doa, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Ia tidak hanya meluruskan wajah, tetapi juga menghidupkan semangat berkarya, meneliti, dan membumikan warisan para ulama kepada generasi muda, agar masa depan dapat ditapaki tanpa kehilangan jejak masa silam.

NGARIKSA – Kang Oman berbincang dengan M. Yasir Bancin, seorang seniman muda asal Singkil yang baru saja menciptakan ilustrasi tokoh ulama besar, Hamzah Fansuri. Yasir yang lahir di Desa Rimo dan menyelesaikan pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Padang serta Pascasarjana ISI Yogyakarta ini telah aktif melukis sejak SD dan mengikuti berbagai pameran nasional sejak 2016. Ia menyebut dirinya sebagai pegiat seni, dan menekuni jalur seni lukis hingga kini menghasilkan lebih dari 100 karya.

“Perjalanan seniman itu seperti tahap spiritual: dari realisme ke surrealisme, hingga akhirnya mencapai abstrak. Seperti dari syariat ke tasawuf,” ujar Yasir sambil menyamakan perjalanan artistiknya dengan tradisi sufistik.

Yasir juga menyinggung pengalamannya mengikuti lomba kaligrafi MTQ tingkat kabupaten. Ia menyebut, meskipun kategori kontemporer, tetap ada kaidah yang mengikat, yang menurutnya agak bertentangan dengan semangat seni murni. Meski demikian, ia tetap menyesuaikan dan berhasil meraih juara. Kang Oman memuji karya Yasir yang berani menyandingkan seni lukis dengan nilai-nilai manuskrip klasik dan tokoh Islam besar. Ilustrasi Yasir tentang Hamzah Fansuri menjadi penanda penting, apalagi kini karya Hamzah telah diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada 11 April 2025. Ini menegaskan bahwa pendekatan seni visual bisa menjadi jembatan baru dalam menghidupkan kembali khazanah keilmuan Nusantara.

Dari Kota Subulussalam, Kang Oman menyoroti lukisan-lukisan Yasir Bancin yang tak hanya memikat secara visual, tapi juga kaya akan filosofi dan kedalaman lokal. Salah satu karya menarik Yasir lainnya adalah lukisan yang menggunakan ampas kopi sebagai medium. Gagasan ini muncul ketika ia melihat banyaknya ampas kopi terbuang di warung-warung kopi Aceh, yang dikenal sebagai “kota seribu warung kopi.”

“Kopi memberi efek warna yang artistik, dan secara makna, seperti kata Teuku Umar: kalau besok mati, kita mati syahid; kalau hidup, kita ngopi di Lambu,” tutur Yasir yang percaya bahwa kopi adalah simbol semangat, perjuangan, dan keseharian rakyat.

Yasir juga melukis dengan medium ampas kopi.

Tak hanya kopi, Yasir juga banyak terinspirasi oleh syair-syair Syekh Hamzah Fansuri, khususnya Syair Perahu. Ia menvisualkan bait-bait syair itu ke dalam lukisan yang memadukan unsur perahu, ikan tongkol, pohon cabai, suluh, dan kitab, merepresentasikan ulama yang menyatu dengan alam dan masyarakat. “Saya tidak melihat sisi mistisnya. Tapi saya melihat bahwa ulama dulu juga petani, nelayan, yang pandai membaca alam,” ujarnya.

Yasir juga menekankan pentingnya ilustrasi yang tepat untuk tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, karena selama ini banyak foto yang beredar di internet justru keliru dan menampilkan sosok ulama lain. Maka, ilustrasi karyanya juga dimaksudkan untuk “meluruskan” representasi visual tokoh besar abad ke-16 itu.

 

Kuas Anak Negeri

Meluruskan bukan berarti mengklaim kebenaran mutlak. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh M. Yasir Bancin saat ia menciptakan ilustrasi sosok Syekh Hamzah Fansuri. Bagi Yasir, ilustrasi itu bukan sekadar lukisan, tapi bentuk “tabarukan” sekaligus upaya memperbaiki narasi visual yang selama ini keliru. “Yang beredar di internet itu bukan beliau, itu foto ulama kontemporer dari Aceh,” ujarnya. Maka dari itu, sebagai putra daerah Singkil, tanah yang diyakini sebagai tempat kelahiran dan makam Syekh Hamzah, Yasir merasa terpanggil untuk menghadirkan sosok sang sufi dengan wibawa, sederhana, dan sarat makna.

Prosesnya tak sebentar. Yasir menyebut ada tiga tahap penting dalam penciptaan lukisan ini: persiapan (mengumpulkan data, naskah, dan diskusi), elaborasi dan inkubasi (mengendapkan gagasan secara spiritual), dan eksekusi karya. Ia mengaku selalu berwudu setiap kali hendak mulai melukis, bahkan menutup proses melukisnya dengan salat sunah. “Tidak ada dalilnya memang,” katanya dengan rendah hati, “tapi saya merasa ini bentuk penghormatan kepada sosok suci yang saya lukis.” Ia sadar betul bahwa Syekh Hamzah Fansuri bukan tokoh biasa: seorang sufi besar, penulis syair dan prosa yang dalam, serta ulama dengan wawasan lintas alam dan zaman.

Yang menarik, Yasir tidak bekerja sendiri. Ia dibantu dua orang dosen untuk mendapatkan kajian-kajian awal, termasuk naskah akademik tentang sosok Syekh Hamzah. Ia membaca, menafsir, lalu merasakan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari inkubasi gagasan, momen ketika data dan inspirasi mengendap, lalu muncul dalam bentuk visual. “Beban tentu ada,” katanya. “Tapi saya ingin karya ini tidak diagungkan, hanya jadi pengantar untuk mengenal lebih dalam pemikiran dan ajaran beliau.”

 Ilustrasi yang dihasilkan Yasir tampil sederhana, tapi sarat makna. Ia sengaja menghindari detail-detail yang bisa memicu perdebatan. Kopiah yang dikenakan sang Syekh misalnya, menggunakan motif warna-warna khas suku Singkil: hijau, merah, kuning, hitam, dan putih, yang juga tampak pada ornamen pendopo tempat mereka berbincang. Pakaian sang Syekh polos, tanpa bordir, demi keotentikan zaman. Ada pula selendang merah kekuningan yang dililitkan ke tubuh, sebagai simbol jabatan istana yang konon pernah disandang Syekh Hamzah sebelum dilengserkan.

“Merah itu lambang pangkat,” kata Yasir. “Tapi juga isyarat bahwa beliau pernah tersisih dari kekuasaan.”

Tak hanya visual, filosofi dalam lukisan ini juga mengakar dalam kenyataan spiritual dan historis. Yasir tak ingin mengklaim bentuk wajah atau postur tokoh suci itu, namun ia berusaha menghadirkan nuansa wibawa dan kesederhanaan. Ia tahu, makam sang Syekh pun masih diperdebatkan. Tapi baginya, bukan soal di mana jasadnya dikubur, melainkan bagaimana warisan pemikirannya terus hidup dan menginspirasi.

“Kalau lukisan ini nanti tersebar, harapannya jadi rujukan yang lebih logis dan menghormati,” pungkasnya. Sebuah ikhtiar yang tak hanya artistik, tapi juga penuh adab.

 

Sebuah Gagasan dari Singkil

Upaya “memulangkan” Hamzah Fansuri ke tanah asalnya menjadi tugas yang tak ringan. Tapi di tangan M. Yasir Bancin, putra daerah dari Subulussalam, upaya ini justru lahir dari cinta. Dari seniman yang tak ingin sekadar melukis wajah, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat seorang sufi besar dalam wujud yang lebih membumi, lebih dekat, dan lebih relevan dengan generasi sekarang.

Yang lebih menggugah di samping dari lukisan itu sendiri,  juga harapan yang lahir darinya. “Saya melihat putra-putri daerah masih kurang tertarik mengkaji Hamzah Fansuri,” ujar Yasir dengan nada prihatin. Ia mengamati bahwa banyak anak muda di Singkil yang masih memilih jurusan kuliah tanpa arah, tanpa minat yang jelas. Padahal, tanah mereka menyimpan warisan pemikiran dan sastra yang belum seluruhnya digali.

Kang Oman bersama tim ISRAC (Institute for Singkel Research on Adat and Culture). 

Yasir tidak meminta semua orang menjadi pelukis. Tapi ia ingin setiap orang kembali menemukan jalan masing-masing, menulis jika suka menulis, menyanyi jika suka musik, meneliti jika cinta riset, dan menjadikannya sebagai medium untuk mengenalkan tanah kelahiran mereka. “Kalau kamu ahli otomotif, bangun teknologi dari Aceh Singkil,” serunya lugas. Sebuah ajakan untuk berkarya tanpa kehilangan akar, untuk merawat silam agar masa depan punya fondasi kuat.

Dalam konteks ini, Pemerintah Kota Subulussalam patut diapresiasi. Melalui acara seminar dan pameran yang difasilitasi oleh komunitas Israc, upaya menyemai kembali nama besar Hamzah Fansuri mulai menemukan bentuknya. Walau sang Wali Kota berhalangan hadir, komitmen pemerintah untuk mendukung ekosistem intelektual dan budaya diakui Yasir. “Tinggal bagaimana kita jaga agar itu tak hanya seremonial,” ujarnya. Apalagi kini, ilustrasi resmi Hamzah Fansuri telah memperoleh sertifikat hak cipta dan mulai disosialisasikan sebagai rujukan visual yang sah.

Di ujung perbincangan, Yasir mengangkat satu pengalaman penting: karyanya sempat dinobatkan sebagai lukisan terbaik di Pekan Kebudayaan Aceh 2023. Visualnya tetap dalam nuansa khasnya, perahu kertas, simbol pengembaraan, dan pencarian makna. “Saya ingin memperkenalkan tanah kelahiran saya lewat lukisan,” katanya. Lalu ia mengajak seluruh pemuda untuk melakukan hal serupa, dengan medium masing-masing.

“Seorang penulis, tulislah tentang Singkil. Seorang penyanyi, ciptakan lagu tentang Singkil. Seorang pelukis, lukislah wajah sejarah kita.” Sebuah pesan yang sederhana, mengakar dari dalam hatinya.

Kang Oman menyudahi obrolan santainya. Ia sadar masih banyak tugas setelah tokoh-tokoh Indonesia dinobatkan sebagai superhero dunia. Minimal ia dan Ngariksa terus berjuang memulangkan tokoh kenamaan, agar tak jadi sosok yang dilupakan. (Ngariksa-Min)

 

Share:

ARTIKEL LAINNYA

Jalan Pulang Hamzah Fansuri
543 views - May 26, 2025
Bukan Ramadan Biasa
373 views - April 14, 2025